
“Gimana?”
Natashya menoleh dengan alis menyatu, bingung dengan pertanyaan singkat suaminya. “Gimana apanya?”
“Gimana pertemuan kamu sama Aisha? Bukannya tadi dia datang?”
Natashya terdiam, namun itu tak berselang lama. Senyum di bibirnya mengembang kala ingatan mengenai pertemuannya dengan Aisha kembali terputar.
“Baik, kok!” jawabnya antusias.
Ingat tamu yang datang di tengah pesta ulang tahun Natashya? Dia adalah Aisha.
Ingin tahu apa yang terjadi? Mari kita flashback sebentar.
...Flashback on....
Bi Jati menghampiri Natashya yang sedang berbincang dengan bundanya dengan tergopoh-gopoh. “Non, ada tamu yang datang,” katanya.
Natashya menoleh. “Suruh masuk aja, Bi.”
“Tapi, Non, saya nggak kenal siapa tamunya.”
Natashya mengerutkan dahi. Karena penasaran, ia memilih untuk keluar dari rumah untuk melihat siapa yang datang setelah izin dengan suaminya.
Deg!
“Lo.. Aisha?”
Ya, tamu yang Bi Jati maksud adalah Aisha. Gadis itu datang dengan berderai air mata. Bahkan, mata Aisha terlihat sangat sembap juga bengkak dan hidungnya memerah. Jelas sekali bahwa gadis itu habis menangis dalam tempo yang lama.
“Na–Natashya,” panggil Aisha serak.
Natashya yang tidak tega pun mendekat. Ia merangkul Aisha yang langsung terisak di pelukannya.
“Nggak apa-apa, nangis aja. Tumpahin semuanya sampe hati lo lega,” bisik Natashya di dekat telinga Aisha.
Aisha langsung menangis kencang. Ia tidak peduli jika ada yang melihatnya seperti itu. Fakta yang baru saja ia dengar terlalu memberatkan hati dan pikirannya. Aisha lelah dan butuh seseorang.
Dan, hanya nama Natashya yang terpikir di otaknya untuk pertama kali.
“Maaf, hiks.. gue salah, hiks..” ucap Aisha di sela senggukannya. “L–lo nggak salah, hiks..”
Natashya diam saja, ia memberi kesempatan untuk Aisha mengeluarkan semua unek-unek di kepalanya.
“Maaf udah nuduh lo. Alka sayang banget sama lo, Shya. Dia marah waktu gue nyalahin lo.”
Natashya melepas pelukannya. Ia menatap langsung kedua bola mata sahabatnya itu. “Tentu, karena bukan gue pelakunya,” balasnya.
Aisha mengangguk pelan. Ya, akhirnya dia tahu bahwa ternyata bukan Natashya penyebab saudaranya depresi.
Pagi tadi, ketika nama Natashya terucap di depan Alka, lelaki itu terlihat gembira. Dia sangat antusias menanyakan keadaan Natashya. Cukup begitu saja sudah membuat Aisha sadar bahwa Natashya bukanlah dalang dari masalahnya.
Tidak mungkin, kan, Alka sebegitu antusias ketika membicarakan seseorang yang menjadi penyebab depresinya? Seharusnya, Alka histeris ketika mendengar nama Natashya.
Tapi, yang terjadi sebaliknya.
__ADS_1
“Ta–tapi, kalo bukan lo.. siapa? Siapa yang ngebuat Alka begini?” kata Aisha lirih dengan kepala menunduk.
Di dunia ini, Aisha hanya memiliki Alka saja. Kedua orang tuanya sudah tiada ketika umur mereka 9 tahun. Alka dan Aisha dirawat oleh paman dan bibinya hingga umur mereka 19 tahun. Setelah itu, Aisha mengajak Alka untuk hidup mandiri. Mereka tinggal di rumah peninggalan orang tua dan bekerja part time di beberapa cafe untuk menyambung hidup.
Walaupun berat, keduanya berhasil melaluinya dengan baik.
Melihat saudara kembarnya dalam keadaan depresi seperti sekarang tentu sangat berat bagi Aisha. Dia sangat menyayangi Alka.
Alka satu-satunya anggota keluarga terdekat Aisha yang tersisa.
“Gue nggak tau, Sha. Tapi, gue udah minta sama suami gue buat cari tau,” ucap Natashya. Aisha mendongak, menatap wanita di depannya yang masih begitu baik walaupun dengan segala perlakuan buruk yang sudah ia lakukan. “Gue juga akan bantu Alka biar cepat sembuh.”
“Ta–tapi, gue nggak ada bayar—”
“Gratis, Sha,” potong Natashya cepat. Ia tahu apa yang ada di pikiran Aisha. “Gue lakuin sukarela karena mau bantu sahabat gue.”
Aisha tersenyum dengan air matanya yang berjatuhan. “Terima kasih,” ucapnya tulus.
Aisha tidak tahu lagi harus berkata apa. Kebaikan Natashya saat ini sangatlah berarti baginya. Sekalipun ia mengucapkan seribu kata terima kasih, Aisha tidak akan pernah merasa cukup.
“Lo itu sahabat gue dan Laily, Sha.”
“Dan, lo tau, di mata gue, lo itu sahabat yang berharga.”
...Flashback off....
“Jadi, kamu mau bantu Alka sampai sembuh?” tanya Anton dengan bibir mengerucut.
Ia tahu niat istrinya baik. Tapi, kan, Alka itu cowok juga. Jika iya Natashya mau merawat lelaki itu, berarti mereka akan menghabiskan banyak waktu bersama dong.
Apalagi ia tahu kalau Alka pernah menaruh rasa pada istri cantiknya ini. Bagaimana kalau perasaan itu kembali tumbuh mengingat mereka akan banyak berinteraksi?
Bagaimana kalau kebaikan Natashya saat ini malah disalahartikan oleh Alka?
Lalu, bagaimana jika Alka malah akan membuat rumah tangganya bermasalah nanti?
Kenapa jadi berat begini, ya?
Natashya terkekeh pelan. Ia naik ke ranjang dan duduk di sebelah suaminya. “Nio, percaya sama aku. Kamu tetap nomor satu di hati aku.”
Aih!
Jantung Anton dalam mode tidak aman, kawan-kawan!
Lelaki itu mengulum bibirnya, masih ingin merajuk dan tidak tersenyum pada istrinya. “Hm,” balasnya tak niat.
“Sayang...” panggil Natashya manja.
Anton melirik sekilas.
“Makasih kejutannya, aku suka.”
Tuh, tuh! Bibir Anton mulai melengkung.
Cup!
__ADS_1
Natashya mencium pipi Anton gemas. Tidak cuma sekali, tapi berkali-kali. Anton jadi kegelian. Ia menahan wajah Natashya yang ingin menciumnya lagi.
“Sebentar, ya, Yo.” Natashya turun dan berjalan memasuki kamar mandi.
Melihat istrinya sudah tidak terlihat membuat Anton tidak lagi menahan senyumnya. Sikap Natashya barusan sangatlah menggemaskan.
Ah, Nio jadi ingin dicium lagi, deh.
Ceklekk..
“Sayang...”
Anton menoleh. Melihat pemandangan di depannya membuat tubuhnya refleks berdiri. Aliran darahnya berdesir hebat, debaran jantungnya sudah seperti habis lari maraton, kedua matanya membulat sempurna. Natashya saat ini sangat menggugah selera, Ya Allah..
Lingerie hitam yang terpasang di tubuh Natashya terlihat sangat kontras dengan kulit putihnya. Pakaian berbahan menerawang itu sukses membuat Anton kesulitan meneguk salivanya sendiri.
Natashya tersenyum melihat reaksi suaminya. Ini memang pertama kalinya bagi Natashya menggunakan pakaian seperti ini.
Apa salahnya, kan? Menyenangkan suami sendiri, kok.
Natashya melangkah mendekati Anton dengan jantung yang berdetak kencang. Ia tahu, ini bisa jadi malapetaka bagi dirinya nanti. Dijamin, Natashya tidak akan bisa berjalan esok hari!
“Sayang, kok, diam?” tanya Natashya dengan sorot sayu. Ini, sih, efek karena dia agak malu.
Tapi, singkirin dulu, deh. Malunya di-pending dulu, hehe.
Glek!
Anton merasakan udara di sekitarnya langsung berubah panas. Tubuhnya saja mulai berkeringat.
“Aku nyiapin ini buat kamu, lho,” ungkap Natashya.
Mau tak mau, Anton dibuat tersenyum mendengarnya. Ia tak lagi ragu meraih tubuh istrinya ke dalam pelukan. “So sexy,” bisiknya dengan suara yang memberat.
Natashya ikut mengalungkan tangannya di leher Anton. “Siap berapa ronde, Sayang?”
Anton terkekeh pelan. “Lima?”
Natashya tersenyum kecil. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Anton dan berbisik,
“Sebanyak yang kamu mau, Sayang.”
Cup..
^^^To be continue...^^^
...❄️❄️❄️...
KARENA AY MASIH ANAK POLOS YANG IMUT DAN MENGGEMASKAN, ADEGAN UH-AH-UH-AH KITA SKIP AJA, YA..
NGGAK BAIK JUGA. KAN, LAGI PUASA, WKWKW..
SILAKAN BERFANTASI RIA..
SEE YOU DI CHAPTER SELANJUTNYA:)
__ADS_1