KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter Tujuh Empat.


__ADS_3

Najwa mengusap keringat yang bercucuran di ruangan Pak Robi. Mereka berdua masih polos. Pak Robi dan Najwa sudah melakukan permainan sengit di ruangan Pak Robi.


Najwa sudah lama jadi kekasih gelap, Pak Robi. Pak Robi pria berusia sekitar 50 tahunan. Namun gayanya, masih seperti anak muda. Pak Robi rajin perawatan. Makanya tak terlihat berumur 50'an. Wajahnya masih terlihat muda. Karna, sering berolah raga dengan gadis seumur Najwa.


Hanya Najwa, gadis yang bertahan bersama Pak Robi. Entah apa yang dilihat Najwa dari Pak Robi. Najwa begitu tergila-gila pada pria separuh baya ini.


Bahkan Najwa, mau jadi istri kedua Pak Robi. Namun Pak Robi tak ingin menceraikan istrinya demi Najwa. Isteri pertamanya Hilda, sudah memberikan 3 anak laki-laki. Dan Anak pertama Pak Robi,seusia Najwa. Sekitar 19 tahun dan kuliah di tempat yang sama dengan ayahnya bekerja.


Tak ada yang tau, soal kelakuan bejat dari Pak Robi. Mahasiswi itu, hanya diam saat Pak Robi meminta tubuh mereka untuk nilai yang bagus. Makanya Pak Robi selalu terlihat baik di depan Mahasiswa-Mahasiswi di kampus.


Di luar, Pak Robi selalu sopan. Makanya tak ada percaya kalau Pak Robi sebejat itu.


Tok Tok Tok


Suara pintu ruangan Pak Robi diketuk dari luar. Pak Robi dan Najwa ngelagapan mencari pakaian yang berserakan di lantai. Baik Najwa dan Pak Robi segera memakai pakaian mereka. Dan Najwa pun segera masuk ruangan tersembunyi di ruangan Pak Robi dan tembus ke sebelah pintu toilet dekat Perpustakaan.


Pak Robi sudah bersiap dan membuka pintu dari dalam ruangannya.


Clek


Surya tersemum pada Ayahnya ini. Saat Pak Robi membuka pintunya.


"Surya" panggilnya.


Surya tanpa curiga langsung masuk bersama dua temannya. Dan duduk di kursi yang ada di ruangan itu.


Pak Robi bersyukur karna, Surya tak curiga. Pak Robi melihat ke bawah lantainya takut ada barang Najwa yang ketinggalan. Namun di lihatnya tak ada apapun.


Surya memperhatikan gelagat Ayahnya. Namun tak berpikir macam-macam. Surya berpikir "Mungkin Ayahnya sedang mencari sesuatu di lantai"


Surya pun berjalan, namun langsung terjatuh. Surya menginjak cairan putih yang kental di bawah kakinya.


"Aww" guman Surya.


Dua teman Surya tertawa melihat Surya terjatuh. Pak Robi terkejut, langsung membantu Surya berdiri. Surya mencium cairan yang membuatnya terjatuh. Membuat wajah Pak Robi sedikit pucat.


"Ini apa'an sih yah, kok baunya gini!" seru Surya mencium bau yang aneh. Namun tak memperpanjangkan itu.


"Oh itu, tadi air jus Ayah tumpah" ucap Pak Robi gagap.


"Oh"

__ADS_1


Surya dan dua temanya tak mempermasalahkan itu. Mereka pun langsung membuka buku mereka. Surya dan dua temanya datang ke ruangan Ayahnya untuk meminta bingbingan dari mata kuliah yang Pak Robi ajarkan.


Najwa langsung masuk toilet dekat Perpustakaan. Najwa sudah menyelediki tak ada yang tau Najwa keluar dari ruang Pak Robi.


Najwa membasuh mukanya dan segera memperbaiki riasan wajahnya. Setelah merasa okey. Najwa keluar toilet itu.


Najwa berjalan sendiri mencari Kaha. Najwa tak menemukan Kaha di manapun. Najwa duduk di kursi dekat Perpustakaan. Najwa mulai membuka tasnya. Melihat ponselnya. Tak ada chat masuk. Najwa menyimpan ponselnya kembali di tasnya.


Alea masih duduk sendiri di depan Najwa. Najwa pun beranjak berlalu entah kemana?.


Alea masih membaca buku tentang pelajaran yang baru saja usai. Alea ingin benar-benar memahami semua pelajaran yang tadi Alea masuki.


Seseorang pun duduk di samping Alea. Alea tak peduli dan tak memperhatikan itu. Seseorang itu, memperhatikan Alea yang sibuk sendiri. Alea merasa terganggu. Alea pun menoleh, ternyata laki-laki itu, Habibie.


"Habibie" panggil Alea mulai tersipu malu.


"Aku tidak akan gangu kok. Aku hanya ingin duduk di samping kamu" ucap Habibie sambil tersenyum.


Alea tertunduk kembali pada buku pelajaran. Namun Alea tak bisa konsentrasi saat tau, kalau di sampingnya itu, Habibie. Habibie membuat konsentrasi Alea terganggu. Alea benar-benar tak bisa fokus. Alea pun menutup bukanya.


"Kenapa?" tanya Habibie bingung. Melihat Alea menutup bukunya.


Habibie tersenyum.


"Aku akan terus gangu kamu Lea" guman Habibie.


"Maksudnya???" Alea bingung.


"Yah aku akan terus gangu kamu sampai kamu mau"


"Mau apa?"


"Sampai kamu mau jadi pacar aku"


Alea tersipu malu. Habibie sudah secara langsung menyatakan keinginannya pada Alea. Alea sendiri bingung dengan perasaannya sendiri. Alea bingung harus jawab apa?.


"Kalau kamu masih bingung, Aku tunggu kok jawaban dari kamu, sampai besok".


"Kalau aku tak jawab besok".


"Yah akan aku tunggu terus, sampai kamu mau".

__ADS_1


"Kamu maksa".


"Biarin".


"Kalau aku ga mau gimana?".


"Aku paksa terus, sampai kamu mau".


"Sampai kapan?".


"Sampai kamu mau. Aku sudah terlanjur suka sama kamu, aku akan ngejar kamu, selama kamu masih tetap sendiri".


"Aku jawab besok aja, Aku butuh waktu untuk memikirkan" ucap Alea beranjak pergi meninggalkan Habibie sendiri.


"Janji, yah aku tunggu. Awas kalau bohong" teriak Habibie pada Alea. Karna, Alea sudah mulai menjauh dari Habibie.


Alea menoleh ke arah Habibie. Dan tersenyum melihat Habibie. Dan kembali melangkahkan ke depan.


Habibie tersenyum melihat Alea melangkah pergi. Habibie senang, Akhirnya Alea merespon Habibie. Alea peka terhadap perasaan Habibie.


Dari jauh Qian melihat Alea dan Habibie tak suka. Qian pun berbalik dan terkejut karna, Mili sudah berdiri di depannya.


"Aku akan lapor Polisi karna, perbuatanmu padaku" gertak Mili.


"Silahkan, Aku akan sebarkan pada semua orang tentang rekaman kemaren, uhh fantastis sekali" ucap Qian dengan Nada meledek.


"Mau kamu apa?, Uang! Aku bisa berikan semua uang yang kamu mau?" tanya Mili.


Qian tersenyum jahat.


"Aku tak butuh uang kamu, hasil merampas milik orang lain saja bangga" gerutu Qian sambil meledek Mili.


Mili terkejut, Qian tau tentang Alea. Memang benar. Keluarga Mili mengambil hak Alea. Merampas semua milik Alea. Keluarga Mili pun tak berniat mengembalikan semua harta itu pada Alea. Keluarga Mili merasa harta itu punya keluarga Mili dan Alea tak berhak dengan harta kekayaan dari Orang tua Alea. Alea tak ada hubungan darah sama sekali. Makanya Alea tak pantas menerima harta dari orang tua angkatnya.


Itu yang pikirkan keluarga Mili dan Sisi. Padahal harta warisan itu, Orang tua Alea dapatkan dari hasil kerja keras mereka. Dan sejak merawat Alea, Orang tua angkat Alea. Jadi hoky penuh dengan keberuntungan. Makanya pantas kalau Orang Tua angkat Alea. Memberikan semua harta itu untuk Alea.


Bersambung...


Jangan lupa Like yah...


Dan mampir juga ke karya Author yang lain. "Ketika Cinta Menemukan Jalanya" dan "Irani Gadis Indigo" Terima Kasih.

__ADS_1


__ADS_2