
" Dengarkan aku! Aku akan menceritakan semua nya pada mu" Rifki menghela nafas nya sejenak untuk menenangkan hati nya yang masih ragu dengan keputusan nya untuk menceritakan semua nya pada Alea saat ini. " Aku harap, kamu tidak akan membenci ku" tambah Rifki lagi sebelum memulai cerita nya.
" Tunggu - tunggu, membenci mu,? Memang apa yang sudah kakak lakukan sehingga aku akan membenci kakak,?" Alea mengerutkan kening nya.
" Makan nya, dengarkan dulu cerita dari ku! Nanti kamu juga akan tahu kenapa aku takut kamu membenci ku" Rifki menyentil kening Alea yang tampak mengkerut dengan jari nya.
Pletak
" Aw, sakit tahu" Alea mendengus kesal seraya mengusap kening nya yang terasa panas akibat sentilan jari Rifki pada nya. " Kalau kamu membuat ku sakit seperti ini, aku pasti akan membenci mu" tambah Alea lagi masih dengan wajah kesal nya.
" Ini bahkan lebih menyakitkan lagi" batin Rifki menatap Alea dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. " Jadi bagaimana, apa kamu masih mau mendengarkan cerita ku?" Rifki ragu saat mengatakan nya.
" Tentu saja aku mau, aku sangat penasaran dengan apa yang terjadi hari itu. Soal nya aku sama sekali tidak mengingat apa pun" jawab Alea mengangguk mantap.
" Baik lah, dengar kan aku baik - baik! Dan jangan menyela bila aku belum selesai berbicara!" Rifki memperingatkan Alea, karena Rifki tahu betul bagaimana wanita yang ada di hadapan nya sangat cerewet dan suka menyela ucapan orang yang sedang bercerita pada nya.
Alea mengangguk kan kepala nya, Rifki pun langsung memulai cerita nya. Di awali dengan obat perangsang yang telah di berikan pada Alea oleh Rian dan Putra yang menyebab kan Alea bersikap aneh saat itu. Sampai di mana Rifki dengan terpaksa melakukan apa yang seharus nya tidak dia lakukan pada Alea sebelum pernikahan mereka selesai dan ada cinta di hati ke dua nya.
Alea tampak mendengarkan cerita dari Rifki dengan wajah yang serius, sesekali dia juga menampil kan wajah nya yang ingin menyela dan protes karena merasa tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Rifki pada nya. Namun Alea harus bersabar sampai Rifki menyelesaikan cerita nya karena diri nya sudah berjanji tadi, bahwa Alea tidak akan menyela cerita dari pria yang berstatus sebagai calon suami nya itu.
__ADS_1
" Kakak bohong pada ku kan?" Alea menatap Rifki dengan tatapan menyelidik nya dengan wajah yang terlihat menahan kesal sekaligus malu saat ini.
" Aku mengatakan yang sebenar nya Alea, untuk apa aku berbohong?" Rifki melipat ke dua tangan nya di depan dada nya. " Jadi, aku harap kamu tidak membenci ku," tambah Rifki lagi dengan wajah yang terlihat serius.
" Tapi itu tidak mungkin kak, masa aku menggoda kakak dan tadi kakak bilang apa? Aku mengambil keperjakaan kakak? Ish, itu sangat tidak mungkin" Alea tertawa kikuk seraya memalingkan wajah nya untuk menyembunyikan rona merah pada wajah nya saat ini. Sungguh Alea sangat tidak percaya dengan ucapan Rifki pada nya, mana mungkin kan gadis pemalu seperti diri nya akan bersikap sangat liar seperti apa yang di katakan Rifki barusan pada nya?
" Apa tanda merah ini tidak bisa membuktikan ucapan ku?" Rifki menunjuk bekas merah yang ada pada sekitar leher nya.
Alea tampak membulatkan ke dua bola mata nya seraya menutup mulut nya sendiri saking tidak percaya nya dia saat melihat bekas merah yang ternyata tidak hanya satu, melainkan banyak yang lain nya.
" Kalau ini masih kurang, aku akan menunjuk kan yang lain nya" Rifki membuka kancing kemeja yang dia pakai satu persatu.
" Banyak, kamu tahu? Kamu seperti singa betina yang sedang menerkam mangsa nya, kamu sama sekali tidak memberikan ku kesempatan untuk mengelak" Rifki terkekeh saat mengatakan nya. " Ini, lihat lah!" Rifki kini sudah melepaskan kemeja yang di pakai nya. Sehingga terpang pang lah tubuh atletis milik Rifki yang terlihat sangat sangat bagus dengan roti sobek nya. Alea semakin membulatkan ke dua bola mata nya, tapi bukan karena tubuh bagus Rifki, melainkan bekas merah ke unguan yang begitu banyak memenuhi tubuh bagian depan dan bagian belakang Rifki.
Ke dua telapak tangan Alea yang tadi membungkam mulut nya, kini mulai naik menutupi seluruh wajah nya dengan wajah yang meringis di dalam nya.
" Haish, apa benar itu aku yang melakukan nya? Kalau benar, itu memalukan sekali" batin Alea. Sungguh rasa nya Alea kini ingin pergi saja ke kutub Utara atau ke samudra Antartika untuk menyembunyikan diri nya sendiri saat ini.
" Apa bukti ini masih belum cukup ha?" Rifki yang melihat Alea menutup wajah nya sendiri malah tersenyum menggoda pada Alea seraya memakai kembali kemeja nya dan mengancingkan sebagian kancing nya. " Atau kamu mau reka adegan untuk lebih meyakinkan? Mungkin kalau seperti itu, kamu akan mengingat sebagian kejadian waktu itu" Rifki semakin menggoda Alea.
__ADS_1
" Ish, kakak bisa diam gak sih?" Alea mendengus kesal dengan wajah nya yang masih dia tutupi.
" Bisa, tapi aku nya yang gak mau" Rifki terkikik geli melihat kelakuan Alea yang seperti itu.
" Iiihhh... Kalau begitu, lebih baik kakak keluar sana. Cepetan!" Alea turun dari tempat tidur nya dan langsung mendorong tubuh Rifki untuk keluar dari ruangan nya, sedangkan Rifki malah semakin tertawa melihat kelakuan Alea yang seperti ini. Dan itu membuat Alea semakin kesal saja.
Brrakk
Pintu ruangan Alea, di tutup dengan suara agak keras saat Rifki sudah benar - benar keluar dari sana.
" Alea, tidak baik mengusir calon suami mu ini. Kalau kamu membutuh kan sesuatu, bagaimana aku akan membantu mu?" Rifki berkata dengan suara keras dari balik pintu agar Alea bisa mendengar nya.
" Ish, bagai mana bisa dia tertawa seperti itu?" Alea menggerutu kesal di dalam sana saat Rifki masih saja menggoda nya. " Aish, bagai mana bisa juga aku melakukan hal itu pada kak Rifki?" Alea kembali menutup wajah nya sendiri. " Tunggu dulu, bukan kah tadi kak Rifki bilang kalau kami sudah melakukan nya? Oh tidak, apa itu berarti kesucian ku sudah hilang?" Alea menjadi panik saat mengingat cerita dari Rifki tadi.
" Oh Tuhan, kenapa aku sama sekali tidak mengingat nya? Lalu, kenapa area sensitif ku sama sekali tidak sakit? Bukan kah kata orang itu sangat menyakit kan saat pertama kali melakukan nya?" Gumam Alea lagi seraya memukul pelan kepala nya dan mencoba mengingat kejadian yang sempat dia lupakan itu. " Hais, itu pasti karena kejadian nya sudah lumayan lama. Lalu kalau kami sudah melakukan nya, itu berarti kak Rifki sudah melihat seluruh tubuh ku ini?" Alea menyilangkan ke dua tangan nya di depan dada nya. " Oh Tuhan, itu pasti sangat memalukan sekali" Alea kini membenamkan wajah nya pada ke dua lutut nya setelah dia merosot kan tubuh nya ke atas lantai. Sungguh, saat ini Alea tidak tahu apa yang harus dia lakukan? Sungguh rasa malu bercampur kesal kini memenuhi hati nya, rasa nya Alea tidak mau bertemu lagi dengan Rifki yang sudah melihat seluruh tubuh nya, dan melihat ke ganasan yang di lakukan nya.
" Aaaakh... Bagaimana cara ku menghadapi kak Rifki sekarang?" Alea mengacak rambut nya frustasi.
Jangan lupa like, vote dan komen. Jangan lupa juga klik tanda hati untuk menambahkan ke favorit kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏
__ADS_1