KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 113 | Aku...


__ADS_3

Sedikit peringatan!


Ada sedikit unsur kekerasan. Maaf jika itu ngebuat kalian kurang nyaman. Ay nggak mendeskripsikannya dengan terlalu jelas, kok. Cukup langsung ke inti, udah gitu aja.


...Happy reading:)...


.......


.......


.......


“Ini akibatnya karena lo udah ngebuat wanita yang gue cinta nggak nyaman.”


Jleb! Srett!


Deg!


“GINA!”


Tubuh Alka gemetar hebat. Tepat di hadapannya, di depan matanya, ia menyaksikan bagaimana Yosua memotong leher Gina dengan pisau di tangan. Darah gadis kecil itu terciprat ke mana-mana, termasuk di wajah Alka.


“Gi–Gina..” lirih Alka mulai ketakutan. Tubuh lelaki itu semakin tak karuan. Rasa kengerian di hati dan otaknya membuncah. “GINAAA...!!!”


Sementara Alka mulai histeris seraya memberontak, Yosua tertawa bengis. Dia seolah puas melihat ceceran darah Gina yang berada di sekitarnya, sama sekali tidak terpancar sorot iba maupun jijik dari lelaki itu.


Seolah-olah... Yosua sudah terbiasa dengan semua itu...


Yosua berjalan mendekati Alka. Ia menarik dagu lelaki itu, memaksa agar tatapan keduanya saling bersirobok. Mata tajam Yosua bertemu dengan mata Alka yang terpancar ketakutan hebat. Bahkan, air mata Alka sudah mengalir sejak tadi.


“Sekali lagi lo dekati Natashya, lo bakalan bernasib sama kayak gadis kecil ini. Inget itu!” ancam Yosua tak main-main.


“NGGAKKK!! JANGAN BUNUH GUE!!”


“PERGI LO! PERGIII!”


“AAAAA...!!”


...Flashback off....


Aisha berjalan mundur, menjauhi Yosua yang telah menyelesaikan cerita kelamnya, cerita yang merupakan awal di mana adiknya hancur. “Lo–lo bunuh anak itu.. Yos?” ucap Aisha pelan.


Sangat tidak disangka. Jadi, selama ini, dia menyukai seorang psikopat?


“Iya, kenapa emang?” balas Yosua dengan entengnya.


Aisha masih terus berjalan mundur, kepalanya geleng-geleng, tidak percaya dengan kenyataan ini. Apa benar Yosua hanya mengidap OLD?

__ADS_1


Tidak, Aisha yakin lebih dari itu. Pasti bukan hanya OLD! Pasti ada penyakit lain!


Lelaki itu tanpa belas kasih membunuh manusia!


DAN, ITU SEORANG GADIS KECIL! SETEGA ITU DIA!


Walaupun Aisha tidak paham mengenai macam-macam mental illness, tetapi ia yakin dengan sepenuh hati dan otaknya kalau penyakit yang Yosua derita lebih dari sekadar Obsessive Love Disorder.


Apa benar Yosua melakukan semua itu hanya demi Natashya? Atau karena lelaki itu ingin mencapai kepuasan lain karena sudah membunuh orang?


Intinya, Yosua benar-benar seorang psikopat gila!


“Lo gila, Yos! Dasar gila!” teriak Aisha. “Lo bukan manusia!”


Sorot mata Yosua menajam. “Apa maksud lo?!” kecamnya.


“Manusia itu punya otak dan hati. Tapi, lo sama sekali nggak punya keduanya! Lo itu iblis, Bajingan!” seru Aisha tidak bisa lagi menahan diri. “Lo nggak punya otak buat mikir akibat dari kesalahan lo! Dan, lo nggak punya hati buat ngasihani anak yang udah lo bunuh!”


Semua cerita yang Yosua utarakan sangat mengguncang jiwa. Aisha saja tertekan hanya karena cerita dan aura Yosua saat ini. Apalagi Alka yang mengalaminya secara langsung?


Itulah mengapa Alka bisa depresi dan histeris setiap melihat pisau dan darah. Padahal, lelaki itu ditemukan tanpa luka sama sekali.


Alasannya karena bukan fisik Alka yang menjadi sasaran utama Yosua. Tetapi, jiwa Alka yang trauma karena sudah menonton—sudahlah! Itu terlalu mengerikan untuk diceritakan ulang.


Yosua menggeram. Kedua tangan lelaki itu terkepal di samping tubuh. Dia marah, sangat. Berani sekali Aisha menyebut dirinya iblis!


Aisha tersenyum sinis. “Nggak! Lo emang bukan manusia! Lo itu iblis!”


“TARIK UCAPAN LO, SIALAN!” bentak Yosua tak dapat menahan emosinya lagi.


Tubuh Aisha bergetar mendengar bentakan itu. Rasa takut mulai menggerogotinya. Namun, ia tetap berdiri di sana tanpa mau mundur lagi, tidak menghiraukan rasa takut di hatinya.


Aisha akan membalas perbuatan Yosua dengan caranya.


“Kenapa, heh? Iblis kayak lo emang nggak punya hati! Lo nggak pantes untuk—”


“AISHA!” Yosua berjalan cepat menuju meja ruang tamu, mengambil sebilah pisau yang ia gunakan untuk mengupas buah sebelumnya. “Kakak dan adek, sama aja.”


“Sama-sama menyusahkan!” lanjut Yosua geram.


Aisha melirik pisau di tangan Yosua sekilas. “Lo yang dulu dan lo yang sekarang, sama aja. Sama-sama gila dan nggak ada akhlak!” tajam Aisha tak mau kalah.


Yosua berdecih sinis. Tangannya yang menggenggam pisau semakit mengetat. “Lo bakalan dapet akibatnya, Sha.”


“Ayo maju! Gue nggak takut,” tantang Aisha berani.


Yosua bergerak maju, tangannya terayun dari belakang, hendak menghunuskan pisau di tangan ke perut Aisha. Sayangnya, belum sempat itu terjadi, perkataan Aisha sukses membuat tubuh Yosua membeku.

__ADS_1


“Dan, gue pastiin, Natashya bakalan benci sama lo seumur hidupnya!”


Deg!


Na–Natashya?


...❄️❄️❄️...


Natashya berdiri termenung di kamar mandi. Tatapan wanita itu tak dapat lagi dibaca. Sudah hampir 30 menit ia berada di sana.


Mengakibatkan sosok lelaki di luar berdiri cemas menanti sang istri yang tak kunjung keluar. Tidak ada suara gemericik air maupun sahutan dari Natashya sejak tadi. Padahal, ia sudah memanggilinya beberapa kali.


Tok tok tokk..


“Sayang? Kamu ngapain di dalem? Kok, lama banget?” tanya Anton khawatir. “Kamu baik-baik aja, Yang?”


Natashya menghembuskan napasnya perlahan, mengurangi rasa gugup yang mendera hatinya. Setelah meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja, ia memutuskan untuk keluar dari kamar mandi.


Ceklekk..


“Sayang, kamu kenapa, hm?”


Hal pertama yang menyambut Natashya ketika ia keluar adalah ekspresi cemas Anton yang kentara sekali. Lelaki itu bahkan masih menungguinya di depan pintu kamar mandi.


Selepas Natashya keluar, Anton segera memeriksa sekujur tubuh Natashya. Takut jika istrinya menyembunyikan luka darinya.


“Nio..” sebut Natashya lirih.


“Kenapa, hm?” Anton mengusap pipi Natashya lembut. Kedua tangannya menangkup wajah Natashya, mengarahkan wajah itu terus menghadap padanya.


“A–aku...” Natashya tak melanjutkan kalimatnya. Ia malah menggigit bibir bawahnya seraya memalingkan wajah, menahan rasa takut yang mendadak menguasai hatinya.


Anton terkejut melihat mata Natashya yang mulai berkaca-kaca. “Hei, kamu kenapa? Cerita sama aku.”


Tidak langsung menjawab. Natashya memilih untuk menghamburkan diri ke dalam pelukan suaminya, meraup segala energi positif dari Anton. Lantas dirinya menghirup napas dalam-dalam, tidak ingin terlalu dikuasai rasa takut di hatinya.


“Sayang, ada apa, hm?” tanya Anton sekali lagi. Kali ini suaranya jauh lebih lembut dari sebelumnya.


“Aku hamil.”


^^^To be continue...^^^


...❄️❄️❄️...


Aduh, gimana, nih? Akhirnya, udah sampe ke titik puncak piramida. Kisah Yosua dan Alka sudah terungkap semuanya. Sekarang tinggal memberi akhir bahagia ke semua tokoh.


Untuk adegan kekerasan di atas, tolong jangan ditiru. Maaf jika ada yang merasa tidak nyaman. Kondisi mental Yosua memang bermasalah, jadi, ya... begitulah.

__ADS_1


See you di chapter selanjutnya:)


__ADS_2