KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 95 | Bertemu Aisha


__ADS_3

Update dong!


Tetap tersenyum dan selalu bahagia. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan😄


Ay sayang readers..


Readers sayang sama Ay tidak?


...Happy reading:)...


.......


.......


.......


“Mau ke mana kalian?” tanya Rio yang melihat ketiga perempuan yang berada di villa, tempat mereka menginap, sudah berpakaian rapi.


Laily dan Nadia tersenyum lebar. “Mau jalan-jalan dong,” jawab keduanya bersamaan. Sementara Natashya hanya mengangguk, membenarkan perkataan sahabatnya.


“Bertiga aja?” tanya Hafi yang kebetulan juga ada di sana.


“He’em. Nggak pa pa, kan, Yang?” pinta Laily sangat berharap.


“Nggak pa pa, sih.”


“Yes!”


“Nio mana?” tanya Natashya yang tidak melihat keberadaan sang suami di antara Rio dan Hafi. Biasanya, Anton, Rio, dan Hafi selalu bersama ke mana-mana.


Udah kayak pengantin baru aja—eh?


Rio mengedikkan bahu tak tahu. “Seinget gue, sih, tadi dia angkat telepon. Tapi, nggak tau sekarang ke mana. Lama bener.”


Natashya beralih menatap pintu kamarnya dan Anton, ada celah kecil di sana. Kemungkinan Anton sedang ada di kamar mengerjakan sesuatu. “Gue ke kamar bentar.”


Tanpa menanti jawaban siapa pun, wanita yang berstatus istri Antonio itu bergerak menuju kamar yang dihuni. Ia ingin meminta izin terlebih dahulu sebelum pergi keluar.


“Nio?” panggil Natashya seraya mendorong pelan bingkai pintu.


Pintu terbuka, sosok lelaki dengan punggung tegap itu tengah membelakangi Natashya. “Nio?” panggil Natashya sekali lagi.


Anton menoleh dan tersenyum. Ia menaruh ponselnya di meja, lalu berjalan mendekati sang istri. “Kenapa, hm?”


Natashya menatap ponsel Anton sekilas. “Kamu kerja, ya?” tanyanya penuh selidik. Bukankah sebelumnya ketiga lelaki itu sudah sepakat untuk tidak membahas pekerjaan selama di Bali?


Lalu ini apa, huh?


Anton terkekeh pelan. “Papa yang telepon, Sayang.”


Natashya ber-oh ria saja. Ternyata papa mertuanya, toh. Hm, sudah cukup lama ia tidak bertegur sapa secara langsung dengan Tio. Sepertinya, Natashya harus berkunjung ke rumah Nia dan Tio setelah pulang nanti.

__ADS_1


“Kenapa nyariin aku, Yang?”


Natashya teringat tujuannya kemari. “Aku, Laily, sama Nadia mau keluar sebentar, boleh?”


Anton mengerutkan dahi. “Mau ke mana?”


“Jalan-jalan aja, cari sovenir. Boleh, kan?” pinta Natashya penuh harap.


“Nggak mau sama aku aja?”


Natashya bergumam pelan, otaknya bekerja keras mencari alasan terbaik dan terlogis. “Mau sama mereka aja, nggak pa pa, kan?” Heh.. alasannya nggak ketemu.


Jujur, sih, Anton sebenarnya berat sekali untuk mengizinkan. Ia tidak mau istrinya jadi objek perhatian para lelaki hidung belang di luar sana. Sayangnya, binar antusias di mata Natashya sukses mengacaukan isi kepalanya.


Anton mana bisa berkata tidak kalau Natashya terlihat sebahagia ini!


“Iya, tapi jangan lama-lama, ya. Nanti aku kangen, gimana?” Anton pasrah juga.


Bibir Natashya melengkung sempurna tanpa bisa dicegah. Ia merengkuh tubuh Anton dan menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri. “Terima kasih, Nio.”


Mau tak mau, Anton ikut tersenyum bersama sang istri. “Tapi, kamu harus ingat beberapa hal kalo mau keluar, Sayang.”


“Hm? Apa?”


Anton menerangkan beberapa kalimat wajib untuk dihafalkan oleh Natashya. Wanita itu mendengarkan dengan khusyuk walaupun dalam hati ia sedang berusaha maksimal menahan tawanya yang ingin tersembur keluar.


“Paham?” tanya Anton memastikan. Natashya manggut-manggut patuh. “Oke, aku uji dulu.” Lelaki itu menghirup napas sebelum memulai ujian penting ini, “Kalau ada laki-laki yang dekati kamu, kamu bilang apa?”


“Kalau ada laki-laki yang bilang kamu cantik, kamu balas apa?”


“Terima kasih, Mas, saya tau kalau saya cantik.”


“Kalau ada laki-laki yang minta nomor ponsel kamu, kamu jawab apa?”


“Maaf, Mas, ponsel saya rusak.”


“Kalau ada laki-laki yang genit sama kamu, kamu lakuin apa?”


“Maaf, Mas, kalau Mas lancang, nyawa melayang. Terus tampar mukanya atau tendang pantatnya.”


Anton tersenyum puas. “Oke, kamu siap pergi keluar tanpa aku. Selamat bersenang-senang, Sayangku.”


Cup!


Biarkan saja, lah, ya. Yang penting pasutri fenomenal kita bahagia, udah gitu aja.


...❄️❄️❄️...


Sesuai rencana, Natashya, Laily, dan Nadia berkeliling di area sovenir untuk mencari buah tangan yang patut dibawa pulang. Ada sanak saudara di rumah yang berharap mendapatkan oleh-oleh dari mereka. Yah.. keluarga emang selalu begitu, kan?


“Gila! Pernak-perniknya bagus-bagus. Gue pengen borong semua,” keluh Laily yang merasa kurang puas dengan barang beliannya. Ia ingin tambah lagi, tapi tidak enak dengan Hafi.

__ADS_1


Masalahnya, semua biaya yang Laily keluarkan di Bali ditanggung oleh Hafi. Kata lelaki itu, sih, uji coba menjadi suami idaman dengan memberi nafkah lebih awal.


Hei, emang ada, ya, yang seperti itu?


Ay juga mau, huhu.


“Ya udah, borong aja,” jawab Nadia enteng.


“Hufftt.. gue nggak enak sama Kak Hafi,” cicit gadis itu.


Laily dan Nadia terlibat percakapan setengah-serius-setengah-santai. Semenjak Nadia hadir di lingkaran persahabatan mereka, Laily jadi merasa gembira karena ia punya teman yang satu frekuensi.


Tidak seperti Natashya yang datar-datar saja.


Walaupun sifat Natashya lebih lembut dari yang dulu, tapi, kan, sifat dingin wanita itu masih tetap bersisa.


Yang namanya sifat alamiah itu tidak akan pernah hilang apa pun yang terjadi. Sama seperti kasus Natashya ini.


Karakter dingin Natashya adalah sifat alamiah wanita itu. Sementara karakter lembut Natashya hanyalah sifat bentukan. Karakter alamiah Natashya tidak akan pernah hilang sepenuhnya, itu pasti! 100% yakin!


Natashya menatap kedua sahabatnya dengan tatapan tidak tertarik. Pembicaraan mereka terlalu absurd. Dia mengedarkan pandangannya ke penjuru lokasi sovenir, mencari barang yang menarik minatnya.


Deg!


Kedua mata Natashya terpaku pada sosok gadis yang berdiri di dekat pohon. Gadis yang akhir-akhir ini menjadi objek pertanyaannya itu kini ada di hadapannya. Dilihat dari gerak-geriknya, gadis itu sedang menelepon seseorang.


“Aisha...” gumam Natashya lirih.


Tanpa memberitahu Laily maupun Nadia, Natashya bergegas menghampiri sosok yang diyakini adalah Aisha, sahabatnya dulu. Posisi gadis itu yang membelakangi dirinya membuat Aisha tidak mengetahui keberadaan Natashya.


Natasya menyentuh bahu Aisha pelan. Gadis itu sadar dan berbalik. Tatapan keduanya bertemu dan saling membola satu sama lain.


“Natashya?!”


“Aisha?”


^^^To be continue...^^^


...❄️❄️❄️...


Halo semua pembaca!


Ay ingin ucapkan banyak terima kasih untuk semua pembaca yang antusias dengan cerita ini. Jumlah views yang naik drastis ngebuat Ay jadi semangat buat ngetik. Kalian emang the best, lah!


Padahal, dulu Ay kesulitan buat cari pembaca. Ternyata, caranya sesimpel ini.


Cukup rajin nulis dan cerita kita bisa dipromosikan. Uh.. kalau tahu begitu, udah dari awal Ay nulis maraton.


Tapi, Ay ini masih pelajar. Jadi tidak bisa terlalu fokus dengan ketikan. Ay lebih fokus dengan pendidikan. Doakan saja semoga Ay selalu sehat dan selalu mood agar ide di otak Ay selalu mengalir seperti Pipa Rucika, wkwkw..


See you di chapter selanjutnya:)

__ADS_1


__ADS_2