KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 93 | Kakak Kesayangan Natashya


__ADS_3

Wah, ada yang kelupaan update, nih😅


Kemarin malem tuh Ay udah nulis, udah ngetik separuh. Eh, Ay kebablasan tidur, huaa😭


Akhirnya, chapter ini belum selesai. Dan, demi menyelesaikan misi, Ay update lapak sebelah. Karena kebetulan Ay punya satu draft yang belum dipublish, hehe..


...Happy reading:)...


.......


.......


.......


Anton sadar, suasana hati Natashya berubah drastis setelah menelepon Aisha. Jawaban Aisha memang sangat tidak nyaman didengar, padahal Natashya bertanya baik-baik. Tentu saja hati Natashya jadi terluka.


Apalagi mengingat sikap Natashya yang melembut akhir-akhir ini, pasti hati wanita itu juga ikut melunak.


Itulah mengapa, Anton berinisiatif untuk mengajak Natashya jalan-jalan hari ini. Bersama dengan Rio, Hafi, Laily, dan Nadia—kekasih baru Rio—mereka pergi ke salah satu mall untuk bersenang-senang.


“Kita mau ngapain dulu, nih?” tanya Hafi setibanya mereka di mall.


“Kamu mau ngelakuin apa, Sayang?” tanya Anton lembut kepada sang istri. Tangannya mengusap kepala Natashya pelan.


Rio dan Hafi yang mendengar itu berdecih. Kelakuan sahabat mereka itu memang berubah total semenjak menikah. Terutama sejak Natashya pulang dari masa pemulihannya.


Beuhh... manja, posesif, dan bucinnya meningkat pesat, guys!


Natashya menoleh. “Nonton film, ya?”


“Oke,” jawab Anton cepat.


“Lah? Terus kita nggak lo tanyain? Kita ada di sini juga, lho,” protes Rio. Masalahnya, si pasutri yang satu ini bertingkah seolah cuma pergi berdua. Padahal ada yang lain.


Anton menatap Rio tajam. “Bisa diem?” sarkasnya tajam. “Nggak usah nge-bacot lo! Ngikutin gue nggak akan ngebuat lo mati muda, paham?!”


Nyali Rio menciut. Ia tidak jadi protes kepada singa jantan itu. Rio masih sayang nyawa, kok. Sayang banyak-banyak!


“Ya udah, ayo kita nonton!” pekik Laily yang ikut happy di sana.


...❄️❄️❄️...


Menonton, chek!


Belanja, chek!


Keliling mall, chek!


Diam-diam cuci mata liat cogan, chek!—untuk yang ini, jangan kasih tahu para cowok itu, ya. Nanti mereka ngamuk, hihi😆


Semua udah, tinggal makan dong. Perut, kan, juga harus diperhatikan.

__ADS_1


“Mau pesan apa, Mas, Mbak?” tanya pelayan restoran yang mereka singgahi.


Satu per satu menyebutkan pesanan, dimulai dari Natashya, Laily, Nadia, Anton, Hafi, dan terakhir Rio—biasa, prinsip ladies first, kan, masih berlaku. Sang pelayan menyebutkan ulang pesanan pelanggannya. Setelah mendapat anggukan, barulah ia pergi.


“Habis ini mau ke mana, hm?” tanya Anton seraya mengusap pipi sang istri.


Natashya terdiam, kepalanya sedang memproses beberapa nama tempat yang ingin ia datangi. Namun, fokus wanita itu pecah kala sepasang matanya menangkap sosok lelaki yang familiar di benaknya.


Itu, kan...


Natashya masih berjuang untuk mengingat siapa lelaki itu. Hingga ketika tatapan keduanya bertubrukan, manik lelaki di sana terlihat membola. Senyumnya merekah bersamaan dengan langkah kaki yang mendekat.


“Natashya, ini kamu?”


Suara itu sukses membuat perhatian Anton, Rio, Hafi, Laily, dan Nadia teralihkan. Mereka mengernyit bingung dengan lelaki tak dikenal yang baru saja bersuara itu. Kecuali Laily yang sudah berbinar senang karena ia kenal betul siapa lelaki tersebut.


“Wah, Kak Yosua?!” pekik Laily tak percaya.


Merasa terpanggil, lelaki itu menoleh ke arah Laily. Senyumnya terbit lagi. “Wah, Laily, ya? Udah besar, ya, kamu. Makin cantik, nih, ciee...” katanya.


“Hihi, iya dong. Lama banget nggak ketemu, Kak. Gimana kabar Kakak?” tanya Laily.


“Alhamdulillah.. baik. Kamu kayaknya juga baik. Natashya gimana? Baik, kan?”


Natashya tersenyum kecil. “Iya, Kak.” Huh.. dia sudah ingat siapa lelaki di hadapannya ini.


“Kak Yosua ke mana aja?” Laily bertanya lagi.


Laily tersadarkan. Ia segera memperkenalkan Yosua dengan Hafi, calon suaminya. Lalu Rio, Nadia, kemudian Anton.


“Kamu udah nikah, Shya?” Yosua menatap Natashya tak menyangka. Apalagi ketika Natashya mengangguk, membenarkan pertanyaannya, membuat Yosua berdecak. “Kok, Kakak tidak diundang?” protesnya.


Natashya tersenyum kecil. “Maaf, Kak.”


Sedikit penjelasan soal Yosua.


Yosua merupakan kakak kelas Natashya dan Laily sewaktu SMA. Mereka bersama Aisha dan Alka adalah sahabat baik. Sampai ketika Yosua pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya, mereka putus kontak.


Begitulah kisah mereka secara sekilas. Setelah sekian lama, akhirnya mereka dipertemukan kembali hari ini.


“Nio, ini Kak Yosua, kakak kelasku waktu SMA dulu. Dia ini kakak kesayanganku, lho,” kata Natashya menjelaskan.


“Hm? Kesayangan?”


“Dulu.. aku pernah hampir tertabrak mobil. Tapi, Kak Yosua berhasil nyelamatin aku. Karena itu, dia jadi Kakak kesayanganku,” jelas Natashya yang tidak ingin suaminya salah paham.


Anton manggut-manggut mengerti. Alasan Natashya cukup masuk akal.


“Mau gabung, Kak?” tawar Laily.


Yosua tersenyum, kepalanya menggeleng. “Aku cuma mau pesan, terus pulang. Masih ada urusan di luar,” tolaknya halus.

__ADS_1


Laily agak kecewa, sih. But, okelah. Ia juga tidak bisa memaksa Yosua untuk bergabung.


“Kalau begitu, saya pamit.” Yosua menjabat tangan Hafi dan Rio. Sementara Nadia, hanya diberi senyuman kecil dengan anggukan pelan. Lalu Laily, ia mengacak rambutnya pelan.


Beralih pada Natashya, Yosua tersenyum seraya menjabat tangannya pula. “Walaupun telat, Kakak ucapin selamat, ya. Semoga langgeng sampai maut memisahkan.”


“Makasih, Kak.”


Terakhir, Anton. Kedua lelaki itu berjabatan. Anton tersenyum kecil pada sosok kakak kesayangan istrinya. Sayangnya, mata tajam Anton malah menangkap hal lain dari kilatan mata Yosua.


Hanya dua detik, ada kilatan kebencian di mata Yosua.


Anton tertegun melihat itu. Namun, ia tidak ingin menghancurkan suasana dengan bertanya maksud tatapan itu.


Yosua balas tersenyum kepada Anton. Ia berpamitan sekali lagi, kemudian pergi dari sana.


Sepasang manik Anton terus mengarah pada punggung Yosua yang menjauh hingga hilang sepenuhnya. Banyak tanda tanya berseliweran di kepalanya. Namun, hanya satu yang sangat membuatnya penasaran.


Kenapa dia natap gue kayak gitu?


...❄️❄️❄️...


Pukul delapan malam, rombongan Natashya berpisah untuk kembali ke rumah masing-masing. Begitupula dengan pasutri yang satu ini, Anton dan Natashya juga pulang ke rumah mereka.


Sepanjang perjalanan, Natashya dibuat keheranan dengan tingkah suaminya. Anton terus diam, tidak mengajaknya bicara sama sekali. Padahal, biasanya lelaki itu selalu mencari topik pembicaraan agar suasana tidak hening seperti ini.


Apa Nio ada masalah, ya?


Tangan Natashya bergerak menyentuh lengan sang suami. Anton terlonjak, ia menoleh ke samping sekilas. “Ada apa, Shya?” tanyanya.


“Harusnya aku yang tanya, kamu kenapa, Nio? Kamu ngelamun dari tadi. Ada masalah apa?” tanya Natashya lembut, tidak ada nada penekanan di dalam kata-katanya.


Anton menghela napas kasar. Selain menjadi sosok yang perhatian dan lebih lembut, istrinya jadi makin peka rupanya. “Ada hubungan apa kamu sama Yosua, Shya?”


Natashya menaikkan sebelah alisnya, bingung dengan pertanyaan suaminya ini. Bukannya dia sudah menjelaskan, ya, tadi?


“Dia kakakku, Nio.”


“Yakin cuma begitu?”


Natashya mengangguk yakin. “Iya.”


Anton menghembuskan napas panjang. Kilatan mata Yosua masih menghantuinya hingga detik ini. Dan, itu membuat otaknya menciptakan spekulasi-spekulasi baru tentang hubungan Natashya dan Yosua sebelumnya.


“Kamu... cemburu?” tanya Natashya ragu.


Anton terbelalak. “Nggak, lah! Dih..” jawabnya.


Natashya tertawa pelan. Ia manggut-manggut saja, berusaha percaya walaupun hatinya membenarkan kesimpulan yang baru saja dibuat itu.


Nio cemburu, hihi..

__ADS_1


^^^To be continue...^^^


__ADS_2