KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 91 | Bertemu Alka


__ADS_3

Update dong!


...Happy reading:)...


.......


.......


.......


“NATASHYA!!” teriak Laily heboh.


Wanita yang dipanggil hanya bisa tersenyum canggung. Pasalnya, beberapa mahasiswa dan mahasiswi kini menatapnya dan Laily aneh. Sedangkan Laily, dia tidak merasa bersalah sama sekali, malah berlari dan memeluk Natashya kelewat erat.


“Aaa... demi apa lo udah masuk kuliah lagi? Lo udah nggak pa pa, kan? Lo udah sembuh, kan?” tanya Laily menggebu-gebu. Melihat Natashya di kampus membuat semangatnya berkobar. Ia memeluk sahabatnya erat seraya menggoyangkan badan ke kanan dan ke kiri.


Natashya tersenyum kecil, ia merenggangkan pelukan dan mengangguk pelan pada sahabat baiknya itu. “Alhamdulillah, udah sembuh,” jawabnya lembut.


“Heh?”


Laily cengo, mulutnya terbuka lebar, matanya membulat lucu. A–apaan tadi? Keajaiban dunia nomor sembilan, kah? Kok—!


“He! Sejak kapan lo ngomong alus gini, woi?!” pekik Laily kaget.


Alunan suara Natashya yang lembut SANGAT TIDAK FAMILIAR di telinga Laily. Ia kaget bin takjub, oyy! Apa manusia kutub ini sudah terlahir kembali menjadi cewek lemah lembut begitu yang terlahir di belahan bumi padang pasir?!


Ha! Nggak yakin gue! Nggak percaya! Natashya, sang manusia es, bisa berubah?


Berarti kabar buruk untuk Kutub Antartika! Pasti es di sana sudah mulai mengalami pemanasan global! Iya, pasti begitu, kan?!


Natashya tersenyum. “Nggak tau,” jawabnya lugu.


Brukk!


Mahasiswa yang lewat dan melihat senyuman Natashya seketika menabrak tiang karena tersepona. Beberapa yang lain terperangah. Para mahasiswi yang melihat juga dibuat takjub.


“YA ALLAH! NIKMAT MANA YANG KAU DUSTAKAN, ASTAGA!”


“MELELEH ATUH, NENG, DISENYUMIN BEGITU!”


“MANISNYA... ADUHH..”


“Parah! Gue harus ke dokter, nih. Pasti kena diabetes, kan.”


“Aaa.. apa yang bisa hambamu ini lakukan, Ya Allah? Ingin menyentuh, tapi dia sudah ada yang punya. Bagaimana ini?” Ciri-ciri sadboy ini mah.


Laily yang berada di depan Natashya masih terlihat linglung. Sikap dan sifat baru Natashya terlalu mengejutkan jiwa dan raganya.


“Laily,” panggil Natashya menyadarkan.

__ADS_1


Laily terjingkat singkat. Ia menatap Natashya kikuk. “Hehe..” Ia nyengir.


Natashya menggeleng pelan. “Udah, ayo ke kelas. Udah mau mulai, kan?”


...❄️❄️❄️...


“Jadi, selama ini Kak Tian yang ngebantu penyembuhan lo?” tanya Laily setelah mendengar keseluruhan cerita Natashya. Setelah kelas pertama usai, Laily mengajak Natashya ke kantin dan memintanya untuk bercerita semua pengalamannya selama satu bulan.


Ini bisa dijadikan pembelajaran untuk mahasiswi jurusan psikologi seperti mereka!


Wanita itu mengangguk. “Ya, karna gue nggak terlalu nyaman dengan orang asing, jadi Kak Tian yang ngebantu gue.”


Laily mengangguk paham. Bagi penderita mental illness seperti Natashya memang membuat pribadi orang itu jadi sulit beradaptasi. Bahkan, ada beberapa orang yang malah takut jika berada di lingkungan ramai.


Untungnya, sih, Natashya nggak kayak gitu.


Diam-diam, Laily mengucap syukur berulang kali di dalam hati. Natashya sembuh adalah kabar yang ingin ia dengar selama satu bulan terakhir. Dia tahu, pasti rasa kehilangan Natashya sangatlah besar sampai-sampai membuat sahabatnya itu depresi.


Memangnya ibu mana yang tidak sedih ketika kehilangan anaknya?


Sedingin apa pun Natashya, ia tetap perempuan yang memiliki perasaan walaupun Natashya cenderung selalu menyembunyikan apa yang ia rasa lewat ekspresi datarnya.


Tapi, itu tidak akan mengubah fakta bahwa Natashya tetap manusia yang lebih mengedepankan perasaan, kan?


Dia itu perempuan, cuy! Dan, perempuan itu sangatlah perasa!


“Jadi, rencana lo apa setelah ini?” tanya Laily.


“Nggak, lah, Shya. Itu udah jaman kapan? HP gue aja udah ganti.”


Natashya mengangguk kecil, masuk akal juga. Ia sendiri juga sudah tidak menyimpan nomor Aisha. Sekalipun masih disimpan, tidak menutup kemungkinan kalau gadis itu sudah berganti nomor, kan?


“Satu-satunya jalan adalah lewat Alka,” cetus Natashya yakin. “Lo ingat cowok di Rumah Sakit Jiwa Harapan? Waktu kita kunjungan ke sana sama rombongan dan Kak Tian.”


Laily mengingat-ingat. Ia mengangguk mantap ketika memori hari itu bisa ia tangkap. “Lo mau ke sana?”


“Iya.”


“Gue ikut!”


“Gue emang mau ngajak lo.”


“Oke. Habis kelas terakhir nanti, kita ke sana.”


Natashya tersenyum tipis yang membuat napas Laily tercekat. Ingatkan dia untuk mulai membiasakan diri dengan perubahan Natashya yang satu ini. Huh.. jantungnya berdebar-debar, ey.


Semoga Laily tetap normal setiap melihat senyum Natashya, ya.


“Makasih, ya,” balas Natashya tulus.

__ADS_1


“Sans aja. Kayak sama siapa aja lo.” Laily ikut tersenyum. “Btw, lo tau, bulan depan gue sama Kak Hafi nikah?”


Natashya mengangguk. “Nio udah cerita, kok. Selamat, ya. Semoga lancar sampai hari H.”


“AMIN, YA ALLAH!”


Natashya terkekeh melihat binar kebahagiaan Laily. Heboh banget, sih, Ly. Kayak nggak pernah nikah aja...


Eh?


...❄️❄️❄️...


Sesuai rencana, selepas kelas terakhir mereka, Natashya dan Laily bergerak menuju Rumah Sakit Jiwa Harapan. Atas bantuan Tian, mereka lebih mudah masuk ke dalam karena sudah mendapat izin dari Faisal, sahabat Tian. Natashya juga sudah mengantongi izin dari Anton untuk pergi ke sana.


Saat ini, keduanya sudah berdiri di depan ruangan nomor 11. Sosok lelaki yang menjadi penghuni ruangan itu tengah duduk di sudut ruangan. Tatapannya terlihat kosong—jauh lebih memprihatinkan dibandingkan dengan kasus Natashya dulu.


“Jadi masuk?” tanya Faisal yang masih berada di samping Natashya dan Laily.


Laily mengangguk. “Iya, Kak.” Ia beralih menatap Natashya. “Ayo, Shya.”


Natashya tidak menjawab, ia langsung maju dan mengetuk pintu dua kali. “Assalamualaikum,” ucapnya seraya mendorong pintu agar terbuka lebar.


Tidak ada respon. Lelaki itu hanya diam.


Natashya menyentuh lengan Laily, menghentikan gadis itu yang ingin bergerak mendekati lelaki yang mereka anggap sebagai Alka. “Biar gue aja.”


“Tapi, Shya—” Laily ingin protes.


“Nggak pa pa, Ly. Biar gue aja.”


“Hufftt.. oke. Gue akan langsung maju kalo dia mulai histeris.”


Natashya mengangguk setuju. Kakinya mulai maju perlahan. Faisal yang tadi mengawasi telah pergi karena ia harus mengecek pasien lain. Natashya berjongkok di depan Alka. “Hai,” sapanya.


Tidak ada sahutan.


“Alka Jiano, ini gue, Kariva Diana Natashya.. sahabat lo.”


Mata Alka mengerjap sekali, kepalanya bergerak pelan menoleh ke arah Natashya. Sedikit demi sedikit, binar kosong tadi terisi. Ada kemerlip cahaya di sana. “Na..tashya?” lirihnya.


Natashya tersenyum dan mengangguk. Ia meraih tangan Alka, menggenggamnya erat. “Iya, ini gue. Gimana kabar lo, Al?”


Alka tidak menjawab. Lelaki itu malah menangis sesenggukan. “Dia jahat, Shya, hiks.. dia jahat. Lo, hiks.. jangan deket-deket sama dia, ya.”


Dahi Natashya mengerut. “Dia? Dia siapa, Al?”


Alka menggeleng, air mata berderai di pipinya. “Lo nggak boleh kenapa-napa, hiks.. dia jahat..”


Dia? Dia siapa yang Alka maksud?

__ADS_1


^^^To be continue...^^^


__ADS_2