
Sementara itu, di kamar lain pun terjadi hal yang sama. Zayna dan Zain tengah menikmati aktifitas malamnya.
Napas yang memburu, menyebut nama istrinya dengan parau. Membuat darah Zayna berdesir hebat. Zayna menggigit bibir bawahnya, kala Zain menaik-turunkan ritmenya. Sungguh ini menyebalkan!
Sama-sama terbakar gairah, membuat keduanya tak bisa menikmati permainan dengan santai. Meski terkadang sedikit kasar, tetapi Zayna sangat menikmatinya.
Nadya dan Jojo pun tak mau ketinggalan. Mereka menikmati masa-masa berdua, sampai nanti waktunya mereka memiliki kbuah hati masing-masing.
*****
Hanya di tempat lain yang aktifitas malamnya berbeda.
Risa tersenyum sembari berguling ke sana ke mari. Hatinya seperti ditimbuhi ribuan bunga. Dari selepas shalat isya, dia bertukar pesan dengan Ryan.
Meskipun hubungannya mengambang, namun Risa tak mempersalahkan hal itu. Yang terpenting adalah, fakta bahwa pria itu begitu mencintainya.
"Aku akan bicara sama Mama dan Papa untuk melamarmu. Do'akan agar semuanya berjalan dengan lancar," pesan dari Ryan.
Setelah mereka saling menunjukkan kebucinan masing-masing, kini pesan serius baru diterima Risa.
"Iya, aku pasti berdo'a yang terbaik untuk hubungan kita. Aku mencintaimu," balasnya.
Risa menutup wajahnya dengan telapak tangan, merasa malu dengan pesan balasannya.
******
Ryan menuruni anak tangga, waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Orangtuanya masih di ruang keluarga menonton tv. Ryan menghampiri mereka, lalu duduk di samping Papanya.
"Mah, Pah... Ryan mau bicara," ucapnya gugup.
Digerak-gerakkan kakinya untuk menutupi kakinya yang bergetar.
"Bicara apa? Kebetulan sekali, Papa juga ingin bicara hal yang serius dengan kamu..." Papa menjeda ucapannya.
Membuat Ryan semakin gugup untuk mengutarakan niatnya.
"Papa saja dulu, Papa mau bicara apa?"
"Kamu saja dulu Nak, nanti Papa belakangan."
Karena tak ada yang mau mengalah, karena rasa penasaran yang menyelimuti mereka berdua.
"Yasudah Papa saja dulu. Mungkin ini sedikit mengejutkan karena keputusan yang mendadak ... Papa ingin kamu menikah dengan anak dari kolega Papa." Ucap Papa, bagaikan sambaran petir ditelinga Ryan.
Baru saja ia ingin mengutarakan maksudnya yang ingin melamar Risa. Gadis periang yang dia sukai dari dulu.
Entah berapa lama Ryan memungkiri kalau rasa dalam hatinya adalah perasaan cinta.
Dengan susah payah ia meyakinkan sendiri hatinya. Kini, setelah ia benar-benar yakin, takdir seakan-akan mempermainkannya.
"Maksud Papa apa? Kok gak bicara dulu sama Mama? Gak bisa kaya gini dong Pah! Mama gak mau, anak kita harus menikah karena dijodohkan!" protes Mama yang terkejut dengan ucapan suaminya.
Sementara Ryan masih terdiam. Belum bisa mencerna apa maksud ucapan Papanya.
__ADS_1
"Gak bisa Mah! Pokoknya Ryan harus menikah dengan anak kolega Papa. Tak ada penolakan! Besok malam acara makan malam dengan keluarga mereka. Sekaligus acara pertunangan." Tegas Papa, Mama semakin kesal.
"Pah! Apa Papa gak mikirin perasaan Ryan, bagaimana pun dia telah mencintai gadis lain. Biarkan Ryan menikah dengan gadis pilihannya," Mama tak mau kalah.
"Ini jalan satu-satunya untuk membantu perusahaan, Mah! Ada masalah di perusahaan, dan hanya dia yang bisa membantu Papa. Dengan syarat, Ryan harus mau menikahi anaknya." Jelas Papa jujur, setelah sekian lama memikirkannya, kini keputusan Papa telah bulat. Tak ada jalan lain.
Papa meninggalkan Mama dan juga Ryan. Mama terus memanggil suaminya, namun Papa terus saja melangkah.
"Papa apa-apaan sih! Kok main jodoh-jodohan segala." Gerutu Mama, lalu Mama menoleh ke arah Ryan.
Anak sulungnya itu masih terdiam. Ryan menyandarkan tubuhnya ke sofa. Memejamkan matanya, memijat keningnya perlahan.
"Kamu tenang aja Nak, Mama akan bicara sama Papa."
"O iya, tadi kamu mau bicara apa?"
"Mm aku ... tadinya aku mau bilang, kalau aku ingin melamar Risa. Aku cinta Mah sama dia. Tapi, bagaimana dengan keputusan Papa?" lirihnya frustasi, Ryan mengacak rambutnya putus asa.
"Kamu tenang aja Sayang, Mama setuju sekali kalau kamu sama Risa. Nanti Mama bakalan pikirin caranya biar Papa batalin perjodohan kamu." Hiburnya, Ryan sedikit lega mendengar dukungan dari Mamanya.
"Sekarang kamu istirahat saja, jangan terlalu banyak pikiran." Mama sudah khawatir melihat gurat kesedihan di wajah Ryan.
"Iya Mah, Mama juga istirahat. Jangan berantem sama Papa hanya karena aku. Aku serahkan semuanya pada Allah," lirihnya begitu sedih.
*****
ini Asty dan Arya telah berada di depan rumah Arya. Dengan ragu-ragu, Arya mengetuk pintu. Lama mereka menunggu, sampai akhirnya terdengar langkah kaki seseorang.
"Wa'alaikumsalam," jawabnya seraya membuka pintu.
Jantung Arya dan Asty berdetak cepat, suara dari dalam sangat mereka hafal. Saat pintu terbuka, ketiga orang tersebut saling diam, terkejut dalam waktu bersamaan.
"Apa kabar Ma?" Sapa Asty ragu, lalu mengulurkan tangannya.
Mama Ranti hanya diam, sorot matanya begitu sendu. Tak ada kilatan kemarahan dalam tatapannya.
"Alhamdulillah, saya baik," jawabnya datar.
"Mah..." panggil Arya lirih.
Lelaki itu begitu merindukan Mamanya. Ia buang segala egonya, lalu memeluk Mama dengan erat.
"Arya rindu sama Mama," lirihnya lagi.
Perlahan tangan Mama menepuk punggung Arya.
"Mama juga rindu," hanya itu jawabnya.
Asty menitikkan air mata haru, bahagia sekali melihat Arya dan Mama seperti ini.
"Ayo masuk," ajak Mama seraya merangkul Arya.
Tak memperdulikan Asty yang masih mematung di luar.
__ADS_1
Dengan perlahan Asty memasuki rumah mertuanya. Mereka duduk di ruang keluarga, Asty masih menunduk. Tak berani bertatapan langsung dengan mertuanya.
"Mah, kami telah menikah." Ucap Arya memecah keheningan.
"Mama tahu," jawabnya datar.
"Boleh kami tinggal di sini? Asty ingin menemani Mama, menjaga Mama, dan Asty sangat menyayangi Mama," paparnya.
Semoga dengan alasan ini Mama bisa menerima Asty, begitu pikirnya. Mama diam seribu bahasa. Masih menimbang akan keputusannya.
Terlintas ide jahat di benaknya. Mama tersenyum kecil, Asty melihat itu. Tapi senyuman yang menakutkan.
"Tentu saja boleh, memang Mama bisa berbuat apa sekarang? Toh kalian udah nikah," meski nadanya lembut namun begitu menusuk ke dalam hati.
Arya terlihat senang, namun tidak dengan Asty. Ia tahu bahwa Mama mertuanya belum bisa menerima dirinya.
"Yasudah kalian istirahat saja, Mama mau memasak makanan kesukaan kamu," katanya dengan riang.
"Iya Ma, ayo Sayang," ajaknya seraya berdiri.
"Mm ... aku mau bantuin Mama aja Mas, biarĀ aku bisa masak juga."
"Mm ... yasudah kalau begitu, aku ke kamar dulu beresin barang-barang kita."
Setelah Arya tak terlihat di tangga terakhir, sikap Mama berubah. Wanita paruh baya itu melayangkan tatapan tajam kepada menantunya.
"Baguslah kalau kamu sadar diri. Memang seharusnya 'kan, kamu berada di dapur. Jangan lupa, mulai besok kamu harus bantuin para pelayan mengurus rumah ini! Jangan harap kamu bisa bersantai-santai saja!" tegasnya berlalu pergi.
Asty mengekor di belakang, matanya sudah panas menahan tangis.
"Gak boleh nangis Asty ... kamu kuat, yakinlah bahwa suatu hari nanti Mama Ranti bisa nerima kamu." Katanya meyakinkan diri sendiri.
Lalu dengan gayanya yang angkuh, Mama menyuruh Asty untuk memasak semua hidangan.
Mama sangat sukses menjadi mertua jahat versi sinetron-sinetron yang sering Asty lihat.
Jangan lupakan kata-katanya yang pedas, apa yang dimasak Asty selalu saja ada yang kurang. Padahal menurut Asty sendiri, masakannya sudah cukup enak.
"Kamu gimana sih! Masak begini aja gak becus! Sana minggir, biar saya yang menyiapkannya." Bentaknya seraya menuangkan opor ayam dan juga makanan lainnya ke dalam wadah.
"Ya ampun Mama mertua, katanya gak enak, tapi itu dia taruh di wadah juga. Syukurlah, biar aku gak perlu masak lagi," katanya dalam hati.
Adzan maghrib berkumandang, dengan perasaan takut, Asty meminta izin untuk mandi dan juga shalat.
"Mah ... Asty mau ke kamar dulu, udah adzan maghrib mau siap-siap untuk shalat."
Mama mendelik sebal, untung saja semua makanan telah dituangkan semua. Kalau tidak, bisa-bisa kuah sayur itu berpindah ke wajah Asty.
"Sana pergi! Ngapain kamu masih di situ? Baru juga sehari udah bikin emosi, dasar mantu gak guna!" hinanya lagi seraya meninggalkan Asty di dapur.
Asty menghela nafas berat, dia memang benar-benar harus extra sabar menghadapi mertuanya itu. Di rumahnya, dia dialayani layaknya putri raja.
Mana pernah dia pergi ke dapur untuk memasak? Bahkan untuk menggoreng telur saja pelayan yang buat. Namun, kini keadaannya berbeda. Asty harus terbiasa berjibaku dengan alat-alat dapur.
__ADS_1