KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 80 | Masih Berlanjut


__ADS_3

Update lagi!!!


...Happy reading:)...


.......


.......


.......


Hari-hari Anton saat ini dan sebelumnya sangatlah berbeda. Jika dulu lelaki itu akan dilayani oleh istrinya, sekarang ia-lah yang harus melayani sang istri.


Tunggu sebentar! Anton sekarang bukan sedang mengeluh, kok! Bukan!


Dia senang bisa melayani Natashya. Dia senang bisa membantu Natashya. Dia senang, sangat senang.


Anton akan melakukan apa pun agar Natashya-nya bahagia. Termasuk menjadi ayah rumah tangga sekalipun, Anton rela, kok.


Pagi ini, lagi-lagi Anton berkutat di dapur tengah berperang dengan alat-alat masak. Ia ingin memasak makanan untuk istrinya yang hingga kini masih suka menyendiri di kamar tanpa melakukan kegiatan apa pun.


Tiga minggu telah berlalu semenjak Natashya keluar dari rumah sakit. Bukannya membaik, kondisi wanita itu malah semakin memburuk di mata Anton. Duduk termenung di ranjang dengan tatapan kosong sembari memeluk pakaian bayi, sudah itu saja.


Jika ingin mandi, Anton akan dengan telaten melepas pakaian sang istri lalu mengelap tubuh Natashya dengan kain basah. Walau kadang lelaki itu hampir lepas kendali, namun semua baik-baik saja hingga detik ini.


Anton berhasil mengendalikan hawa na*sunya dengan baik.


“Sayang, aku masak makanan spesial buat kamu, lho,” ucap Anton yang baru datang ke kamar mereka. Di tangannya ada nampan berisi makanan, minuman, dan obat untuk Natashya.


Natashya bergeming di posisi.


Anton tersenyum kecut. Namun, buru-buru ia menggeleng kuat dan tersenyum lembut lagi, tidak mau terlihat kecewa. Dia akan berusaha selalu tegar, demi Natashya.


Anton duduk di tepi ranjang setelah menaruh nampan yang dibawa ke nakas. Ia menyendokkan nasi beserta lauknya dan disodorkan pada Natashya. “Aaa...” pinta Anton.


Natashya diam.


“Tashya, buka mulutnya sebentar, hm,” ucap Anton lembut.

__ADS_1


Natashya tidak merespon.


“Tashya...”


Tidak ada jawaban.


Anton menghela napas berat. Tangannya yang semula terangkat ke atas perlahan meluruh. Melihat keadaan Natashya yang seperti ini selalu membuat hatinya remuk redam.


Anton tidak tahu lagi harus melakukan apa agar Natashya mau merespon. Tubuh wanita itu lebih kurus dari biasanya, pipinya tirus, dan matanya sayu. Sangat memprihatikan.


Sudah tiga minggu ini Anton tidak datang ke kantor. Dia menyerahkan semua urusan pekerjaan kepada Rio. Untungnya, lelaki yang merupakan sahabat Anton tersebut memaklumi alasan Anton tidak bisa hadir. Hafi bahkan turun tangan membantu pekerjaan Rio atas seizin Anton.


Dan juga, selama tiga minggu ini pula Anton benar-benar harus ber‘puasa’ dalam artian lain. Em.. kalian paham maksudnya, kan?


Bukan puasa yang tidak boleh makan dan minum itu. Tapi, puasa yang lain.


Back to story.


Anton menghela napas. “Aku nggak mau makan kalo kamu nggak makan, ya, Shya,” ancamnya.


Tidak ada respon. Istrinya hanya diam.


Natashya diam.


Anton menghela napas berat. Pikirannya kacau, sangat!


Natashya menoleh pelan. Dan, Anton menyadari pergerakan kecil tersebut. Senyum lelaki mengembang perlahan. Ia mengira bahwa istrinya mulai bisa merespon apa yang ia lakukan.


Sayangnya, senyum Anton sirna mengetahui Natashya hanya bergerak sedikit untuk mengeratkan pelukannya pada pakaian bayi di tangan. Wanita itu tidak menghiraukan kehadirannya, seolah Anton tidak berada di sana.


Seakan Anton ini adalah makhluk tak kasat mata yang tidak bisa tertangkap netra Natashya.


Aku harus apa, Sayang...?


Aku harus apa biar kamu mau merespon sedikiiitt aja..? Aku mau kita kembali seperti dulu.


...❄️❄️❄️...

__ADS_1


Malam tiba dengan cepat.


Anton masih setia duduk di samping Natashya, merengkuh wanita itu sambil bercerita kenangan indah yang mereka lewati selama ini. Natashya hanya diam di posisi. Baju bayi dan sepatu masih ada di pelukannya.


“Kamu ingat waktu kita ke Paris, Sayang?” tanya Anton seraya mengeratkan pelukan.


Natashya tidak melakukan apa pun, cuma diam.


“Kita jalan-jalan ke banyak tempat, terus ke Menara Eiffel dan di sana aku nyatain perasaan aku ke kamu. Kamu ingat, kan?” Anton bernostalgia dengan senyum kecil di bibirnya.


Walaupun Natashya tidak menjawab, Anton tahu istrinya itu mendengar semua kata-katanya.


Anton terkekeh ketika sebuah kenangan terlintas di kepalanya. “Kita bahkan ngelakuin malam pertama kita di sana. Dan, besoknya, kamu ngamuk-ngamuk karna aku selalu bahas begituan.”


“Kamu ingat, kan, Shya?” tanya Anton sekali lagi.


Hening. Tidak ada jawaban.


Anton tersenyum penuh arti. Ia melirik jam yang tergantung di dinding. Sudah pukul sepuluh malam. “Sudah malam, Sayang. Kita tidur, ya.”


Anton merebahkan tubuh Natashya dan menyelimuti tubuhnya hingga ke dada. Tanpa banyak bicara, wanita itu memejamkan matanya, terlelap karena terlalu lelah.


Anton masih ada di posisi, duduk di sebelah Natashya. Tangannya mengusap kepala sang istri dengan lembut.


Cup!


Anton mengecup kening Natashya lembut. Tangannya ikut mengusap pakaian bayi yang berada di pelukan sang istri. Ia juga sedih dengan kepergian anaknya. Namun, sekuat tenaga lelaki itu menahan diri untuk tidak menunjukkan kesedihan yang dirasa.


Masih ada seseorang yang lebih butuh sandaran sekarang.


“Maafkan aku, Sayang. Semua ini salahku,” ucap Anton penuh sesal.


Kalimat itu tidak pernah absen selama tiga minggu ini. Ia pasti akan mengucapkannya ketika Natashya tertidur. Berharap bahwa rasa sesal yang ia punya bisa sampai hingga ke relung hati Natashya.


“Maafkan Papa, Nak. Papa bukan papa yang baik buat kamu,” ucap Anton sedih. “Papa janji, Papa akan tebus semuanya. Kamu yang tenang, ya, di sana. Papa akan selalu mendoakan kamu.”


Papa sayang kamu, putriku sayang.

__ADS_1


^^^To be continue...^^^


__ADS_2