
Ryan memukul setirnya tanpa henti. Berteriak menyebut nama Risa. Seolah-olah hanya nama itu yang dia tahu. Ketidak-berdayaannya membuat ia harus merasakan sakit lebih dari itu. Risa, gadis yang pertama yang bisa membuat ia jatuh cinta.
Jika ia merasa sekacau ini, bagaimana dengan gadis cantik itu? Ryan menjadi teringat kejadian beberapa tahun yang lalu.
Ketika dia dan Risa baru menginjak semester 3. Gadis yang sangat ceria dan centil itu mulai mendekatinya. Setiap pagi, gadis itu selalu berdiri di depan pintu kelasnya.
Menyapanya dengan senyuman sejuta wattnya. Terkadang gadis itu memberikan kotak makanan, yang katanya hasil masakannya. Ryan tak pernah menolak segala pemberian dari Risa.
Hanya saja, setelah diterima, makanan itu ia berikan kepada temannya yang lain. Meski Ryan bersikap acuh dan selalu berkata dingin, tetapi Risa tak pernah menyerah. Perlahan, lelaki itu mulai membuka hatinya.
Gadis centil itu mengusik ketenangan jiwanya. Setelah semuanya benar-benar jelas, Ryan akan mengungkapkan perasaannya dengan cara melamar Risa.
Namun, takdir seperti mempermainkannya. Ryan merasa menjadi lelaki yang brengsek di muka bumi ini. Ia sadar betul telah melukai Risa begitu dalam.
Menarik-ulur hatinya dengan sesuka hati. Lama bergelut dengan hatinya, tak terasa mobil yang dibawanya telah sampai di garasi rumah.
Ryan segera turun, membuka pintu dengan cara mendorong kasar. Mengingat kenangan manis dengan Risa, membuat darahnya mendidih.
Ia marah pada dirinya sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa. Melewati ruang tengah, di mana di sana tengah duduk orang tuanya dan juga Diana.
Hawa dingin mencekam memenuhi ruangan itu. Papa dan Mama saling pandang. Diana menatap kakaknya dengan nanar. Meski dia belum dewasa, ia paham dengan keadaan kakaknya. Mata Diana sudah berkaca-kaca.
Beberapa hari yang lalu ia sempat bertukar pesan dengan Risa, menceritakan tentang keadaan kakaknya yang begitu menyedihkan. Tak berapa lama, terdengar suara gaduh dari lantai atas.
Suara itu semakin jelas terdengar, Mama dan Papa segera beranjak dari kursi. Menuju lantai atas yang diyakini berasal dari kamar Ryan.
"Ini semua gara-gara Papa! Diana benci sama Papa!" teriak Diana, sukses menghentikan langkah kaki orang tuanya.
"Diana! Apa yang kamu katakan? Berani kamu kurang ajar sama Papa?" bentaknya tak kalah tinggi.
Mama berusaha melerai dengan cara mengelus lengan suaminya. Napas Papa sudah naik turun. Pertanda amarahnya sudah mencapai puncak.
"Memang benar 'kan yang aku bicarakan? Apa Papa tahu, semenjak Kak Ryan bertunangan dengan kak Alinka, hidupnya menjadi semenyedihkan ini. Kakak gak pernah berbicara lagi dengan aku, Mama dengan semua orang yang dia temui."
Melihat Mama dan Papa-nya hanya diam, ini kesempatan Diana untuk mengeluarkan semua isi hatinya, demi kakak tersayangnya.
__ADS_1
"Aku sering mengintip ke kamar Kak Ryan diam-diam. Kakak sering menangis sambil melihat figura kecil. Apa Papa tahu foto siapa yang kakak lihat? Itu foto kak Risa! Kak Ryan sangat mencintai kak Risa," lanjutnya dengan terisak. Air mata Mama sudah sangat deras mengalir.
Wanita paruh baya itu sangat tahu perasaan anak sulungnya. Namun, ia tak berani membantah ucapan suaminya.
"Diana kau ...." geram Papa, tangannya sudah berada di udara, siap melayangkan tamparan pada wajah putrinya.
"Tampar saja Pa! Aku tak perduli. Rasa sakit tampan Papa tak sebanding dengan penderitaan Kak Ryan. Papa egois! Jahat, aku benci Papa!" teriaknya, Diana segera berlari ke kamar kakaknya.
Diana yakin, jika kakaknya sedang melakukan sesuatu yang pasti membahayakan dirinya.
"Kakak buka pintunya! Jangan melakukan hal bodoh Kak! Kakak buka!" teriak Diana, tetapi Ryan masih saja bungkam.
Tanpa disadarinya, Mama sudah berada di sampingnya. Matanya telah memerah dan sembab.
Mama berusaha membujuk putranya untuk membuka pintu. Diana dan Mama saling menautkan jari mereka. Rasa khawatir tak dapat mereka sembunyikan.
"Mama gimana ini? Kak Ryan ngga mungkin bunuh diri kan?" tanya Diana, membuat Mama semakin gelisah saja.
Mama masih terisak pilu, terus memanggil nama putranya. Diana mencari akal untuk membuka pintu. Saat tangannya memutar knop pintu, ternyata tidak terkunci.
Mama dan Diana bernapas lega, ibu dan anak itu segera berlari ke dalam melihat keadaan Ryan. Mama berteriak histeris melihat darah segar keluar dari tangan anaknya.
Diana membulatkan matanya, mulutnya terbuka lebar, tak percaya dengan penglihatannya. Kakak tersayangnya sudah tak sadarkan diri atau bahkan sudah tak bernyawa.
"Kak Ryan!" teriaknya histeris.
"Diana segera telfon ambulan!" perintahnya, ia sudah membaringkan kepala anak sulungnya di pangkuannya.
"Sayang bangun, jangan tinggalin Mama!" Mama menjerit, memanggil nama anaknya. Namun, Ryan tak kunjung membuka matanya.
"Kelamaan Ma, Diana akan memanggil para pekerja untuk membawa kak Ryan ke dalam mobil. Kita berangkat ke sana bareng supir aja, Ma." Saran Diana, secepat kilat gadis itu pergi ke lantai dasar.
Memanggil semua pekerja untuk mengangkat tubuh kakaknya. Dengan perasaan cemas, sedih dan marah bercampur menjadi satu.
Ryan duduk di kursi belakang, diapit oleh Mama dan Diana. Kedua wanita itu tak hentinya terisak. Mereka melafalkan do'a sebisanya.
__ADS_1
Terlalu takut akan kehilangan Ryan, Mama dan Diana sampai melupakan keberadaan seorang lelaki yang menyebabkan ini semua.
Setelah sampai rumah sakit, Diana segera memangil suster dan dokter untuk membawa kakaknya. Dengan berlari kecil, para suster mendorong brangkar untuk Ryan.
Ryan segera dibawa ke ruang UGD, Mama dan Diana hanya bisa menunggu di depan pintu. Meski Mama kekeh ingin masuk untuk menemani anaknya, tetapi suster tidak mengizinkan.
Kedua wanita itu duduk dengan saling menguatkan. Betapa berartinya lelaki yang saat ini sedang berjuang mempertahankan nyawanya.
"Diana, Mama takut. Bagaimana kalau kakakmu ...." Mama tak kuasa melanjutkan kata-katanya.
"Mama jangan bicara sembarangan! Kakak pasti baik-baik saja. Kita serahkan semuanya kepada Allah, Ma." Diana mencoba menguatkan Mamanya. Memeluk erat wanita yang telah melahirkannya itu.
Mama terus terisak, hati ibu mana yang tak sakit melihat kondisi anaknya yang seperti itu.
"Ini semua salah Papa!" geram Diana, ia baru teringat dengan lelaki paruh baya itu.
"Sayang, jangan bicara seperti itu! Kita harus mengerti kalau posisi Papa sangat sulit," bela Mama.
"Apa Papa tahu tentang kakakmu?" tanya Mama, ia baru menyadari kalau suaminya tak terlihat sejak pertengkaran tadi.
"Jangan berutahu dia!" ucap Diana berapi-api.
"Diana! Jaga bicaramu, walau bagaimanpun dia adalah Papamu. Percayalah, Papa juga sama tersiksanya seperti kita." bantah sang Mama.
Meski ia sedang kecewa dengan suaminya, tetapi ia masih seorang istri yang harus membela kepala rumah tangga tersebut. Bukan tidak tahu alasan apa yang mendasari perjodohan itu. Mama sangat mengetahuinya.
Papa Alinka mengancam akan mempengaruhi semua investor kalau suaminya tidak menyetujui perjodohan Alinka dengan Ryan. Serta akan membuat Ryan tidak bisa bekerja di mana pun.
Jangan lupakan tentang Diana, anak gadisnya. Lelaki jahat itu mengancam akan menyakiti Diana. Agar keluarga Ryan merasakan sakit yang dialami Alinka.
Alinka sangat menyukai Ryan. Pertama kali mereka bertemu adalah di sebuah tempat peresmian hotel baru milik keluarga Alinka.
Waktu itu Alinka sempat curi-curi pandang ke arah Ryan. Namun, lelaki itu tak pernah menyadari kehadiran seorang wanita cantik di dekatnya.
Mama ingat betul tentang wajah gusar suaminya, saat menerima tekanan dari keluarga Alinka. Memanfaatkan perusahaan suaminya yang kini diambang kehancuran.
__ADS_1
Mereka tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti keinginan dari kolega jahat itu. Keluarga Alinka sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Perusahaan milik keluarga Ryan tidak ada apa-apanya bagi mereka.
Itu sebabnya Papa terpaksa menerima tawaran itu. Demi keluarganya agar tetap bisa menikmati fasilitas yang selama ini ia berikan.