KISAH KITA

KISAH KITA
Episode 143 Sakit yang berulang


__ADS_3

Gadis itu masih menatap Ryan, seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.


Embun sudah bergelayut di pelupuk matanya. Sekuat hati ia harus bisa menahannya. Jangan sampai air matanya lolos dengan sempurna. Alinka tak boleh mengetahui hal yang sebenarnya.


Risa akan mati-matian untuk menyembunyikan perasaannya. Lalu, apa kabar dengan hatinya sendiri? Ia bagaikan menancapkan pisau ke jantungnya sendiri, begitu sakit!


"Oh iya, kenalkan, ini Risa. Dia sepupu aku," ujar Alin pada Ryan.


"Ryan," ucapnya setenang mungkin.


Padahal, dia sudah sedikit bergetar. Menahan tangis yang sebentar lagi akan pecah.


"Risa," jawabnya cepat.


Setelah perkenalan itu, Alinka mengajak Ryan mengobrol. Namun, lelaki itu tidak terlalu menanggapi. Mata dan hatinya sibuk memperhatikan gadis yang sedang duduk di sofa bersama Diana.


Risa sudah tidak tahan berada di ruangan yang sama dengan Ryan. Rasanya sangat sesak, ia kesulitan menghirup udara yang sama dengan Ryan. Diana seolah mengerti, gadis itu membawa Risa keluar ruangan.


Berpamitan pada kakak dan juga calon kakak iparnya. Setelah berada di lorong Rumah sakit yang cukup sepi, Risa menjatuhkan dirinya ke lantai. Tangisnya pecah, ia memegangi dadanya. Menangis tersedu.


Diana berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Risa. Gadis itu begitu sedih melihat 'kakak' tersayangnya menangis pilu seperti itu. Risa masih mengeluarkan rasa sakitnya, Diana memeluk Risa.


Tubuhnya bergetar karena tangisan yang hebat. Diana mencoba menyalurkan kekuatan untuk Risa. Seberapa keras Risa mencoba untuk baik-baik saja, tetap ia tak bisa membohongi perasaannya.


Ia membentengi hatinya dengan rasa benci karena kecewa dengan keputusan Ryan. Namun, sekali lagi. Hati tak bisa berbohong. Nyatanya, perasaan benci yang ia tanam kalah dengan perasaan cintanya.


Risa masih sesenggukan dipelukan Diana. Samar-samar terdengar langkah kaki seseorang. Langkah kakinya semakin mendekat, Diana dan Risa melihat sesosok wanita yang berdiri di hadapan mereka.


"Tante ...," bisiknya lirih.


Risa langsung berdiri bersama Diana. Wanita paruh baya itu menitikkan air matanya. Menghampiri Risa, lalu memeluk erat gadis yang sudah berhasil memporak-porandakan hati anak sulungnya.


Risa kembali menangis, tak kuasa rasanya harus berlama-lama memendam rasa sakitnya. Melihat Alinka begitu mencintai Ryan, membuat hatinya semakin terluka saja. Karena itu artinya ia harus benar-benar ikhlas melepaskan Ryan untuk Alinka.


"Sayang, kamu harus kuat dan sabar," ucap Mama dengan lembut. Suaranya sudah sedikit bergetar.

__ADS_1


"Tante sangat menyayangi kamu. Percayalah, kalau kalian jodoh, Allah akan mempermudah jalan kalian untuk bersama," ucapnya lagi.


Risa tak mampu menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya. Betapa menenangkannya berada dipelukan seorang ibu.


Meski wanita paruh baya ini bukanlah ibu kandungnya. Mereka melerai pelukannya. Risa sudah mulai tenang, meski dia masih sesenggukan. Tak jarang air matanya masih menetes membasahi pipinya.


"Sayang, berbahagialah. Tante akan terus berdo'a untuk kebaikan hubungan kalian." Ujarnya seraya mengelus rambut Risa.


"Terimakasih, Tante. Maaf ... Risa sudah membuat Ryan--"


"Jangan berbicara seperti itu, Nak. Ini bukan salah kamu. Jangan berpikir seperti itu lagi," sahutnya cepat memotong ucapan Risa.


"Diana, sekarang kamu bawa Kak Risa ke kantin! Beli minuman dan makanan agar Kak Risa lebih tenang," titahnya pada anak gadisnya.


Tentu saja dengan senang hati Diana menuruti perintah ibunya itu. Risa dan Diana pergi meninggalkan koridor yang menjadi saksi tentang hancurnya perasaan Risa. Mama Diana menatap punggung kedua gadis itu dengan nanar. Ada nyeri pada dadanya saat melihat tangisan Risa yang begitu menyakitkan.


Betapa dalamnya luka yang telah anak sulungnya berikan. Ia hanya bisa berdo'a. Menyerahkan sepenuhnya kepada Allah, sebab ia tak bisa memaksa kepada suaminya untuk membatalkan perjodohan itu.


Lelaki yang dicintainya itu pun merasakan hal yang sama. Merasa bersalah pada Ryan. Apalagi setelah mendapat kabar bahwa Ryan masuk Rumah sakit karena mencoba bunuh diri.


Pagi ini seperti biasa, Asty mengantarkan Arya sampai pintu utama. Peluk dan cium menjadi rutinitas baru bagi mereka. Jangan lupakan lambaian tangan saat Arya mulai melajukan mobilnya.


Asty kembali ke dalam rumah, berniat akan membereskan tempat tidurnya. Asty tidak membiarkan pembatunya membereskan kamarnya, sebab ia merasa itu hal yang mudah untuk dia lakukan sendiri.


"Hei gadis miskin!" Suara Mama menggema ke seluruh penjuru ruangan.


"Ada apa, Ma?" jawab Asty gugup.


"Mau ke mana kamu? Jangan kamu pikir, kamu bisa bersantai-santai, ya! Cepat kemari!" Bentaknya dengan jari telunjuk di arahkan ke wajah Asty.


Asty segera berjalan ke arah ibu mertuanya. Meremas ujung bajunya. Hatinya berdebar-debar, kali ini apa yang akan dilakukan Mama Ranti? Begitu pikirnya.


"Heh dengar ya, sekarang juga kamu bersihkan seluruh ruangan yang ada di rumah ini! Jangan minta bantuan ke para pembantu. Kamu harus mengerjakannya sendiri, paham?" Teriaknya dengan mata melotot tajam.


Asty hanya bisa pasrah, ia tak bisa menentang ibu mertuanya. Menentang sama saja dia tidak menghormati Mama Ranti.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu pergi entah ke mana. Meninggalkan Asty yang masih mematung. Gadis itu segera menuju dapur, mengambil alat-alat pel yang berada di kamar mandi belakang.


Pertama yang ia lakukan adalah menyapu seluruh kamar yang berada di lantai atas. Kamar yang sangat luas menjadikan Asty begitu kelelahan, padahal ia baru saja membersihkan dua kamar saja. Masih tersisa dua kamar lagi.


Yaitu, kamar tamu dan kamarnya sendiri. Setelah lantai atas bersih, Asty beranjak ke arah ruang utama, lalu akan dilanjut lagi pada ruang keluarga.


Waktu tak terasa sudah menunjukkan pukul setengah satu siang, Asty mengistirahatkan sejenak tubuhnya. Peluh becucuran dari sekujur tubuhnya. Ia beranjak ke kamar untuk membersihkan dirinya, menunaikan kewajibannya.


Setelah selesai mengerjakan semuanya, Asty kembali ke dapur. Tinggal ruang baca, dapur, dan tempat mencuci yang langsung terhubung dengan taman yang belum dibersihkannya.


Baru saja kakinya menapaki tangga terakhir di bawah, suara lengkingan Mama Ranti terdengar lagi. Wanita paruh baya itu berkacak pinggang menghampiri Asty. Mata Asty membulat sempurna, kala melihat seseorang yang berada di belakang Mama.


"Enak kamu ya malas-malasan? Kenapa rumah ini belum juga bersih?" tanya Mama to the point.


"Pasti dia tidur, Tante. Lihatlah, dia baru selesai mandi," tudingnya menjadi 'kompor' untuk Mama.


"Tidur? Hei! Bahkan aku belum sempat makan siang. Tadinya sekarang aku akan makan dulu, baru setelah itu aku lanjutkan lagi bersih-bersihnya," geram Asty dalam hati.


"Tuh kan, Tante, dia diam saja. Pasti dia merasa bersalah dan takut kena marah, Tante," lagi-lagi Vindi memprovokasi Mama Ranti.


"Heh kurang ajar sekali ya kamu! Ayo sana, cepat bersihkan semuanya!" teriaknya, kemarahannya sudah mencapai level lima. Asty hanya diam dan menghembuskan napas pelan.


Mama dan Vindi beranjak pergi. Mereka akan pergi ke Mall untuk memanjakan diri mereka. Asty segera ke dapur mengambil peralatan yang tadi digunankan.


Sembari mengepel lantai di ruang baca, mata Asty menganak sungai. Ingin sekali rasanya ia mengadu kepada suaminya. Namun, itu tidak mungkin! Arya sudah sangat pusing dengan pekerjaannya. Asty tak ingin menambah beban pikiran suaminya.


"Saya mau pergi dulu, jangan lupa untuk membersihkan seluruh ruangan. Saya pulang, semuanya harus sudah bersih!" ucapnya seraya pergi.


Melihat Nyonya-nya pergi, seorang pembantu menghampiri Asty. Wanita itu tak tega melihat Nona mudanya bekerja seharian membersihkan rumah.


Ia ingat betul betapa Asty sangat menyayangi Nyonya besar, setiap hari tanpa lelah, Nona muda-nya berkunjung ke Rumah sakit, merawat Nyonya besar dengan penuh kasih sayang.


Para pembantu sudah berbaik hati menawarkan diri untuk berjaga secara bergantian. Namun, Nona muda-nya menolak secara halus. Dia bilang, biarkan seorang anak menjaga ibunya.


Betapa tulusnya kasih sayang Nona muda untuk Nyonya besar. Tanpa terasa bulir bening membasahi pipi wanita renta itu. Ia menghapusnya kasar, lalu segera menghampiri Asty.

__ADS_1


__ADS_2