KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter Lima Puluh Tiga.


__ADS_3

Semua masih menertawakan Abdul, hanya Sarah dan Nattan yang senyum saja. Bagi Sarah tak ada yang lucu. Begitu juga, Nattan yang entah apa yang di pikirkan nya. Sedari tadi hanya melihat Sarah saja.


Semua duduk terdiam. Tak ada yang bisa dilakukan ketika hujan dan mati Listrik. Semua masih berkumpul di tengah rumah para gadis.


Reno masih memperhatikan sekeliling, Reno mulai bosan. Reno memiliki ide untuk malakukan permainan.


"Bosan nih, kita main permainan yu..?" ajak Reno bersemangat.


"Permainan apa?" tanya Aqila yang memang sama sama bosan.


"Permainan ini namanya, tantangan atau pengakuan, jadi kita akan memutar botol. Saat botol itu berhenti, di antara kita. Orang itu harus memilih tantangan atau pengakuan. Bila orang itu, memilih tantangan. Orang yang ditunjuk botol harus menerima tantangan dari salah satu dari kita dengan persetujuan dari setiap pemain. Dan bila memilih pengakuan, orang itu harus menjawab jujur, apa yang di tanyakan dari kita semua, bagaimana?" tutur Reno sambil bertanya pada semuanya untuk mengikuti permainan nya.


Semua setuju dengan ide Reno. Tanpa terkecuali Sarah dan Nattan yang sedari tadi diam saja. Aqila pun mengambil botol kecap yang kebetulan baru saja habis untuk melakukan permainan ini.


Reno pun memegang botol kecap itu. "Kita mulai yah!" seru Reno sembari memutar botol kecap itu. Dan botol kecap itu berhenti, tepat di depan Aqila. Mereka bersembilan, Alea, Renata, Aqila, Sarah, Nattan, Reno, Habibie, Abdul dan Rojak sudah membentuk lingkaran.


Sarah tepat di depan Nattan, Alea di pinggir Habibie, Renata di sebelah Reno Aqila di antara Sarah dan Alea. Dan di sebelah kanan, ada Nattan, berada di tengah. Rojak dan Abdul berada di sisi di antara Reno dan Habibie.


"Aqila, kamu main duluan?. Kamu milih tantangan atau pengakuan?" tanya Reno sebagai pemimpin permainan.


Aqila terdiam, bingung harus memilih mana.


"Aqila, kamu harus segera memilih. Tantangan atau Pengakuan?" tanya Reno lagi.


"Tantangan aja lah" jawab Aqila spontan. Aqila tak tau, tantangan apa yang akan mereka berikan Aqila tak peduli. Yang penting ikut dalam permainan saja.


"Gimana ada ide apa, tantangan untuk Aqila?" tanya Reno meminta peserta permainan memberikan idenya.


"Aqila, ambilkan ponsel aku di kamar aku!" seru Renata memberikan tantangan pada Aqila.


"Kalian setuju ga, sama tantangan yang di berikan Renata untuk Aqila?" tanya kembali Reno.


Mereka semua terdiam. Bingung harus memberikan tantangan apa?.

__ADS_1


"Ada tantangan lain ga?" Reno bertanya kembali, karna semua masih diam tanpa ada kata kata yang mereka ucapkan.


Aqila sudah manyun sama Renata, Hatinya terus mendumel. Tak suka dengan tantangan yang Renata berikan untuknya. Masalahnya rumah ini, dalam keadaan mati lampu. Jalan menuju kamar Renata begitu gelap, membuat Aqila sedikit merinding.


"Kita setuju!" seru Habibie.


"Yakin, sama permintaan Renata, ga ada yang lain gitu" Aqila mulai merasa tak suka dengan tantangan Renata. Berharap ada tantangan yang lain. Aqila jadi menyesal karna memilih tantangan bila, tantangannya seperti ini.


"Boleh, ganti ga?" tanya Aqila lagi, merasa merinding saat melihat tangga yang begitu gelap tanpa ada cahaya lampu sedikit pun.


"Gimana, Aqila boleh ganti ga?" Reno bertanya kembali pada peserta permainan sembilan orang itu, Empat perempuan dan lima laki laki itu.


"Aku ga setuju, harus konsisten dong!" seru Renata mengoda Aqila.


Aqila melotot pada Renata. Membuat Renata senyum sendiri, senang mengoda temannya ini. Renata tau, jalan menuju kamar Renata begitu gelap, harus melewati tangga. Di tambah kamar Renata itu, kamar paling ujung di antara kamar yang lain.


"Maaf, Aqila ada yang ga setuju. Mau ga mau kamu harus menjalankan tantangan itu, kalo ga kamu di hukum" Reno menjelaskan lagi, peraturan permainan.


"Di hukum aja lah, dari pada harus naek ke atas yang gelap itu" guman Aqila.


"Kira kira hukuman yang cocok apa yah?" guman Reno memikirkan hukuman untuk Aqila.


"Menurut aku..."


Ucapan Renata, terhenti ketika Aqila memotong ucapan Renata. "Kamu ga usah ikut ngomong!" seru Aqila cemberut.


Renata tersenyum.


"Udah, kasih Aqila pengakuan saja sebagai hukumannya" guman Rojak.


"Boleh, siapa yang pertama yang ingin di tanyakan pada Aqila. Hanya boleh 3 pertanyaan aja, untuk Aqila akui tak lebih"


"Aku" ucap Rojak sambil mengangkat tangannya ke atas.

__ADS_1


"Apa?"


"Aqila, kamu harus jujur yah, kenapa kamu selalu judes ma kita?" tanya Rojak penasaran.


"Ha, kirain harus akui apa?" gerutu Aqila mendengar pertanyaan bodoh Rojak.


"Aqila jawab?"


"Iya, aku jawab, kayanya bukan sama kalian aja kali, sama yang lain juga gitu. Aku malas dekat Deket kalian"


"Malasnya kenapa?, Kitakan ga salah sama kamu?" tanya Abdul melanjutkan pertanyaan Rojak.


"Malas aja, ga ada alasan lain titik"


"Apakah kamu pernah di sakitin laki laki, jadi kamu bersikap judes ma kita" sambung Habibie, mulai penasaran saja.


"Haduch di sambung sambung ini pertanyaan, Aku jujur ma kalian semua. Aku pernah di tinggalkan mati oleh Pacar aku. Udah jelas. Ga usah tanya kelanjutan lagi. Pengakuan aku udah semuanya di jawab" tutur Aqila menjelaskan.


Jawaban Aqila menang cukup jelas. Namun masih ada pertanyaan pertanyaan di kepala mereka tentang Galih. Sebenarnya mereka ingin bertanya dengan tentang Galih. Tapi mereka tak jadi. Takut Aqila tersinggung. Mereka tak mau di usir Aqila. Apalagi di luar sedang hujan deras. Masih jauh, menuju kosan mereka.


"Kita mulai lagi yah, permainan ini siapa yang akan menjalani permainan kedua!" seru Reno memulai kembali, permainannya. Reno kembali memutar botol kecap itu.


Botol kecap itu, memutar ke arah Sarah dan berhenti tepat di depan Sarah.


"Ohw Sarah yang kedua, gimana pilih tantangan apa pengakuan"


"Tantangan" jawab Sarah langsung, Sarah tak ingin mengakui tentang perasaannya. Sarah tak ingin para laki laki ini, mengetahui perasaan Sarah yang sebenarnya.


Nattan masih, memperhatikan Sarah. Yang sama sekali tak ingin melihat Nattan. Sarah sudah berpaling sedari tadi. Nattan terus saja melihat Sarah. Semua menyadari tentang tatapan Nattan yang tertuju pada Sarah. Namun mereka hanya diam saja. Tak ingin mencampuri Nattan.


Renata, melihat Sarah dan juga Nattan. Ada rasa kasihan antara kedua orang ini. Sepasang manusia yang saling jatuh cinta. Namun tak bisa bersama. Karna perbedaan itu. Renata sendiri tak bisa membantu Sarah. Begitu juga teman teman Nattan. Mereka bingung harus bantu bagaimana. Tentang kisah cinta Nattan. Yang menurut mereka tak jalan keluar. Baik Nattan atau pun Sarah tak bisa bersama. Hanya dengan cara melupakan perasaan mereka masing itu yang terbaik untuk keduanya.


Beesambung.

__ADS_1


Terima kasih sudah setia nunggu Up. Jangan lupa like yah dan Mampir juga, ke novel Author yang lain. "Ketika Cinta Menemukan Jalanya" dan "Irani Gadis Indigo" terimakasih.


__ADS_2