
Keesokan pagi nya, Alea sudah boleh pulang dari rumah sakit, karena keadaan nya yang sudah mulai membaik. Namun sejak semalam Alea masih belum mau menemui Rifki yang sejak tadi malam Alea usir dari ruangan nya, sehingga Rifki hanya bisa menunggu Alea dari luar ruangan nya. Bahkan Rifki juga terpaksa harus tidur di sana setelah malam menjelang subuh saat mata nya sudah mulai tidak bisa di ajak untuk terbuka lagi
" Ki, kok kamu gak di dalam? Apa Alea masih marah pada mu? Memang nya kalian tidak bicara kemarin?" Alice yang baru saja datang untuk menjemput Alea yang akan pulang pagi ini, merasa heran saat melihat Rifki masih tertidur di atas kursi tunggu yang berderet di depan ruangan Alea. Ya, Alice baru saja membangun kan Rifki dengan cara menggoyang kan tubuh nya.
" Eh, mami" Rifki mengerjap kan mata nya beberapa kali seraya mengucek nya saat dia baru bangun dari tidur nya. " Mami sudah lama?" Tambah Rifki lagi seraya mengubah posisi nya yang tadi nya terbaring menjadi duduk.
" Mami baru saja datang. Kamu sedang apa di sini? Kenapa kamu tidak di dalam?" Alice menduduk kan diri nya di samping Rifki.
" Alea semalam menyuruh ku keluar, dan saat aku ingin kembali masuk. Alea tidak mengizinkan ku" jawab Rifki dengan santai nya.
" Kok bisa? Apa Alea masih marah pada mu?" Alice mengerut kan kening nya.
" Aku tidak tahu mam, aku bingung" Rifki mengangkat bahu nya acuh membuat Alice semakin bingung saja. " Semalam kami sudah bisa mengobrol seperti biasa, tapi Alea langsung menyuruh ku keluar setelah aku menceritakan semua kejadian waktu itu karena Alea ingin mengetahui nya" Rifki menjelas kan. " Apa dia marah pada ku ya mam?" Rifki kini berwajah cemas.
" Jadi kamu sudah menceritakan semua nya pada Alea?" Alice bertanya dengan wajah terkejut nya.
" Ya mam, makan nya aku takut kalau Alea marah kepada ku" Rifki pun mengangguk kan kepala nya.
" Mami juga tidak tahu, kalau begitu, biar mami masuk ke dalam dan bicara pada Alea. Kamu tunggu di sini saja!" Alice pun langsung bangkit dari duduk nya " semoga saja dia tidak marah pada mu" setelah mengatakan itu Alice pun melangkah kan kaki nya ke dalam ruangan putri nya setelah Rifki mengangguk kan kepala nya.
__ADS_1
Ceklek
Pintu ruangan Alea di buka dari luar oleh Alice, dan ternyata Alea masih tidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuh nya sampai wajah nya pun tertutup.
" Alea, apa kamu masih tidur sayang?" Alice mendekati ranjang yang di tempati Alea dan membuka selimut yang menutupi tubuhnya.
" Mami, aku kira siapa? " Allea langsung membuka mata nya dan langsung menduduk kan diri nya.
"Memangnya kamu pikir siapa? Lalu kenapa Rifki ada di depan dan tidak menemanimu di sini? " Alice mengerut kan kening nya seraya menatap Alea dengan tatapan menyelidik nya.
" Apa mami pikir aku bisa bertemu dengan Kak Rifki setelah apa yang aku lakukan pada nya?" Alea mengerucutkan bibir nya.
"Apa maksudmu, mami tidak mengerti? " Alice lagi-lagi dibuat bingung dengan ucapan putri nya itu.
" Coba mami tebak " Alice tampak berpikir. "Apa Rifki sudah mencerita kan semua nya padamu? Alice menatap Alea dengan intens. Alea pun mengangguk kan kepala nya dengan wajah yang tersipu malu. " Kamu tidak marah pada Rifki?" Alice masih menatap intens putri nya itu.
"Ish, kenapa aku harus marah? Kak Rifki kan berbuat seperti itu untuk menolong ku, bahkan di sini aku yang salah" Alea mengerucut kan bibir nya. " Lagi pula waktu itu aku yang sudah memperkosa kak Rifki, dan bukan sebalik nya" Alea mende sah frustasi. " Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan mam ? Aku sangat malu saat ini, apa lagi jika harus bertemu dengan nya. "Alea mengusap wajah nya frustasi.
" Hahaha" tawa Alice pecah saat mendengar kan ucapan Alea barusan. Ternyata fikiran Alea tidak mudah di tebak seperti apa yang sedang di fikir kan nya.
__ADS_1
"Ish, kenapa mami malah tertawa sih? "Alea memberengut kesal. Sungguh Alea tidak habis pikir dengan mami nya itu yang bisa - bisa nya menertawakan diri nya yang sedang kebingungan.
" Kamu sangat lucu sayang " Alice berusaha menghentikan tawa nya. "Kamu tidak perlu malu, bukankah sebentar lagi kamu juga akan menikah dengan Rifki? Lagi pula Rifki seperti nya tidak keberatan kamu sudah merenggut keperjakaan nya " Tambah Alice lagi masih dengan tawa nya.
"Ish, mami ini bicara apa sih?" Alea semakin memberengut kesal." Tapi Mami benar juga sih, tapi tetap saja aku malu" Alea menutup wajah nya sendiri. " Mami bisa bayangkan, dia sudah melihat semua nya. Bahkan aku sudah melakukan hal yang sangat memalukan di depan nya" tambah Alea lagi dengan posisi yang sama dan dengan wajah yang sudah terlihat memerah seperti tomat.
" Ya, mami bisa bayang kan" Alice mengangguk - angguk kan kepala nya. " Tapi mau sampai kapan kamu akan menghindari Rifki, apa sampai Rifki mendapat kan kekasih dan meninggal kan mu karena bosan kamu acuh kan, begitu?" Alice mengangkat alis nya sebelah.
" Ish, mami jangan bicara seperti itu! Tentu saja itu juga tidak boleh, bagai mana pun juga kak Rifki harus mempertanggung jawab kan perbuatan nya pada ku". Alea mendengus kesal. "Ya walau pun dalam hal ini aku yang sudah memulai nya duluan" tambah Alea lagi dengan senyum kikuk di bibir nya.
" Itu kamu tahu, tapi bagai mana Rifki mau mempertanggung jawab kan perbuatan nya pada mu kalau kamu sendiri tidak mau menemui nya?" Alice tidak habis fikir dengan pemikiran putri nya itu.
" Aku juga bingung" Alea mengangkat bahu nya acuh. " Apa mami bisa membantu ku?" Alea menatap Alice dengan tatapan memohon nya.
" Apa?" Alice mengerut kan kening nya.
" Kemari lah!" Alea menggerak kan tangan nya untuk menyuruh mami nya untuk mendekati diri nya, dan setelah itu Alea membisik kan sesuatu di telinga Alice. Alice sesekali mengangguk kan kepala nya mengerti dengan ucapan putri nya itu, dan sesekali Alice juga tampak mengerut kan kening nya karena merasa heran dengan apa yang di fikir kan oleh putri nya itu.
Pada pagi itu, akhir nya Alea pulang dari rumah sakit hanya dengan Alice saja. Sedang kan Rifki tadi sudah pulang duluan atas permintaan Alea tadi yang di sampai kan oleh mami nya Alice karena Alea merasa belum siap untuk bertemu dengan pria itu saat ini.
__ADS_1
Rifki awal nya menolak karena diri nya juga ingin bertemu dengan wanita yang berstatus sebagai calon istri nya itu, namun setelah Alice memberi kan pengertian kepada nya. Akhir nya Rifki pun setuju walau pun dengan perasaan yang berat hati untuk pulang terlebih dahulu ke rumah nya tanpa menemui Alea terlebih dulu dalam waktu dekat ini. Setidak nya sampai hari pernikahan mereka yang akan di selenggarakan beberapa hari lagi, tepat nya delapan hari lagi.
Jangan lupa like, vote dan komen. Jangan lupa juga klik tanda hati untuk menambahkan ke favorit kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏