
Setelah melepas rindu, Risa menjauhkan tubuhnya. Dia terkejut, kenapa dia bisa seceroboh itu? Ryan adalah tunangan sepupunya, tak sepantasnya dia bebas memeluk lelaki di depannya ini.
Ryan menatap Risa lamat-lamat, ada rasa kecewa dalam hatinya, ketika melihat Risa melepaskan pelukannya.
"Sebaiknya kau pulang saja!" ucapnya ketus.
"Aku akan menemanimu di sini," jawabnya santai.
"Aku lebih suka sendiri!"
"Aku lebih suka menemanimu."
Risa mendelik sebal, memang berdebat dengan Ryan takkan pernah ada ujungnya.
Risa hanya bisa pasrah, apalagi yang bisa dia lakukan? Biarkan saja lelaki ini berbuat sesuka hatinya, asal jangan mengganggunya.
Gadis itu kembali duduk di sofa, membaca novel yang sedari tadi terabaikan. Lelaki itupun ikut mendaratkan bokongnya ke sofa.
Tersenyum melihat gadisnya tengah serius membaca. Gemas sekali rasanya, ingin sekali mencium pipi mulusnya. Ah ... hanya memikirkannya membuat wajah Ryan memanas, malu sendiri.
"Apaan sih lihat-lihat?" tanyanya kesal. Matanya melotot tajam.
"Tak ada larangan untuk memandang," jawabnya acuh.
"Ish Nyebelin!"
"Menyebalkan, tetapi kamu tetap suka sama aku," ujarnya seraya tersenyum kecil.
Risa hanya mendengus, walau bagaimanapun ucapan Ryan adalah kebenaran.
Gadis itu sangat menyukai Ryan, padahal lelaki itu begitu menyebalkan. Tak berapa lama, pintu terbuka. Diana melangkah masuk, ditangannya membawa banyak sekali makanan dan minuman.
"Kamu ke mana aja sih, Di? Lama banget," gerutu Risa.
"Maaf, tadi aku ketemu temen dulu," jawabnya seraya 'cengengesan'.
"Nih makanan untuk malam ini, biar Kak Risa sama Kak Ryan gak kelaparan," ujarnya seraya menyodorkan satu kantong kresek besar.
Risa mencerna ucapan Diana. Dalam benaknya, ucapan Diana terasa janggal.
Apa maksudnya agar dia dan Ryan tidak kelaparan? Jangan-jangan .... Oh tidak! Terkejut dengan pikirannya sendiri. Risa membulatkan matanya, lalu menoleh ke arah Ryan. Lelaki itu dengan santainya membuka satu bungkus ciki dan memakannya dengan santai.
"Maksud kamu, Di? Kamu juga akan tidur di sini kan?" tanya Risa penasaran.
"Ngga, Kak. Cuman Kak Ryan doang yang tidur di sini," jawabnya santai. Matanya masih fokus pada gawainya.
"Diana! Kakak gak mau ah, kalau dia yang nemenin di sini!" Nadanya sudah naik satu oktaf.
__ADS_1
"Kenapa Kak? Kak Ryan gak bakalan gigit kok, udah ya, jangan marah. Diana pulang dulu, udah malam. Bye Kakakku yang cantik," pamitnya seraya melangkah pergi.
Sungguh kakak beradik itu sangat menyebalkan. Risa yakin, bahwa Ryan sudah merencanakan ini semua. Napas Risa sudah memburu, tatapan membunuh dia layangkan pada Ryan. Lelaki itu acuh. Masih sibuk dengan makanannya.
Ingin sekali Risa berteriak memarahi si Tuan tampan yang menyebalkan itu. Namun, dia ingat berada di mana sekarang. Seandainya ini bukan Rumah sakit, mungkin Ryan sudah 'dihabisi' oleh Risa.
"Ini pasti rencana kamu 'kan? Ngaku aja deh," desaknya.
"Rencana apa?" jawabnya masih tetap fokus dengan cikinya.
"Udah deh gak usah pura-pura!" Matanya melotot tajam.
"Sebaiknya kamu tidur, ini sudah malam. Biar aku yang jaga Alinka," pungkasnya.
Risa menghentak-hentakkan kakinya menuju kamar mandi. Berbicara pada RyanΒ sama saja dengan mencari penyakit, bikin emosi dan darah tinggi saja!
Setelah selesai menggosok gigi dan membersihkan wajahnya, Risa meraih selimut yang tersampir di sofa, merebahkan tubuhnya di atas sofa besar itu. Ryan duduk di sofa yang lain. Lelaki itu tengah fokus dengan ponselnya.
Entah apa yang dia baca, sesekali alisnya bertaut dan keningnya mengernyit. Risa menggelengkan kepalanya, apa yang sudah dia lakukan? Kenapa dia memperhatikan si Tuan tanpan itu.
"Cepat tidur! Jangan memandangiku terus, aku memang sudah tampan sedari dulu," ujarnya percaya diri.
Risa membalikkam tubuhnya membelakangi Ryan. Lelaki itu tergelak melihat tingkah gadis yang berada di hadapannya. Lalu ia melanjutkan lagi pekerjaannya yang sempat tertunda. Melihat laporan demi laporan yang masuk ke e-mailnya.
Perusahaan Papanya perlahan mulai membaik, dia berhasil memulihkan perusahaan dengan jerih payahnya sendiri. Ya, meskipun ada campur tangan dari Papa Alinka sedikit.
******
Melihat Risa tak bisa tidur, ide jahil muncul di kepala Ryan. Lelaki itu mulai beranjak dari sofa, duduknya beralih ke sofa yang sedang dipakai Risa.
Lelaki itu duduk di tepi sofa, tangannya mulai mengguncang pelan lengan Risa. Gadis itu membuka matanya, mendelik kesal. Ryan mengulum senyum.
"Risa," panggilnya lirih.
"Ada apa?" jawabnya ketus.
"Kamu gak bisa tidur ya? Mungkin kamu lapar, makan saja dulu," titahnya.
"Aku gak lapar!"
Dia segera memejamkan matanya lagi.
Sepuluh menit kemudian, Ryan mengganggu Risa kembali. Wajah kesalnya sangat menggemaskan.
"Risa, bangun dulu sebentar," panggilnya.
"Ada apa lagi sih? Gangguin terus," marah level tiga.
__ADS_1
"Aku takut sendirian, kamu jangan tidur dulu." Ujarnya, wajahnya dibuat-buat seakan ia memang takut.
"Bodo amat!" Kesalnya, Risa pun memejamkan matanya lagi.
Tak berapa lama, Ryan membangunkan Risa lagi. Dia menahan senyumnya, agar terlihat meyakinkan.
Namun, gadis itu tak kunjung bangun. Ryan tak menyerah, dia terus saja merengek memanggil Risa. Dia akan terus menganggu, sejauh mana gadis itu akan bertahan.
Risa bangun dari tidurnya, dia duduk behadapan dengan Ryan. Gadis itu menyibak selimutnya, melotot tajam. Ryan mengulum senyum, inilah yang dia nantikan dari tadi. Kemarahan gadisnya.
"Apa sih ganggu terus? Kamu gak bisa apa membuat aku tenang sekejap saja? Kalau kamu takut, tinggal nyalakan saja tv-nya atau play musik dari ponsel, atau apalah gitu. Asal jangan menggangguku, Ryan!" Marahnya sudah level lima.
Ryan mengecup bibir Risa. Gadis itu membulatkan matanya, merasa terkejut dengan serangan mendadak dari Ryan.
Lelaki itu melepaskan kecupannya, tatapan mereka saling beradu. Jantung mereka berpacu dengan cepat. Ryan tak bisa menahan dirinya untuk tidak mengulangi kecupan barusan. Ryan kembali mencium bibir Risa, kali ini lebih lama.
Risa belum bisa berpikir waras, gadis itu masih diam. Namun, perlahan dia terbawa suasana. Gadis itu memejamkan matanya, mencoba menyambut ciuman dari Ryan.
Pun dengan lelaki itu, dia memejamkan matanya, meraih tengkuk Risa agar bisa memperdalam ciuman mereka. Suasana semakin panas, sebab ciuman mereka semakin menggelora.
Tangan Risa sudsh bergelayut manja di leher Ryan. Rasa rindu yang selama ini terpendam, membuncah ke permukaan. Risa tak bisa menyangkal lagi, dia masih sangat mencintai lelaki yang ada di hadapannya.
Mencintai tunangan sepupunya. Risa tak peduli apa yang akan terjadi nanti, bila Alinka membencinnya sekali pun. Faktanya, merelakan bukan hal yang mudah.
Seberapa keras pun dia berjuang untuk melupakan, nyantanya bayangan Ryan semakin melekat di hati dan benaknya. Perlahan Ryan merebahkan tubuh Risa di sofa, tanpa melepaskan ciuman panasnya. Tangan Ryan mulai tak terkondisikan.
Jemarinya dengan leluasa membuka satu kancing pada piyama Risa. Gadis itu hanya diam saja, dua sampai tiga kancing sudah terbuka. Mereka benar-benar sudah terbakar gairah. Tak lagi mempedulikan situasi ataupun dosa.
Tangan Ryan menyentuh bagian sensitif di tubuh Risa, meremasnya pelan. Membuat desahan lolos dengan sempurna dari bibir Risa. Gadis itu menggelinjang hebat, ini kali pertama dia diperlakukan seintim itu. Sentuhan Ryan begitu memabukkan.
Ryan sudah tak dapat mengendalikan dirinya. Lelaki itu dengan berani mulai menelusuri leher mulus gadisnya. Mengecupnya pelan, sampai dia berhenti dia kedua **** gadis itu. Ukuran yang sangat pas. Tak terlalu besar ataupun kecil.
Ryan mengecupnya, tak puas hanya mengecup, lelaki itu mulai menciumnya, menggigit dan mengisap. Sehingga meninggalkan jejak kemerahan. Risa semakin mendesah, darahnya seakan mengalir dengan cepat.
Napasnya sudah terengah, jemarinya meremas rambut tebal milik Ryan. Membuat Ryan semakin menggila. Setelah puas bermain dengan buah ****, Ryan menatap Risa lamat-lamat. Lelaki itu terpaksa menyudahi permainan mereka.
Dia tak ingin berbuat lebih, meski di bawah sana sudah sangat menuntut. Risa mengernyitkan dahinya, sepertinya, gadis itu pun menginginkan hal yang sama.
"Maafkan aku, sungguh ini diluar pemikiranku," ucapnya lirih.
Ryan beranjak dari tubuh Risa. Lelaki itu menunduk tak berani menatap Risa.
Gadis itu mebenarkan posisinya, segera duduk dan mengaitkan lagi kancingnya.
"Kau tak perlu minta maaf, kita berdua salah. Aku tak bisa lagi berpura-pura tidak menginginkanmu, aku sangat mencintaimu, Ryan." Jawabnya lirih.
Ryan menatap Risa. Manik hitam milik gadis itu begitu menenangkan. Pandangannya begitu teduh. Ryan mengecup dahi Risa. Malam ini, mereka melebur menjadi satu.
__ADS_1
******
Tasik hujan, cuaca jadi dingin pastinya. Makanya Author kasih part yang bikin hareudang π Semangat menjalani aktivitas Guys ππ