KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 107 | Tentang Yosua


__ADS_3

Hari bahagia Laily dan Hafi masih berlanjut. Sepasang suami-istri baru itu tengah menikmati liburan mereka di Korea—biasa, honeymoon.


Sementara Hafi dan Laily pergi ke luar negeri, seluruh tamu yang menghadiri pernikahan mereka telah kembali pada aktivitasnya masing-masing. Tentu saja itu termasuk dengan Natashya dan Anton.


Anton sibuk dengan urusan kantornya, sedangkan Natashya fokus dengan pendidikannya. Wanita itu ingin segera lulus dan mengabdikan dirinya kepada suatu instansi.


Ya, Natashya ingin bekerja setelah lulus kuliahnya. Pihak kampus telah memberikan dirinya banyak surat undangan dari berbagai rumah sakit. Sebagai pemilik status ‘lulusan terbaik’, tentu banyak rumah sakit yang menginginkan Natashya untuk bekerja di sana.


Tenang saja, kok. Keputusan Natashya ini sudah mendapat izin dari Anton.


Dengan syarat, apabila Natashya hamil nantinya, ia harus berhenti dari pekerjaan dan fokus mengurus anak mereka. Natashya pun menyanggupi.


“Sudah siap!” seru Natashya selepas membuat simpul dasi di kerah kemeja suaminya. “Nanti aku ke kantor kamu buat anter makan siang, ya.”


Anton tersenyum. Tangannya terulur meraih pinggang sang istri, lanjut menariknya hingga tubuh keduanya berdempetan. “Aku tunggu,” balasnya pelan.


Natashya tersenyum kecil. Ia ikut mengalungkan tangannya di leher Anton. “Sepertinya otak suamiku mulai berpikiran yang tidak-tidak,” ucap Natashya menebak.


Anton berdecak, lagi-lagi pikirannya ditebak dengan begitu mudah dan sangat tepat sasaran. Memang salah kalau Anton ingin lagi? Kan, sama istri sendiri.


“Untuk hari ini, boleh, deh,” celetuk Natashya dengan senyum menggoda. Seringaian Anton tercipta, memperlihatkan bahwa dirinya begitu puas dengan sifat bentukan sang istri yang patuh padanya. “Sudah, ayo kita sarapan.”


“Iya, Sayangku.”


...❄️❄️❄️...


Sesuai perkataannya pagi tadi, Natashya sekarang tengah berkutat dengan alat tempur berbau bawang dan cabai di dapur. Dia ingin memasakkan makanan untuk makan siang bersama Anton.


Bukan tanpa sebab Natashya melakukan hal itu. Semua ini memang pretensi dari hatinya yang entah mengapa selalu ingin menempel dengan Anton.


Rasanya, Natashya jadi lebih mudah rindu. Itu, sih, pemikiran Anton yang tercetus tanpa sebab. Soalnya, lelaki itu keheranan dengan sikap Natashya yang terbaru ini.


Untungnya, Natashya masih tahu tempat dan waktu. Jika sedang di tempat umum, wanita itu akan bertingkah sewajarnya saja. Pokoknya tidak berlebihan.


Dia, kan, tidak mau mempermalukan dirinya sendiri.


“Oke, siap.” Natashya menatap puas seluruh hidangan hasil karya jemarinya.


Usai menata makanan di dalam kotak bekal, Natashya bergegas pergi dari rumah setelah berpamitan dengan Bi Jati. Bermodalkan mobil kesayangan, Natashya menuju kantor AG Group dengan suasana hati yang tenang.


Sepertinya, Allah sedang berbaik hati kepadanya dengan tidak memberikan segudang masalah untuk dipecahkan.


Walaupun masih ada perkara mengenai Alka yang masih menjadi tanda tanya besar di kepalanya, Natashya berusaha untuk melupakan sejenak. Ia akan kembali berpikir dengan otak dingin dan analisis akurat andalannya dahulu setelah menenangkan diri.


Jadi, biarkan Natashya tenang sebentar, ya.

__ADS_1


Tiba di pelataran AG Group, Natashya yang hendak turun tiba-tiba mengurungkan niat. Tatapan wanita itu terarah pada sosok lelaki yang dikenalinya tengah berdiri di depan gedung AG Group.


“Kak.. Yosua?” lirih Natashya. Ia bingung sebenarnya, kenapa kakak kesayangannya ada di sana? Kalau memang ada perlu, kenapa tidak langsung masuk saja?


Entah naluri atau pemikiran dari mana, Natashya memilih untuk mengamati Yosua sebentar. Dia tetap duduk di jok mobil dibalik setir kemudi. Tatapannya sangat intens, pokoknya tidak mau kehilangan momen apa pun.


Lima menit mengamati, Natashya menyadari bahwa di tangan Yosua ada sebilah pisau. Kilatan dari ujung tajamnya nampak bersinar diterpa sinar mentari. Mengetahui hal tersebut, Natashya segera turun dari mobil untuk menghampiri Yosua.


“Kak Yosua!” panggil Natashya.


Merasa namanya disebut, Yosua menoleh. Sorot tajam di matanya hilang seketika, lantas berubah menjadi sorot teduh dan hangat. “Natashya? Kamu di sini?” tanyanya senang.


Natashya mengulas senyum. “Iya, gue mau anterin makan siang buat suami gue.”


“Ah, gitu.” Yosua manggut-manggut.


Natashya melirik ke arah tangan Yosua yang menggenggam pisau. “Lo ngapain bawa pisau ke sini, Kak?”


“Hm?” Yosua menjatuhkan tatapannya pada tangan kanannya. Menyadari keberadaan benda tersebut, ia segera melepas genggaman hingga membuat pisau itu jatuh ke tanah. “Ah, a–aku juga nggak tau.”


“Nggak tau?” ulang Natashya bingung.


Yosua mulai panik. Tanpa permisi lagi, lelaki itu meninggalkan Natashya yang termenung di posisi. Wanita itu tak henti menatap punggung Yosua yang terus menjauh dari radar jangkauan.


“Dia kenapa?” gumam Natashya tak mengerti.


Natashya tidak sanggup jika harus menerka-nerka sendiri.


“Pak,” panggil Natashya pada satpam yang berjaga di dekat gerbang.


“Iya, Nyonya?” Satpam itu mendekat.


“Laki-laki tadi sudah berapa lama berdiri di sini?”


“Hampir satu jam lebih, Nyonya. Saya sempat menanyakan keperluannya, tapi dia malah ngusir saya,” jawab pak satpam itu sejujur-jujurnya.


Natashya mengangguk mengerti, pandangannya kembali terarah pada jalan yang dilalui Yosua. Lelaki itu sudah hilang seutuhnya, mobilnya pun sudah kandas dari posisi.


“Terima kasih, Pak.”


“Sama-sama, Nyonya.”


“Saya pamit ke dalam dulu, Pak.”


Satpam itu mempersilakan. Natashya pun masuk ke dalam gedung. Ia berjalan santai menuju ruangan Anton. Karyawan yang mengenali dirinya memberi sapaan hormat atau tundukan sopan. Natashya hanya memberi raut datar saja, tak acuh dengan suasana sekitar.

__ADS_1


Ingat satu hal!


Sebesar apa pun perubahan Natashya, ia tetap akan bersikap dingin kepada orang-orang tak dikenalnya. Natashya hanya ingin waspada saja dan tidak mau mempercayai orang asing dengan mudah.


Itu salah satu cara Natashya melindungi dirinya sendiri.


“Nio?” panggil Natashya ketika ia masuk ke dalam ruangan CEO.


Anton bangkit dari kursi kebesaran dengan senyum merekah. Ia memberi kode kepada sang istri agar masuk ke dalam.


Tiba di depan sang suami, Natashya menghambur ke pelukan Anton. Bahkan, tanpa segan lagi, ia mendusel-dusel di dada bidang lelaki itu, mencari kenyamanan mutlak yang selalu dia raih kala pelukan terjalin.


“Ulululuu.. istriku manja sekali, sih,” goda Anton dengan senyum nakalnya. Alis lelaki itu bergerak naik-turun, semakin gencar menggoda Natashya.


“Udah, ah. Ayo makan dulu.” Natashya mengurai pelukan, ia sangat tahu arti tatapan Anton barusan. Ia segera mengajak lelaki itu untuk makan di sofa.


Beberapa menit berlalu dengan keheningan. Keduanya hanya saling melempar senyum sesekali, sementara tangan mereka terus bergerak menyendok makanan.


Setelah semua makanan yang dibawa tandas, Natashya segera membenahi sisa alat makannya. “Yo,” panggilnya di sela acara bersih-bersih.


“Hm? Kenapa, Sayang?” Anton memeluk Natashya dari belakang, tak peduli jika istrinya itu terganggu karena ulahnya.


“Tadi Kak Yosua ada di sini.”


“Yosua?”


Natashya mengangguk. Ia bercerita mengenai kejadian di depan kantor tanpa menutup-nutupi apa pun. Anton mendengarkan dengan saksama, tidak menyela sama sekali.


“Dia berdiri di depan selama satu jam lebih sambil bawa pisau? Buat apa?” tanya Anton yang tak paham dengan kelakuan Yosua.


Natashya mengedikkan bahu tak tahu. “Aku juga nggak tau, Yo. Tapi, sepertinya... ada sesuatu.”


“Sesuatu yang seperti apa, Sayang?”


“Aku tidak tahu, tapi firasatku nggak enak, Yo.” Natashya menghela napas sejenak. “Ada masalah dengan Kak Yosua jika dilihat dari tatapannya.”


“Masalahnya apa, itu yang aku nggak tau.”


^^^To be continue...^^^


...❄️❄️❄️...


Insting logika Natashya kembali bekerja!


Btw, Ay minta maaf karena tidak update kemarin. Ay sedang pulang kampung dan di sana susah sinyal—bahkan hampir nggak ada😭

__ADS_1


Jadi, Ay malah males buat nulis, hehe^^"


See you di chapter selanjutnya:)


__ADS_2