
Aqila berkali-kali menyakinkan hatinya sendiri, untuk memcintai Galih. Karna, Gilang sudah tak mungkin Aqila miliki. Aqila memeluk Galih. Aqila ingin mendengar suara detak jantung milik Gilang. Aqila meneteskan air matanya. Merasakan debaran itu, masih begitu kuat seperti dulu.
Galih beberapa kali, mencium kening Aqila. Galih sendiri berusaha untuk memastikan hatinya, kalau Aqila jadi pilihan hatinya bukan gadis lain.
Bayu, masih menunggu di luar kelas duduk sendiri di taman. Seminggu ke depan, Bayu tak bisa masuk kelas manapun. Bayu hanya memainkan ponselnya. Dan beberapa kali melihat ke arah kelas. Berharap Renata segera keluar.
Seseorang duduk di samping Bayu. Bayu pun menoleh, "Qian" pangil Bayu.
Qian tersenyum melihat Bayu, "Aku tidak menyangka kamu, bakalan jadi cowoknya Renata" guman Bayu menerawang jauh. Mengingat semua masa indah saat di SMA dulu.
Bayu tersenyum, "Ada masalah sekarang" ucap Bayu terlihat bingung untuk menjelaskan semuanya pada Qian.
"Masalah dengan Revan" tebak Qian.
"Bukan, dengan dia aku ga peduli. Ini soal Mamah".
"Tante, udah menjodohkan kamu".
"Iya, Mamah tidak suka dengan Renata".
"Alasannya".
"Karna, Ayah Renata seorang koruptor, sekarang masih di penjara".
"Sulit".
"Aku cinta mati sama Renata!".
"Percuma".
"Kok percuma sih!".
"Karna, sekeras apapun kamu berusaha, kamu akan tetap menuruti keinginan mamahmu. Kamu kan anak mami, penurut pula. Tidak mungkin kamu bisa melakukan semua hal yang kamu mau, karna, ujung-ujungnya kamu akan menuruti keinginan Mamahmu".
Bayu terdiam. Bayu mengakui ucapan Qian itu benar. Dari kecil sampai sekarang, Resti-Ibunya Bayu yang kendalikan. Bayu hanya sebuah boneka ciptaan Mamahnya. Semua harus pilihan Mamahnya.
__ADS_1
"Saran ku, mending kamu akhiri hubunganmu dengan Renata. Sebelum semuanya semakin kacau" guman Qian beranjak dan melangkah pergi.
Bayu terdiam lagi. Bayu semakin bingung. Bayu tak bisa memutuskan Renata begitu saja. Harus ada alasan, yang pas. Namun alasan apa itu. Bayu tak ingin menyakiti Renata sampai begitu dalam. Bayu benar-benar dilema.
Mili melihat kesekeliling, tak ada di lihatnya Alea. Mili ingin mencari Renata. Untuk membuat perhitungan dengannya. Karna, Renata Sisi masuk rumah sakit. Mili sudah benar-benar murka. Namun Renata masih terlihat terlihat di kelasnya. Bayu masih duduk di luar.
Qian sudah bisa menebak apa yang akan dillakukan Mili pada Renata. Dari pada Mili membuat rusuh. Qian akan menggagalkan rencana Mili. Tak ada yang boleh menyusik Renata atau Alea. Qian akan menjaga mereka berdua dari belakang.
Qian mengajak Mili untuk mencari tempat tinggal, karna, Qian belum punya tempat tinggal sendiri. Qian masih menginap di hotel.
Mili memsetujui permintaan Qian. Tanpa pikir panjang. Qian tersenyum. Qian dan Mili pun pergi dari kampus. Qian berpikir, Renata aman untuk hari ini.
Setelah, Mili dan Qian pergi. Renata keluar dari kelasnya. Menyambut Bayu yang sedang melamun sendiri di luar kelas. Entah apa yang Bayu pikirkan, sampai Bayu tak sadar, Kalau Renata sudah ada di sampingnya.
Bayu menoleh melihat Renata yang sedang memainkan ponselnya. Bayu beranjak, berdiri disebelah Renata.
"Mau kemana kita sekarang?" tanya Bayu.
"Aku masih ada dua kelas lagi Bay" jawab Renata.
"Boleh"
Renata dan Bayu berjalan-jalan di sekitaran kampus. Sedangkan diam-diam Revan mengikuti Renata dan Bayu.
Di tempat lain, Mili masih malu-malu duduk di samping Qian. Qian masih fokus menyetir.
"Kita, mau mampir ke hotel dulu ga?" tanya Qian tersenyum ke arah Mili sedangkan Mili masih memperhatikan Qian sedari tadi. Mili masih terkesima dengan wajah tampan Qian.
Mili berpaling malu, lagi-lagi ketahuan sedang memperhatikan Qian. Qian tersenyum, Qian sudah yakin, Mili benar-benar menyukai Qian. Qian merasa puas. Mili sudah masuk jebakan.
"Gimana, mau mampir dulu ke hotel tempat aku menginap?" tanya Qian lagi.
Mili menganguk. Qian tersenyum.
Qian pun, mengirim chat ke pada temanya untuk bersiap di hotel. Qian tersenyum pada Mili, Qian tak ingin Mili tau, tentang chat yang di kirim Qian pada temanya. Teringat Mili tak memperhatikan apa yang Qian lakukan. Mili terus saja, melihat wajah Qian. Mili benar-benar terpukau dengan wajah Qian.
__ADS_1
Mili tak sadar dengan apa yang akan Qian lakukan pada Mili. Qian sudah mulai merencanakan rencana jahatnya untuk Mili. Qian begitu semangat untuk membalas Mili dan Sisi kali ini.
Teman-teman Qian sudah bersiap di hotel tempat Qian menginap. Ada sekitar lima orang yang sudah Qian bayar untuk membuat Mili merasakan pembalasan yang pernah Mili dan Sisi lakukan pada Qian dulu.
Tak butuh waktu lama, untuk sampai di Hotel tempat Qian menginap. Qian mengirim chat lagi pada teman-temanya untuk segera bersembunyi sampai Qian dan Mili datang.
Mili memperhatikan sedari tadi Qian senyum-senyum saat membalas chat dari temanya ini. Mili jadi mulai curiga, jangan-jangan Qian sudah punya pacar. Karna, penasaran Mili pun mencoba bertanya pada Qian langsung.
"Duch sibuk banget yah kamu, lagi chat sama siapa sih?" tanya Mili secara halus.
Qian tersenyum.
"Aku lupa ada janji sama temenku" ucap Qian bohong.
"Janjian ke mana?" tanya Mili mulai penasaran.
"Janjian buat main game bareng" jawab Qian membuang muka takut kebohongan terbongkar.
Di luar dugaan ternyata Mili percaya ucapan Qian.
"Terus gimana jadinya"
"Urusan temanku gampanglah"
Mili tersenyum, Mili bener-bener merasa bahagia Karna, Qian lebih milih bersama Mili dari pada sana teman-temannya. Padahal Mili benar-benar tak tau apa yang Qian rencanakan. Sebuah rencana jahat yang akan mengubah hidup Mili selamanya.
Qian tersenyum, Ingin segera menjalankan rencananya. Qian benar-benar tak sabar untuk membalas Mili terlebih dahulu. "Gadis bodoh ini, tak tau apa yang Qian rencanakan untuknya di dalam hotel tempat Qian menginap". itu yang Qian pikirkan dalam pikiran jahatnya untuk membalas Mili.
Rasa sakit hati Qian begitu membuat Qian bersikeras untuk membalas Mili dan Sisi. Sekarang, Mili sudah masuk jebakan Qian. Tinggal Sisi. Qian sudah tak sabar untuk melihat Vidio tentang Sisi di rumah sakit. Kedua kakak beradik ini. Akan menerima balasan yang sangat setimpal atas kesalahannya pada Qian dulu. Qian sekali menunggu hari dimana Qian membalas semua peebuatan Mili dan Sisi.
Qian juga akan membalas Mili dan Sisi untuk perbuatan pada Alea. Qian sudah tau tentang Alea. Tentang harta warisan peninggalan orang tua angkat Alea yang di rebut oleh keluarga Mili dan Sisi. Semua harus ada balasan untuk setiap perbuatan. Kini saatnya, Qian membalas dengan perbuatannya Mili dan Sisi. Yang di mulai dari Mili. Rasanya Qian sudah tak sabar.
Bersambung...
Jangan lupa like yah..
__ADS_1
Dan mampir juga ke novel Author yang lain. "Ketika Cinta Menemukan Jalanya" dan "Irani Gadis Indigo" Terima Kasih.