KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 98 | Rencana Kejutan


__ADS_3

Natashya pulang dalam keadaan kalut. Pikiran wanita itu kacau. Ada banyak persepsi yang masuk ke dalam otaknya, dan itu malah membuat kepalanya panas.


Jujur saja, dapat bertemu dengan Aisha setelah sekian lama membuat Natashya mengucap syukur berulang kali. Setidaknya ia tahu bahwa sahabatnya itu baik-baik saja di luar sana.


Hanya saja, perkataan Aisha yang menuduhnya telah berbuat yang tidak-tidak kepada Alka membuat Natashya kepikiran. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Alka? Tidak mungkin penyebab Alka depresi adalah penolakan Natashya hari itu, kan?


Ya, Natashya yakin bukan itu alasannya.


Ia ingat perkataan Faisal hari itu, kala kunjungannya dengan Tian ke RSJ Harapan.


“Dia mengalami trauma psikis yang lumayan parah. Sampai saat ini, kami nggak bisa tahu apa pun soal dia. Laki-laki itu sangat pendiam. Hanya saja...” Faisal menghela napas berat. “Dia selalu histeris setiap melihat darah.”


“Darah?” ulang Laily bingung.


“Berarti ada kemungkinan kalau dia mengalami kekerasan?” Natashya mulai mengira.


Faisal mengangguk. “Awalnya kami berpikir begitu. Tapi, waktu dia datang ke sini, dia sama sekali tidak mengalami luka.”


Natashya menghela napas kasar. Teka-teki ini sangat sulit dipecahkan.


Istri Anton tersebut memasuki kamar dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Pandangannya terarah ke langit-langit kamar, menerawang ke masa SMA-nya.


Natashya tidak menyakiti fisik Alka sama sekali.


Lalu, bagaimana bisa ia dituduh telah membuat Alka depresi, sedangkan lelaki itu didiagnosis mengalami trauma psikis parah karena melihat darah sementara dirinya tidak melukai Alka?


Hah! Kenapa semua masalah ini sangat membingungkan, Ya Allah? Ujian macam apa lagi yang Engkau berikan kepadaku?


Ceklekk..


Anton masuk ke dalam kamar. Ia melihat istrinya sedang melamun dengan posisi tiduran. Diam-diam lelaki itu tersenyum, istrinya tidak jadi tidur dengan Laily.


Berarti bisa peluk-peluk manja dong?! Yes! Yuhuu!


“Sayang...” panggil Anton seraya mendekat. Ia ikut tiduran di sebelah Natashya dan menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukan. “Kok, belum ganti baju? Ini udah sore, lho. Mandi sekalian sana.”


Natashya bergumam pelan, malas untuk mengeluarkan suara emasnya. Ia merangsek masuk ke dalam pelukan suaminya, mencari kenyamanan di sana. Untuk masalah mandi, itu bisa nanti.


Ingat! Cowok ganteng mau jungkir balik pun tetap perfect!


Dan, cewek cantik mau nggak mandi sekalipun tetap wangi nan menawan!


Iya, kan?


Oh, ya, jelasss..


Lagian, fungsinya parfum diciptakan itu apa kalau bukan untuk wewangian badan?


Tinggal semprot sana sini, dah wangi. Hehe😆


“Nio,” panggil Natashya pelan.


“Kenapa, Sayang?”

__ADS_1


“Mandi bareng, yuk.”


Kedua mata Anton terbelalak, senyum sumringahnya langsung terpasang lebar. “Ayo!” balasnya antusias.


Natashya mendongakkan kepalanya tanpa melepas pelukan mereka. Senyum kecil terpasang di bibirnya. “Tapi, ada syaratnya.”


“He? Ada syaratnya juga?”


“He’em.”


“Apa?”


“Carikan informasi soal Aisha, ya.”


Anton terdiam. Sepertinya perasaan Natashya kepada Aisha tidak sesederhana yang ia pikir. Istrinya itu sangat menyayangi Aisha sebagai sahabat. Atau bahkan lebih dari itu.


Mungkin di mata Natashya, Aisha adalah saudaranya.


Anton mengukir senyumnya. “Iya, nanti aku carikan.”


Natashya mengeratkan pelukannya. “Terima kasih, Nio.”


“Iya.”


“Oke, ayo mandi! Kita buat baby juga!”


YES! NGGAK PERLU MINTA, DAPAT JATAH! HAHA!


...❄️❄️❄️...


Padahal, kenyataannya sebaliknya.


Beban hidup Natashya cukup berat.


Anton terkekeh mengingat pergumulan panasnya dengan sang istri. Keduanya menghabiskan waktu berjam-jam demi menuruti hasrat Anton yang tidak habis-habis. Bayangkan! Dari jam 4 sore sampai jam 8 malam!


Wah! Encok nggak tuh pinggang? Wkwkw..


Anton berjalan mengendap-endap keluar kamar, ia tidak mau membuat Natashya terbangun. Setelah keluar dan menutup pintu sepelan mungkin, Anton bergegas menuju ruang santai.


Rio, Hafi, Laily, dan Nadia sudah menunggu di sana dengan wajah sayu. Iyalah, jam segini, kan, harusnya mereka bobo cantik dan bobo ganteng.


Bukannya meladeni Anton yang menyuruh mereka bangun tengah malam seperti ini!


“Hoaammm... kenapa lo nyuruh kita kumpul jam segini, sih, Nton? Nggak bisa, ya, kalo besok aja?” protes Rio dengan suara pelan. Matanya terasa berat sekali. Bayangan ranjang empuk nan dingin memanggil-manggilnya sejak tadi.


Huaa.. gue pengen tidur!


“Gue butuh bantuan kalian,” kata Anton memulai pembicaraan. Ia duduk di sofa tunggal seraya mengamati pintu kamarnya, memastikan Natashya tidak keluar dan mendengar topik pembahasan mereka.


“Bantuan apa?” sahut Hafi dengan suara serak. Kepalanya disandarkan di bahu Laily yang juga tengah menahan kantuk.


“Sebentar lagi Natashya ulang tahun,” ucap Anton yang membuat keempat anak manusia itu tersadar.

__ADS_1


“He? Serius? Kapan?” Nyawa Laily baru terkumpul setengah, jadi dia lupa.


“Lima hari lagi.”


“Jangan bilang lo mau buat kejutan buat Natashya dan lo mau kita bantu lo nyiapinnya? Iya, kan?” tebak Rio tepat sasaran.


Anton tersenyum kecil, lanjut mengangguk pelan, membenarkan tebakan Rio. “Mau, kan?”


Rio dan Hafi berpandangan sejenak. “Mau, lah. Dapet makan gratis, kan?” seru keduanya kompak.


Hahh..


“Iya,” jawab Anton pasrah.


Demi Natashya, apa, sih, yang nggak bisa Anton lakuin?


...❄️❄️❄️...


Tiga hari berlalu...


Anton, Natashya, Hafi, Laily, Rio, dan Nadia akan pulang ke ibukota hari ini. Mereka sudah siap di bandara dengan beberapa koper tambahan yang isinya adalah oleh-oleh untuk keluarga masing-masing.


“Nio, udah dapat infonya?” tanya Natashya yang menagih janji Anton tiga hari lalu.


Lelaki mengangguk. “Sudah.”


Natashya tersenyum lebar. “Mana?”


“Nanti aja, ya, di rumah. Kita pulang dulu, hm.”


Natashya menghela napas sebentar sebelum mengiyakan permintaan suaminya. Mungkin begitu lebih baik. Natashya butuh istirahat setelah tiga hari berkelana mengelilingi tempat wisata di Bali.


“Gila! Guys, ada informasi hot, nih!” seru Rio yang sedang fokus menatap layar ponselnya.


“Apa?” Hafi penasaran.


Rio menatap semua sahabatnya satu per satu dengan ekspresi serius. “KUCING GUE DIHAMILIN KUCING TETANGGA SEBELAH, WOI!!” pekiknya heboh.


Sontak kelima manusia yang mengelilingi Rio karena penasaran langsung bubar. Mereka tak mengindahkan berita lanjutan yang lelaki itu jabarkan.


“Bukan temen gue,” ucap Hafi.


Anton mengedikkan bahu tak acuh. “Gue nggak kenal.”


“Mau ditinggal aja?” saran Natashya bijak.


Laily mengangguk setuju. “Bagus juga.”


“Jangan!” seru Nadia. “Kita bawa aja dulu.” Ia tersenyum menyeringai. “Terus kita lempar ke laut dari pesawat, gimana? Kali aja nanti isi otaknya bertambah karena banyak makan ikan, kan?”


Mereka berempat nampak berpikir keras, kemudian manggut-manggut.


“Bagus juga idenya,” ucap Hafi, Laily, Natashya, dan Anton bersamaan.

__ADS_1


“Ya udah, yuk lempar!”


^^^To be continue...^^^


__ADS_2