
Wanita tua itu menghampiri Asty yang sedang mengepel. Tangan yang sudah mulai berkeriput itu meraih lengan Asty. Gadis itu terperanjat, ia takut seseorang berniat jahat padanya. Ditatapnya wanita tua yang selalu baik padanya. Kerutan di area matanya sudah sangat jelas terlihat.
"Ada apa, Bi?" tanya Asty lembut.
"Biar Bibi saja, Non. Kasihan, dari pagi Nona mengerjakan ini semua. Nona juga belum makan, sebaiknya makan dulu sekarang, sebelum Nyonya pulang." Jawabnya, tangannya mengambil alih alat pel yang sedang Asty pegang. Mata Asty berkaca-kaca.
Wanita tua itu selalu membuat Asty haru, setiap ia diperlakukan tak adil oleh mertuanya, wanita tua itu yang selalu membela dan melindunginya.
Rasanya seperti memiliki ibu, tak menyangka akan ada seseorang yang begitu peduli padanya. Ah ... Asty menjadi rindu pada orang tuanya.
"Terimakasih, Bi. Asty memang sangat lapar, sebentar lagi Mas Arya pulang, Bibi jangan cerita ya?"pinta Asty, ia tak mau suaminya bemasalah dengan ibunya sendiri.
"Baik Non, Bibi akan merahasiakan ini." Janjinya penuh keyakinan.
"Bibi sangat ingin memberitahukan ini pada Den Arya. Sampai kapan Nona akan menyembunyikan semua ini?" Batin Bibi nelangsa.
Asty segera menuju meja makan, memang sedari tadi perutnya terus berbunyi meminta diisi. Asty mengambil satu porsi makanan, ia makan dengan tergesa-gesa. Hatinya merasa cemas ibu mertua akan kembali dengan cepat.
Apa jadinya jika orang tuanya melihat putrinya tengah makan seperti orang yang kelaparan? Asty diam sejenak di kursinya, meregangkan otot-ototnya yang pegal. Ia pun memejamkan matanya dengan sesaat. Rasanya lebih dari lelah. Ingin sekalin ia pergi ke kamar, lalu merebahkan dirinya pada kasur empuk miliknya.
Ah ... nyamannya. Bayangan itu buyar seketika, kala bayangan ibu mertua tengah melotot tajam. Asty segera membuka matanya dengan sempurna.
Segera dihampirinya Bibi yang sedang mengepel di dekat pintu. Pekerjaannya sebentar lagi selesai. Asty merasa tak enak hati, begitu lamanya kah dia saat makan tadi?
"Bi, biar Asty saja yang teruskan. Bibi istirahat saja!" titah Asty, sungguh ia merasa tak enak hati.
"Gak apa-apa, Non. Seharusnya Non Asty yang istirahat, dari pagi Non sudah mebersihkan rumah sendirian," ucapnya lirih.
Asty kembali terharu mendengar jawaban wanita tua yang berada di hadapannya ini.
Asty memeluk Bibi erat, betapa rindunya ia diperhatikan seperti ini. Bukan! Bukan dia kekurangan perhatian dari suaminya, hanya saja Asty terus berharap mertuanya akan seperhatian itu.
"Asty, gak apa-apa kok. Bibi siapkan saja makanan untuk makan malam. Asty mau cepat-cepat selesaikan ini semua," jawabnya seraya tersenyum.
__ADS_1
Bibi hanya bisa menurut, wanita tua itu menuju dapur untuk mempersiapkan bahan yang akan dia masak. Asty melanjutkan lagi pekerjaannya. Kini, wilayah dapur yang menjadi tempat terakhir yang akan dibersihkan.
"Non, Bibi gak habis pikir sama Nyonya. Kenapa Nyonya tega memerintah Non Asty untuk membersihkan seluruh ruangan yang ada di rumah ini? Ini kan bisa dibilang seperti istana bukan rumah," ujar Bibi sembari memotong sayuran.
"Apa?" Teriaknya dengan langkah kaki semakin mendekat.
Belum sempat Asty menjawab, suara bariton dari arah belakang mengejutkan Asty dan Bibi. Kedua wanita itu menoleh ke arah belakang.
"Mas Arya?" ucap Asty pelan. Bibi menjadi gemetar melihat kilatan kemarahan dari sorot mata majikannya.
Sebab, ini semua gara-gara mulutnya yang tak bisa dijaga. Ia mengucapkan kata-kata itu dengan mulusnya. Tanpa takut didengar orang lain. Ia mengira Tuan mudanya takkan pulang secepat ini.
"Apa benar yang dikatakan Bibi? Kamu seharian ini menjadi pembantu di rumah ini?" Tanyanya sembari mengguncang kedua bahu Asty.
Asty hanya mengerjapkan matanya, lidahnya begitu kelu. Napas suaminya begitu memburu, dadanya naik turun dengan cepat.
"Mm ... aku--aku hanya ...," jawabnya gugup.
"Jawab aku? Apa benar semua itu? Kamu jangan takut, aku akan melindungi kamu," desaknya sembari menenangkan.
Arya melihat mata istrinya berkaca-kaca. Mungkin Asty ketakutan melihat dirinya marah-marah seperti itu. Arya memeluk istrinya, memberikan ketenangan.
Mengecup kepalanya, mengusap rambutnya. Bibi yang menyaksikan itu, perlahan mundur teratur. Ia tak ingin mengganggu kebersamaan majikannya.
"Kamu gak perlu jawab, aku sudah tahu sekarang. Kenapa kamu tak pernah bercerita padaku? Kamu istri aku-Nona muda di rumah ini, bukan pembantuku." Tegasnya seraya melerai pelukan mereka.
Arya menangkup pipi Asty, wanita itu menumpahkan embun yang sedari tadi memenuhi pelupuk matanya. Jemari Arya menghapusnya dengan lembut. Dikecupnya kening Asty, betapa sedihnya perasaannya saat ini. Melihat wanita yang dicintainya menangis seperti itu.
"Ayo kita ke kamar! Kamu harus istirahat," ajaknya seraya merangkul pinggang Asty.
Pasrah, hanya itu yang bisa Asty lakukan. Hatinya begitu gelisah tentang apa yang akan terjadi nanti dengan ibu mertuanya.
Arya terlihat sangat marah, wajahnya sudah memerah, sepanjang jalan dari dapir menuju kamar, lelaki itu hanya diam saja. Jantung Asty berpacu dengan cepat. Entah apa yang ada dalam pikian suaminya.
__ADS_1
"Kamu istirahat saja, aku akan mandi dulu." Ucapnya datar. Asty menganggukkan kepalanya.
Disaat Arya memasuki kamar mandi, Asty bisa bernapas lega. Selama berdekatan dengannya tadi, Asty merasa begitu takut. Aura dari lelaki itu begitu menakutkan. Asty hanya bisa berdoa semoga semuanya baik-baik saja.
******
Asty begitu terkejut saat pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan kencang. Ia membuka matanya yang baru akan terpejam. Dilihatnya Vindi dan Mama Ranti tengah berkacak pinggang, matanga melotot tajam. Asty segera bangun dari ranjangnya.
"Heh! Dasar ya, cewek gak tahu diri! Kau malah enak-enakkan tidur? Sementara di dapur para pembantu lagi sibuk masak. Tante lihatlah dia, menyenangkan sekali hidupnya. Hanya tidur dan makan!" Suara Vindi yang sudah naik satu oktaf itu, memprovokasi Mama Ranti.
"Kamu benar, Sayang. Dia memang sangat pemalas! Hei gadis miskin, cepat pergi ke dapur sana! Bantu mereka menyiapkan makanan," titahnya. Tak lupa jeri lentiknya menunjuk wajah Asty.
Asty hanya diam saja. Sungguh, dia sangat lelah sekali. Tak bisakah mereka membiarkan Asty istirahat sekejap saja? Belum sempat menjawab mereka, tangan Vindi sudah lebih dulu menyeret lengan Asty dengan kasar.
"Ayo cepat sana! Kenapa hanya diam saja?" Sentaknya seraya menyeret lengan Asty.
"Sakit, Vindi! Lepaskan tanganku!" Asty meronta. Namun, gadis itu tak menghiraukan jeritan Asty.
"Hei, kau! Lepaskan tangan istriku! Berani sekali kau lakukan itu?" Teriak Arya seraya berjalan menghampiri keduanya.
Vindi dan Mama Ranti begitu terkejut. Secara perlahan Vindi melepaskan cengkeramannya. Arya menarik Asty ke sampingnya. Lelaki itu begitu marah. Vindi dan Mama Ranti saling pandang dan menelan seliva dengan susah payah.
"Sini kau!" Bentak Arya seraya menyeret Vindi lalu disudutkannya ke tembok kamar.
"Berani sekali kau menyakiti wanitaku? Apa kau bosan hidup? Jangan kau pikir, karena ibuku mendukungmu, kau bisa berbuat seenaknya," peringatan pertama.
Tangan Arya mencengkeram rahang Vindi. Gadis itu menangis ketakutan dan merasakan perih dibagian kulit pipinya.
"Hukuman apa yang pantas aku berikan untukmu hah? Jawab aku?" Peringatan kedua seraya matanya melotot tajam, seakan-akan mampu membunuh lawannya melalui tatapannya itu.
"Oh aku tahu, apa aku harus memberimu obat itu? Obat yang sama dengan yang kau masukkan ke dalam makananku waktu itu. Lalu aku akan membawamu kepada teman-temanku. Sepertinya itu akan menyenangkan," ancamnya berbisik.
Senyuman menyeringai terlihat di wajah tampannya. Vindi bergidik ngeri, membayangkan tubuhnya akan digilir oleh banyak lelaki. Meskipun ia biasa melakukan hal itu, tetapi ia tetap merasa takut.
__ADS_1
"Jangan! Kumohon jangan lakukan itu," bisiknya lirih.
Air matanya sudah membanjiri wajahnya. Asty menghampiri Arya, dia tak tega melihat Vindi kesakitan seperti itu. Bagaimanapun dia seorang wanita, tahu apa yang dirasakan Vindi saat ini.