KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 105 | Calon Kembaran Natashya


__ADS_3

Aruna Hashifa.


Nama adik Randy dan Natashya yang baru lahir beberapa jam ini. Putri ketiga dari pasangan Heru dan Riana. Yang insyaallah akan menjadi anak terakhir bagi keluarga Heru.


Bukan karena mereka ingin menolak anugerah. Tapi, Heru dan Riana memang tidak terlalu menginginkan banyak anak.


Selain karena umur mereka yang hampir setengah abad, keduanya ingin memastikan ketiga anaknya mendapat pendidikan terbaik, perawatan kesehatan yang maksimal, dan kasih sayang yang penuh. Memiliki banyak anak, tapi tidak bisa mendidik itu sama saja kita menjerumuskan anak ke jalan yang salah.


Sebagai orang tua, tentu Heru dan Riana ingin anak mereka menjadi insan yang berguna di masa depan. Jadi, untuk memastikan itu, mereka tidak ingin punya banyak anak.


Cukup sedikit saja, tapi pendidikan dan karakter anak mereka mendapat perhatian yang spesial dan penuh. Heru dan Riana akan memantau langsung perkembangan putri mereka dengan sukacita.


Hadirnya Baby Aruna ke dunia sudah diketahui oleh banyak kerabat, termasuk Nia dan Tio yang merupakan mertua Natashya dan besan mereka. Karena itu, sepasang suami istri itu datang ke rumah sakit pagi-pagi untuk menjenguk Riana sekaligus melihat Baby Aruna.


“Wah, bayinya lucu sekali,” puji Nia yang melihat Aruna tengah tidur di box bayi yang berada di samping brankar Riana.


Riana dan Heru yang mendengar cuma bisa tersenyum saja. Sebagai sahabat, Tio menghampiri Heru dan memberi ucapan selamat ala lelaki—saling peluk biasa aja, kok.


“Yang lainnya ke mana, Her?” tanya Tio heran. Pasalnya, di dalam ruangan itu hanya ada Heru dan Riana. Di mana Randy, Natashya, dan Anton?


Masa iya mereka tidak datang?


“Randy pergi ke kantor, dia harus gantiin aku di sana selama beberapa hari. Kalo Tashya, tadi izin mau bicara sama dokter. Nio pulang karena disuruh sama Tashya,” jelas Heru. Tio yang mendengar mengangguk mengerti.


“Mbak, aku boleh gendong nggak?” pinta Nia meminta izin.


“Boleh,” jawab Riana.


Nia membawa Aruna ke dalam gendongan secara perlahan-lahan, takut mengganggu tidur si kecil. “Gemesin banget, sih,” gemas Nia yang menciumi pipi Aruna.


“Namanya siapa, nih?” tanya Tio ingin tahu.


Heru menjawab dengan bangga, “Aruna Hashifa, Tashya yang kasih nama.”


“Eh, Natashya yang kasih nama?” Nia tidak percaya.


Riana mengangguk, membenarkan perkataan Heru.


“Hm, Tashya udah cocok jadi ibu, nih, hihi.” Nia terkikik geli.


Aruna yang berada dalam gendongan Nia menggeliat tak nyaman. Sepasang mata bulatnya terbuka perlahan. Ia menatap Nia lama. Hanya beberapa detik, bibir Aruna melengkung ke bawah, matanya pun berkaca-kaca.


“Eh?” Nia mulai panik.

__ADS_1


“Ooeeekkk.. oeekk...” Aruna menangis kencang. Suaranya menggema di tiap sudut ruang rawat inap Riana.


Nia segera menyerahkan Aruna kepada Riana, pikirnya si kecil haus dan butuh susu. Dengan sigap, Riana menerima Aruna dan menimangnya. Sementara Heru menyambar botol susu formula yang sudah dibuat sebelumnya.


Ya, Aruna diberi susu formula, bukan ASI. Masalahnya, produksi ASI Riana tidaklah lancar, bahkan cenderung tidak keluar sama sekali.


Selain mungkin karena faktor umur, Riana memang sudah sangat lama tidak memproduksi ASI di dalam tubuhnya. Anak keduanya saja sudah 26 tahun. Sudah sangat lama bukan?


Atas saran dan resep dari dokter kandungan dan dokter anak, Aruna pun diberi susu khusus untuk pertumbuhannya. Natashya sendiri yang menjamin akan memperhatikan kebutuhan susu adiknya itu.


Semua fasilitas, saran, dan perlakuan khusus rumah sakit ini atas bantuan Natashya, lho. Wanita itu sedikit-banyak memiliki pengaruh di rumah sakit karena dulu ia pernah bertugas di sini.


“Duh, Sayang, jangan nangis dong. Ayah bingung, nih, kamu maunya apa.” Heru frustrasi. Aruna tidak mau diberi susu.


“Baby Runa jangan nangis, ya. Udah, cup cup..” Riana menimang Aruna agar tangisannya berhenti.


Sayangnya, bukan semakin mereda, isakan Aruna makin menggelegar.


“Oeekk.. oeekkk...”


Makin bingunglah mereka semua.


Ceklekk..


“Nggak tau, Shya. Tadi nangis, tapi dikasih susu nggak mau,” adu Riana.


Natashya manggut-manggut. Ia menaruh bungkusan plastik di tangan ke meja, lanjut mendekati bundanya. “Coba sini.”


Riana menurut. Ia memberikan Aruna kepada Natashya. “Lo nggak diem, gue lempar dari atas gedung,” ancam Natashya dengan raut dibuat serius.


Riana, Heru, Tio, dan Nia syok karenanya, tidak ada yang menyangka kalau Natashya akan mengancam Aruna seperti itu.


“Ya Allah, Shya, itu adik kamu. Kenapa malah—” Dan, lagi-lagi, Heru dibuat terdiam dengan tingkah putri bungsunya itu.


Seolah mengenali Natashya, Baby Aruna terdiam. Mata bulatnya masih berair, bibirnya mengerucut, gemas sekali.


Natashya tersenyum puas melihat adiknya yang menurut. Ia pun membawa Aruna duduk di sofa. “Diem, oke? Gue lempar beneran nanti,” ucap Natashya sekali lagi. “Bawa sini susunya, Yah.”


Dengan gerakan kaku, Heru memberikan sebotol susu pada Natashya. Kenapa putri keduanya bertingkah seperti ini, sih?


Sekuat itukah ikatan batin di antara keduanya?


Natashya dan Aruna... apa Heru harus menghadapi satu makhluk menyebalkan lagi ke depannya?

__ADS_1


Kalau boleh meminta, cukup Natashya saja, jangan Aruna juga.


“Ah, putriku. Kenapa kalian harus menjadi duplikatku seperti ini?” gumam Heru geleng-geleng.


Beda dengan Riana dan Heru yang sedang meratapi nasib, Tio dan Nia tengah memandang Natashya takjub. Pikiran mereka sama, kok.


Apa Natashya juga akan bersikap seperti itu jika sudah memiliki anak sendiri nanti? Diancam hal yang sama?


Wah, Nia jadi merasa agak kasihan dengan calon cucunya nanti.


...❄️❄️❄️...


Malamnya, Natashya pulang ke rumah bersama Anton. Keduanya sama-sama lelah. Apalagi Natashya yang sejak pagi terus ditempeli oleh Aruna.


“Yang,” panggil Anton setelah merenung beberapa saat dengan posisi telentang di atas ranjang.


“Iya?”


Anton nyengir. “Kayaknya Baby Runa bakalan mirip sama kamu, deh,” celetuknya.


Natashya tertawa. Ia pun bergabung bersama suaminya di atas ranjang. “Ya gimana lagi, lho, Sayang. Kan, bukan aku yang menentukan.”


“Iya, sih.”


“Tapi, bagus kalo Aruna mirip sama aku nanti.”


“Hm? Kenapa?”


“Biar Ayah sama Bunda bisa senam jantung setiap hari gara-gara tingkah Aruna nanti, hehe.”


^^^To be continue...^^^


...❄️❄️❄️...


Halo semua!


Untuk pendapat soal berapa anak, itu pendapat pribadi Ay saja, ya. Setiap orang, kan, beda-beda pemikirannya, jadi tidak bisa disamakan. Ay hanya mengutarakan pendapat Ay saja.


Ay secara pribadi memang nanti tidak mau memiliki banyak anak. Cukup sedikit aja, yang penting pendidikan anak Ay bisa maksimal dan anak Ay bisa menjadi sosok yang hebat di masa depan.


Serius, lho, Ay nggak ada maksud buat menyinggung atau menyindir pihak manapun. Ini murni pendapat pribadi diri Ay sendiri. Maaf jika ada pembaca yang tersinggung.


See you di chapter selanjutnya:)

__ADS_1


__ADS_2