
Asty melerai pertikaian antara Arya dan Vindi. Sungguh, Asty tak menyangka bahwa suaminya akan semurka itu. Dia mengenal Arya dengan sosok ramah dan periang. Bukan seperti monster seperti itu.
"Sudah Sayang, jangan melukai dia! Kasihan dia," ujar Asty seraya menarik lengan Arya dari rahang Vindi.
Lelaki itu masih tak mendengar sedangkan Vindi sudah sangat kesakitan. Mama terisak di tepi ranjang. Tak banyak yang bisa dia lakukan, hanya bisa berdoa semoga anaknya melepaskan cengkeramannya.
"Mas Arya!" teriak Asty, dia sudah tak tega melihat Vindi, mungkin beberapa menit lagi wanita itu akan pingsan atau mungkin meregang nyawa. Arya melepaskan tangannya, memandang istrinya.
Dilihatnya Asty tengah menangis, hati Arya luluh seketika. Dia memejamkan matanya untuk meredam emosinya. Menghirup napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan.
Sedangkan Vindi-wanita itu terkulai lemas, tubuhnya merosot ke lantai. Memegang rahang dan pipinya yang perih. Mama langsung menghampiri 'calon menantu' kesayangannya.
"Sayang, apa kau tidak apa-apa?" tanya Arya parau.
Asty hanya mengedipkan matanya. Dia terlalu shok melihat sikap suaminya yang berlebihan seperti itu.
Arya memeluk Asty erat, terdengar degup jantung Arya yang sangat kencang. Napasnya masih memburu, emosi belum sepenuhnya mereda. Asty mengusap lembut punggung suaminya, hanya itu yang bisa dia lakukan.
Asty melerai pelukannya, sehingga ada jarak antara dirinya dan Arya. Dilihatnya Vindi yang berada di pelukan Mama mertua. Asty menghampiri gadis itu.
Jika Vindi menyangka Asty akan sangat puas melihatnya disakiti, itu salah besar. Nyatanya Asty begitu merasakan apa yang Vindi rasakan.
"Maafkan suamiku, ya?" ucap Asty tulus.
Kini dirinya sudah duduk dekat dengan Vindi. Gadis itu menatap Asty lamat-lamat, merasa kurang yakin dengan pendengarannya.
Gadis itu mengira Asty akan mencibirnya lalu memukulnya dengan sesuka hati. Namun, wanita di depannya ini justru meminta maaf atas nama suaminya.
"Sebaiknya kita bawa Vindi ke bawah, Ma. Kita obati lukanya pakai obat yang ada saja dulu. Nanti setelah itu kita bawa ke rumah sakit," paparnya seraya membangunkan tubuh Vindi.
Gadis itu seperti terhipnotis, dia menurut begitu saja. Mereka bertiga berjalan beriringan ke lantai bawah, memberikan waktu sendiri kepada Arya.
Lelaki itu masih dipenuhi amarah, biarkan dia menenangkan dirinya. Setelah sampai di ruang keluarga, dengan telaten Asty mengobati luka di wajah Vindi. Gadis itu sesekali meringis menahan sakit.
Matanya tak lepas memandangi wajah Asty, wanita yang menjadi rivalnya. Mama hanya diam memperhatikan. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut pedasnya.
"Ini sudah selesai diobati. Aku ke kamar dulu, melihat suamiku," pamitnya seraya berlalu pergi.
__ADS_1
Mama dan Vindi saling pandang, mereka merasakan hal yang sama, yaitu malu! Asty membuka pintu secara perlahan, takut mengganggu suaminya. Matanya membulat sempurna, kala mendapati tak ada siapa-siapa di kamar itu.
Asty kebingungan, ia buka pintu kamar mandi, tetapi suaminya tak ada di sana. Lalu dia menuju balkon kamar, betapa leganya perasaannya, suaminya tengah berdiri sembari melihat langit di atas sana.
Asty memeluk suaminya dari belakang, Arya terkejut. Namun, sedetik kemudian dia tersenyum. Tangannya mulai menggenggam jemari istrinya yang melingkar sempurna di perutnya.
"Apa kau sudah selesai?" tanyanya datar.
"Sudah, dia baik-baik saja sekarang," sahutnya menjelaskan.
"Memangnya apa yang akan terjadi padanya? Aku hanga memberi peringatan kecil padanya," paparnya tak mau kalah.
Arya membalikkan tubuhnya, ditatapnya wanita yang sangat ia cintai itu.
Betapa menggemaskannya Asty saat ini, matanya yang bulat begitu bening, rambut panjang yang sengaja Asty gerai menyentuh punggungnya. Arya mendekatkan wajahnya, semakin dekat jarak diantara mereka.
Kini, bibir mereka telah menyatu. Arya ******* bibir ranum istrinya dengan lembut. Sejenak mereka terhanyut, terbawa suasana. Malam yang dingin, kini tak terasa lagi. Sebab mereka telah terbakar gairah.
Asty dan Arya sudah terkulai lemas di tempat tidur. Mereka melakukannya secara berulang-ulang. Arya tersenyum melihat wajah istrinya. Dinaikkannya selimut sampai ke dada Asty lalu dia mengecup kening istrinya. Tak berapa lama, ia pun mengarungi alam mimpinya.
******
Sebenarnya, Mama ingin sekali berterimakasih kepada Asty, karena telah menolong Vindi. Namun, egonya yang setinggi langit, ia enggan untuk mengucapkan kata itu. Setelah selesai sarapan, Arya berpamitan untuk berangkat kerja.
Seperti biasa, Asty mengantar sampai ke pintu utama. Saat hendak memasuki rumah, Mama telah berdiri di belakangnya. Sesaat tatapan mereka beradu, Mama terlihat gugup. Jemarinya saling meremas.
"Hari ini saya akan chek up ke Rumah sakit. Jaga rumah, jangan ke mana-mana!" ujarnya seraya pergi.
Asty merasa aneh dengan sikap mertuanya. Tak biasanya ia berpamitan dengan lembut seperti itu. Asty hanya mengangkat bahu lalu menuju kamarnya.
******
Di dalam mobil Mama Ranti terlihat melamun. Kepalanya dia sandarkan ke kursi mobil. Setetes air matanya membasahi blous yang sedang ia kenakan.
Betapa malunya dia saat ini, betapa kejamnya dia memperlakukan seseorang yang telah menyelamatkan nyawanya. Lama-lama air matanya deras mengalir, Mama Ranti teredu seraya memejamkam mata. Perkataan dokter terus terngiang di telinganya.
Flashback
__ADS_1
"Hasil pemeriksaannya bagus, Bu. Alhamdulillah, sekarang Ibu sudah benar-benar sembuh," ujar dokter ramah.
"Alhamdulillah, terimakasih Dokter. Selama saya dirawat, Dokter begitu telaten mengurus saya," ucapnya tulus.
"Itu sudah tugas saya, Bu. Ada yang lebih berjasa lagi, yaitu menantu Ibu. Dia yang mendonorkan darahnya untuk menolong Ibu. Setiap hari ia tak kenal lelah untuk merawat Ibu yang sedang kritis. Saya salut, Bu. Jarang-jarang ada menantu tulus seperti itu. Ibu pasti sangat menyayanginya."
Hati Mama Ranti seperti tetusuk belati mendengar penjelasan dokter. Jadi selama ini menantunya begitu tulus menyayanginya.
******
Mobil telah terparkir di garasi. Mama Ranti dengan segera turun untuk menemui menantunya. Perkataan dokter seperti tamparan keras untuknya. Dengan tergesa-gesa, wanita paruh baya itu menaiki tangga. Ia mengetuk pintu kamar menantunya dengan pelan.
Tak kunjung mendapatkan jawaban, Mama meberanikan diri untuk membuka pintu. Tak ada siapa pun di sana, mata mama berkeliling menyapu seluruh ruangan.
Samar-samar terdengar seseorang sedang mengaji di ruangan samping dekat lemari besar. Mama berjalan perlahan, mendekati sumber suara.
Mata Mama berkaca-kaca, melihat menantunya tengah melantukan ayat suci Al-Qur'an. Betapa merdunya suaranya, menenangkan hati bagi setiap orang yang mendengarnya.
"Sayang ...." panggilnya lirih. Asty menghentikan aktivitas bacanya.
Menoleh ke arah belakang. Dilihatnya Mama mertua tengah tersedu. Asty langsung berdiri, menatap Mama mertua lamat-lamat.
"Maafkan, Mama!" Ujarnya seraya memeluk Asty.
Gadis itu masih tak percaya dengan pendengarannya. Mata Asty masih menatap kosong, otaknya benar-benar tak bisa berpikir. Apakah ini jawaban atas doa-doanya selama ini?
"Maafkan Mama, Sayang. Mungkin, kamu takkan bisa memaafkan segala kesalahan Mama. Namun, Mama masih berharap kamu bisa mencintai Arya dan terus berada di sampingnya. Jangan pernah meninggalkan Arya karena kekejaman Mama," paparnya masih terisak.
Asty menepuk punggung Mama pelan. Embun sudah bergelayut di pelupuk matanya. Ini hari yang selalu dinantikannya. Asty menangis haru, pun dengan Mama mertuanya. Mereka melepaskan pelukannya, saling menatap dan tersenyum.
"Mama tak perlu minta maaf. Asty paham, Mama hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Namun, izinkan Asty untuk membuktikan, kalau Asty bisa menjadi yang terbaik untuk anak Mama," katanga tulus.
"Kamu gadis terbaik diantara semua gadis, Sayang. Mama yang salah, Mama terlalu egois dan angkuh. Memandang rendah kamu hanya karena kamu gadis biasa. Maafkan Mama, Nak."
"Asty sudah memaafkan Mama, sekarang mari kita lupakan semuanya, Ma."
Mertua dan menantu itupun saling berpelukan. Betapa bahagianya Asty saat ini, mertua yang selalu saja menindas dirinya, kini telah berubah bak Ibu peri.
__ADS_1