
Dengan berlari ia menyusuri lorong rumah sakit. Air mata menemaninya mencari ibu mertua. Dengan nafas tersengal, Asty menghampiri meja resepsionis.
"Maaf Mba, saya mau tanya, pasien atas nama ibu Ranti korban kecelakaan, ada di mana ya?" Tanyanya khawatir, dia mengatur nafasnya sejenak.
"Sebentar ya, Mba," jawabnya. Wanita itu terlihat mengotak-ngatik komputer di depannya.
"Pasien atas nama ibu Ranti, masih di ruangan UGD, Mba."
Setelah mengucapkan terimakasih, Asty secepat kilat menuju ruangan itu.
Dia mematung di depan pintu UGD, menunggu dengan harap-harap cemas. Dia lupa mengabari suaminya.
Segera ia mengambil ponsel di saku jaketnya. Namun Arya tak kunjung menjawab telfonnya. Sudah beberapa puluh kali Asty menekan nomor suaminya, namun hasilnya tetap sama.
Sebuah pintu terbuka, tampak seorang pria paruh baya dengan pakaian kebesaraannya. Menghampiri Asty yang sedang berdiri sembari berjalan mondar-mandir.
"Maaf, apa anda keluarga pasien?"
"Iya, Dok. Saya menantunya. Bagaimana keadaan Mama saya?"
"Sebaiknya anda ikut ke ruangan saya," katanya dengan tegas.
Asty mengekor dibelakang, lalu ikut masuk ke dalam ruangan dokter tersebut.
******
Asty masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Ia mengedarkan pandangannya, berharap suaminya sudah berada di sini. Namun nihil, tak ada siapa pun di ruangan itu. Asty lupa, bahwa suaminya tak mengangkat telfon darinya.
Ia berusaha duduk, lalu mangambil ponsel yang berada di atas nakas. Menelfon nomor yang sama, semoga kali ini, suaminya menjawab telfonnya.
"Hallo, Assalamu'alaikum," jawab Arya di seberang sana.
"Wa'alaikumsalam. Mas, kamu ke mana aja sih? Dari tadi aku telfon, cepat ke rumah sakit sekarang. Mama kecelakaan," ucapnya.
Air mata kembali membasahi pipinya. Kala mengingat keadaan mertuanya yang tak sadarkan diri.
"Apa? Yasudah, aku ke sana sekarang! Di rumah sakit mana Sayang?" jelas sekali nada khawatir dalam bicaranya.
"Di Rumah sakit XXX, Mas. Aku tunggu, kamu hati-hati bawa mobilnya." Pungkasnya, lalu Arya mematikan sambungan telfonnya.
Asty segera beranjak meninggalkan ruangannya, ia ingin melihat keadaan mertuanya. Dan berharap tak ada seorang pun yang tahu, atas apa yang telah ia lakukan.
Flashback
Asty sudah sangat gugup, keringat dingin membasahi telapak tangannya. Dokter di hadapannya tengah serius membaca berkas yang berada di mejanya. Dokter itu menatap ke arah Asty, membetulkan letak kacamatanya.
__ADS_1
"Keadaan pasien sangat kritis, dia membutuhkan tranfusi darah. Dan kebetulan, persediaan darah di rumah sakit ini sudah habis." Dokter menjeda ucapannya.
"Kami membutuhkannya segera, karena kami harus melakukan tindakan operasi secepatnya, agar nyawa pasien dapat tertolong." Lanjutnya dengan suara berat.
"Lakukan yang terbaik untuk mertua saya, Dokter. Kalau boleh saya tahu, apa golongan darahnya?"
"Golongan darah pasien AB, anda bisa menghubungi keluarga pasien, siapa tahu darahnya ada yang cocok," ujarnya memberi saran.
"Tidak perlu Dokter! Golongan darah saya AB, Dokter boleh mengambil darah saya. Kalau menunggu keluarga pasti akan lama."
"Tolong selamatkan mertua saya, Dokter. Saya tidak ingin kehilangan beliau," lirihnya. Asty sudah terisak di hadapan Dokter tersebut.
"Yasudah, mari ikut saya. Kita lakukan secepatnya!"
*****
Asty tengah duduk di kursi tunggu, lampu di ruang operasi masih menyala. Menandakan operasi belum selesai.
Mulutnya tak henti melafalkan do'a. Semoga Allah menyelamatkan mertuanya. Air matanya terus saja mengalir.
Meski selama ini hubungannya dengan mama mertua kurang baik, namun Asty begitu menyayangi mertuanya tersebut. Terdengar suara seseorang memanggilnya, Asty menoleh, Arya menghampiri Asty dengan berlari kecil.
"Sayang, gimana keadaan Mama?" tanyanya, matanya sudah berkaca-kaca.
"Mama ... dia sedang di operasi, Mas. Sebaiknya kita berdo'a semoga operasinya berjalan dengan lancar," jawabnya lirih.
******
Dengan sabar, Asty mengusap punggung suaminya. Ia tahu, Arya begitu menyayangi Mamanya. Meskipun hubungan mereka sedikit renggang. Lampu di dalam sudah berganti, menandakan operasi sudah selesai.
Salah seorang doktet keluar, membuka masker yang selama operasi ia pakai. Arya segera menghampiri dokter tersebut, menanyakan keadaan Mamanya.
"Bagaimana keadaan Mama saya Dokter?"
"Alhamdulillah, operasi berjalan dengan lancar. Pasien masih lemah, harus banyak bersitirahat. Sebentar lagi, pasien akan kita pindahkan ke ruang perawatan," jelasnya. Seulas senyum terkembang di wajahnya.
"Alhamdulillah, terimakasih Dokter," ucap Arya.
"Sama-sama, ini sudah tugas saya. Kalau begitu, saya permisi dulu." Ujarnya seraya berlalu pergi.
Asty dan Arya berpelukan, meluapkan rasa bahagia atas keberhasilan operasi Mama.
******
Sementara itu, di rumah Zayna, sedang sangat sibuk. Menyiapkan beberapa hidangan, mulai dari menu utama sampai menu penutup.
__ADS_1
Zain dengan semangat membuat kue black forest, beberapa hari ini ia sangat serius belajar membuat kue.
Zayna merasa aneh dengan sikap suaminya. Dan ajaibnya, suaminya itu cepat sekali dalam belajar. Terbukti saat ini ia sudah mahir membuat kue basah atau pun kering.
Bahkan kue nastar yang sedang Zayna makan saat ini, adalah mahakarya suaminya. Zayna duduk manis sembari melihat kelihaian suaminya.
"Sayang, kamu aneh deh akhir-akhir ini! Kamu rajin banget bikin kue, udah gitu kue-kuenya enak lagi," pujian yang dibumbui dengan rasa keanehan.
"Aku juga gak tahu Sayang, rasanya ada yang kurang aja kalau belum bikin. Jangan kebanyakan makan kuenya Yang, nanti gigi kamu sakit," nasehatnya. Dilihatnya toples yang berisi kue nastar itu, tinggal separuh.
"Udah jadi deh, tinggal dimasukkan ke oven," ucapnya dengan senang.
Setelah adonan dimasukkan, Zain duduk di samping istrinya. Mencomot kue yang sudah hampir masuk ke dalam mulut Zayna.
"Ih kamu ambil sana! Kok ngambil punya aku," protes Zayna. Suaminya hanya tersenyum melihat wajah kesal istrinya.
"Aduh anak-anak Ibu lagi apa nih? Nak Zain, kuenya sudah matang?" tanya Ibu dan duduk di hadapan Zayna.
"Lagi di oven Bu, kalau kue keringnya udah pada masuk toples tuh," tunjuknya pada deretan toples yang berada di atas meja makan.
"Bagus kalau begitu, tinggal di bawa ke meja depan. Ibu gak menyangka, kalau mantu Ibu jago banget bikin kue," puji Ibu seraya tersenyum.
"Kan Ibu yang ngajarin, kuenya enak-enak lho Bu, nanti keluarga Zaky pasti suka." Katanya percaya diri, Zayna memutar bola matanya.
Merasa sebal dengan omongan suaminya, padahal itu semua adalah fakta.
"Kalau persiapan di depan udah Bu? Greyna ke mana ya? Gak kelihatan dari tadi," tanya Zayna. Matanya sibuk mengamati sekelilingnya.
"Udah juga, baru saja tukang dekornya pulang. Bagus banget lho Na dekorannya," jawab Ibu antusias.
"Kalau adik kamu, dia lagi di kamar. Rebahan bentar katanya, mungkin dia gugup. Jadi gak mau diganggu," Ibu tersenyum kecil.
Mereka berbincang hangat sembari memakan kue hasil tangan Zain. Ya, malam ini selepas shalat maghrib, keluarga Zaky akan datang untuk melamar Greyna. Gadis itu sangat bahagia, saat tahu Zaky akan melamarnya.
Padahal, Greyna sudah menyerah. Berusaha ikhlas kalau Zaky bukanlah jodohnya. Beberapa minggu lalu, hubungan keduanya merenggang.
Zaky sangat sulit untuk dihubungi, rindu yang Greyna tahan sudah tak bisa dibendung. Mencoba menemui dokter tampan itu di Rumah sakit, namun tetap saja, Zaky sulit untuk ditemui. Dan akhirnya, Greyna mengalah.
Ia lebih baik mundur dari pada terus berharap yang akhirnya hatinya akan terluka. Seperti pepatah bilang, kalau
"Jodoh takkan ke mana" itu benar adanya.
0Setelah Greyna mencoba untuk ikhlas, dokter muda itu datang berkunjung ke rumah dan mengutarakan niatannya. Dijelaskannya tentang alasan dia sulit dihubungi.
Greyna menangis haru, dia tak percaya bahwa Zaky juga mencintainya. Selama ini dia menyangka, kalau cintanya bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
Seminggu setelah kunjungan itu, Zaky memutuskan untuk bertunangan, lalu dua bulan kemudian ia akan menikahi Greyna.