KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 84 | Mulai Bekerja


__ADS_3

Update lagi!


...Happy reading:)...


.......


.......


.......


Sesuai saran dari kedua sahabatnya, pagi ini Anton bertekad untuk merubah diri menjadi lebih baik. Ia bangun pagi, salat subuh, dan mandi hingga berdandan rapi.


Sekarang Anton siap masuk ke kantor lagi.


Anton pastikan ketika Natashya-nya pulang nanti, semua hal yang sempat kacau sebelumnya sudah diletakkan kembali ke tempatnya semula.


Jika sebelumnya kegiatan pagi Anton adalah membuat sarapan untuk sang istri, hari ini Anton bersiap pergi ke kantor untuk bekerja.


Pokoknya, semua harus kembali seperti semula.


“Selamat pagi, Sayang,” sapa Anton pada cetakan foto Natashya. Yahh.. daripada menahan kangen, mending liatin fotonya.


“Kamu udah sarapan belum, ya?” pikir Anton cemas. Tak lama kemudian, ia menggeleng. Tidak mungkin, kan, mertuanya itu akan membiarkan Natashya tidak sarapan?


Ya, ya, tidak mungkin. Pasti Natashya sudah makan walaupun hanya sesuap.


Anton bangun dan meraih tas kerjanya. Pandangannya terus melekat pada foto Natashya yang tergeletak di meja. Wanita itu berpose manis di sana. Foto tersebut diambil sewaktu keduanya sedang berbulan madu ke Paris dahulu. Senyum Anton terukir, ia mengambil foto itu dan menciumnya.


Cup!


“Kamu temani aku, ya, hari ini,” katanya. Anton memasukkan foto Natashya ke dalam tas kerjanya, baru setelah itu ia turun ke lantai bawah.


“Akhirnya! ALHAMDULILLAH, YA ALLAH!” pekik Rio ketika melihat Anton menuruni tangga dengan pakaian rapi.


Anton dan Hafi menatap sahabat mereka aneh.


“Kenapa, sih, lo?” heran Anton.


Rio tersenyum lebar. “Gue seneng akhirnya lo balik kerja, Nton! Hah.. gue capek ngurusin semuanya sendiri. Meeting, berkas, pertemuan bisnis, gue mengcapek, anjir!”


“Aneh banget,” cibir Hafi.


Rio melotot. “Lo nggak ngerasain jadi gue, Kampret!”


“Dih.. waktu itu, gue, kan, bantuin lo juga!” Hafi tak mau kalah.


“Bantu dikit doang.”


“Yang penting tetep bantu, kan?” sewot Hafi.


“Serah!”


Anton berdecak melihat tingkah kedua sahabatnya. “Udah, woy! Lo pada malah berantem di sini. Lapangan masih jembar sana!” Anton berkata sembari duduk di kursi makan.


Bi Jati datang menghentikan perdebatan ketiga lelaki tersebut. Mereka tersenyum canggung pada Bi Jati, malu karena pertengkaran kekanakan mereka ditonton. “Silakan makan, Den. Biar punya tenaga buat berantemnya nanti,” kata Bi Jati setengah bercanda.


Hafi dan Rio saling berpandangan sejenak, lalu tertawa bersama. Anton hanya tersenyum kecil. Ketiganya pun makan dengan lahap.

__ADS_1


“Lo mau langsung berangkat?” tanya Rio menyelesaikan sarapannya.


Anton mengangguk seraya menyeka sudut bibirnya dengan tisu. “Lo berdua?”


“Gue mau balik dulu. Mau fokus skripsi,” jawab Hafi.


“Udah skripsi lo, Haf?” tanya Anton tak percaya.


“Hm, udah.”


“Kok, cepet banget, sih,” heran Anton.


Rio berdecak. “Lo pikir kita udah semester berapa, Bro?” tanyanya.


Anton mengingat-ingat lagi. Dua menit berpikir, ia tak bisa menemukan jawaban di otaknya. “Nggak tau,” balasnya cengengesan.


Hafi dan Rio kompak geleng-geleng. “Makanya, jangan bolos terus!” seru keduanya bersamaan.


Anton menghela napas. “Gue ijin, nggak bolos. Kalian tau, kan, alasan gue?”


Kini Rio dan Hafi yang dibuat tertegun. Ya, Anton izin berhari-hari demi menemani Natashya, istrinya.


Eh, bukan berhari-hari lagi. Tapi, hampir satu bulan lebih, mungkin.


Tak ingin suasana berubah sendu, Rio segera mengalihkan topik. Ia menepuk bahu Anton pelan. “Udah, jangan mengsedih. Nggak cocok sama lo,” ucapnya.


Hafi mengangguk setuju. “Pasang muka kangen, jatuhnya kek orang kebelet, anjir!”


“HEH!”


...❄️❄️❄️...


Beberapa pegawai yang tidak mengetahui tentang kedatangan sang CEO pun terkejut. Mereka buru-buru membungkuk hormat kepada Anton yang lewat. “Selamat datang, Pak!” sapa mereka.


Anton hanya mengangguk dengan raut datar. Ia sudah bertekad, semuanya harus dikembalikan ke titik awal. Dan, tekad itu semakin bulat sekarang.


Anton tidak akan goyah lagi!


Oh, ya! Hafi sudah pulang ke rumahnya. Lelaki itu ingin mengadakan riset mendalam agar skripsinya segera diterima. Sementara Rio pulang ke rumahnya untuk berganti pakaian baru datang ke kantor.


Anton terdiam di ambang pintu ruangannya. Mulutnya setengah terbuka dengan mata terbuka lebar. A–apa ini yang ada di depannya? Gunung kertas?!


“Parah, kan, gue bilang?”


Rio datang tiba-tiba dan sudah berdiri di belakang Anton.


“Kok, bisa sebanyak ini?” Anton masih tak percaya dengan apa yang dilihat.


Rio menghela napas berat. Sepertinya otak sahabatnya itu agak sedikit eror melihat tumpukan berkas di mejanya. “Mau gue tunjukin sesuatu nggak?” tawarnya.


Anton menghirup napas dalam-dalam, berusaha menghilangkan rasa kejut yang dialami. Ia menoleh dengan kening mengerut. “Apa?”


“Daftar kebolosan lo.”


Anton berdecak. “Gue nggak bolos!”


Rio mengedikkan bahu tak acuh. Lantas menepuk bahu Anton beberapa kali sebelum kembali ke ruangannya sendiri,

__ADS_1


“Yang sabar, ini ujian.”


...❄️❄️❄️...


Suasana di rumah Natashya sedikit heboh dari biasanya.


Heru dan Randy sedang berlomba untuk mendapatkan atensi Natashya yang hanya diam di sofa. Riana memaksa putrinya agar tidak terus berada di kamar.


Beragam cara mereka gunakan, Natashya hanya diam. Tidak menjawab sama sekali.


“Tian kapan datengnya, Bang?” tanya Heru yang kelelahan.


Randy mengecek ponselnya. “Kayaknya udah di jalan, Yah. Tadi katanya mau otw, kok.”


Heru manggut-manggut.


Riana duduk di sebelah Natashya. Ia meraih tangan putrinya dan diletakkan di perutnya. Sebuah tendangan cukup kuat bisa Natashya rasakan. Ia tertegun.


“Kamu bisa rasain tidak?” tanya Riana lembut.


Natashya mengangguk pelan. Ia mencoba menggerakkan tangannya pelan. Tendangan lain terasa lagi.


“Kamu mau juga?”


Natashya mengangguk.


“Kalau begitu kamu harus sembuh, Shya.” Riana tersenyum teduh seraya mengusap pipi putrinya. “Kamu masih bisa hamil, Sayang. Jangan sia-siakan kesempatan itu. Mungkin di kesempatan sebelumnya, Allah masih belum merestui kamu dan Nio untuk memiliki anak. Tapi, bukan berarti kalian harus menyerah, kan?”


Natashya terdiam. Kepalanya menunduk perlahan.


“Jangan menyerah hanya karena satu musibah, Sayang. Sedih boleh, tapi jangan sampai berlarut-larut seperti ini. Hidup kamu masih harus berlanjut, Shya. Ada Nio yang juga butuh perhatian kamu. Paham, Sayang?”


Tangis Natashya pecah. Heru dan Randy ikut sakit melihat keadaan Natashya. Sementara Riana yang paham segera menarik tubuh Natashya ke dalam pelukannya.


“Natashya harus bangkit! Jangan menyerah! Gagal sekali, mencoba lagi! Ya, Sayang?” tutur Riana lembut.


Iya, Bunda...


...❄️❄️❄️...


Benar kata Rio! Ini ujian!


Haaa... hayati lelah, Ma, hiks..


Anton ingin menangis rasanya. Tiga jam berkutat dengan kertas nyatanya belum cukup mengurangi jumlah tumpukan di mejanya—masih terlihat menggunung di sana, huhu.


Anton menoleh, meraih foto Natashya yang sengaja dibawa. “Sayang, aku capek banget, nih,” adunya.


Bibir Anton mengerucut kesal. “Mau makan makanan kamu, laper.”


Tidak ada jawaban.


Kalo ada jawaban, yang ada Anton langsung ngibrit dari ruangannya karena mengira ada sejenis setan yang mendekam di sana.


Anton membawa bingkai itu ke dalam pelukan. Matanya memejam, meresapi rasa rindu yang menjalar ke sekujur tubuhnya.


Aku kangen kamu, Sayangku.

__ADS_1


^^^To be continue...^^^


__ADS_2