KISAH KITA

KISAH KITA
Bonus Chapter 1


__ADS_3

Kita intip, yuk, keseruan keluarga Anton-Natashya.


...Happy reading:)...


.......


.......


.......


Tiga tahun kemudian...


Tok tok tokk...


“Fafa? Sayang?”


Gadis kecil yang barusan disebut namanya berdecak keras. Mau tak mau, ia bangun dari tidurnya dan menyahut panggilan papanya. “Iya..” balasnya.


“Bangun, Sayang. Kita salat subuh berjamaah.”


“Hm.”


“Fafa...” Nada menegur.


“Iya, iya, Apa.”


Papa gadis kecil itu tertawa pelan. “Papa masuk, ya?”


“Hm.”


Ceklekk..


Anton menyembulkan kepalanya melalui celah pintu yang terbuka. Senyumnya mengembang melihat putri kecilnya tengah duduk dengan sorot sayu di ranjang queen size miliknya. “Ayo bangun.”


“Hm,” sahut Fafa malas. Ia turun dari ranjangnya dan masuk ke kamar mandi.


Sementara itu, Anton bergerak merapikan tata letak seprai, selimut, dan bantal di posisi semula. Lagi-lagi senyum lelaki itu terukir kala gambar sang putri bersama istrinya terpajang di bingkai foto.


Percayalah, sudut bibir Anton sampai berkedut melihat foto itu.


Natashya dan Kayfa, yang saat ini lebih suka dipanggil Fafa, berpose begitu kaku di dalam foto. Mereka berdua sama-sama tidak suka dipotret, katanya. Padahal, Natashya memiliki keahlian dalam bidang fotografi, tapi dia sendiri tidak suka difoto.


Ya, sesuai dugaan Anton dan Natashya sebelumnya, putri mereka mewarisi sifat dan sikap Anton juga Natashya dengan sempurna. Ingat bukan kalau sifat asli Antonio juga hampir sama seperti Natashya?


Mereka itu pasangan yang begitu serasi, hehe. Saking serasinya, keduanya punya sifat yang memiliki selisih perbandingan paling kecil.


“Apa napain i citu?”


“Eh?” Anton membalikkan badan, menatap Fafa yang telah siap menjadi makmum salat dengan balutan mukena ungu di tubuh kecilnya. “Papa liat foto kamu, Sayang.”


Fafa mendengkus sebal. “Ndak ucah iiat eyus, Apa. Otonya iyek, hu.”


“Jelek dari mananya, Fafa? Bagus, kok.” Anton membela persepsinya sendiri.


“Cuda, Apa. Ayo oyat uyu, nanti Ama utuin yama.” Fafa berjalan keluar kamar dengan raut datarnya menuju mushola kecil yang sengaja Anton buat dua tahun lalu. Tentu saja itu dilakukan atas saran Natashya.

__ADS_1


Katanya, sih, biar leluasa kalau mau salat jamaah.


“Lama banget,” sindir Natashya ketika Anton dan Fafa tiba di mushola.


Fafa mendengkus. “Ama yang epet-epet. Fafa, tan, acih udhu uyu.”


Natashya berdecih. Ia ingin membalas kata-kata Fafa, namun Anton melarang. Lelaki itu menggeleng pelan, kode agar Natashya tidak lagi menyahut. Takutnya akan jadi panjang dan perdebatan tidak bisa dihindari lagi.


Natashya menghela napas panjang. “Kamu menang kali ini.”


Fafa tersenyum miring. “Fafa ceyayu enang, Ama.”


“Hei! Kam—”


“Tashya, udah,” potong Anton cepat. Natashya mendengkus, dan diam. Anton pun memulai salat subuh kali ini dengan khusyuk seperti biasa.


Ya Allah, tidak bisakah Engkau memberikanku anak yang normal saja?


...❄️❄️❄️...


“Assalamualaikum.”


“Wa‘alaikumsalam,” jawab Anton dan Natashya bersamaan. Fafa yang mendengar salam hanya membalas dalam hati karena mulutnya penuh makanan. Dia sedang sarapan, jadi jangan disalahkan.


“Fafa Sayang...” seru Nia yang datang dengan puluhan paper bag di tangan.


Hu, Uma te cini agi—gerutu Fafa sebal di dalam hati.


Bukan tanpa alasan Fafa kesal. Masalahnya, kalau Nia datang berkunjung, pasti pipi Fafa akan jadi korban cubitan dan kecup-kecupan. Padahal, ya, Fafa tidak suka diperlakukan seperti itu.


Apalagi kalau mamanya. Huh! Natashya mah cuma bisa menertawakan Fafa yang tersiksa lahir batin.


“Cucu Oma yang paling lucu..” gemas Nia. Ia menciumi pipi Fafa yang cuma bisa pasrah dengan keadaan. Ekspresi masam sudah terpasang sempurna di paras cantik Kayfa.


Natashya yang melihat langsung tergelak kencang. Dan, itu memancing tatapan menghunus dari Fafa. Gadis kecil itu makin kesal karena sang ibu malah menertawakan nasibnya.


“Ulululu... cucu Oma kenapa, sih? Kamu kenapa ketawa, Shya? Ada yang lucu?” heran Nia yang tidak mengerti situasi.


Natashya menutup mulutnya dengan segera, ia menggeleng pelan kenapa mertuanya ini. “Nggak pa pa, Ma.”


Nia pun hanya bisa mengedikkan bahu. Ia beralih ke cucunya. “Oma bawakan kamu mainan, Sayang. Yuk, liat.”


“Ma, tunggu seben—” Anton tidak melanjutkan ucapannya. Nia telanjur membawa putrinya pergi ke ruang keluarga, mengeluarkan berpuluh isi paper bag yang ternyata berisikan mainan dan pakaian lucu untuk Fafa.


“Kasian banget, sih,” ucap Natashya lirih yang masih bisa didengar oleh Anton.


“Shya, udah. Jangan diketawain terus, dia anak kamu,” tegur Anton mengingatkan.


Natashya manggut-manggut. “Dia anak kita,” ralatnya. “Biarin, Sayang. Aku, kan, jadi ada hiburannya, hehe.”


Ah, sudahlah. Anton tidak bisa menasihati lagi. Dua-duanya memang keras kepala.


“Bunda mau ke sini, Yo,” kata Natashya memberi tahu.


Anton mengangguk mengerti. Sudah jadi kebiasaan bagi seluruh keluarga besar untuk berkumpul di akhir pekan. Riana dan Nia yang membuat peraturan itu, lho, ya.

__ADS_1


“Nio, aku mau ngomong.” Natashya tiba-tiba berubah serius.


“Kenapa, Shya?”


“Aku—”


“AMA! APA!”


Anton dan Natashya terlonjak kaget. Keduanya langsung berlari menuju ruang keluarga, asal muasal teriakan Fafa. Anton seketika membisu melihat pemandangan di sana, sementara Natashya tertawa kencang sampai ulu hatinya nyeri.


Fafa.. dia...


Fafa didandani oleh Nia, guys. Pakaian pink, bando pink, rambut dikuncir dua, dan terakhir sepatu pink.


Asfsixnsodnxisinzkbdisjw isbxismais ixbsisjs sosjsi.


Anton tidak bisa berkata-kata lagi. Walaupun Fafa terlihat imut dengan setelan itu, tapi lelaki itu tahu benar kalau sang putri tidak suka sesuatu berbau TERLALU girly. Makanya, warna favorit Fafa itu ungu, bukan pink!


“Apa, oyongin Fafa. Fafa ndak uka, hiks..” Fafa menangis sungguhan ini. Dia benar-benar dipaksa.


Dan, melihat Fafa menangis, hati Natashya tergerak. Dia berusaha menahan tawanya yang ingin menyembur dan menghampiri putrinya yang masih terus memberontak karena Nia ingin memakaikan tas pink juga.


“Ma, udah, ya. Fafa nggak suka,” kata Natashya seraya meraih tubuh putrinya. Ia mengusap pipi basah Fafa dan melepas aksesoris yang terpasang satu per satu.


“Tapi, Fafa gemesin, Shya.” Nia tak mau kalah. Cucunya super menggemaskan dengan setelan serba pink ini.


“Iya, tau. Tapi, Fafa-nya nggak suka. Nangis, nih.” Natashya menunjukkan wajah sang anak yang sudah berlinangan air mata.


“Ya ampun, cucu Oma nggak suka?”


Fafa menggeleng. “Fafa ndak uka, Uma. Ndak au, hiks..” Ia menenggelamkan wajahnya di pelukan mamanya. Walaupun Natashya sering mengejeknya, Natashya tetap akan menjadi orang pertama yang membela Fafa ketika ia dalam masalah.


Bukankah seorang ibu selalu seperti itu? Mungkin di luarnya saja terlihat tidak peduli, tapi sebenarnya hati mereka begitu mencintai sang anak dengan sepenuh hati.


“Maafin Oma, ya. Udah, Sayang, jangan nangis.” Nia mengaku salah. Dia sudah terlalu memaksa cucu esnya ini.


Anton ikut turun tangan. Dia meminta Nia untuk memasukkan semula seluruh barang-barang yang ada dan menyimpannya di mobil. Benda-benda terlarang itu harus segera disingkirkan. Takutnya Fafa makin meraung.


Anton tersenyum kecil melihat Natashya masih terus memeluk Fafa yang terisak. Aksesoris pink yang terpasang juga sudah terlepas, menyisakan pakaiannya saja.


“Cengeng banget, sih. Udah, deh, jangan nangis terus,” kata Natashya dengan wajah jailnya.


Sontak Fafa ikutan kesal dan membalas perkataan mamanya.


Anton menghela napas berat. Lagi-lagi berdebat, kapan akurnya?


^^^–Bonus Chapter 1 Finish–^^^


...❄️❄️❄️...


Gimana? Emak sama anak emang istimewa, wkwkwk.


Ay cuma akan buatkan tiga chapter bonus saja, ya. Nggak bisa lebih karena nggak mau. Mau fokus ke novel sebelah.


Btw, kalian paham bahasa cadelnya Fafa, kan?

__ADS_1


See you di chapter bonus selanjutnya:)


__ADS_2