KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 111 | Dialah Pelakunya


__ADS_3

Yeay.. update lagi, teman-teman!


Semoga tetap suka sama cerita Ay, ya. Bocoran dikit, nih—CERITA INI HAMPIR TAMAT, LHO.


Tetep dukung sampai akhir, ya.


...Happy reading:)...


.......


.......


.......


“Assalamualaikum..”


Natashya, Aisha, dan Laily masuk ke dalam ruangan berangka 11 usai mengetuk dan mengucap salam. Ketiganya memasang senyum manis khas di bibir masing-masing, menyapa sang penghuni ruangan yang memandang ketiganya.


“Wa‘alaikumsalam,” jawab Alka. Ia tersenyum tipis melihat sosok kakaknya, cinta pertamanya, dan sahabatnya hadir menjenguk dirinya. Alka kesepian di sini soalnya. “Kalian ke sini?”


Aisha mengangguk. Ia mendekat dan memeluk Alka erat. “Gue bawakan makanan buat lo. Kita makan bareng, yuk,” ajaknya.


“Tapi, aku baru aja makan, Sha.”


Aisha sok kecewa dengan muka sedih. “Yah.. padahal gue bawa makanan kesukaan lo, lho.”


“Apa emang?”


“Takoyaki.”


Alka tersenyum cerah. “Ayo makan, Sha!”


...❄️❄️❄️...


“Wah, iyakah? Jadi, lo ada satu temen di sini?” tanya Laily senang.


Alka mengangguk. “Iya, dia temanku satu-satunya.”


Aisha ikut nimbrung, menanggapi kemajuan adiknya dengan antusias. Sementara Natashya hanya menyahut seadanya.


Bisa bersosialisasi dengan orang luar selain keluarga itu suatu kemajuan, lho, bagi penderita depresi seperti Alka ini. Jadi, sebisa mungkin kita terus mendukung mereka, oke?


Ay doakan semoga orang-orang yang bernasib sama seperti Alka diberi semangat yang besar untuk sembuh. Cara paling ampuh untuk bisa sembuh bagi orang yang sakit dalam situasi seperti ini berasal dari penderita itu sendiri.

__ADS_1


Kalau dia semangat untuk sembuh, pasti bisa, kok. Jadi, sebagai keluarga, sahabat, dan orang terdekat, kita harus memberi mereka dukungan. Jangan malah kebalikannya, ya:)


“Oh, ya, katanya... Natashya udah nikah, itu bener?” tanya Alka sendu.


Natashya tersenyum kecil, kepalanya mengangguk. “Iya, Al. Gue udah nikah sekitar satu setengah tahun yang lalu.”


Sudah lama ternyata.


Alka manggut-manggut saja. Tidak mungkin ia protes jika hubungan Natashya dengan suaminya sudah selama itu. “Apa aku kenal suami kamu?” tanya Alka.


Natashya bergumam pelan, berpikir sejenak. “Kayaknya, sih, nggak.”


“Oh.” Alka beralih menatap Laily. “Kamu udah nikah belum, Ly?”


“Udah, Al. Baru beberapa minggu yang lalu,” jawab Laily dengan senyum manisnya. Mendadak ia jadi rindu Hafi.


“Wah, selamat, ya, Ly. ” Alka tersenyum tulus. “Terus kamu kapan?” Alka beralih menatap Aisha lekat. Bagaimanapun, kakaknya itu berhak bahagia. Sudah cukup pengorbanan yang Aisha buat untuknya. Gadis itu rela banting tulang hanya demi membiayai kehidupan Alka sejak dulu.


“Gue?” Aisha tersenyum miris. “Entahlah, Al. Gue mah ikut alur aja.”


“Iya dong. Aisha, kan, lagi nungguin Kak Yosua peka,” goda Laily dengan alis naik-turun. Aisha mendengkus, lantas mendorong pelan sahabatnya itu.


Kenapa terang-terangan sekal—


“PERGI! PERGIII! JANGAN GANGGU AKU! KAMU JAHAT!!” teriak Alka histeris. Air mata lelaki itu mengurai deras menuruni pipi. Kedua tangannya mencengkeram rambut frustrasi, hampir seperti menjambak.


“JANGANN! JANGAN BUNUH AKU! AAAA!!!”


Deg!


Aisha menutup mulut dengan kedua tangannya, merasa tak percaya dengan kenyataan yang baru terungkap saat ini. Cairan di pelupuk matanya berjatuhan satu per satu, menciptakan aliran sungai di pipi.


Ja–jadi.. Kak Yosua yang ngebuat Alka depresi?


...❄️❄️❄️...


Setelah mendapat penanganan dari pihak rumah sakit, Alka kembali anteng karena suntikan penenang dari Faisal, salah satu dokter psikiater di sana. Kalian masih ingat, kan, sama dia?


Di cafe dekat RSJ Harapan, Aisha duduk termangu di salah kursi yang kosong. Natashya dan Laily hanya bisa memberi ucapan penyokong semangat dan pelukan hangat untuk memberi kekuatan kepada gadis itu, sahabat mereka.


“Udah, Sha. Jangan nangis terus dong,” pinta Laily tak tega. Pasalnya, air mata Aisha seolah berubah menjadi mata air, terus menetes tanpa henti.


“Sha, seenggaknya kita udah tau penyebab Alka depresi. Yang perlu kita fokusin sekarang adalah kesembuhan Alka, itu aja yang perlu lo pikirin,” nasihat Natashya bijak. Ia pun sama tak menyangkanya dengan Aisha.

__ADS_1


Kenapa Yosua begitu tega dengan Alka?


“Gue masih nggak bisa percaya, Shya.” Aisha menghembuskan napas berat. Bak terhimpit, dadanya terasa sesak bukan main. Sekadar bernapas pun terasa sulit. “Cowok yang gue suka sewaktu SMA, Kak Yosua yang gue kenal, ternyata penyebab hancurnya mental adik gue.”


Natashya meraih jemari Aisha, mengusap pelan di punggung tangan. “Sesuatu yang keliatan baik-baik aja di mata kita, belum tentu baik-baik aja di mata orang lain, Sha. Kadang mata kita juga bisa menipu, nggak semua yang kita liat itu adalah kebenarannya.”


Natashya menghirup napas banyak-banyak sebelum melanjutkan kalimatnya. Biasa, persiapan karena penjelasan kali ini lumayan panjang.


“Mungkin di mata kita, hidup Kak Yosua itu sempurna. Dia keturunan keluarga kaya, anak tunggal, dan selalu tersenyum setiap kita ketemu. Tapi, nggak ada yang tau kayak gimana perasaan Kak Yosua yang sebenarnya selama ini.”


“Bisa aja dia tersenyum untuk menyembunyikan luka. Dia tersenyum untuk menyembunyikan rasa sakit. Ada banyak kemungkinan yang ternyata adalah fakta kehidupan yang kita nggak tau soal Kak Yosua. Jadi, lo, gue, ataupun siapa pun nggak punya hak buat nge-judge Kak Yosua, Sha.”


“Dia pasti punya sesuatu yang besar, sesuatu yang kita nggak tau waktu kita sahabatan. Dan, sesuatu itu udah nyiksa Kak Yosua selama ini.”


“Kita nggak pernah tau, Sha, gimana rasanya ada di posisi Kak Yosua. Jadi, lo jangan berprasangka buruk dulu sebelum kita tau cerita versi Kak Yosua,” tambah Natashya mengakhiri uraiannya.


Aisha tertegun. Ucapan panjang Natashya begitu menohok ulu hatinya. Pada akhirnya, gadis itu hanya bisa menunduk dan terisak. Merasakan pedih yang luar biasa.


“Kenapa, hiks.. apa salah Alka sama Kak Yosua? Hiks.. kenapa dia, hiks.. ngelakuin itu sama Alka? Hiks..” ucap Aisha terbata-bata di sela isakannya.


Laily pun mengambil inisiatif, ia meraih tubuh Aisha dan mendekapnya erat. “Kita cari solusinya sama-sama, ya,” bisiknya.


“Kita berdua pasti bantu lo biar Alka cepat sembuh, kok, Sha,” tambah Natashya.


Aisha mengangguk pelan di pelukan Laily. Sepasang matanya terpejam, berusaha menetralkan perasaannya yang tercampur aduk.


Makasih karena selalu ada buat gue, Shya, Ly. Kalian sahabat terbaik gue..


...❄️❄️❄️...


Sorot mata tajam, kedua tangan terkepal, kepala yang panas, dan hati penuh ketidakterimaan.


Itu yang Aisha rasakan dan lakukan


Kalimat Natashya memang ia dengarkan dan pahami dengan baik. Namun, sebagai seorang kakak, dia tetap tidak terima Alka diperlakukan semena-mena.


Aisha akan membalas perbuatan Yosua. Dan, itu dibuktikan dengan tindakan gadis itu yang berdiri di depan rumah yang merupakan milik Yosua malam-malam.


Jangan ditanya dia dapat alamat Yosua dari mana. Lelaki itu ternyata menempati rumah yang sama sejak SMA dahulu.


“Gue akan balas lo...”


“Yosua Sialan...!”

__ADS_1


^^^To be continue...^^^


__ADS_2