
Sarah bingung sama perasaannya sendiri. Sarah ga bisa berbuat apa-apa. Nattan sedari fokus melihat Sarah. Membuat Sarah semakin terluka karna, perasaannya yang tak tersampaikan.
Abdul langsung berbaring di lantai Rumah Sarah dan yang lain. Abdul kenyang banget. Di luar hujan masih turun dengan derasnya, tak ada tanda tanda akan reda. Hari semakin malam. Membuat mereka diam kembali.
Udara di luar begitu dingin masuk rumah para gadis. Pintu rumah itu, sedari tadi di buka. Karna tak ingin timbul fitnah. Sebenarnya di komplek perumahan ini. Sangat cuek dan masing masing. Mereka tak peduli dengan apa yang di lakukan tetangganya.
Sampai sekarang, Sarah, Aqila, Alea dan Renata tak pernah tau, dengan tetangga depan rumah maupun samping rumah mereka. Perumahan ini, selalu sepi walau bisa di akses oleh jalan umum.
Tetangga di sini, saling kurang peduli. Hanya saja, Sarah ingin menghormati etika dalam bertetangga. Apalagi yang datang ke Rumah para gadis ini, Lima pemuda bukan muhrim sama sekali.
Perumahan ini, di sebut etit tidak, di sebut biasa tapi rumah di sini begitu mewah dan harganya begitu Funtastic. Ga banyak, yang bisa membeli rumah di komplek ini.
Sarah, mengosok gosok lengannya. Sarah begitu terasa dingin. Nattan memperhatikan itu. Tak hanya Sarah yang lain juga sama. Angin yang masuk melalui pintu begitu besar. Sampai-sampai semua hampir bertebrangaan.
"Kita tutup pintunya, air hujan di luar udah masuk, Aku janji sama kalian ga akan macam macam" guman Nattan tiba tiba.
"Bener tuch, aku dah mulai kedinginan nih" guman Rojak yang sudah mulai menggigil.
"Boleh dech, lagian di rumah ini, ada sisiTv. Kalo kalian macam macam langsung lapor polisi!" seru Aqila.
Sarah menganguk. Nattan pun menutup pintu rumah Sarah.
Renata beranjak, "Ini batas kita yah. Kalo kalian berani melewati habis kalian" gerutu Renata sambil mengangkat tangannya yang hendak memotong lehernya sendiri.
Renata, menarik kursi ruang tamu, sebagai batasan antara laki laki dan perempuan. Di rumah ini, masih mati lampu, Renata dan kawan-kawan tak bisa tidur di kamar mereka masing masing.
"Re, kita ambil kasur lipat di lemari aku yuu, sakit kalo tidur beralaskan karpet" pinta Sarah pada Renata.
Renata menganguk.
"Ga usah repot repot Sar, kita tidur di lantai saja" guman Reno sambil tersenyum.
"Kamu kepedean, bukan buat kalian, tapi buat kita" guman Renata melangkah menyusul Sarah sudah jalan duluan.
"Sar, boleh minta selimut aja kita, aku kedinginan nih!" seru Rojak.
Sarah menoleh, menganguk sambil tersenyum. Sarah kembali berjalan di depan di ikuti Renata. Sarah sudah tak tahan benar tak tahan. Nattan sudah mengangu konsentrasinya.
Nattan membaringkan tubuhnya sejenak di lantai rumah para gadis. Permainan itu, sudah tak berlanjut lagi. Abdul sudah tidur karna, kekenyangan. Rojak masih menggigil kedinginan. Rojak menang tak tahan dengan udara dingin. Apalagi saat hujan seperti ini. Yang sedari tadi tak berhenti-henti.
Habibie, masih memperhatikan Alea. Alea sedang mengobrol dengan Aqila. Entah apa?, yang diobrolkan Alea dan Aqila itu. Mereka berbisik-bisik. Membuat Habibie penasaran.
__ADS_1
Sedangkan Reno, malah mengikuti Renata dan Sarah dari belakang. Hati Nattan, puas kali ini. Memandangi Sarah, lebih dekat dari biasanya.
Renata cemberut saat Reno mengikuti Sarah dan Renata.
"Mau apa sih, mengikuti kita?" tanya Renata sebal.
"Aku bosan!"
Sarah tersenyum, walau hatinya resah. Karna, Nattan sedari tadi melihat Sarah tanpa memalingkan wajahnya. Hanya satu, pandangan Nattan tertuju pada Sarah.
"Sar, Aku boleh tanya sesuatu?" tanya Reno tiba-tiba.
"Kamu mau tanya apa?" balik tanya Sarah. Sudah sampai di pintu kamarnya untuk mengambil kasur lipat.
Renata masih menyinari Sarah dan Reno dengan cahaya dari ponsel Aqila.
"Apa kamu, suka Nattan?" tanya Reno serius.
Deg.
Hati Sarah, merasa terganggu dengan pertanyaan Reno. Walau perkataan Reno itu, ada benarnya juga. Sarah menang memnyukai Nattan. Namun apa dayanya. Mau tak mau, Sarah harus melupakan perasaan itu, didalam hatinya.
"Kamu nanya apa'an sih?" bisik Renata pelan, takut Sarah mendengar.
"Emang aku salahnya!" seru Reno bingung dengan pertanyaannya, yang membuat Sarah jadi melamun. Masih berbisik-bisik dengan Renata.
"Salah tau!"
"Sarah..."
Belum sempat Reno melanjutkan kata-katanya Sarah keburu menoleh. Membuat Reno dan Renata diam seketika.
Tiba tiba saja, ponsel Aqila mati membuat Renata menjerit.
"Aaaaaaaaaa"
Reno buru buru mengambil ponsel di saku celananya dan menyalakan senter di ponselnya.
Renata bernafas lega, ada cahaya dari cahaya ponsel Reno.
"Untung ada kamu" guman Renata, merasa lega. Renata benar-benar takut gelap.
__ADS_1
"Kalau aku ga ikut ke sini, kamu bakalan menangis. Untungkan aku ikut" guman Reno bangga.
Sarah mengelengkan kepalanya. Karna kelakuan Renata.
"Iya, untung ada kamu, terima kasih yah" ucap Renata. Sangat berterima kasih sekali pada Reno karna, ada Reno kegelapan yang mencekam ini, bisa diatasi.
Mendengar suara jeritan Renata, Habibie Nattan, Aqila dan Alea segera berlari ke arah suara itu. Takut terjadi apa apa dengan mereka.
Aqila membuka pintu kamar Sarah disinari dari cahaya lilin yang Alea bawa. Habibie dan Nattan mengikuti dari belakang.
"Kalian ga apa apa?" tanya Aqila kwatir, setelah membuka pintu kamar Sarah.
Renata tersenyum malu sendiri sudah membuat teman temanya kwatir.
"Kita ga apa-apa?, Nih ci Rere rempong saat senter di ponselnya mati" jelaskan Reno.
"Syukurlah kalau, kalian tak apa-apa?" guman Alea.
Tiba tiba saja, listrik dari rumah mereka menyala. Wajah Nattan begitu menyilaukan Sarah. Nattan begitu jelas terlihat jelas dimata Sarah. Begitu juga, Nattan sangat jelas sekali melihat wajah cantik Sarah. Membuat Nattan, benar-benar jatuh cinta pada Sarah.
"Alhamdulillah akhirnya, nyala juga" guman Alea dan juga Renata.
Alea meniup cahaya lilin yang di bawanya. Reno juga mematikan senter yang berada di ponselnya.
Sarah masih menarik kasur lipat, yang berada di lemarinya. Sangat susah, Nattan dengan sigap melewati Habibie, Alea, Aqila, Reno, dan Renata untuk membantu Sarah.
Sarah begitu terkejut saat, Nattan kini ada di sampingnya membantu Sarah. Dengan sekali tarikan! kasur lipat itu, keluar dari lemari membuat Sarah terjatuh karna dorongan dari kasur lipat itu, yang membuat Sarah duduk di lantai. Karna, kasur lipat itu, menimpa tubuh Sarah.
"Maaf" guman Nattan mengangkat kasur lipat itu dari tubuh Sarah.
"Ga apa apa!" Sarah buru-buru bangkit tak ingin Nattan membantu Sarah. Sarah tak ingin anggota tubuhnya di pegang Nattan yang bukan muhrimnya seperti tadi. Tak sengaja tangan Sarah dan Nattan bersentuhan karna, Sarah memberikan mangkuk berisi mie dan telor ceplok itu, pada Nattan.
Renata, Reno, Alea, Aqila dan Habibie jadi penonton di belakang Sarah dan Nattan. Mereka senyum- senyum sendiri. Terlebih Reno, sudah tau dengan pertanyaan yang Reno tanyakan pada Sarah. Reno sudah tau jawabannya tanpa harus Sarah menjawab.
Bersambung....
Maaf telat UPP 🙏🙏🙏🙏🙏 tadi ada urusan dulu, Terima kasih sudah setia menunggu.
Like nya jangan lupa.
Mampir juga, sama karya Author yang lain "Ketika Cinta Menemukan Jalanya" dan "Irani Gadis Indigo" Terimakasih.
__ADS_1