
Setelah tamunya pergi, wanita paruh baya itu menemui putranya yang berada di kamar. Ia sangat marah dengan sikap anaknya yang berlalu begitu saja. Arya tengah telentang di atas ranjang.
Menatap langit-langit kamar. Pikirannya sangat kacau sekarang. Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Ia bangun, dan melihat ibu nya dengan tatapan yang membunuh.
"Arya! Apa maksud kamu bersikap seperti itu? Dengar ya, Mama tidak suka kau begitu. Mama malu, Arya." Bentaknya dengan napas yang memburu.
"Mah, Arya sudah bilang, Arya tak suka dengan perjodohan ini. Tak perlu jodoh-jodohan segala! Mama juga sudah tahu kan, kalau Arya hanya akan menikahi Asty?" Dengan suara yang tak kalah tinggi ia menjawb.
Tanpa aba-aba sebuah tamparan mendarat di pipi Arya. Ia mengusap pipinya yang perih.
"Lupakan gadis bodoh itu! Sampai kapan pun Mama takkan merestui kalian. Dengar Arya, kalau kamu benar-benar menikahi gadis itu, Mama takkan segan-segan untuk menghancurkan hidupnya. Camkan itu!"
Mama berlalu pergi dan membanting pintu. Arya hanya terdiam. Hatinya sesak. Ia sangat prustasi. Apa yang harus ia lakukan? Semuanya terasa serba salah.
Apapun yang ia lakukan akan tetap dengan hasil yang sama. Hanya menyakiti hati kekasihnya. Ia terduduk lemas di lantai. Tak berapa lama suara adzan maghrib terdengar.
Ia segera bangkit menuju kamar mandi. Mengguyur hatinya yang sakit di bawah air shower. Ia berwudhu dan melaksanakan shalat lalu mencurahkan isi hatinya kepada Semesta.
"Ya Alloh, berilah kemudahan untuk hamba. Hamba hanya ingin menikahinya. Berilah kesadaran untuk hati ibu hamba. Karena Engkau Maha membolak balikan hati manusia. Berilah hamba kekuatan untuk menjalani ini semua, Aamiin."
Tanpa terasa ia menitikan air matanya.
Ia terus berdo'a untuk hubungannya dengan Asty. Lalu kembali ke tempat tidur seraya memejamkan matanya. Ingatannya tertuju kepada Asty.
Ia membuka matanya, mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Lalu mengetikan pesan.
"Aku mencintaimu."
Lalu ia kirim kepada Asty dan memegang ponselnya di atas dada. Tak lama ponselnya bergetar.
"Aku juga mencintaimu."
"Apa kamu sudah shalat maghrib? Kalau belum, lekaslah shalat memohon kepada Allah agar memudahkan segalanya," begitu pesan yang ia terima. Ia tersenyum. Lalu mengirm balasan.
__ADS_1
"Sudah Sayang. Aku sudah bercerita semuanya kepada Allah."
"Kamu sendiri sudah shalat belum? Aku lapar, akan makan dulu. Jangan tidur dulu ya? Nanti aku telpon. Mmmmuuaahh," dengan emoji mencium ia membalas.
Asty membaca pesannya seraya tersenyum. Wajahnya merah merona dan hatinya berbunga-bunga.
*******
Hari ini weekend yang sangat buruk bagi Arya. Ia harus rela membatalkan janjinya untuk menemani Asty jalan-jalan. Bukan hanya itu, bahkan mereka telah berencana untuk makan siang di kediaman Asty.
Namun semua itu hanyalah rencana semata, Mama Arya telah mengundang Vindi untuk main ke rumanya. Sialnya Arya harus menemani gadis itu untuk pergi jalan-jalan.
"Arya, kamu lama sekali Nak? Vindi sudah dari tadi duduk manis di sini bersama Mama," Ucap Mama dengan senyuman manis namun auranya sangat menakutkan.
Arya duduk di kursi single di hadapan Mama dan juga Vindi. Ia sangat malas sekali harus berhadapan dengan dua wanita yang begitu menyebalkan menurutnya.
"Tadi aku mandi dulu Ma," jawabnya malas.
"Bagus kalau begitu, Nak Vindi ingin di antar ke Mall, sana kamu temenin. Sekalian ajakin nonton dan makan biar kalian semakin akrab." Katanya antusias. Vindi terlihat tersenyum bahagia.
"Tentu saja boleh Sayang, Arya pasti senang sekali menemani kamu. Iya 'kan Arya?" tanya Mama sembari menatap tajam.
Arya sadar tatapan yang diselingi dengan ancaman itu.
"Aku tidak mau!"
Ingin sekali ia menajawab seperti itu, tetapi itu hanya bisa Arya ucapkan dalam hati saja.
"Iya Mah."
Hanya itu yang bisa ia katakan. Lalu mereka bergegas meninggalkan kediaman Arya.
Dengan langkah ceria Vindi memasuki mobil Arya. Mama dengan senyum kemenangan mengantarkan anak dan calon menantunga sampai ke depan gerbang.
__ADS_1
"Hati-hati ya Sayang," ucap Mama seraya melambaikan tangan.
"Iya Tante, kami pergi dulu," jawabnya seraya membuka kaca mobil dan berdadah ria dengan calon mertuanya.
"Apa itu dadah-dadah segala? Seperti anak kecil saja!" gumam Arya kesal.
Mobil melesat meninggalakan rumah mewah itu. Arya terlihat acuh, tak sedikitpun diliriknya gadis yang sedang duduk manis di sampingnya.
"Nanti kita ke butik langganan aku ya? Soalnya aku mau beli dress buat nanti malam."
"Iya nanti kita ke butik setelah itu aku akan mengantarmu ke hutan, kau lebih cocok tinggal di sana. Agar tidak menggangguku lagi," racau hatinya.
"Menurutmu aku paling cocok kalau pake baju warna apa? Oh aku tahu, aku pakai warna kesukaanmu saja. Kau suka warna apa?"
Arya hanya diam saja, malas sekali harus meladeni gadis yang sama sekali tak menarik di matanya.
"Cih! Apa hubungannya warna kalem sama aku yang jarang bicara? Dasar gadis aneh," cibir batinnya.
"Aku tahu, kau pasti suka warna yang kalem begitu ya? Sesuai dengan karaktermu yang jarang bicara," ocehnya tak berhenti.
Arya memutar bola matanya, ia mulai jengah dengan ocehan dari gadis di sampingnya. Gendang telinganya seakan nyeri mendengar suara gadis yang tak disukainya itu.
"Terserah kau! Jangan ganggu aku untuk hal apa pun." Tegasnya kembali fokus pada jalanan.
"Iihh dingin banget sih! Lihat saja nanti, setelah ini kau akan bertekuk lutut padaku." Geram hatinya.
"Untung saja aku kemarin sempat mengambil ini dari Siska. Aku yakin ini akan berhasil." Batinnya, lalu senyuman licik tersungging di bibirnya.
******
Assalamu'alaikum Readers. Apa kabar? Mudah2n kabar kalian semua baik2 saja, ya.
Author mau minta dukungannya nih, berupa like, komen dan juga vote.
__ADS_1
Gak ada yang ngasih Vote nih, sedih akutuh 😢 Setidaknya like dan komen jangan lupa ya. Gratis ini kok Beb 😆