KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 92 | Nomor Aisha


__ADS_3

Sebelum pulang ke rumah, Anton mampir ke sebuah cafe, tempat di mana ia janjian dengan Tian. Ada beberapa hal yang ingin ia tanyakan soal kondisi Natashya.


“Assalamualaikum, Kak,” ucap Anton saat dirinya sudah berada di depan Tian.


Tian tersenyum kecil. “Wa‘alaikumsalam. Duduk, Anton.”


Anton duduk di hadapan Tian. “Udah pesen, Kak?” tanyanya basa-basi.


Tian mengangguk. “Udah. Kamu pesan juga sana. Tadi mau Kakak pesankan, tapi Kakak nggak tau kamu sukanya apa.”


Anton mengiyakan. Ia memesan minuman untuknya dan satu minuman lagi untuk dibawa pulang. Biasa, si suami yang satu ini makin bucin sama istrinya, wkwkwk.


“Ada apa kamu mau temui Kakak? Apa kondisi Natashya memburuk atau gimana?” tanya Tian setelah beberapa menit terlewati dengan canggung.


Anton segera menggeleng. Ia memang ingin membahas soal Natashya, tapi bukan tentang kondisi Natashya yang memburuk. Istrinya itu sudah sangat baik, kok. Bisa diajak bercanda, bermain, bahkan guling-gulingan di atas ranjang, hehe.


Opsi terakhir adalah kesukaan Anton.


“Nggak, Kak. Tashya baik-baik aja. Aku cuma mau nanya beberapa hal tentang dia.”


Tian jadi dilanda rasa penasaran yang tinggi. “Tanya apa?”


“Apa... sifat Natashya yang baru ini.. itu.. em..” Aih, Anton bingung bagaimana menjelaskannya.


Intinya, sih, semenjak pulang, sikap dan sifat Natashya itu berubah total. Tidak ada lagi tatapan dan raut wajah datar, kata-kata ketus maupun pedas. Yang ada hanyalah Natashya yang selalu menatapnya lembut, murah senyum, dan tutur katanya juga jadi halus sekali.


Wah! Anton sampai tercengang! Tapi, dia berhasil menutupinya sebaik mungkin. Anton tidak mau Natashya merasa tidak nyaman di rumah.


Tian yang mengerti maksud Anton hanya bisa tertawa pelan. “Kamu tenang saja. Sifat Natashya yang sekarang itu hasil pemulihan dari kondisi dia yang sebelumnya. Dia jadi lembut dan penyayang gitu, kan?”


Anton mengangguk kikuk.


“Memiliki riwayat depresi kadang memang bisa mengubah karakter seseorang, Anton. Karena pernah merasakan kehilangan, impuls otak Natashya menciptakan karakter baru untuk mencegah bangkitnya rasa sakit yang pernah dialami. Intinya, semua perubahan Natashya itu wajar. Asalkan perubahan itu membuat Natashya menjadi pribadi lebih baik, kita sebagai keluarganya harus mendukung. Kamu paham, kan?”


Anton mengangguk mengerti. Sepertinya, ia tidak perlu cemas lagi soal istrinya itu.


“Terima kasih, Kak,” balas Anton tulus.


“Nggak perlu berterima kasih, Anton. Kamu hanya bertanya dan Kakak menjawabnya.”


“Aku berterima kasih karena hal lain juga, Kak.”


“Hal lain?”


Anton mengangguk. “Terima kasih udah jaga Natashya dan rawat dia sampai sembuh. Aku berhutang budi sama kamu, Kak. Terima kasih banyak.”


“Terima kasih sudah membantu wanita yang aku cintai.”


...❄️❄️❄️...


Anton pulang ke rumah selepas pertemuannya dengan Tian. Natashya menyambut kehadirannya dengan senyuman manis dan perlakuan lembut. Jujur, Anton masih kurang terbiasa.

__ADS_1


Tapi, mengingat perkataan Tian sebelumnya membuat Anton bertekad untuk membiasakan diri. Asalkan perubahan Natashya menjurus ke arah yang lebih baik, dia akan mendukung istrinya itu agar semakin baik.


“Mandi dulu, Yo. Aku udah masak buat kamu,” kata Natashya seraya membantu Anton melepas jas kerjanya. Ini memang sudah waktunya makan malam.


“Nggak mau mandi bareng, Yang?” pinta Anton penuh harap.


Natashya menaikkan sebelah alisnya. “Aku udah mandi, Nio.”


“Mandi lagi dong.”


“Antonio..”


Anton langsung cemberut. Yah.. tidak jadi dapat jatah tambahan dong malam ini.


Natashya berdecak. Ia tahu betul maksud suaminya mengajak mandi bersama. “Nanti malam aja, ya.”


“Beneran?” Tuh, kan! Langsung sumringah gitu.


“Iya.”


“Yes! Istriku terbaik, haha.”


Cup cup..


“Udah, ih.” Natashya mendorong wajah Anton agar berhenti menciumi bagian-bagian wajahnya. Jadi basah semua, nih.


“Aku mandi dulu, Sayang.”


“Siap, Bos!”


...❄️❄️❄️...


“Nio, kamu sibuk?”


Natashya duduk di sebelah Anton yang tengah sibuk berkutat dengan laptopnya. Setelah makan malam, Anton mendapat telepon dari Rio untuk memeriksa beberapa email. Alhasil, keduanya sekarang sedang mendekam di ruang kerja Anton, bukan di kamar di atas ranjang yang hangat.


“Kenapa, hm?” Anton menoleh dan tersenyum.


“Aku ingin cerita sebentar.”


Anton mengangguk. Ia menutup laptopnya dan mengalihkan seluruh fokusnya kepada sang istri. “Cerita apa, Sayang?”


“Aku sama Laily udah bertemu Alka tadi siang di RSJ, Nio.”


“Alka?” Anton bergumam pelan. Ia mengangguk ketika memori di kepalanya soal Alka berhasil didapat. “Kembarannya Aisha itu, kan?”


“Iya.”


“Terus apa yang terjadi?”


“Tadi di RSJ, Alka itu....” Natashya bercerita semuanya tanpa ditutup-tutupi sama sekali. Lagian untuk apa berbohong juga? Nggak ada gunanya.

__ADS_1


“Dan, kamu menyimpulkan kalau Alka itu korban kekerasan?” tanya Anton setelah mendengar keseluruhan cerita.


Natashya mengangguk. “Jika dilihat dari reaksinya, iya. Tapi, aku juga nggak tau.” Menghela napas sejenak. “Aku juga dapet nomor Aisha.”


“He? Dari mana?”


“Aisha daftarin dirinya jadi wali Alka di RSJ. Jadi, aku minta nomornya sama pihak sana.”


“Emang boleh?”


“Harusnya nggak, sih. Aku dibantu sama Kak Tian. Kak Tian punya teman di sana, makanya aku bisa dapet nomor ini.” Natashya membuka ponselnya, menggulir layar hingga berhenti di sebuah nomor yang diyakini adalah milik Aisha. “Aku coba telpon, ya.”


Anton mengangguk setuju.


Natashya menekan tombol panggil pada nomor Aisha. Sambil menunggu nada sambung, ia menghirup napas dalam-dalam, mencoba meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Natashya menekan tombol speaker agar Anton juga bisa mendengar pembicaraan mereka.


“Halo? Siapa ini?”


Natashya menggigit bibir bawahnya kuat. Itu suara Aisha, sahabatnya dulu. Keraguan besar menghantam ulu hatinya. Apa Aisha akan menjauh jika tahu bahwa ini dirinya?


Namun, rengkuhan hangat di bahu Natashya melunturkan semua rasa ragu itu. Natashya menoleh, menatap Anton yang tersenyum menguatkan.


“Ini gue... Natashya, Sha.”


Hening. Tidak ada yang membuka suara.


“Aisha, apa kabar? Lo baik—”


“Buat apa lo hubungin gue, hah?! Dari mana lo dapet nomor gue?!” seru Aisha ketus. “Cih, mau apa lo, Sialan?!!”


Tanpa sadar, Natashya menggenggam erat tangan Anton, meremasnya kuat. “Aisha, gue cuma—”


“Gue muak denger suara lo! Lebih baik lo nggak usah hubungin gue lagi! Urusin aja hubungan lo sama suami lo itu! Kalo lo cuma mau nyalahin gue, lo introspeksi diri dulu! Kesalahan apa yang udah lo buat sama gue dan Alka! BYE!”


Tut.


“Aisha? Sha? Sha? Sha!” Natashya berteriak memanggil nama Aisha. Ia mencoba menghubungi nomor Aisha berulang kali. Namun, nihil. “Nio, Aisha nggak mau ngomong sama aku. Salah aku apa?” Mata wanita itu mulai berkaca-kaca.


Anton menarik Natashya ke dalam pelukannya. Ia mengusap punggung istrinya pelan. “Kamu nggak salah, Sayang.”


“Tapi, Aisha bilang—”


“Udah, Shya, udah... nggak usah dipikirin, ya. Biar aku yang atasi nanti.”


“Nio...” lirih Natashya sedih.


“Udah, Sayang. Kamu nggak salah. Kita cari tau sama-sama apa kebenarannya, oke?”


Natashya terdiam sejenak, kemudian mengangguk pelan. Kedua tangannya ikut melingkar di pinggang suaminya.


Semua kebenarannya harus terungkap...

__ADS_1


^^^To be continue...^^^


__ADS_2