Kesucian Yang Direnggut ( Nara Untuk Aydan)

Kesucian Yang Direnggut ( Nara Untuk Aydan)
Bab 36


__ADS_3

Uweekk... Uweeekk


Nara masih memuntahkan isi perut nya dan Aydan setia memijat tengkuk Nara agar Nara merasa lebih baik, Aydan juga mengelus punggung Nara dengan lembut.


" Ada apa?" Nami yang merasa cemas karena mendengar keributan dari tempat Nara dan Aydan berada, langsung saja berjalan cepat ke arah mereka.


" Astagfirullaah Aydan, baru saja Nara mau bertemu dengan mu. Kamu apa kan lagi dia?" Fika yang mengikuti Nami pun langsung menjewer telinga Aydan dengan sangat keras membuat Aydan meringis kesakitan.


" Aw, mommy lepaskan! Aku tidak melakukan apa pun pada Nara" Aydan berusaha melepaskan tangan Fika dari telinga nya, namun Fika tidak memperdulikan ucapan Aydan barusan.


" Iya mommy, ini bukan salah dia" Nara mengusap mulut nya dengan tangan nya setelah dia selesai memuntahkan isi perut nya sambil menyandarkan kepala nya yang merasa pusing pada bunda nya.


" Benar sayang, Aydan tidak melakukan apa pun kan?" Fika masih belum mau melepaskan tangan nya, Nara pun menganggukan kepala nya. " Baiklah mommy lepaskan!" Fika pun langsung melepaskan tangan nya dari telinga Aydan tanpa rasa bersalah sedikit pun.


" Ish, mommy jahat!" Aydan mendengus kesal seraya mengusap telinga nya yang terasa panas. " Apa kamu baik - baik saja Nara?" Aydan kembali bertanya pada Nara memastikan keadaan nya baik - baik saja.


" Aku baik - baik saja, mungkin aku hanya masuk angin saja" Nara masih menyandarkan kepala nya pada Nami dan Nami juga masih mengusap punggung Nara dengan lembut.


" Kalau begitu istirahat lah di kamar, biar Aydan membawakan makan malam untuk mu ke sana" usul Fika.


" Tidak usah mom, aku merasa lebih baik" Nara tersenyum tipis.


" Kamu yakin sayang?" Nami masih terlihat cemas. " Fika apa kita panggil Livia saja ke sini, aku fikir sakit Nara ini bukan sakit biasa" Ya, Nami sedari tadi diam karena dia berfikir akan keadaan Nara yang muntah seperti itu.


" Aku rasa juga begitu" Fika pun menganggukan kepala nya. " Apa kamu fikir Nara__?" Fika menatap Nami penuh arti dan Nami pun menganggukan kepala nya dengan wajah yang sulit untuk di artikan.


" Baiklah aku akan melakukan nya" Fika pun langsung pergi untuk menelpon dokter keluarga mereka dengan tergesa - gesa. Semua nya yang sejak tadi melihat dari kejauhan pun merasa heran dengan apa yang sebenar nya sedang terjadi dan memutuskan untuk bertanya pada Fika dan juga Nami

__ADS_1


Setelah Nara sudah mulai baikan, mereka kini berkumpul di ruang tamu untuk menunggu kedatangan dokter Livia ke mansion untuk memeriksa keadaan Nara.


" Kamu sakit apa sih Nara, kenapa para ibu kita bersikap aneh seperti itu" Alea berbisik pada Nara seraya mata nya melirik para ibu mereka yang malah terlihat antusias dari pada cemas. Tentu saja Alea merasa sangat heran dengan sikap mereka apa lagi para ayah mereka juga terlihat tak kalah antusias dari para ibu kecuali wajah Nanda yang masih terlihat santai. Alea, Nara, Rifki, Angga, Dimas dan Aydan kini sedang berdiri di tempat yang agak jauh dari sofa yang di duduki oleh para orang tua.


" Aku juga tidak tahu, jujur saja aku juga merasa heran" jawab Nara ikut berbisik.


" Ada apa sih?" Rifki yang melihat Alea dan Nara saling berbisik pun tampak mengerutkan kening nya.


" Ya, ada apa ini sebenar nya? Kenapa orang tua kita terlihat sangat aneh" Angga ikut menimpali.


" Entahlah" Alea mengangkat bahu nya acuh.


"Sudahlah lebih baik tunggu saja dokter Livia datang ke sini, dan kita akan tahu ada apa sebenar nya" Aydan berwajah cemas dan panik. Aydan berfikir kalau terjadi sesuatu pada Nara saat ini karena ini ada hubungan nya dengan Nara yang muntah tadi.


" Apa kamu mencemaskan sesuatu?" Dimas yang melihat Aydan yang terlihat cemas tampak menepuk pundak Aydan.


" Kamu jangan khawatir, Nara pasti akan baik - baik saja" Dimas menepuk pundak Aydan dengan pelan mencoba menenangkan keponakan nya itu. Aydan pun menganggukan kepala nya.


Tak lama orang yang mereka tunggu datang dan langsung memeriksa keadaan Nara di dalam kamar yang biasa dia tempati bersama dengan Alea, tak lupa Livia juga membawa benda yang tadi di minta Fika pada nya dan menyuruh Nara untuk memakai nya.


" Ini apa dok?" Nara mengerutkan kening nya seraya membolak balikan benda kecil yang di berikan oleh dokter Livia barusan.


" Nanti aku akan menjelaskan nya, tapi sekarang kamu pakai ini ya!" Ucap Livia tersenyum ramah.


" Bagaimana aku menggunakan nya?" Tanya Nara masih tidak mengerti.


Livia pun menjelaskan cara memakai alat itu dengan sangat rinci, Nara pun mengangguk mengerti dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan apa yang tadi di intruksikan oleh dokter Livia kepada nya.

__ADS_1


Sepuluh menit telah berlalu, Nara pun akhir nya keluar dari dalam kamar mandi dan langsung menyerahkan alat yang tadi dia pakai di dalam pada dokter Livia. Dokter paruh baya itu menerimanya dan tampak melihat alat itu dengan senyum mengembang di bibir nya membuat Nara semakin bingung saja dengan apa yang sebenar nya terjadi pada diri nya.


Ceklek


Pintu pun di buka dari dalam oleh dokter Livia yang di ikuti Nara di belakang nya.


" Bagaimana dokter?" Fika terlihat paling antusias di antara semua nya.


" Ya, dokter bagaimana?" Nami tak kalah antusias. Sedangkan yang lain nya terlihat bersiap untuk mendengarkan dengan wajah yang sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Nara.


" Seperti yang kalian duga" dokter Livia tampak mengembangkan senyuman nya. " Kalau ingin lebih jelas lagi, kalian tahu harus membawa nya ke mana?" Tambah dokter Livia lagi.


" Alhamdulillah!" Ucap semua nya bersamaan dengan wajah yang berbinar, sedangkan Aydan, Rifki, Angga, Dimas dan Alea tampak bingung dengan semua nya yang telah terjadi saat ini termasuk Nara.


" Kalau seperti itu saya permisi dulu!" Dokter Livia pun pamit untuk pulang karena tugas nya sudah selesai.


" Aku akan mengantar mu" Alice pun mengantarkan saudara nya itu sampai pintu utama mansion baru setelah itu dia kembali lagi pada yang lain nya.


" Sebenar nya apa yang terjadi mom?" Aydan yang sejak tadi merasa penasaran pun langsung menanyakan nya pada mommy nya itu.


" Sebentar lagi akan ada bayi di keluarga kita sayang" Fika berkata dengan senyum mengembang di bibir nya.


" Apa? Bayi?" Ucap Aydan dan yang lain nya secara bersamaan dengan wajah yang sangat terkejut saat mendengarkan perkataan Fika barusan.


" Ya, kita akan kedatangan bayi yang sangat lucu" Yuki yang menjawab dengan wajah yang berbinar.


Walaupun Nara dan Aydan belum menikah dan kehamilan Nara memang di luar pernikahan, tapi mereka juga harus mensyukuri itu, apa lagi bayi dalam kandungan Nara tidak berdosa sedikit pun yang mengharuskan mereka mengutuk dan membenci kandungan Nara. Mereka fikir mungkin ini cara Tuhan untuk mempersatukan Aydan dan Nara yang akan menghancurkan dinding besar yang selama ini menghalangi hubungan mereka sendiri.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen. Jangan lupa juga klik tanda hati untuk menambahkan ke favorit kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏


__ADS_2