
Pintu ruang UGD terbuka, nampaklah seorang dokter dan suster dari ruangan tersebut. Mama dan Diana segera menghampiri mereka.
"Bagaimana keadaan anak saya Dokter?" tanya Mama tidak sabar.
"Alhamdulillah kondisi pasien sudah stabil. Beruntung pasien cepat dibawa ke sini. Sehingga luka pergelangan tangan dan di buku jarinya bisa segera diobati," jelas Dokter dengan senyuman.
"Alhamdulillah," ucap Diana dan Mama serempak.
"Terimakasih Dokter, apa saya boleh masuk?"
"Tentu saja, Bu. Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan. Saya permisi dulu."
Ibu dan anak itu hanya mengangguk. Lalu segera menghampiri Ryan yang sedang terbaring lemah.
Ditatapnya putra kesayangannya. Hati Mama bagaikan teriris pisau tajam, begitu nyeri. Ryan menatap langit-langit ruangan dengan tatapan kosong.
"Sayang, kamu sudah sadar? Mama khawatir sekali sama kamu," ucap Mama lirih.
Tangannya tak terlepas menggenggam tangan Ryan. Begitupun Diana, ia terisak di samping Mamanya.
"Kenapa kamu melakukan hal bodoh itu? Apa kamu gak mikirin perasaan Mama? Kamu tega mau ninggalin Mama sendiri?" tanya Mama bertubi-tubi.
"Kakak harus kuat, Diana yakin, pasti akan ada jalan keluar untuk masalah ini," ujar Diana memberi semangat.
"Maaf Ma ... Ryan udah bikin Mama khawatir," lirihnya. Setetes air mata jatuh membasahi bajunya.
Ya, Ryan menangis. Sulit sekali menjelaskan seberapa terlukanya perasaannya saat ini. Melihat gadisnya menjauhinya, jangankan menyapa sekedar melihat dirinya saja Risa enggan untuk melakukannya.
Sakit? Lebih dari itu! Ryan benar-benar tak bisa menerima perjodohannya dengan Alinka. Namun, di sisi lain ia tak ingin mengecewakan Papanya. Pilihan yang sangat sulit memang.
"Tidak Sayang! Kamu tidak perlu meminta maaf, kamu tidak salah. Kamu seperti ini karena Mama dan Papa. Sekarang, kamu harus belajar ikhlas, Nak. Jangan berbuat hal yang ceroboh seperti ini," nasehatnya sembari mengelus kepala Ryan.
Diana begitu takut melihat keadaan Kakaknya tadi. Di dalam kamar sudah sangat berantakan. Pecahan kaca sudah berserakan di mana-mana.
Belum lagi segala macam hiasan dan barang-barang Kakaknya sudah tergeletak di sembarang tempat. Diana harus merencanakan sesuatu untuk kakaknya.
Dia tidak boleh tinggal diam! Sepertinya Diana sudah memiliki ide untuk membuat senyuman kakaknya terbit kembali. Diana tersenyum simpul, lalu mendekat ke arah kakaknya.
__ADS_1
Mengusap lengan Ryan dengan lembut. Ryan menatap adiknya, ada perasaan bersalah dalam hati Ryan. Yaitu telah membuat Mama dan juga adiknya khawatir terhadapnya.
Dia memutar kembali kejadian tadi sewaktu dia pulang dari kafe. Langsung memasuki kamarnya, tanpa menoleh ke arah orang tua dan adiknya yang sedang berkumpul. Langsung memasuki kamar, lalu membanting hiasan yang berada di atas nakas.
Dia mengecek ponselnya, berharap Risa akan mengiriminya pesan. Namun, ia harus menelan kecewa. Sebab, tak ada satu pesan pun dari gadisnya.
"Jangan membuatku tersiksa seperti ini Risa! Aku sangat mencintaimu. Tolong jangan pergi!" pesan yang ia kirim kepada Risa.
Tak berselang lama ponselnya berbunyi. Notif pesan, balasan dari Risa.
"Jangan ganggu kehidupanku lagi!" hanya itu pesan balasan dari Risa.
Membuat Ryan semakin frustasi. Lelaki itu mengamuk di dalam kamarnya.
Melempar barang-barang yang berada dalam kamarnya. Dan terakhir, dia meninju kaca besar yang berada di samping lemarinya. Jadilah luka pada buku jarinya. Belum puas dengan semuanya, ia melukai pergelangan tangannya.
Darah segar mengalir dari sana sehingga dia merasa lemas dan pusing. Lalu dia merasa semuanya gelap dan matanya menutup perlahan.
"Kak ...." panggil Diana.
Ryan menoleh, lalu tersenyum melihat adik kecilnya. Meskipun kini Diana sudah menjadi mahasiswi, bagi Ryan dia tetaplah adik kecilnya.
Hari di mana dia akan bersama lagi dengan Risa. Betapa lucunya gadis itu ketika dia tersipu. Ucapan adiknya membuat dia sedikit merasa tenang.
*******
Hari ini Mama Ranti sudah diperbolehkan pulang. Tentu Asty dan Arya sangat senang. Mereka membereskan segala barang-barang yang ada di kamar perawatan. Tak lupa Asty sudah memberikan tugas kepada para pembantu untuk menyiapkan makanan.
Sudah dua hari Vindi tak dapat dihubungi. Mama terlihat sangat khawatir sekali. Asty sering melihat Mama menggerutu tak jelas. Apa begitu berartinya Vindi untuk Mama mertuanya? Begitu pikirnya.
Asty menoleh ke arah suaminya yang sedang memasukkan beberapa potong pakaian bekas Mama. Lelaki itu begitu acuh, semenjak pertengkaran hari itu, Arya menjadi berubah sikap.
"Ma, semuanya sudah selesai. Ayo kita pulang!" ajaknya seraya membangunkan Mama dan mendudukannya di kursi roda. Asty tersenyum getir.
Tak ada yang ingat kalau di ruangan itu masih ada makhluk lain. Arya dan Mama sudah berada jauh di sana. Asty mengekor di belakang, langkahnya sangat pelan. Hatinya terasa tercabik-cabik.
Setelah sampai parkiran, mereka memasuki mobil. Arya sengaja memakai supir, ia sangat lelah karena seharian ini meninjau ke lapangan langsung. Tak ada percakapan diantara mereka.
__ADS_1
Arya merasakan sakit saat melihat wajah sendu istrinya. Namun, ia masih kecewa dengan sikap istrinya yang berani bertemu dengan lelaki lain di belakangnya.
Mama Ranti tersenyum puas melihat menantunya menderita. Bahkan ia berpikir akan menyiksa Asty lebih pedih dari ini. Sehingga dia sendiri yang akan meminta untuk diceraikan oleh Arya.
Asty menahan sesaknya dada, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menumpahkan air matanya. Dia harus lebih sabar dan kuat menghadapi ujian dalam rumah tangganya.
Meski tak dapat Asty pungkiri, terkadang ia merasa lelah dan ingin menyerah saja. Toh dia masih punya orang tua yang siap untuk membantunya untuk bangkit jika dia mengalami hal terburuk sekali pun.
Terlalu mendalami perasaan masing-masing, sampai tak terasa mereka sudah sampai di garasi rumah.
Arya segera keluar, membantu Mama untuk turun. Memapahnya dengan sepenuh cinta, Asty membuka bagasi mobil dan menurunkan semua barang-barang.
"Biar Bibi aja, Non," tawarnya.
"Tidak usah, Bi. Biar Asty saja, Bibi kerjakan yang lainnya aja," tolak Asty halus.
"Tapi Non, ini berat. Biar Bibi bantu bawakan!" kekehnya, ia merasa iba melihat menantu di rumah itu tengah mengambil barang-barang sendirian.
"Yasudah kalau begitu, Bibi bawa yang ini saja ya?" jawabnya pasrah.
Mata Asty berkeliling mencari sosok suaminya. Ia tersadar, suaminya pasti di kamar Mama. Menemani wanita paruh baya itu.
Asty hendak mengetuk pintu, ia tak seberani itu untuk langsung membukanya dan menerobos masuk. Namun, disaat tangannya masih menggantung, sayup-sayup ia mendengar perbincangan antara suaminya dan Mama.
"Arya, kenapa kamu gak langsung aja ceraikan dia? Dia gak sayang sama Mama, di rumah sakit, dia sering ninggalin Mama, gak tahu ke mana. Hanya Vindi yang setia menemani hari-hari terbosan Mama," ucapnya tanpa beban.
"Ma, jangan bicara seperti itu. Sampai kapan pun Arya takkan menceraikan Asty. Sudah ya, Mama istirahat saja!" Arya mencoba mengalihkan pembicaraan, agar Mama-nya segera diam.
Sebenarnya, Arya telah memerintahkan seseorang untuk membuntuti Asty.
Arya baru teringat akan hal itu, lantas ia langsung menghubungi orang tersebut melalui pesan saat di mobil tadi. Seseorang itu melaporkan, bahwa Asty tak pergi ke mana pun.
Nona muda itu hanya diam seharian di rumah sakit, menjaga Nyonya besar. Nona muda-nya hanya pergi keluar kalau membeli makanan ke kafe seberang.
Jadi sudah dipastikan kalau Nyonya berbohong. Bahkan orang itu hanya melihat Vindi dua kali saja. Wanita licik itu tak menjenguk ibunya sesering yang diceritakan Mama.
"Arya! Kok kamu malah melamun begitu? Kamu baru kepikiran apa yang diomongin Mama ya?" tanya Mama percaya diri.
__ADS_1
"Ma! Sebaiknya Mama istirahat. Arya juga mau kembali ke kamar, cape. Mau istirahat," pungkasnya seraya berlalu pergi.
Mama mendengus kesal. Susah sekali membujuk anaknya itu. Ia sudah merencanakan kejahatan lain untuk mengusir menantu yang tak diinginkan-nya itu.