KISAH KITA

KISAH KITA
Episode 134 Tentang Alvian (flashback)


__ADS_3

Suasana kelas masih hening. Hanya detak jantung yang ramai terdengar. Saling menatap dan tersenyum. Dan saling menikmati alunan-alunan merdu dari hati mereka.


"Coba deh kamu dengarkan lagu ini. Mewakili banget," ucapnya tiba-tiba. Lalu Earphone ia masukkan ke telinga Zayna.


"Ada yang lain di senyummu


yang membuat lidahku gugup tak bergerak. Ada pelangi di bola matamu yang seakan memaksa tuk bilang aku sayang padamu"


Begitulah lirik yg mewakili perasaan Alvian. Zayna menatap Alvian lamat2.


"Kamu gugup saat bersamaku?"


"Iya. Kamu tahu karena apa?" Zayna hanya menggelengkan kepalanya.


"Karena aku mencintaimu," bisiknya.


Hangat nafasnya sangat terasa. Membuat Zayna begitu gemetar, tubuhnya lemas. Pipinya hangat, merah merona. Apalagi melihat senyumannya.


*****


Selepas pulang sekolah, Zayna dan Alvian jalan-jalan sebentar untuk menghilangkan penat.


Ya mereka sering pergi bersama, setelah besembunyi dari teman-temannya pastinya. Alvian tidak ingin banyak yang tahu tentang hubungannya dengan Zayna.


Ya meskipun Zayna bukan kekasihnya. Dan Zayna tak mempersalahkan hal itu. Baginya saat ini dia sudah bahagia.


*****


Siang itu, mereka duduk berdua di tepi danau. Di bangku kecil di bawah pohon rindang. Langitnya biru cerah, angin yang berhembus seolah-olah membisikan kata-kata cinta untuk mereka.


Saling melempar senyum, hanya itu yang bisa mereka lakukan. Diiringi dengan detak jantung yang tak berhenti berdebar. Begitulah cara mereka menikmati rasa.


"Kau dapat merasakan perasaanku kan?kalau aku sungguh-sungguh mencintaimu . Mustahil sekali kalau kau tidak merasa," katanya tiba-tiba. Matanya yang bulat menatap Zayna lamat-lamat.


Ya, dengan perawakan Alvian yang tinggi semampai, kulit yang putih, dan mata bulat yang indah, siapa yang tidak jatuh hati padanya? Zayna menatap laki-laki itu.


"Ya aku merasakannya. Karena aku pun mencintaimu."


"Aku berharap kamu sabar menungguku, menjaga perasaanmu. Karena suatu saat nanti, aku ingin melamarmu. Menjadikanmu satu-satunya wanita yang aku cintai. Dan satu hal lagi, hanya aku yang boleh kamu cintai. Ini perintah lho, yang harus kamu patuhi," guranya seraya tersenyum.


Zayna hanya mengangguk dan tersenyum. Tiba-tiba saja jemarinya meraih jemari Zayna. Lalu sesekali meremasnya. Rasanya seperti jantungnya berhenti berdetak.


Setelah sekian lama dekat, ini kali pertama tangan mereka bersentuhan. Angin semakin kencang berhembus, meniupkan desahan-desahan cinta untuk mereka.


******


Selepas hari kelulusan waktu itu, mereka berlibur. Dan pantai menjadi objek wisata yang pas untuk perpisahan. Deburan ombak, hamparan pasir putih, dan angin yang berhembus kencang. Serta ombak yang berlari-lari menghantam bibir pantai.


Ahh suasana seperti itu telah mereka bayangkan. Mereka sangat tak sabar ingin segera tiba di sana.


Namun, cuaca sedang tidak bersahabat. Sedari pagi, saat keberangkatan, hujan sudah mengguyur perjalanan mereka.


Angin yang masuk melalui celah-celah kaca jendela bis, membuat udara sejuk dalam bis tersebut.

__ADS_1


Alvian terlihat sibuk membuka jaketnya. Membuat mata Zayna melirik dan memperhatikannya.


Ini kan dingin sekali, masa iya Alvian kegerahan sampai harus membuka jaketnya. Begitu pikirnya menebak.


"Ini pakai buat kamu! Kelihatannya kamu sangat kedinginan," katanya dengan wajah yang datar.


Zayna terkejut. Sesekali ia melihat jaket dan yang punya jaket itu bergantian.


"Tapi kan kamu jadi kedinginan. Ini, pake saja. Aku tidak terlalu membutuhkannya." Jawabnya, sembari melepaskan  jaket itu.


Namun, tangan Alvian telah menahan jaket itu. Sehingga jaket tersebut tidak jadi dilepas.


"Lalu untuk apa gunanya kamu duduk di sampingku?" godanya seraya tersenyum. Zayna menjadi salah tingkah. Ia mengerti apa yang di ucapkan Alvian.


"Kenapa wajahmu merah begitu? Apa yang ada dalam otak bodohmu itu? Dasar gadis mesum," katanya sambil tertawa. Lalu, dia menatap Zayna. Pandangan mereka bertemu.


"Aku takkan menyentuhmu lebih dari ini. Sampai kamu menjadi halal bagiku," lanjutnya sembari menggenggam jemari Zayna.


Senyuman Zayna berkembang. Detak jantungnya sudah tak dapat dikendalikan lagi.


"Alvian, kau selalu membuatku jatuh hati dengan caramu. Ini yang membuatku enggan untuk menerima hati laki-laki manapun. Kau selalu menjaga kehormatanku. Aku mencintaimu selalu." Bisik hatinya kemudian.


******


Setelah sampai, mereka berhamburan ke tepi pantai. Tak perduli cuaca yang mendung dan dingin. Yang mereka inginkan hanyalah berlarian di pasir putih itu.


Bermain-main dengan ombak yang sesekali mengejar mereka. Zayna hanya duduk dihamparan pasir itu. Ia memandangi lautan yang begitu luas. Sambil sesekali berdecak kagum.


"Kau menyukainya?" tanya Alvian tiba-tiba.


"Seperti yang kau tahu, aku sangat menyukai suasana tenang seperti ini." Jawabnya seraya tersenyum.


"Alvian, kenapa kau kemari? Kau tidak bermain bersama mereka? Apa yang nanti mereka pikirkan jika melihatmu di sini bersamaku?" begitu ia menghujani Alvian dengan pertanyaan. Raut wajah Zayna menjadi sendu.


"Memang apa yang bisa ku katakan?" pertanyaan yang membuat Zayna bingung. Karena memang selama ini status mereka tidak jelas.


Meskipun mereka sama-sama mengakui perasaan mereka, tapi Alvian tidak ingin mengikat Zayna sebagai kekasihnya.


"Aku akan bilang, 'Jangan ganggu Zaynaku! Dia milikku' mungkin mereka akan mengerti mengapa aku duduk di sini bersamamu. Tanpa harus menjelaskan. Iya 'kan?" paparnya seraya tersenyum.


Zayna begitu bahagia mendengar kata-kata Alvian. Mereka menikmati hembusan angin yang terasa lembut menyentuh tubuh mereka.


******


Sampai hari yang naas itu tiba. Alvian mengabari Zayna, mereka akan bertemu di suatu tempat. Zayna dengan semangat memoles wajahnya dengan sedikit bedak dan juga lipstik.


Zayna sampai lebih dulu di tempat itu. Gadis itu duduk di bangku kayu yang menghadap langsung ke Danau.


Danau yang sering mereka kunjungi. Alvian dan Zayna sangat menyukai tempat ini. Udaranya yang sejuk dan suasana yang tenang.


Namun, sudah lebih dari satu jam menunggu, Alvian tak kunjung datang. Berkali Zayna melihat ponsel dan jam bergantian.


Hatinya menjadi resah. Ia tak bisa duduk dengan tenang. Untuk mengusir kegelisahannya, Zayna berjalan di pinggiran Danau.

__ADS_1


Tak lama ponselnya berdering. Nama Alvian yang tertera di sana. Seketika wajah Zayna menjadi senang.


Segera ia menggeser tombol hijau itu. Zayna sangat antusias menjawabnya. Namun, sesaat kemudian, ia menjatuhkan ponselnya. Kala mendengar suara diseberang sana mengatakan bahwa pemilik ponsel tersebut kecelakaan dan sedang menuju Rumah sakit.


*******


"Maaf, kami telah berusaha semaksimal mungkin. Tapi, Tuhan berkehendak lain," katanya dengan nada menyesal. Zayna hanya terdiam.


Jantungnya seperti berhenti berdetak. Dunianya terasa berhenti beputar detik ini juga!


Tubuhnya lemas. Zayna jatuh tersungkur di hadapan pria yang memakai jas putih itu. Tanpa sadar, dia meraih tangan pria tersebut.


Ia menangis tersedu-sedu. Sangat menyakitkan, harus menerima bahwa pria yang ia cintai harus pergi begitu saja. Tanpa pamit, tanpa kata-kata cinta yang sering ia ucapkan.


"Dokter, apa yang harus saya lakukan? Saya sangat mencintainya. Dia pergi tanpa aba-aba, begitu tiba-tiba. Saya...." tak kuasa Zayna melanjutkan kata-katanya.


"Anda harus ikhlas. Ini sudah takdir dari Allah. Berdo'alah untuk kebaikannya," tak terasa bulir bening membasahi pipinya.


Lalu, dia bantu Zayna untuk berdiri. Tatapan mereka bertemu. Ada kesedihan yg sangat mendalam di mata Zayna.


"Kenapa jantungku terus berdebar? Padahal ini bukan kali pertama aku membangunkan seseorang. Tapi, kenapa kali ini berbeda," dalam batinnya bertanya-tanya.


Tanpa sadar, dengan lembut jemarinya mengusap pipi Zayna.


******


Tak berapa lama, teman-teman dari pasien datang mengerumuni dokter. Zayna secepat kilat berlari. Dokter tampan itu melihat punggung Zayna perlahan menghilang di koridor terakhir.


"Dokter, bagaimana keadaan teman kami? Apa dia baik-baik saja?" tanya salah seorang dengan nada khawatir. Air mata deras mengalir di pipinya.


"Maaf, kami telah berusaha semaksimal mungkin. Teman anda, meninggal dunia." Jawabnya dengan suara berat. Ia meninggalkan kerumunan itu. Mereka berhambur ke dalam ruangan. Tangis mereka pecah, melihat jasad itu.


*******


Dokter itu mencari keberadaan gadis yang sedari tadi menemani pasien. Tapi dokter itu tak kunjung menemukannya. Sampai pada lorong terakhir dekat taman dia menemukannya. Gadis itu tengah memeluk lututnya sambil membenamkan wajahnya. 


Ia menangis tersedu-sedu. Dokter itu mendekatinya.


"Kenapa kau di sini? Bukankah kau mencintainya? Kau tidak ingin melihatnya untuk terakhir kali?" begitu banyak pertanyaan yang ia lontarkan.


Gadis itu mendongak untuk melihat siapa yang berbicara padanya.


"Saya tidak ingin mereka melihat kesedihan saya," dengan terisak ia menjawab. Memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Saya tidak ingin mereka tahu, betapa terlukanya hati saya saat ini. Bolehkah saya berkata, kalau Allah tidak adil terhadap saya? Sebelum hari ini, dia berjanji akan melamar saya suatu hari nanti. Tapi apa sekarang, dia bahkan tidak berpamitan kalau dia akan pergi." Paparnya dengan suara beratnya.


Tangisnya pecah, begitu pilu ia mengingat kembali kenangan indahnya. Dokter itu hanya terdiam. Ia tak bisa berkata apa-apa.


Gadis itu hanya butuh di dengarkan. Karena tak cukup dengan kata-kata untuk menggambarkan betapa pedihnya perasaannya.


"Kemarilah! Jangan menangis lagi. Ikhlaskan dia, Allah selalu adil dalam segala hal. Kalau pun hal ini membuatmu terluka, saya yakin Allah tengah mempersiapkan seseorang yang lebih darinya. Percayalah." Begitu dokter itu memberi semangat.


Gadis itu pun menatap dokter tersebut. Sekali lagi, jemarinya mengusap lembut pipi gadis itu.

__ADS_1


"Rabbku, betapa terlukanya perasaan gadis ini. Setelah ini, berikanlah kebahagian yang tiada hentinya padanya. Dan aku berharap, agar aku diberikan kesempatan untuk membahagiakannya." Ia langitkan do'a kepada Semesta.


__ADS_2