KISAH KITA

KISAH KITA
Episode 136 Kandas


__ADS_3

Risa masih tak bergeming, sesekali tangannya mengusap air mata yang membasahi pipinya. Mengatur nafasnya yang tersengal.


"Kau jahat Ryan!" kata itu yang pertama keluar dari bibir mungilnya.


"Dengarkan aku dulu, maafkan aku Sayang. Ini bukan keinginan aku, ini semua keinginan Papa," jelasnya lirih.


"Jangan panggil aku dengan sebutan yang menjijikan itu!" dengan nada yang sudah naik satu oktaf.


"Aku mohon Risa, percayalah padaku. Aku tidak mencintainya, kau wanita satu-satunya yang aku cintai," masih berusaha meyakinkan.


Tangan yang sedari tadi menggengam di tepis kasar oleh Risa. Gadis itu masih sesenggukan, bagaikan langit runtuh menimpanya.


Teramat sesak, sulit sekali menggambarkan perasaannya saat ini. Pun yang dirasakan Ryan, sama adanya. Pria itu merutuki kebodohannya yang tak bisa berbuat apa-apa.


"Jangan katakan cinta lagi di hadapanku! Anggap saja kita tak pernah bertemu, menjauhlah mulai sekarang! Aku tak ingin melihat wajahmu lagi." Tegasnya seraya berlari ke arah jalan.


Ryan menatap punggung Risa dengan nanar. Lelaki itu jatuh terduduk di tanah.


Menarik rambutnya ke belakang. Matanya sudah memanas, air mata meluncur dengan mulusnya. Satu pukulan mendarat di tanah yang ia pijak.


Frustasi dengan keadaan, Ryan telah putus asa. Risa tak mau menerima penjelasannya, gadis itu telah pergi dengan jutaan luka.


"Kenapa Engkau mematahkan hatiku seperti ini Ya Allah? Mematahkan dua hati yang seharusnya saling menyatu," lirihnya masih menunduk.


Sedangkan gadis itu tengah berjalan di trotoar, tanpa arah tujuan. Tak jarang bulir bening masih membasahi pipinya.


"Kenapa kamu gak berusaha untuk menolaknya Ryan? Kenapa kamu memberi harapan palsu, memberikan celah untuk aku mendekatimu. Dan sekarang, kamu menyakiti perasaanku dengan luar biasa," lirihnya.


Disaat sedang meratapi nasibnya, sebuah mobil berhenti di sampingnya. Risa menoleh ke arah mobil tersebut.


Merasa tidak asing, Risa mulai mengamati mobil itu. Sang pemilik mobil turun dan menghampiri Risa. Ia membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan Risa.


Tangan kekarnya mulai memeluk tubuh gadis itu. Risa tak menolak, dengan bebas ia menangis pilu dalam dekapannya. Tangannya mengelus kepala Risa lembut.


"Menangislah, kakak tidak tahu apa yang membuatmu sesaki ini," ujarnya mencoba menenangkan.


"Dia jahat sekali Kak, dia patahkan hatiku di saat aku sedang cinta-cintanya sama dia," sahutnya lirih.


"Kamu tenang ya? Ayo kita bicarakan ini di apartemen Kakak!" Katanya seraya membangunkan Risa.

__ADS_1


Risa mengangguk setuju, tak mungkin juga ia kembali ke rumah dengan keadaan seperti ini.


Pasti banyak pertanyaan dari mamanya. Abi membawa adik kecilnya ke dalam mobil, Risa masih terhanyut dalam kesedihannya.


Abi membiarkannya, bagaimana pun adiknya sudah dewasa, biarlah dia sendiri dulu. Menutup mulutnya rapat-rapat, sampai adiknya itu siap untuk bercerita.


Sepanjang perjalanan Risa dan Abi saling diam. Tak terhitung dering ponsel Risa yang terus berbunyi. Risa enggan sekali berbicara dengan siapa pun, apalagi dengan Ryan.


Setelah sampai, Abi dengan penuh perhatian, memapah adiknya untuk memasuki apartemenya. Risa duduk di sofa yang berada di ruang tengah. Abi membawa segelas minuman untuk adiknya.


Dengan perlahan Risa meminumnya, agar perasaanya sedikit tenang. Abi duduk di samping Risa. Pemuda itu sudah sangat penasaran dengan kejadian yang menimpa Risa.


"Risa ...." panggil Abi pelan. Risa menoleh ke arah kakaknya.


"Apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Ryan? Maaf, tadi Kakak sempat mendengar percakapan kalian di taman depan," tanyanya ragu.


Mata Risa sudah berkaca-kaca, mengingat lagi segala kenangan dengan Ryan.


"Dia--dia seseorang yang aku cintai, Kak. Sebelum hari ini, dia bilang akan meminta restu pada orangtuanya untuk melamar Risa." Paparnya, diusapnya pipinya yang basah.


Abi sangat terkejut, memang ia belum terlalu berpengalaman dalam hal percintaan.


******


Sebulan sudah berlalu, Risa tak pernah bertemu lagi dengan Ryan. Beribu kali Ryan menghubungi Risa, sebanyak itulah Risa mengabaikannya. Sempat beberapa kali Ryan mengunjungi rumah Risa, namun gadis itu sudah tidak tinggal di sana.


"Sebaiknya Nak Ryan jangan mencari Risa lagi, dia sudah tak ingin diganggu!" kata Mama Risa waktu itu.


Ryan memohon untuk diberitahu kan di mana Risa berada. Namun Mama tetap tak bergeming. Akhirnya, Ryan menyerah.


Sejak kejadian itu, dia semakin menjadi dingin. Kesehariannya, setelah pulang dari kantor, hanya mengurung diri. Terkadang melewatkan makan malamnya.


Beberapa kali, Alinka mengajak bertemu, namun Ryan tidak menanggapi. SampaiĀ  hampir setiap hari, Alinka berkunjung ke rumah Ryan, ingin bertemu dengan calon suaminya itu.


Namun Ryan acuh tak acuh, hanya terdiam. Tak ingin memulai pembicaraan apa pun dengan Alinka. Sementara itu, kabar Risa pun tak jauh dengan Ryan.


Sekarang dia tinggal dengan kakaknya di apartemen. Risa sudah keluar dari kantor sebelumnya, alasannya tak ingin bertemu dengan Ryan. Sekarang dia menjadi manager di Cafe milik kakaknya.


Selain sibuk mengurus Cafe kakaknya, ia juga sibuk belajar memasak dari Chef handal di Cafe tersebut. Ia melakukan hal itu hanya untuk mengusir Ryan dari hatinya. Risa masih menutup hatinya untuk laki-laki mana pun.

__ADS_1


Padahal, sudah dua orang pria yang ingin mengenalnya lebih dekat. Mereka adalah teman dari Haikal. Namun ia bersikukuh untuk menutup pintu hatinya. Tidak semudah itu menerima hati yang baru.


Apalagi, seluruh hatinya telah ia serahkan pada Ryan. Kini yang tertinggal hanyalah kenangan dan luka yang menganga.


"Dek, ngelamun aja. Mikirin apa sih?" tanya Abi membuyarkan lamunan Risa.


"Eh, Kakak. Kapan datang? Kok aku gak sadar ya," jawabnya tersenyum kikuk.


"Kamu sih ngelamun mulu! Baru aja Kakak masuk."


"Dek, tadi Kakak sempat melihat dia," ucapnya ragu.


Hati Risa berdebar, ia tahu yang dimaksud kakaknya adalah Ryan.


"Dia terlihat kurus Dek, gak terawat. Rambutnya acak-acakkan, wajahnya mendung banget. Dia cuman melamun aja sambil ngaduk makanannya," jelas Sang Kakak.


"Kasihan banget Dek, kelihatan sekali kalau dia gak bahagia sama pertunangannya. Kayanya dia frustasi Dek ditinggalin kamu," lanjutnya seraya manggut-manggut.


"Apa semengenaskan itu dia sekarang? Tapi aku gak bisa terusin hubungan ini, aku gak mau bikin kak Alin kecewa," batinnya bimbang.


"Kakak lihat dia di mana?"


"Di sini! Tadi dia makan di Cafe kita, untung saja dia tak sempat melihat Kakak, kalau lihat, bisa gawat."


"Kenapa kamu gak jujur aja sih Dek sama Alin, biar tuntas urusannya. Perasaan itu gak bisa dipaksa kan Dek, Alin harus tahu kalau Ryan hanya mencintai kamu," pepatahnya seperti seseorang yang sudah berpengalaman saja.


"Aku gak mau kak Alin sakit hati, Kak. Kak Alin cerita sama aku, kalau dia sangat menyukai Ryan. Mana sanggup, aku memetahkan hati Kak Alin yang sedang berbunga itu," paparnya lirih.


"Tapi kamu jadi menyakiti perasaanmu sendiri dan juga perasaan Ryan. Mau sampai kapan Dek?" Abi mulai kesal dengan pemikiran adiknya.


"Udah lah Kak! Aku malas membahas ini, palingan sebentar lagi juga, dia bakalan biasa-biasa lagi. Ini kan baru satu bulan kami berpisah, belum satu tahun," katanya tanpa beban.


"Susah ya ngomong sama kamu Dek. Yaudah deh terserah kamu aja! Kakak pergi dulu ya? Jangan ngelamun terus, nanti kamu salah ngitung lagi," guraunya.


"Iya Kakak, bawel banget sih!"


Akhirnya mereka mengakhiri obrolan tentang Ryan. Gadis itu kembali teringat dengan yang diucapkan kakaknya.


"Benarkah dia separah itu sekarang?" Gumamnya tanpa sadar.

__ADS_1


__ADS_2