
Hari ini semua keluarga berkumpul. Di ruangan yang tidak terlalu luas itu, sedang diadakan syukuran kecil-kecilan. Sebab, Alinka sudah sadar dari koma. Semua keluarga begitu bahagia. Hanya wajah Risa dan Ryan yang terlihat mendung.
Mereka hanya bisa saling menatap tanpa bersuara. Ayah dan ibu Alinka sudah kembali dua hari yang lalu. Mereka bergegas kembali ke tanah air ketika mendengar kabar buruk yang menimpa anaknya.
"Pak Gunawan, bagaimana kita tetapkan tanggal pernikahan anak kita? Mumpung semua keluarga sedang berkumpul," ujarnya seraya tersenyum. Pak Gunawan dan istrinya saling pandang.
Lalu pandangan mereka beralih pada Ryan. Lelaki itu hanya diam. Raut wajahnya tak terbaca. Risa menundukkan wajahnya, menyembunyikan genangan air mata yang sebentar lagi akan tumpah.
"Mm ... saya serahkan semuanya pada anak saya, Pak. Gimana Ryan, apa kamu sudah menentukan tanggalnya?" tanya Papa ragu.
"Terserah kalian saja!" jawabnya datar.
Papa Alinka tersenyum puas. Memang itu yang ia harapkan. Dia menjadi bebas menentukan tanggal sesuai permintaan putrinya.
"Bagaimana, Sayang? Kamu mau tanggal berapa untuk hari pernikahanmu?" tanya Papa-nya antusias.
Alink hanya diam. Sedari tadi gadis itu hanya tersenyum samar. Dadanya seperti terhantam sesuatu. Tenggorokannya seperti tercekik.
Obrolan Ryan dan Risa saat dirinya koma, terngiang-ngiang di telinganya. Apalagi desahan mereka yang begitu menusuk jantungnya. Ya, meskipun dia dinyatakan koma, tetapi telinganya mampu mendengar dengan baik.
"Alinka ingin membatalkan perjodohan ini, Pa," ujarnya lirih.
Semua orang tercengang mendengar ucapan Alinka. Gadis itu terisak, membuat sang Papa mengernyitkan dahinya.
Dia tahu betul kalau putrinya begitu menyukai Ryan. Menginginkan lelaki itu menjadi suaminya. Lantas, sekarang dia ingin membatalkannya? Ada apa sebenarnya? Begitu pikirnya.
"Sayang, apa maksudmu? Bukankah kau yang merengek pada Papa untuk menjodohkanmu dengan Ryan?" tanya Papa penasaran. Gadis itu bergeming. Setia dengan isaknya.
"Jawab, Papa, Sayang? Ada apa sebenarnya?" desak Papa, lelaki paruh baya itu begitu khawatir melihat keadaan putrinya. Tubuhnya bergetar hebat, menangis tersedu di atas ranjang.
"Karena ... mereka saling mencintai," ucapnya nyaris tak terdengar.
"Mereka siapa?" sahut Papa.
Ryan dan Risa saling pandang. Tak mungkin kan 'mereka' yang dimaksdu Alinka itu adalah mereka berdua. Alinka tidak mungkin mencari tahu, sebab dia baru saja pulih dari koma.
"Ryan dan Risa ... mereka saling mencintai. Alin tak sekejam itu merebut seseorang dari sepupu Alin sendiri," disela isaknya ia menjelaskan.
__ADS_1
Raut wajah Papanya menjadi murka. Rahangnya mengeras, menggeratakkan giginya. Matanya menatap tajam ke arah Ryan. Berani sekali kau mempermainkan putriku, begitu makna yang tersirat dari sorot matanya. Risa memeluk ibunya.
Bahkan, ibunya saja baru menyadari hal ini. Kenapa dia tak merasa curiga saat Risa tak ingin menemui Ryan lagi? Ah ... Ibu hanya bergeming. Ternyata selama ini, putrinya sangat terluka.
"Kau! Berani sekali kau mempermainkan perasaan putriku!" Tangannya mendarat di pipi Ryan. Sebuah luapan amarah melalui sebuah tamparan. Ryan tak melawan.
Dia tahu sedari awal keputusannya untuk menerima perjodohan ini salah. Wajar jika Papa Alinka marah besar dan kecewa.
Orang tua mana yang ingin melihat anaknya terluka. Pak Gunawan juga hanya bisa bungkam. Ini salahnya! Jika saja dia tak egois untuk bersikeras menjodohkan putranya, mungkin saat ini takkan banyak hati yang terluka.
Papa Alinka membangunkan Ryan yang tersungkur di lantai. Mencengkeram kerah baju pemuda itu. Tangannya sudah mengepal untuk meninju wajah tampan lelaki itu. Namun, teriakan Alinka membuat dia menghentikan aksinya.
"Jangan, Pa! Dia tidak bersalah. Aku yang salah, seharusnya aku tidak memaksakan semua kehendakku. Maafkan aku ...." ucapnya lirih.
"Risa ... kemarilah," panggilnya.
Risa menoleh ke arah ibunya. Hanya anggukan jawaban dari wanita paruh baya itu. Risa melangkah dengan perlahan, dia sangat takut dengan kemarahan Om-nya itu. Sesampainya di tepi ranjang, Alinka meraih jemari Risa, menggenggamnya erat.
"Risa ... maafkan aku. Jika aku tahu kau mencintai Ryan, aku takkan meminta Papa untuk menjodohkan aku dengannya. Aku memang bukan kakak sepupu yang baik, maafkan aku," ucapnya tulus.
Risa memeluk sepupunya. Sungguh, Alinka salah. Justru dia adalah kakak sepupu terbaik di muka bumi ini. Buktinya dia rela melepaskan Ryan demi dirinya.
"Kak, jangan bicara seperti itu! Kak Alin, adalah Kakak terbaik di dunia ini. Aku ikhlas jika Kakak menikah dengan Ryan. Mungkin aku dan Ryan memang tidak berjodoh," jawabnya lirih. Lalu Risa memberanikan diri untuk mendekati Om-nya.
Risa sangat disayang oleh Om dan Tantenya. Setiap Alinka dibelikan sesuatu, Risa pun akan mendapatkan hal yang sama. Om-nya mengerti, bahwa Risa haus akan kasih sayang dari seorang ayah.
Sebab, ayahnya telah meninggal sejak Risa masih kecil. Pria paruh baya itu menatap Risa nanar. Bagaimanapun Risa sudah dianggap seperti putrinya sendiri, dia tak pernah menganggap Risa sebagai keponakannya.
"Om ...." suaranya bergetar, bulir bening lolos dengan sempurna.
"Maafkan aku, Om pasti sangat kecewa dengan semua ini. Om bisa memarahi aku sepuasnya. Aku sayang sama Om dan Kak Alin, maafkan aku telah melukai hati putri kesayangan, Om," katanya lirih. Risa masih terisak, pria di hadapannya masih bergeming.
Tak tahu harus berbuat apa. Pilihan yang sangat sulit. Kedua putri kesayangannya mencintai lelaki yang sama. Perasaan siapa yang harus dia korbankan.
"Maaf Om, saya hanya mencintai Risa. Saya hanya ingin menikah dengannya. Memang ini menyakitkan untuk Alinka. Namun, lebih baik seperti ini kan? Dari pada nanti setelah menikah Alinka tak bahagia bersama saya." Papar Ryan dengan percaya diri.
Papa Alin menoleh ke arahnya, tatapannya tak setajam tadi. Lalu pandangannya beralih pada putri kesayangannya. Alinka menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Benar apa kata Ryan, Pa. Untuk apa Alin memiliki Ryan, tetapi hatinya bersama yang lain. Alin gak apa-apa, kok. Alin akan sangat bahagia, bila adik Alin yang cantik ini bahagia," jawabnya jujur. Kini senyuman indah melengkung di bibirnya.
Hati semua orang menjadi berdebar-debar. Menunggu keputusan Papa Alin. Kedua orang tua Ryan hanya bisa pasrah. Jika pada akhirnya Papa Alin membatalkan seluruh investasinya. Kebahgiaan Ryan adalah hal terpenting saat ini.
"Baiklah, saya akan membatalkan perjodohan ini. Namun, saya takkan begitu saja percaya sama kamu! Jangan menyakiti putri kedua saya! Setetes saja air matanya jatuh karena kau sakiti, saya takkan segan-segan untuk mengambilnya kembali." Ancamnya seraya jarinya menunjuk wajah Ryan.
Risa berhambur memeluk Omnya. Gadis itu menangis haru di dadanya. Jemari keriputnya mengusap lembut kepala Risa.
"Terima kasih, Om. Maafkan Risa yang telah membuat Om kecewa. Risa janji takkan mengulangi ini lagi," ucapnya seraya tersenyum.
"Sama-sama, Nak. Berjanjilah untuk selalu bahagia. Kamu dan kakakmu adalah harta paling berharga untuk almarhum adik Om. Kalian separuh dari napas, Om." Paparnya lembut, Om dan keponakannya itu saling berpelukan mesra.
Tak ada lagi ketegangan dan kesedihan dalam ruangan itu. Semua mata menangis haru. Ryan tersenyum kecil, menatap kedua orang tuanya.
Pak Gunawan menepuk bahu putra sulungnya, sebagai tanda ucapan selamat. Diana memeluk kakaknya dengan erat. Gadis itu yang merasa paling bahagia, sebab berkat campur tangannya, akhirnya kakaknya bisa bersatu dengan Risa.
"Maaf, Pak, jadi bagaimana dengan tanggal pernikahannya? Kita tentukan sekarang saja," ujar Pak Gunawan.
"Iya, terserah pada calon pengantinnya saja, Pak."
"Ryan, kamu mau tanggal berapa?" tanya Pak Gunawan.
"Minggu depan," jawabnya mantap.
Semua orang membuka mulutnya lebar-lebar. Mudah sekali anak itu menjawab. Bahkan persiapan tentang chatring saja memerlukan banyak waktu. Belum lagi urusan gaun pengantin, undangan, gedung dan banyak hal lain lagi.
"Heh, anak nakal! Memangnya mengurus pernikahan itu gampang! Jangan minggu depan, dua bulan lagi saja," omel Mama Ryan seraya menjewer telinga anaknya. Ryan meringis merasakan daun telinga begitu sakit dan panas.
"Gak usah ribet-ribet, Ma. kita adakan ijab kabul saja. Resepsinya menyusul saja, iya kan, Sayang?" tanyanya pada Risa. gadis itu melotot tajam.
Dia sungguh malu mendengar kata 'sayang' di depan seluruh keluarga. Semua orang ******** senyum melihay Risa yang tampak malu-malu.
"Gimana, Nak, apa kamu setuju?" tanya Mama Ryan.
"Risa mengikuti kemauan Ryan saja, Tante," jawabnya pasrah.
"Eh jangan Tante, tetapi Mama. Kan sebentar lagi kamu menjadi menantu, Mama," sahutnya seraya tersenyum.
__ADS_1
"Mm ... iya, Ma," jawabnya tersipu.
Akhirnya mereka mengakhiri obrolan tentang pernikahan. Mereka berbincang hangat dengan pasien yang sedari tadi terlupakan.