KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 108 | Kedatangan Yosua


__ADS_3

“Sayang, kamu mikirin apa, sih? Dari tadi, kok, ngelamun terus,” ungkap Anton yang merasa sikap Natashya malam ini sedikit berbeda dari biasanya.


Natashya memberikan senyum tipisnya, memberitahukan kalau dirinya baik-baik saja. Berbanding terbalik dengan kelakuan wanita itu yang memang agak aneh sejak kemarin.


Tidak ada lagi obrolan manis yang terjalin antara Anton dan Natashya. Kedua insan tersebut seolah tengah asyik marah-marahan, padahal faktanya tidak ada masalah yang merenggangkan hubungan.


Aneh bukan?


“Sayang, ih. Aku ngambek, lho, ini,” rajuk Anton kesal. Ia, kan, ingin dimanja lagi seperti malam-malam sebelumnya.


Natashya menghela napas sejenak. “Aku kepikiran sama Kak Yosua, Yo.” Pasrah, deh. Akhirnya, Natashya lebih memilih untuk berkata jujur. Daripada lelaki itu makin merengek yang tidak-tidak.


Kedua mata Anton membelalak. “Jadi kamu mikirin dia, Shya?” pekiknya tak percaya.


Natashya mengangguk. “Iya, soalnya—”


“Kamu mikirin cowok lain di depan aku?!” tambah Anton dengan suara melengking. “Wah, kamu mulai berani, ya, sekarang.”


Glek!


Natashya bergerak mundur perlahan. Dia baru sadar telah melakukan kesalahan. Tidak seharusnya ia mengucap nama lelaki lain atau mengaku tengah memikirkan lelaki lain di depan suaminya. Tentu itu akan menyakiti perasaan Anton.


Dan, menghancurkan nasib baiknya malam ini.


“Maksud aku bukan gitu, Yo. Aku cu–cuma penasaran aja sama sikap Kak Yosua, nggak lebih,” bela Natashya.


Sebagai calon psikolog, memperhatikan kondisi mental orang-orang di sekitarnya tentu menjadi kesenangan tersendiri bagi Natashya. Wanita itu ingin memastikan orang-orang tersayangnya sehat luar dalam, fisik dan juga mentalnya.


Penyakit fisik akan selalu ada cara untuk disembuhkan dengan metode ataupun obat-obatan. Lalu, bagaimana dengan penyakit mental?


Tidak ada obat yang pasti untuk penyakit itu. Hanya beberapa obat penunjang saja. Sisanya, tergantung terapi dan keinginan pasien untuk sembuh.


Melihat sikap Yosua di depan gedung perkantoran AG Group mengundang rasa penasaran yang besar di kepala Natashya. Seandainya lelaki itu hanya berdiri sembari mengamati, mungkin Natashya tidak akan sekepo ini. Masalahnya, lelaki itu berdiri sembari menatap tajam dan memegang pisau.


Sudah seperti orang yang berniat membunuh manusia lainnya saja.


“Aku nggak peduli alasan kamu apa! Pokoknya, aku nggak suka kamu mikirin cowok lain, Shya!” seru Anton seraya melangkah maju, mendekati sang istri. “Kamu harus dihukum malam ini.” Menyeringai licik.


“Tapi, kan—AAA..! NIO!”


...❄️❄️❄️...


Pagi ini, Natashya terbangun lebih awal dari biasanya. Pukul tiga pagi. Perutnya terasa lapar.


Uhh.. kayaknya makan ayam geprek enak juga.


Bayang-bayang ayam crispy yang diulek dengan sambal berputar-putar di kepala Natashya. Wanita itu sudah ngiler sendiri dan ingin segera memakannya.


“Nio? Nio, bangun.” Natashya mengguncang bahu terbuka Anton yang masih tidur pulas di sebelahnya. Tubuh keduanya polos tanpa busana—kalian tahu, lah, hukuman macam apa yang Anton kasih semalam.


Anton menggeliat. Kelopak matanya terbuka perlahan. “Kenapa, sih, Shya? Ini masih malem, tidur lagi, ya.” Ia menarik Natashya ke dalam pelukan, lantas memejamkan mata semula, berniat untuk kembali mengarungi dunia mimpi.


“Nio, aku mau makan ayam geprek,” pinta Natashya manja. “Buatin dong.”


“Nanti pagi aku buatin, ya. Ini masih malam, Sayang, hoaamm...” Anton sampai menguap saking ngantuknya.


“Tapi, aku maunya sekarang, Nio..” Natashya mulai merengek. Ia mengusap-usap ujung hidungnya ke dada bidang lelaki itu. “Please...”


“Hmm..” Anton yang tak tahan dengan perbuatan Natashya segera membuka mata. Jika wanita itu terus mengusap tanpa henti, bisa-bisa ada season dua percintaan panas yang menggai*ahkan. “Ya udah, ayo.”

__ADS_1


Anton pasrah saja, lah. Daripada Natashya ngambek, kan?


Lagian, lelaki itu sudah sedikit terbiasa. Tingkah Natashya ini telah tercipta semenjak tiga minggu lalu. Suka minta makan pagi-pagi buta.


“Nio,” panggil Natashya di sela kegiatan memasak Anton.


“Hm?”


“Nanti aku mau main ke rumah bunda, boleh?”


Anton membalikkan badan. Dahinya mengerut bingung, namun matanya masih terlihat sayu. Uh, perpaduan yang menggemaskan di mata Natashya. “Tumben mau ke sana.”


“Iya, mau liat Baby Aruna.”


Anton manggut-manggut saja, paham dengan alasan istrinya. “Ya udah, nanti aku anterin.”


“Nggak usah, Yo. Aku pake mobil sendiri aja. Jadi, nanti gampang kalo mau anter makan siang buat kamu.” Natashya menolak tawaran Anton. Dia tidak mau jika harus dibuat menunggu hanya karena taksi online yang selalu cari alasan agar terus dimaklumi keterlambatannya.


“Ya udah.” Anton tak lagi membantah. Takutnya, mood Natashya malah anjlok dan berimbas dengan kegiatan panas mereka. Yang rugi, kan, gue.


Duh, Bang Anton mah udah nggak malu buat ngaku😅


Tidak butuh waktu lama, seporsi nasi hangat dengan lauk ayam geprek tersaji di hadapan Natashya. Wanita itu menyantap dengan lahap, rasanya enak luar biasa.


Memang, sih, masakan Anton tidak pernah mengecewakan.


“Hadiah aku mana?” tanya Anton.


Natashya yang kekenyangan hanya menoleh dengan alis terangkat sebelah, ia tidak paham soal hadiah yang Anton maksud. Dia, kan, tidak menjanjikan apa pun sebelumnya.


“Hadiah apa?” tanya Natashya.


“Oh, ya udah. Nanti pagi aku buatkan makanan spesial buat kamu.”


Bushh!


Bayangan di kepala Anton langsung buyar. Hadiah yang diberi tidak sesuai ekspektasi. Hah.. Anton kecewa, huhu😢


“Iya, deh,” balas Anton lesu. Ia berbalik menuju kamar tanpa menunggu Natashya yang menaruh piring kotor di wastafel.


Istri Anton itu terkikik geli. Dia tahu persis hadiah seperti apa yang lelaki itu inginkan. Natashya hanya berniat mengerjainya sebentar.


Tak ingin membuat suaminya menunggu lama, Natashya lekas menyusul Anton ke kamar. Lelaki itu tengah berdiri di dekat nakas seraya memainkan ponsel, masih belum menyadari kehadiran Natashya di sana.


Dengan langkah sesenyap mungkin, Natashya bergerak memeluk Anton dari belakang. Ia bisa merasakan tubuh suaminya menegang sesaat. “Ada yang kecewa, nih,” godanya.


“Nggak, kok. Aku nggak kecewa,” bantah Anton gugup.


Natashya menarik sebelah sudut bibirnya, tersenyum miring di balik punggung Anton. “Aku nggak sebut nama kamu.”


Sial! Anton terjebak.


Natashya berpindah hingga berdiri di depan Anton. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga lelaki itu selepas mengecup bibir Anton singkat. Natashya berbisik,


“Mau main berapa ronde, Sayang?”


...❄️❄️❄️...


Siang ini, Anton dibuat sibuk dengan tumpukan berkas di mejanya. Ada beberapa pihak yang ingin mengadakan kerja sama dengan perusahaan AG Group. Itulah alasannya dia harus lembur malam ini.

__ADS_1


Namun, walaupun harus lembur, semangat Anton masih berkobar hingga detik ini. Senyum Anton masih belum hilang sejak pagi. Agak ngeri buat orang yang belum pernah lihat, hehe.


Di kepalanya masih terputar rekaman ingatan pagi buta tadi. Natashya memberi hadiah berupa pelayanan yang memuaskan. Bahkan, wanita itu tak malu lagi ketika memimpin permainan mereka.


Ah, Anton jadi makin sayang dengan istri uniknya itu.


Ceklekk...


Anton mendongakkan kepalanya, menatap sosok yang masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk atau meminta izin. “Tolong ketuk pintunya—”


Bungkam.


Anton terdiam melihat lelaki yang datang ke ruangannya. “Yosua?” sebutnya.


Yosua menyeringai. Tatapan lelaki itu sangat tajam dan tertuju pada Anton, seolah ingin menghabisi lelaki yang menjabat sebagai suami Natashya itu dengan tatapannya. “Halo, Antonio.”


“Ngapain lo ke sini?” Anton menegakkan lututnya cepat. Alarm kewaspadaan di kepalanya berbunyi, ada bahaya yang mengancam di depannya.


“Jauhin Natashya!” suruh Yosua dengan nada dingin.


Anton membelalakkan matanya. Apa ia tidak salah dengar? Yosua memintanya menjauhi Natashya? Istrinya sendiri?


Nih, cowok emang gila beneran.


“Lo siapa sampe ngatur-ngatur gue? Natashya istri gue, gue nggak akan pernah jauhin dia!” balas Anton tak kalah dingin.


Yosua terlihat emosi. Wajah lelaki itu memerah menahan amarah. Dari balik tubuhnya, lelaki itu mengambil sebilah pisau tajam yang mengilat. Seketika Anton dibuat siaga.


Ini terlalu bahaya!


“Lo nggak pantes buat Natashya!” teriak Yosua geram. “Gue akan singkirin lo sama seperti gue singkirin dia dari hidup Natashya!”


Yosua maju dengan langkah cepat. Ia melayangkan pisaunya ke arah Anton.


Anton memilih untuk menghindar. Bukannya tidak berani melawan, hanya saja Anton masih memikirkan risiko dari insiden ini jika ia memaksakan diri.


Bagaimanapun, dia kalah dalam hal persenjataan. Yosua memegang pisau di tangannya. Dan, itu harus disingkirkan lebih dahulu.


Yosua terus menyerang, sementara Anton tetap mengelak tanpa melawan sama sekali. Berteriak meminta bantuan pun tidak ada gunanya. Ruangan CEO AG Group didesain dengan fitur kedap suara.


Sekencang apa pun suara Anton, tidak akan terdengar dari luar.


Anton hanya berharap ada orang yang datang. Entah itu Rio atau karyawan lainnya.


Srekk!!


“Akkh!” desis Anton kesakitan. Lengannya yang hanya terbalut kemeja biru tergores panjang.


Yosua menatap puas melihat tetesan darah yang jatuh ke lantai. Tidak ada rasa sesal di binar mata lelaki itu. Rasanya sangat menyenangkan melihat darah segar yang mengalir di lengan Anton.


“Lo gila, Yosua! Dasar psikopat!” cerca Anton yang masih menahan diri untuk tidak berbuat lebih.


Yosua tertawa jahat, terdengar bengis dan kejam. “Gue? Psikopat? Hahaha...”


Dia memang gila. Bener kata Natashya, ada masalah sama cowok ini.


Seringaian Yosua kembali terpasang. Ia mendekat dengan gerakan cepat dan bersiap menusuk Anton dengan pisaunya.


“YOSUA!”

__ADS_1


^^^To be continue...^^^


__ADS_2