KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 99 | Rencana Kejutan (2)


__ADS_3

Anton dan Natashya tiba di rumah dalam keadaan sehat, selamat sentosa. Tak butuh waktu lama, keduanya langsung terlelap ketika tiba di kamar dan bertemu dengan ranjang empuk mereka.


Rasanya capek sekali.


Oleh-oleh dan barang-barang lainnya akan diurus nanti saja.


Tiga jam kemudian...


Natashya terbangun lebih dulu daripada Anton. Ia segera membersihkan diri ketika sadar bahwa jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Baru setelah itu menunaikan ibadah salat Ashar.


“Nio, bangun dulu.” Natashya mengguncang-guncang bahu sang suami. Lelaki itu menggeliat dan bergumam pelan, namun matanya tak kunjung terbuka.


Natashya menghela napas panjang. Mau tak mau, ia harus memaklumi kondisi suaminya. Anton sepertinya sangat kelelahan karena perjalanan liburan kali ini.


Setibanya di Jakarta, Anton, Natashya, Hafi, Laily, Rio, dan Nadia memang tidak langsung pulang. Mereka bertandang sebentar ke restoran untuk makan siang bersama, baru setelahnya berpisah untuk kembali ke rumah masing-masing.


“Ya udah, deh.” Natashya hendak bangun. Namun, pergelangan tangannya ditahan. Kepala wanita itu menunduk, menatap tangannya yang digenggam oleh Anton yang masih setia dengan pejamannya.


“Di sini aja..” ucap Anton pelan. Lanjut menarik tangan sang istri hingga telentang di atas ranjang kemudian memeluknya layaknya guling.


Natashya memberontak, ruang geraknya habis tak bersisa gara-gara perlakuan Anton. “Yo, aku mau rapi-rapi barang di koper.”


“Nanti aja, Sayang.”


“Nio,” rengek Natashya.


Anton tergelak pelan, Natashya yang seperti ini terlihat sangat menggemaskan di matanya. Jadi, ingin manja-manjaan lagi, deh.


Cup cup cup!


Anton mengecupi pipi Natashya hingga basah. Akhirnya, wanita itu pasrah dan terdiam. Ia tidak memberontak lagi.


Lelaki itu mana bisa dibantah.


Merasa tak ada lagi perlawanan membuat Anton bersorak dalam hati. Ia makin berani menciumi wajah Natashya. Ditambah tangannya ikut bergerilya ke dalam pakaian sang istri, mengusap kulit lembut Natashya yang begitu mulus.


“Nio, ih! Tangan kamu ke mana-mana!” protes Natashya. Ia berusaha menghentikan pergerakan tangan Anton yang tetap nekat menelusuri tubuhnya dari dalam. “Nio—aahh!” pekik Natashya ketika Anton meremas asetnya.


Sontak hal itu membuat Anton menerima hadiah berupa pelototan tajam dari sang istri. Anton cuma bisa cengengesan untuk membalasnya.


“Empuk tau,” celetuk Anton yang masih setia menaruh tangannya di atas aset Natashya.


Natashya berdecak pelan. Ia segera mengeluarkan tangan Anton dari pakaiannya, lalu bangkit dari posisi. Otaknya sudah mengeluarkan alarm waspada untuk tingkah Anton yang satu ini.


Kenapa, sih, cowok itu kalo mikir selalu nggak jauh dari hal yang mesum-mesum?

__ADS_1


Bisa gila Natashya kalau begini terus.


“Mandi terus salat, oke?!” kecam Natashya datar.


Anton mengiyakan. Ia bangun dan mencuri satu ciuman di bibir Natashya sebelum melenggang masuk ke dalam kamar mandi.


“ANTONIO!”


...❄️❄️❄️...


Pagi ini, Anton sudah siap dengan kemeja berbalut jas, sedangkan Natashya juga siap dengan setelan kasualnya untuk pergi ke kampus. Hari ini, aktivitas keduanya kembali berlanjut.


Tidak baik menunda-nunda hal semacam ini.


Bukannya mendapat kebaikan, mereka akan dibuat semakin puyeng karena pekerjaan dan tugas yang menumpuk.


“Nio, semalam Laily ngajak aku ke mall setelah pulang dari kampus. Aku boleh pergi tidak?” tanya Natashya meminta izin.


Anton tersenyum simpul. Mana bisa ia menolak jika mata Natashya sudah mengeluarkan kemerlip-kemerlip penuh permohonan itu. Huh, kemampuan puppy eyes istrinya meningkat pesat rupanya.


“Boleh, Sayang,” jawab Anton yang mengundang sorakan senang dari Natashya. “Tapi, jangan pulang malam-malam, ya.”


“Iya, Suamiku.” Natashya tersenyum manis seraya memeluk Anton. “Minta uang?” pintanya manja.


Anton tergelak. Sudah sangat lama Natashya tidak meminta uang seperti ini. Biasanya, kan, Anton sudah memberi jatah bulanan setiap awal bulan kepada Natashya.


Tanpa ragu lagi, Anton memberikan uang dengan nominal yang sama seperti yang Natashya sebutkan. Istrinya itu langsung kegirangan.


Yes! Belanja sepuasnya!


“Ya udah, aku berangkat dulu, ya.” Natashya menyalami Anton dan mengecup bibirnya.


Anton mengangguk-angguk senang. Kecupan dari Natashya menambah semangatnya.


“Semangat bekerja, Suamiku.”


“Selamat belajar juga, Istriku.”


...❄️❄️❄️...


Pukul dua siang, Natashya dan Laily keluar dari ruangan. Akhirnya, kelas mereka hari ini telah usai. Dan, sesuai rencana, keduanya akan pergi refreshing ke mall sekarang.


Sekalian menghilangkan penat dari ujian yang baru saja Natashya lakukan.


Natashya mengikuti ujian susulan semester ini. Materi kuliahnya selama satu semester sudah berhasil ia pahami dengan bantuan jurnal Laily.

__ADS_1


Lihat! Kenapa karakter yang satu ini begitu pintar, sih? Ay iri, lho.


Hish! Udah, ah! Kesel Ay lama-lama.


Dan, sekarang, Natashya dan Laily sudah berada di semester terakhir kuliah S2 mereka. Setelah semester ini berakhir, mereka bisa fokus skripsi dan lulus!


“Lo mau beli apa emangnya di mall?” tanya Natashya penasaran. Saat ini, keduanya sudah berada dalam perjalanan menuju mall menggunakan mobil Natashya. Rencananya, sih, mereka akan makan siang di sana juga.


“Kemeja,” jawab Laily asal.


Natashya menaikkan sebelah alisnya seraya melirik ke samping sekilas. “Udah? Itu doang?”


Laily mengangguk yakin, berusaha tidak terlihat gugup.


Masalahnya, pergi ke mall sepulang kuliah merupakan bagian dari rencana Anton untuk Natashya. Ingat, kan, kalau Natashya akan berulang tahun?


Dan, hari ulang tahun Natashya adalah hari ini, kawan-kawan!


Laily sekarang sedang menjalankan tugas pentingnya yang diberikan suami Natashya itu. Ia tidak boleh gagal pokoknya.


Soalnya, kalau gagal, rencana yang lain juga ikutan gagal.


“Gue mau belikan sesuatu buat Kak Hafi,” alibi Laily agar terlihat lebih meyakinkan.


Walaupun agak aneh, Natashya tetap berusaha percaya.


Bagaimana tidak aneh coba? Membeli kemeja di mall bagi Laily adalah hal yang harus dipertimbangkan dengan cermat oleh gadis itu. Laily berasal dari keluarga yang sederhana, ekonomi keuangannya tidak seberuntung keluarga Natashya.


Jadi, jika Laily ingin membeli kemeja di mall, tentu gadis itu harus merogoh saku hingga ke titik terdalam. Harga pakaian di mall, kan, sangat fantastis.


Tapi, mengingat bahwa itu untuk Hafi yang notabenenya adalah calon suami Laily sendiri, Natashya berusaha memaklumi. Mungkin sahabatnya itu ingin membelikan sesuatu yang berharga untuk calon suaminya.


“Kita makan dulu, ya.”


Laily mengangguk setuju. Mereka mampir di food court yang ada di mall, membeli salah satu menu di sana, dan mulai menyantapnya sebagai makan siang. Tidak butuh waktu lama, mereka selesai makan.


Natashya dan Laily sekarang sedang mengitari tempat-tempat yang menjual pakaian pria dan wanita. Sesekali Natashya juga melirik ke salah satu setelan, berharap ada yang cocok untuk suaminya juga.


Namun, ketika matanya menangkap sesuatu di tempat lain, senyum misterius terpasang di bibir Natashya. Ia mendekati barang tersebut dan menunjukkannya pada Laily.


“Ly, lo mau beli ini nggak? Pasti Hafi seneng liatnya,” tawar Natashya berbaik hati seraya menenteng sebuah pakaian di tangannya.


Laily menoleh. Sejurus kemudian, kedua mata gadis itu membelalak lebar. Ia menatap sahabatnya tajam.


“NATASHYA!”

__ADS_1


^^^To be continue...^^^


__ADS_2