
Di rumah Alea kini sudah ramai dengan keluarga besar mereka yang ingin menyambut kedatangan Alea dari rumah sakit.
Di sana ada keluarga Nara, keluarga Aydan, dan keluarga Rifki tanpa Rifki sendiri tentu nya. Tak lupa di sana juga ada keluarga Alea , Dimas, Dela dan Dinka yang juga ikut hadir di sana untuk ikut meraya kan kesembuhan Alea dan kepulangan nya dari rumah sakit.
" Di mana Rifki?" Dimas dan Dela menghampiri Aydan yang sedang bersama dengan Nara sambil celingukan karena tidak menemukan pria tengil yang selalu meramai kan suasana itu yang tidak terlihat di mana pun.
" Aku tidak tahu, itu juga yang ingin aku tanyakan pada mama Yuki" Aydan mengangkat bahu nya acuh.
" Ish, kenapa tidak terfikir oleh ku untuk bertanya langsung pada kak Yuki ya" Dimas menepuk kening nya sendiri.
" Itu mungkin karena yang ada di dalam fikiran om sekarang hanya kak Dela saja" Nara berkata dengan nada mengejek nya.
" Nara , apa an sih?" Dela tersipu malu.
" Kamu mungkin benar Nara, kak Dela mu ini memang memenuhi pikiran ku akhir - akhir ini" Dimas terkekeh saat mengatakan nya.
" Bisa diam gak sih A? Jangan buat aku jadi tambah malu" Dela mengerucut kan bibir nya lucu.
Ya, sejak Dimas dan Dela memutus kan untuk menjalin hubungan, Dela sudah tidak memanggil Dimas dengan sebutan bapak lagi. Melainkan AA sesuai dengan apa yang Dimas ingin kan. Itu adalah panggilan untuk suami atau kakak bagi orang Sunda. Dimas kan dari Bandung, jadi pasti Sunda pisan.
" Cie, yang panggilan nya udah gak bapak - bapak an. Sekarang malah AA - AA an" Nara berkata dengan nada mengejek nya.
" Jadi, kapan kalian akan menyusul kami ke pelaminan?" Aydan ikut menimpali.
" Kalian do'akan saja, semoga calon Tante kalian ini tidak mau menunda nya lagi. Jujur saja, aku juga sudah tidak tahan ingin segera mengucap kan ijab qobul dan merubah status bujang ku menjadi seorang suami. Kalian tahu kan kalau usia ku sudah tidak muda lagi" Dimas terkekeh di akhir kalimat nya.
" Memang kak Dela masih meragu kan om Dimas?" Nara menatap Dela dengan tatapan tidak percaya nya.
__ADS_1
" Ish, jangan menatap ku seperti itu! Kamu tahu sendiri kalau aku masih ingin berkarir, lagi pula aku baru mengenal a Dimas beberapa bulan saja. Tentu saja aku harus lebih mengenal nya terlebih dahulu" Dela membela diri nya.
" Ya, kamu benar Dela! Jangan gampang percaya pada pria, apa lagi pria seperti om Dimas ini" Aydan tertawa mengejek pada Dimas.
Plakk
Satu pukulan mendarat pada pundak Aydan oleh Nara dengan cukup keras.
" Kamu ini bicara apa ha? Kamu juga seorang pria kalau kamu lupa, dan justru pria seperti mu yang harus di waspadai. Bukan om Dimas" Nara mendengus kesal.
" Kamu benar Nara, terima kasih sudah membela ku! Mulai sekarang aku juga akan selalu membela mu dari dia" Dimas membalas tertawa mengejek pada Aydan membuat Aydan mendengus kesal.
" Kalian sedang membicarakan apa sih, kayak nya seru banget" Alea yang baru saja bergabung setelah tadi dia membersih kan diri nya dan berganti baju di kamar nya, tampak menatap heran pada dua pasangan yang sedang mengobrol dengan seru nya.
" Kami hanya mengobrol biasa saja" Nara yang menjawab.
" Ish, om ini apa - apa an! Kak Rifki tidak datang ke sini, dia tadi pulang duluan tadi dari rumah sakit" Alea mengerucut kan bibir nya.
" Jadi kak Rifki tidak datang? Tapi kenapa?" Nara membulat kan ke dua bola mata nya saat mendengar kan ucapan Alea barusan.
" Ya Lea, kenapa? Apa Rifki berbuat salah pada mu? Aydan ikut menimpali.
Aydan dan Nara khawatir kalau Alea sudah mengetahui semua nya dan marah pada Rifki sehingga Alea tidak mau bertemu dengan Rifki saat ini seperti Nara yang dulu marah pada Aydan.
" Justru aku yang salah pada nya, dan aku tidak tahu bagai mana cara menghadapi nya" Alea menjawab dengan nada yang terdengar lesu.
" Kok bisa? Memang kamu salah apa?" Dela yang tidak tahu kejadian yang sebenar nya tampak mengerut kan kening nya.
__ADS_1
" Ish, aku tidak mungkin menceritakan semua nya pada kalian kan? Ini adalah hal yang sangat memalu kan" Alea menggerutu kesal.
" Tidak perlu kamu cerita kan, kami juga sudah tahu" ucap Aydan dengan santai nya.
" Apa, jadi kalian mengetahui nya?" Alea membulat kan ke dua bola mata nya. " Apa kak Rifki yang menceritakan nya? Dia ini benar - benar" Alea menggeleng - geleng kan kepala nya dengan wajah yang sangat kesal. Alea tidak habis fikir, ternyata semua nya sudah mengetahui nya sebelum dia sendiri yang mengetahui nya.
" Cerita apa? Apa hanya aku yang tidak mengetahui nya di sini?" Dela tampak bingung dengan apa yang sedang mereka bicarakan saat ini.
" Biar nanti aku yang menceritakan nya pada mu" ucap Dimas dengan nada lembut. Dimas memang sudah mendengar cerita itu dari Aydan dan juga Angga, namun dia belum menceritakan nya pada Dela karena dia fikir nanti Dela juga akan tahu dengan sendiri nya.
" Lalu, apa kamu marah pada kak Rifki setelah mengetahui semua nya?" Tanya Nara dengan raut wajah yang cemas.
" Tidak, bagai mana pun juga dia melakukan nya untuk menolong ku" Alea menggeleng kan kepala nya. " Aku hanya malu saja, kenapa bisa - bisa nya aku melakukan hal yang memalu kan seperti itu" Alea menghela nafas nya berat.
" Kamu tenang saja, Rifki juga seperti nya tidak keberatan mendapat kan perlakuan dari mu itu" Aydan berkata dengan santai nya. " Atau mungkin malah dia menik mati nya" tambah Aydan lagi seraya terkekeh dan di ikuti kekehan dari Dimas juga.
" Ish, tetap saja aku sangat malu. Aku tidak tahu bagai mana bisa menghadapi nya mulai dari sekarang, aku seperti sudah tidak punya muka untuk hanya sekedar bertemu dengan nya" Alea lagi - lagi menghela nafas nya berat.
"Lalu, sampai kapan kamu akan menghindar dari kak Rifki?" Nara Mengerut kan kening nya.
" Ya, bukan kah kalian beberapa hari lagi akan menikah?" Dela ikut menimpali.
" Ya, aku tahu. Mungkin sampai hari itu tiba, aku baru akan menemui nya lagi" ucap Alea dengan enteng nya.
" Ish, apa Rifki akan bisa tahan kamu acuh kan seperti itu" ucap Aydan.
" Ya, apa kamu tidak takut Rifki akan tergoda dengan gadis lain nya? Bukan kah Rifki punya banyak penggemar di perusahaan nya?" Dimas ikut menimpali dengan seringai tipis di bibir nya, membuat Alea menjadi terfikir dengan ucapan Dimas barusan kepada nya.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen. Jangan lupa juga klik tanda hati untuk menambah kan ke favorit kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏