
Galih melihat Aqila dengan tatapan pilu. Karna sedari tadi, Aqila hanya bisa menangis. Galih juga ga tau, harus bagaimana?. Melihat Aqila seperti ini. Membuat Galih sadar. Kalo Galih juga bersikap seperti ini. Saat tau, kenyataan yang membuat Galih terluka karna ini.
"Maaf, Tapi ini kenyataanya. Aku sudah katakan kenyataan ini padamu. Sekarang terserah padamu. Aku udah siap, Apapun keputusanmu aku terima" tutur Galih, yang matanya sudah memerah berkaca kaca.
Galih sendiri sudah ikhlas, dengan keputusan Aqila. Apapun itu?. Aqila masih menangis. Aqila sendiri ga tau, harus bersikap seperti apa?. Aqila dan Galih kini jadi pusat perhatian. Semua orang jadi memperhatikan Galih dan Aqila.
Aqila beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Galih. Tanpa sepatah kata pun yang di ucapkan Aqila untuk Galih. Aqila benar benar tak kuasa menahan air matanya yang terus terusan mengalir di pipinya. Hatinya begitu sakit menerima kenyataan yang begitu pahit ini. Aqila bingung harus bagaimana? Aqila hanya ingin pergi dari sana saja. Aqila tak ingin jadi pusat perhatian.
Galih terdiam melihat sikap Aqila, Galih sudah memprediksi kan akan seperti itu. Namun sepertinya Galih salah paham. Aqila pergi bukan membenci Galih. Tapi tak ingin menjadi pusat perhatian karna semua mata sudah tertuju padanya.
Galih, berpikir Aqila membencinya. Karna sudah membuat Gilang meninggal. Perlahan Galih meneteskan air mata nya. Dan pergi meninggalkan kursinya dan berjalan ke arah kasir.
Nattan yang saat itu, sedang menjaga kasir. Tak bisa ikut campur. Nattan melihat semuanya walau Nattan tak mendengar apa yang Aqila dan Galih bicarakan. Nattan melihat Aqila pergi begitu saja. Dengan air mata nya yang sudah membanjiri pipinya. Dan Galih sendiri terlihat sendu.
Galih hanya tersenyum begitu, Nattan yang ada di tempat kasir. Galih langsung pergi begitu saja, sebelum Nattan bertanya.
Aqila berlari sekuat yang ia bisa. Berlari entah kemana tujuannya. Meninggalkan motornya yang terparkir di Kampus. Sampai ia terjatuh tersandung sesuatu.
Aqila masih menangis. Orang orang melihat Aqila bingung. Aqila tak peduli dengan pandangan orang. Hatinya terasa sakit. Mengetahui kenyataan itu. Galih dan Gilang mereka sodara kembar. Bagaimana ini?.
Dalam diri, Galih ada Gilang. Jantung Gilang ada di tubuh Galih. Aqila tak kuasa menahan air mata yang sedari tadi terus menetes. Entah kenapa hatinya begitu sakit sekali. Bagaimana bisa, Gilang memberikan jantungnya pada Galih. Memberi kesempatan Galih untuk hidup. Aqila merasa sakit sekali. Seakan akan. Galih sudah merenggut hidup Gilang. Tapi mereka berdua sodara kembar.
__ADS_1
Wajah mereka begitu mirip. Dan dalam tubuh Galih ada Jantung Gilang. Kenapa harus Gilang berikan jantung itu, pada Galih. Kenapa harus Galih. Pertanyaan pertanyaan itu. Membuat Aqila merasa pusing. Sampai kepala nya sakit.
Aqila berlari lagi, Seperti orang kesurupan. Aqila terus berlari terus berlari. Entah sampai mana Aqila berlari. Aqila tak ingin bertemu dengan siapapun sekarang. Yang Aqila ingin pergi sejauh mungkin dari sini.
Aqila berkali sambil terus menangis. Berkali kali Aqila menghapus air matanya. Terus berlari tanpa merasa lelah. Sampai Aqila tak sadar sudah berada di puncak bukit tinggi.
Sambil terengah engah. Aqila berdiri di puncak bukit. Aqila tak sadar, susah begitu jauh Aqila berlari sampe ketempat ini. Sore itu , bukit itu, yang biasanya ramai. Malah terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang saja.
Aqila berteriak sekuat tenaga. Membuat orang orang di sekitar itu, terkejut dengan teriakan Aqila. Aqila menjerit menangis. Sambil duduk tersungkur. Hatinya benar benar sakit. Aqila terus menangis.
Orang orang yang berada di situ. Hanya membiarkan Aqila seperti itu. Mereka berpikir Aqila putus cinta. Bukit itu, memang sudah biasa menjadi tempat orang orang yang putus cinta. Makanya mereka terbiasa dengan sikap Aqila yang seperti itu.
Dari jauh, Galih melihat Aqila yang masih duduk tersungkur sambil menangis. Galih mengikuti Aqila mengunakan motornya. Aqila begitu cepat berlari sampai Galih kesulitan mengikuti Aqila.
Aqila memcintai Gilang. Bukan Galih. Walau sekarang ada jantung Gilang yang ada dalam tubuh Gilang. Andai Galih lebih cepat bertemu Gilang. Galih tak akan membiarkan Gilang mendonorkan jantungnya untuk Galih. Bila seperti ini. Sama saja, merenggut hidup Gilang.
Hati Galih begitu terasa sakit. Melihat Aqila seperti itu. Begitu juga dengan Aqila.
Tanpa di sadari, Aqila pingsan begitu saja, membuat semua orang panik. Begitu juga dengan Galih. Dengan bantuan warga Galih membawa Aqila ke rumah sakit.
Aqila mengalami kelelahan. Yah bagaimana tak lelah. Aqila berlari dari kampus sampe puncak bukit yang paling tinggi di kota B. Oake motor saja bisa mencapai satu sampe dua jam. Apalagi Aqila yang hanya modal Kaki.
__ADS_1
Sampai rumah sakit, kaki Aqila terlihat bengkak. Aqila masih belum sadar. Sedangkan Galih masih menunggu Aqila Sadar. Galih memberitahu keadaan Aqila pada Sarah, Renata dan Alea kalo Aqila berada di rumah sakit.
Sesegera mungkin, Mereka bertiga kerumah sakit. Setelah mereka bertiga datang. Galih izin pamitan pada Mereka..
Aqila masih, belum sadar. Namun air matanya terus terusan menangis. Sarah, Alea dan Renata bingung dengan keadaan Aqila. Aqila terus menangis dalam tidurnya. Entah apa yang terjadi pada Aqila dan Galih.
Galih, sendiri pergi begitu saja, tanpa sempat menjelaskan, apa yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua.
Dalam alam bawah sadar Aqila.
Aqila masih di peluk Gilang. Laki laki yang Aqila cintai. Namun laki laki itu, sudah tak ada di dunia ini. Aqila menangis di pelukan Gilang. Aqila tak ingin melepas kan Gilang.
"Aku harus pergi" guman Gilang pelan.
Aqila mengelengkan kepalanya. Menandakan Aqila tak ingin di tinggalkan Gilang.
"Aku harus pergi Aqila, Dunia kita sudah berbeda. Aku menitipkanmu pada Galih, kakakku. Jangan pernah benci dia, Aqila. Aku yang memilih untuk pergi, Beri Galih kesempatan untuk menjagamu, seperti dulu aku menjagamu" tutur Gilang. Langsung menghilang dari pelukan Aqila.
Aqila menangis, setelah Gilang menghilang dalam pelukanya. Sedangkan seseorang telah berdiri di belakang Aqila, menepuk punggung Aqila. Dan saat Aqila menoleh, ternyata dia, Galih.
Aqila langsung sadar. Begitu juga Galih yang terbangun dari tidurnya. Lagi lagi mimpi seperti itu. Mimpi yang sama dengan Aqila yang Aqila rasakan kini. Membuat Galih bingung dengan mimpi itu sendiri. Mimpi antara Aqila, Gilang dan Galih. Membuat Galih bingung dengan makna mimpi itu sendiri.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa like yah, Mampir juga yah, ke novel aku yang lain. "Ketika Cinta Menemukan Jalanya" dan "Irani Gadis Indigo". Terima kasih sudah mampir.