KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 103 | Apa Penyebabnya?


__ADS_3

Maaf, guys. Kemaren nggak update karena ketiduran, huhu.


...Happy reading:)...


.......


.......


.......


Pagi ini, Natashya sudah siap dengan outfit-nya. Ia, Laily, dan Aisha akan pergi ke RSJ Harapan untuk menemui Alka.


Masalah tidak akan pernah selesai jika kita hanya diam saja bukan?


Dan, langkah pertama yang Natashya ambil adalah menyelidiki penyebab Alka depresi.


Anton yang melihat istrinya berdandan di depan cermin rias mencebikkan bibirnya. Ia tahu, Natashya akan menemui Alka hari ini. Dan, Anton sebenarnya masih tidak rela.


“Sayang, kamu beneran mau ketemu Alka?” tanya Anton sekali lagi, berharap di dalam hati bahwa Natashya akan berubah pikiran karena melihatnya yang tidak rela.


Natashya terkekeh melihat ekspresi masam suaminya itu. Ia tahu sekali kalau Anton itu tidak sepenuhnya ikhlas dirinya menemui Alka, namun juga tidak bisa melarang.


Dilema dia, haha.


“Iya, Nio,” jawab Natashya.


“Kamu nggak lelah?”


Natashya menggeleng. “Nggak, kok. Emang kenapa harus lelah?”


Anton menyeringai kecil. “Kan, semalem kita main lima ronde beneran.”


Mendengar kata ‘lima ronde’ dari bibir Anton membuat otak Natashya secara otomatis memutar kenangan semalam. Iya, benar, dia digempur habis-habisan oleh suaminya tanpa ampun.


Natashya memang tidak menolak jika Anton mengajaknya ber*inta lagi dan lagi. Selain karena ini merupakan salah satu usahanya untuk bisa segera hamil, Natashya juga ingin menyenangkan suaminya. Toh, dia juga mengaku bahwa permainan panas semalam sangat nikmat.


Bibir Natashya terkulum ke dalam, rona merah mulai muncul di pipinya yang mulus. Ia ingat betul bagaimana dirinya ikut agresif semalam.


Anton yang melihat hal tersebut sampai tertawa kencang. Astaga, istrinya itu menggemaskan sekali! Dia, kan, jadi makin tidak rela!


Kurung di kamar aja kali, ya?


“Ehm, a–aku nggak lelah, kok. Kan, udah istirahat tadi.” Natashya mengalihkan pandangannya. “Kamu nggak ke kantor, Yo?”


Anton tahu istrinya sedang malu, jadi wanita itu berusaha mengalihkan topik. Tak ingin membuat Natashya ngambek, Anton memilih untuk menjawab, “Iya, nanti ke kantor.”


“Mau aku bawakan makan siang?”


Anton mengangguk. “Boleh.”


“Mau aku yang masak atau beli aja?”


“Kamu aja, Sayang.”


“Mau menu apa?”


“Mau kamu.”


“Iya, aku yang masak. Aku tanya, mau men—”


“Bukan itu maksud aku!” potong Anton cepat.


Natashya menaikkan sebelah alisnya, bingung. “Terus maksud kamu apa?”


“Kamu tanya aku mau menu apa, kan?” Natashya mengiyakan pertanyaan Anton. “Nah, aku mau kamu yang jadi menu makan siang aku,” jelas Anton girang. Mata lelaki itu berbinar senang membayangkan beberapa gaya yang akan dipraktekkan di kantor nanti.


Mengetahui arti ucapan Anton, sontak Natashya mendatarkan pandangannya. Ia mendengkus seraya melengoskan kepalanya. “Nio,” panggil Natashya serius.


“Iya, Yang?”


“Mulai hari ini, kamu puasa satu bulan ke depan! Titik!”


Anton cengo. What? Puasa?


“Dasar maniak!” seru Natashya kesal seraya melangkah keluar kamar.


Anton makin melongo dibuatnya. Gue maniak?!


...❄️❄️❄️...


Sesuai kesepakatan, di sinilah ketiga perempuan ini berada, di depan bangunan tiga lantai yang bernuansa warna biru muda dan putih, RSJ Harapan. Natashya, Laily, dan Aisha bertekad untuk membongkar satu per satu semua teka-teki yang merumitkan hubungan mereka di masa lalu.


“Langsung aja, nih?” tanya Laily memastikan.


Natashya dan Aisha berpandangan sejenak sebelum mengangguk yakin. Ketiganya berjalan masuk beriringan. Karena ada Aisha, mereka lebih mudah mendapat izin masuk untuk menemui Alka.


Tok tok tokk..


Aisha mengetuk pintu ruangan bernomor 11, kemudian memutar kenop dan membuka pintu. Seperti biasa, Alka di dalam tengah duduk di sudut ruangan dengan binar mata kosong.


“Al, ini gue, Aisha.” Aisha mencoba mendekati saudara kembarnya itu. Mereka itu saudara kembar tidak identik, jadi untuk membedakan keduanya adalah hal yang mudah. “Liat, gue dateng sama siapa. Ada Laily sama Natashya, sahabat kita.”

__ADS_1


Lagi-lagi, Alka merespon ketika nama Natashya disebutkan. Bibir lelaki itu melengkung perlahan ketika tatapannya bertemu dengan sosok pujaan hatinya. “Natashya...” lirihnya hampir tak terdengar.


Natashya tersenyum. Ia berjalan maju beberapa langkah, lantas berjongkok di depan Alka. “Assalamualaikum, Al.”


“Wa‘alaikumsalam,” balas Alka pelan.


“Gimana kabar lo?”


“Baik.”


Aisha tersenyum kecut. Bagaimana bisa Alka menjawab dengan begitu cepat tanpa ragu jika bersama Natashya? Padahal, kalau sedang bersamanya, lelaki itu bersikap biasa saja.


“Udah makan?” tanya Natashya.


Alka menggeleng. “Belum, Shya. Makanan di sini nggak enak.”


Natashya terkekeh. “Gue bawakan lo makanan, mau?”


“Mau,” jawab Alka tanpa berpikir lagi.


Beruntung Natashya membawa makanan lebih untuk dimakan bersama di sini. Ia tahu, orang yang memiliki masalah kejiwaan tentu sulit meningkatkan selera makan.


Akhirnya, Natashya, Laily, Aisha, dan Alka makan bersama. Mereka makan dengan khidmat.


Setelah makan, Natashya dan Laily nampak berbincang dengan Alka. Mereka berusaha menciptakan suasana yang nyaman agar nanti Alka bisa bercerita tanpa ragu.


“Oh, ya, Al, dulu lo ke mana, sih? Kok, tiba-tiba ilang gitu aja sama Aisha?” tanya Laily santai.


Alka menatap Laily. “Aku ketemu orang jahat, Ly!” serunya menggebu-gebu.


Kedua mata Natashya membulat, sok terkejut. “Ya ampun! Kok, bisa, sih, Al? Terus lo nggak pa pa, kan?”


Sesuai rencana, Alka akhirnya bisa bercerita. Aisha, Natashya, dan Laily berusaha terus memancing lelaki itu agar mau mengatakan yang sebenarnya tanpa memancing rasa takut Alka.


“Iya, aku nggak pa pa. Tapi, teman aku meninggal gara-gara dia.” Alka tertunduk lesu mengingat teman kecilnya tiada karena sosok jahat yang dimaksud.


“Siapa orang jahat itu, Al? Kita harus cari terus hukum dia!” cetus Aisha menggebu-gebu.


Alka menoleh dengan tatapan sendu, kepalanya menggeleng pelan. Ia tidak mau mengingat sosok jahat itu, apalagi menyebut namanya. Sosok jahat itu terlalu keji untuk dipanggil namanya.


“Al.. siapa orang itu?” tanya Natashya lembut.


Alka menggeleng tegas. “Aku nggak mau ingat dia! Dia jahat!” pekiknya menolak. “Kalian pulang! Aku mau sendiri!”


“Tapi, Al—”


“Pergi, Sha! Aku mau sendiri!” teriak Alka memotong perkataan Aisha.


Akhirnya, ketiga perempuan itu berpamitan dan pergi dari ruangan Alka. Tidak langsung pulang, mereka mampir ke sebuah cafe yang tak jauh dari rumah sakit.


“Jadi, gimana?” tanya Aisha ingin tahu.


Laily dan Natashya saling melempar pandangan satu sama lain. Seakan pendapat mereka sama, keduanya mengangguk bersamaan.


“Cuma satu kesimpulan dari apa yang gue liat dari kondisi Alka tadi,” ucap Laily serius.


“Apa?” Aisha mulai tak sabar.


“Alka depresi karena teman kecilnya meninggal,” jawab Natashya.


Aisha mengernyit, ia bingung. Apa hubungannya dengan Alka?


“Kok, gitu?”


“Kemungkinan, sosok jahat yang Alka maksud udah ngebuat teman kecil Alka meninggal tepat di hadapan Alka. Karena itu, dia trauma dan akhirnya depresi,” jelas Natashya sejelas mungkin.


“Kenapa lo bisa nyimpulin kayak gitu?”


“Alka dibawa ke rumah sakit jiwa tanpa luka sama sekali, tapi dia trauma sama darah. Bukannya itu aneh?” Laily ikut mengutarakan kecurigaannya. “So, gue yakin, apa yang Natashya bilang itu ada benarnya juga.”


Aisha menatap kedua sahabatnya tajam. Dia tidak paham! Beneran!


“Gue nggak paham, woi! Akh, jurusan kuliah gue sama kalian beda, Bego! Jelasin yang rinci!” seru Aisha sebal.


Natashya dan Laily sama-sama menghela napas. Mereka berusaha maklum walaupun sudah jengkel bukan main.


Getok kepala Aisha satu kali nggak akan memperpendek umur satu tahun, kan?


“Bayangin, Sha, lo ngeliat Laily dibunuh di—”


“Eh, anjir! KENAPA GUE YANG JADI PERUMPAMAANNYA?!” Laily tak terima. Perkataan Natashya jadi seperti mendoakannya mati karena pembunuhan.


Wah, wah, itu tidak baik!


Natashya mendengkus. Ia pun menjelaskan kepada Aisha lebih rinci TANPA menyebut nama Laily. Sahabatnya itu nampak manggut-manggut, sepertinya mulai paham.


“Paham, kan?” tanya Laily.


Aisha menggeleng dengan polosnya. “Nggak.”


Sontak Natashya dan Laily menepuk jidatnya karena frustrasi. “Hadehhh...” keluh mereka.

__ADS_1


Hihi, yang sabar, ya, Shya, Ly. Orang sabar, laki-nya ganteng, kok.


^^^To be continue...^^^


...❄️❄️❄️...


Hai! Ay datang dengan cerita baru! Cerita dengan tingkat prioritas sama dengan “Kisah Kita”


Judulnya, “Raniya’s Secret”



Gimana? Keren nggak cover-nya? Iya dong, kan, nyolong pinterest, ehe:v


Ay kasih cuplikan chapter 1, ya😉


...🔫🗡️🔫...


“Berita hot, guys!”


“Apaan?”


“Tadi gue ketemu cewek.. beuhh! Cantiknya bukan maen!”


“Eh, serius?”


“Gilanya lagi, tuh cewek mirip Aron!”


“Hah? Aron?!”


“Kayaknya, sih, mereka kembar?”


“Lah? Sejak kapan Bebeb Aron ada saudara?”


“Tapi, mukanya sama persis.”


“Like Aron versi cewek, lah.”


“Moga satu kelas sama gue. AMIN!”


“Dih..”


Begitulah kericuhan yang terjadi di Best High School. Mereka membicarakan sosok gadis yang dikatakan mirip dengan sang idola sekolah. Gadis yang memiliki paras menawan itu merupakan siswi pindahan luar negeri.


Sementara itu, gadis yang menjadi objek pembahasan para siswa-sisiwi itu kini tengah duduk manis di kelasnya. Ia fokus membaca buku di tangan dengan earphone yang menyumbat telinganya, mengabaikan tatapan kagum dari siswa lain yang berada satu kelas dengannya.


“Woi!” teriak seseorang seraya menepuk bahu gadis yang dengan lancang duduk di kursinya.


Gadis itu menoleh. Kedua matanya membola melihat sosok di sampingnya. Senyum gadis itu merekah, maniknya berbinar senang. “Hai,” sapanya.


Lelaki itu tertegun. Ia menatap gadis itu dengan sorot tak teartikan. “Kak.. Raniya?”


Gadis itu mengangguk kecil dengan senyum yang lebih lebar. “Senang bisa bertemu denganmu.. Aron.”


...🔫🗡️🔫...


Raniya terus memasang senyum ramah kepada setiap siswa maupun siswi yang menyapanya. Jam istirahat kali ini ia gunakan untuk mengisi perut di kantin sekolah. Namun, langkahnya terurungkan ketika dua manusia berbeda gender dengan tatapan tak percaya menghadang jalannya.


“Ran? Ini lo?” tanya lelaki dengan nametag Rafael Miracle K.


Raniya tersenyum seraya mengangguk.


“Gila! Lo—”


Ting!


Ucapan Rafael terpotong karena ponselnya berdenting, menandakan bahwa ada pesan masuk. Ia meraih benda pipih itu dan membukanya.


..._____________________...


...The Devil:P...


...offline...


• Mulut lo lemes bgt, ya


• Kayknya cocok buat dijadiin objek jahitan:)


..._____________________...


Glek!


Gila! Kapan dia ngetiknya?!


...🔫🗡️🔫...


Next? Langsung cuss karena cerita ini udah meluncur!



Selamat membaca!

__ADS_1


__ADS_2