
Berkumpulnya seluruh anggota keluarga di satu hunian itu seharusnya menggembirakan. Mereka bisa berbincang hangat, saling melempar gurauan, dan mempererat tali persaudaraan.
Tapi, ya, yang namanya perkumpulan keluarga Anton-Natashya, pasti ada saja yang berdebat. Minimal, sih, Randy dan Natashya yang suka cekcok nggak jelas. Padahal, udah punya pasangan masing-masing.
Ngomong-ngomong soal pasangan, ayo ucapkan selamat untuk Randy. Dia sudah lepas masa lajangnya, lho, dua tahun lalu.
Istri Randy, Hasna, saat ini sedang mengandung anak pertama mereka. Katanya, sih, baru berumur tiga minggu.
“Tatak...!” seru Aruna berlari dengan kaki kecilnya menghampiri Natashya yang sudah berjongkok menyambutnya. Bayi kecil itu sekarang sudah berumur 4 tahun, lho. Cepat sekali, ya?
Natashya memeluk Aruna gemas. Ia mencium sekali pipi gembil adiknya yang dibalas gelak tawa dari Aruna. Iya, cuma satu kali. Soalnya, Aruna sama seperti dirinya.
Tidak suka dicium banyak-banyak.
Fafa yang melihat mamanya begitu dekat dengan aunty termudanya merasa cemburu. Bahkan, dengan dirinya pun Natashya tidak pernah menciumnya seperti itu. Eh, bukan tidak pernah, hanya jarang saja.
Anton yang mengerti perasaan Fafa meraih tubuh anaknya dan mencium pipinya sekali. “Maklumi saja, Girl,” bisik Anton.
“Fafa ndak enah iituin, Apa,” ucap Fafa kesal.
Anton terkekeh. Anaknya bisa cemburu ternyata.
Heru, Riana, Randy, dan Hasna menyusul. Mereka saling salam-salaman sebelum masuk ke dalam rumah. Di dalam sudah ada Tio dan Nia yang tengah duduk santai sambil menonton televisi.
Tidak butuh waktu lama, seluruh keluarga sudah berbincang-bincang. Sementara Aruna dan Fafa saling duduk berhadap-hadapan di karpet lembut. Jika kalian berpikir kalau keduanya tengah bermain bersama, maka kalian salah total!
Aruna dan Fafa sedang saling lempar tatapan tajam. Hebat sekali, kan, kedua anak ini?
Yang lainnya cuma bisa menghembuskan napas pasrah, tidak tahu harus berbuat apa dengan bayi menggemaskan itu. Keduanya seperti sedang perang dingin di sini!
Namun, ketika Natashya datang dengan dua gelas susu vanilla, Aruna maupun Fafa sama-sama memasang senyum terbaik, menyambut kedatangan kakak sekaligus mama mereka dengan bahagia.
“Fafa au!” seru Fafa menyodorkan tangannya, ingin menerima gelas.
“Tatak, Luna mau tuga!” seru Aruna tak mau kalah.
Natashya duduk di dekat mereka dan menyerahkan segelas susu masing-masing. Fafa langsung meminumnya perlahan, begitupun Aruna. Keduanya berusaha menikmati enaknya minuman buatan Natashya yang entah kenapa rasanya jauh lebih sedap dibandingkan buatan orang lain.
Ini mereka manja atau gimana, sih?
“Tatak, ayo main!” ajak Aruna girang.
“Ndak! Ama ain ama Fafa!” Fafa tidak mau kalah.
__ADS_1
“Tatak ain ama Luna!”
“Ndak! Ama Fafa!”
“Luna!”
“Fafa!”
“Lunaaa...!”
“Fafaaa..!”
Natashya memijat keningnya yang berdenyut sakit, ini kenapa jadi ada ajang perebutan begini, sih? Objeknya dia pula.
“Kalian ngapain, sih?” heran Natashya. “Bang, bantuin kek!”
Randy yang sibuk bersandar di bahu Hasna hanya mencebikkan bibirnya, tidak peduli dengan nasib Natashya. Dia kesal sekali. Adik bungsunya pasti sudah kena pelet sama tuh anak.
Natashya menghela napas berat. Tidak akan ada yang membantunya. “Ikut Mama.” Menggandeng tangan Fafa. “Ikut Kakak.” Giliran menggandeng tangan Aruna. Lanjut membawa kedua batita itu menuju kamarnya.
“Mau diapain mereka?” curiga Randy.
“Tau, kesel Ayah,” celetuk Heru sebal.
“Anakku bukan kayak anakku, tapi kayak anak Tashya! Aruna nggak pernah sedeket itu sama aku, lho!” protes Heru mengeluarkan segala unek-unek di kepalanya. Riana yang duduk di sebelahnya mengangguk setuju.
Tio terkekeh. “Biasa, mereka satu hati.”
“Dan, Fafa juga seperti itu,” cetus Anton.
Mau tak mau, mereka tertawa menanggapi kata-kata Anton. Mereka semua tahu bagaimana sikap dan sifat Kayfa yang persis seperti Natashya.
Sabar, Nio. Ini ujian..
...❄️❄️❄️...
Sementara itu, di kamar Natashya...
“Ck!” decak Natashya kesal. Ia menghela napas kasar. Sementara Aruna dan Fafa sama-sama tersenyum mengejek padanya.
“Uu.. Ama alah!” ejek Fafa.
Aruna terkikik. Ia mengangkat tangannya yang disambut tepukan dari Fafa. Keduanya langsung akur kalau begini.
__ADS_1
“Udah, ah. Mama nggak mau main lagi,” sungut Natashya kesal.
“Tatak culang!” seru Aruna.
“Adi atana au ain anyak, tok enti?” sahut Fafa tidak terima.
Tahu tidak situasi macam apa ini?
Natashya kita kalah bersaing dengan kedua anak gembil itu! Main apa? Main puzzle yang baru saja Natashya instal di tabletnya.
Tiga tablet tersedia di atas meja. Masing-masing mendapat satu tablet dengan permainan puzzle yang sama. Siapa yang bisa merangkai puzzle paling cepat, dia yang menang.
Juara pertamanya adalah Fafa, lalu Aruna. Selisih waktu keduanya hanya berbeda 4 detik. Sementara Natashya baru menyelesaikan tigaperempatnya saja.
Ingat, gengs. Ini Natashya beneran kalah! Bukan sengaja mengalah!
“Ain agi?” tawar Fafa dengan alis naik-turun.
Natashya mendengkus. Ia mengatur ulang ketiga tablet dan menyerahkannya pada Fafa juga Aruna. “Main satu babak lagi. Mama pasti menang!” kata Natashya percaya diri.
“Uu.. iat aja nanti,” ledek Aruna.
Ketiganya mulai fokus bermain. Setelah 20 menit berlalu, salah satunya bersorak senang.
“Fafa esai!” seru Fafa senang. Gambar bunga dengan aksen rumit di tabletnya sudah tersusun sempurna.
“Luna udah!” sahut Aruna girang.
Aarrgghh...! Kenapa gue bisa kalah dari anak kecil?!!
Dan, itu anak gue pula!
^^^-Bonus Chapter 2 Finish-^^^
...❄️❄️❄️...
Wah, gimana, nih? Seru, kan, ya, keluarga mereka?
Bukan hobi sayang-sayangan, tapi debat-debatan. Tidak ada yang mau mengalah.
Ay jadi mikir, ntar keluarga Anton-Natashya jadi kayak gimana, ya, kalau Fafa udah besar terus punya adik? Wah, kacau!
See you di chapter bonus berikutnya:)
__ADS_1