
Mili masih menatap wajah Qian. Mili masih terkejut kalau Qian, tau tentang semuanya. Tentang keluarga dan juga Alea. Sekarang Mili menjadi yakin kalau, Qian itu, Qian yang dulu pernah Mili dan Sisi kerjain habis-habisan.
"Apakah kamu, Rahasa Qian?" tanya Mili mulai bergetar seakan tak percaya bahwa yang dilihatnya kali ini, benar-benar Qian yang super gemuk temanya Alea.
Qian tersenyum jahat, sudah lama tak ada yang menyebut nama panjangnya.
Melihat reaksi Qian. Membuat Mili yakin. Mili ambruk terjatuh ke tanah. Tak bisa berkata-kata lagi.
"Sekarang, kamu tau rasanya jadi Aku!" seru Qian dengan senyum jahatnya.
"Dengarkan aku, ini baru permulaan. Selanjutnya bakal ada kejutan lagi untuk kalian berdua" Qian berlalu, meninggalkan Mili yang masih duduk di tanah. Qian benar-benar menikmati rasanya balas itu, begitu menyenangkan.
Mili masih tak percaya. Mili percaya "Karma" itu ada. Tubuh Mili bergetar, takut dengan rekaman itu akan segera tersebar. Semua yang dilakukan kini, bakal jadi sia-sia. Mili meneteskan air matanya.
Orang-orang sekitar memperhatikan Mili masih duduk di tanah sambil menangis. Mereka semua tak tau apa yang terjadi pada Mili.
🍀🍀🍀
Aqila dan Galih berjalan sambil gandengan tangan. Membuat seluruh kampus heran di buatnya. Seorang Aqila, terkenal dengan judes pada laki-laki itu, sedang bergandengan tangan dengan Galih. Tak bisa dipercaya.
Galih melihat Aqila. Aqila begitu bahagia saat bersama Galih. Membuat Galih merasa begitu bahagia.
"Terima kasih" bisik Galih.
Aqila tersenyum, memegang erat tangan Galih. Hari ini, Aqila seperti terlahir kembali. Jadi gadis yang paling bahagia di dunia ini.
Rasa bahagia ini, begitu terasa nyata. Yang pernah Aqila rasakan dulu, saat bersama Gilang. Namun yang Aqila genggam kali ini, Galih. Yah Galih. Galih laki-laki yang begitu mirip dengan Gilang. Laki-laki yang tak pernah Aqila lupakan sampai sekarang. Kini ada didalam diri Galih. Gilang akan selalu ada, bersama Galih dan Aqila.
Nattan dan Sarah tersenyum melihat Aqila dan Galih. Akhirnya, mereka berdua bersama. Sepasang mata Nattan dan Sarah saling berpandangan. Mereka berdua tak tau, kalau keduanya sedang melihat Aqila dan Galih.
Lama Sarah dan Nattan saling melihat satu sama lain. Sarah pun berpaling. Tak ingin terlalu lama melihat Nattan terlalu lama. Sarah takut semakin mencintai Nattan. Dan tak bisa untuk melepaskan Nattan selamanya. Sarah segera pergi meninggalkan Nattan.
Sarah tak ingin melihat lagi, tak ingin melihat Nattan lagi. Sarah meneteskan air matanya. Perasaannya tak terbalaskan. Bukan tak terbalaskan hanya tak bisa bersama.
Nattan masih melihat Sarah dari belakang. Hanya itu, yang Nattan bisa. Nattan tak bisa melangkah lebih dari ini. Karna, sekali Nattan dan Sarah melangkah, maka selamanya mereka tak bisa mundur kembali. Itu yang pikirkan Sarah dan Nattan.
__ADS_1
Semakin hari, rasa dalam hati Nattan dan Sarah semakin besar. Semakin terasa menyakitkan bila terus memendam rasa cinta ini. Rasa cinta yang begitu tulus. Rasa cinta yang begitu indah namun...
Nattan pun meneteskan air matanya. "Mencintaimu anugrah terindah untukku" ucap Nattan pelan.
"Namun kisah kita, hanya tersimpan dihati" batin Sarah berucap.
Keduanya menangis, dalam diam. Merasakan cinta keduanya begitu dalam dan besar. Hati Sarah maupun Nattan tersakiti. Tersakiti karna, keadaan. Keadaan yang tak mungkin bisa bersama.
Nattan melihat langit yang begitu cerah hari ini. Sarah pun sama melihat langit yang sama dengan Nattan.
"Andai tak ada perbedaan. Mungkin kita bisa bersama" ucap Nattan dan Sarah secara bersamaan di tempat yang berbeda.
Sarah melangkah ke tempat seharusnya. Nattan pun sama. Sarah ke mesjid. Dan Nattan ke Gereja. Namun keduanya meminta do'a yang sama.
Do'a untuk di berikan jalan yang terbaik untuk Sarah dan Nattan. Do'a yang terbaik untuk Sarah dan Nattan panjatkan.
🍀🍀🍀
Alea melihat jam Ding-ding di kamarnya. Alea memikirkan tentang Habibie. Alea bingung harus jawab apa?. Jawaban apa yang harus Alea beri?.
Tok Tok Tok
Suara pintu, di ketuk dari luar. Di rumah hanya ada Alea sendiri. Sarah, Aqila dan Renata belum pulang. Hanya Alea yang pulang sendiri. Alea segera turun menuruni anak tangga untuk segera membuka pintu. Alea ingin tau, siapa yang datang kali ini.
Clek
Suara pintu di buka Alea dari dalam. Begitu terkejutnya Alea saat di lihatnya laki-laki yang berdiri dihadapannya itu.
"Kamu?" tanya Alea terkejut.
Qian tersenyum melihat Alea yang membuka pintu rumah ini.
""Dari mana kamu tau, tempat tinggalku?" tanya Alea lagi.
"Boleh aku masuk dulu" pinta Qian lagi.
__ADS_1
"Kita bicara di teras saja!" seru Alea duduk di kursi di teras rumahnya.
Qian pun menganguk mengikuti Alea duduk di sampingnya.
"Ada apa kamu mencariku?" tanya Alea lagi. Sedari tadi belum ada pertanyaan Alea yang di jawab Qian.
Qian tersenyum lagi, Alea masih judes seperti dulu. Alea masih manyun melihat Qian tak suka dengan kehadiran Qian. Alea sedang memikirkan Habibie. Bingung dengan jawaban apa yang akan di berikan Alea besok.
"Alea, kamu masih tak mengenaliku?" tanya Qian serius.
"Memang kamu siapa?" balik tanya Alea. Beneran tak tau, siapa laki-laki yang duduk di sampingnya ini. Namun Alea berpikir tentang temanya dulu saat kelas satu SMA. Alea benar-benar lupa saat Renata memberitahu Qian beberapa hari yang lalu. Alea beneran lupa.
Qian terdiam, bingung harus mulai dari mana. Namun sudah beberapa hari ini. Qian melihat ada seorang laki-laki yang mendekati Alea. Qian takut kalau, Laki-laki itu, pacarnya Alea. Dari dulu Qian menyukai Alea. Qian datang kembali ke Indonesia untuk Alea. Dan untuk membalas dendam Mili dan Sisi. Namun semua sudah berubah seiring dengan berjalannya waktu.
Alea masih memperhatikan Qian. Alea masih memastikan tentang Qian. Apakah bener, Laki-laki di hadapan Alea itu temanya yang dulu.
"Aku sibuk! Kalau tak ada yang mau di bicarakan lagi, Aku pergi!" Alea beranjak dari tempat duduknya. Merasa bosan dengan sikap Qian yang hanya diam saja.
"Tunggu Lea" tahan Qian mulai beranjak dari tempat duduknya.
"Aku Qian, teman SMA kamu dulu" ucap Qian untuk menahan Alea tetap bersamanya.
"Qian"
"Qian yang dulu kan..." Alea tak melanjutkan ucapannya karna, Qian langsung memotongnya.
"Iya Qian yang dulu, Gemuk!" seru Qian tersenyum, memotong pembicaraan Alea.
"Kamu serius!"
"Kamu Qian?"
Ekpresi wajah Alea berubah seketika, yang tadinya, judes jadi sumeringah senang dan bahagia bisa bertemu kembali dengan Qian.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like dan ikutin Author yah, biar tak ketinggalan chapter selanjutnya. Dan mampir juga, novel Author yang lain, "Ketika Cinta Menemukan Jalanya" dan "Irani Gadis Indigo" Terima kasih.