
Pagi ini, Jojo dibuat kewalahan oleh keinginan sang istri. Pasalnya, istrinya itu menginginkan jambu biji merah yang berada di beranda rumah Pak Ahmad. Berkali-kali Jojo menghembuskan napas kasar.
Bingung! Itulah yang sedang dia rasakan. Sebab, Pak Ahmad sangat terkenal pelit dan angkuh. Bagaimana caranya Jojo membujuk sang istri agar meminta yang lain saja.
"Sayang ... cepetan ih, kamu ke rumah Pak Ahmad. Lihat tuh buah jambunya, gede-gede banget 'kan? Duh! Pasti enak banget kalau dibikin rujak bebek," cerocosnya tanpa beban.
"Sayang ... kamu minta yang lain aja, ya? Atau aku beli aja ya, jambunya di pasar. Asal jangan disuruh minta jambu punya Pak Ahmad," jawabnya selembut mungkin.
Nadya mengerucutkan bibirnya. Tanda tak setuju dengan ucapan suaminya. Tangannya dilipat di dada. Jojo sudah kehabisan akal.
Apalagi saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sembilan. Dia belum sarapan, sebab sang istri tak mengizinkan kalau belum membawa jambu biji dari beranda rumah Pak Ahmad.
"Hari libur harusnya mesra-mesraan, malah disuruh minta jambu," keluh Jojo dalam hati.
"Yasudah, aku minta deh sekarang," ujarnya pasrah.
"Jangan minta! Beli Mas, masa minta. Malu tahu!" omelnya, matanya mendelik kesal.
"Salah lagi," batinnya frustasi.
"Iya maksud aku juga gitu, Sayang. Yaudah, kamu temenin aku ke sana, ya?"
"Tidak mau! Kamu aja sendiri, aku mau menunggu saja di teras," jawabnya ringan. Tak ada pilihan lain.
Dengan langkah gontai, Jojo menuju rumah Pak Ahmad. Hanya terhalang dua rumah saja dari rumahnya. Jojo membuka pagar kecil untuk masuk ke halaman rumah.
Memang benar, jamu milik Pak Ahmad ini begitu lebat buahnya. Besar-besar pula. Lelaki itu menelan selivanya. Membayangkan rujak bebek dengan rasa manis dan pedas.
Ah ... nikmatnya. Langkahnya kini penuh dengan semangat. Sebab, ia juga menginginkan jambu itu. Dengan perasaan berdebar-debar, Jojo mulai mengetuk pintu rumah Pak Ahmad.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara langkah kaki seseorang. Jojo berharap yang menyambutnya adalah istri Pak Ahmad.
"Assalamu'alaikum," ucapnya gugup.
Sialnya yang membuka pintu adalah Pak Ahmad sendiri.
"Wa'alaikumsalam," jawabnya ketus.
Kaki Jojo gemetar, melihat kumis yang bertengger di dekat bibir Pak Ahmad. Matanya menatap tajam.
"Ada apa ya?" tanyanya datar.
"Mm ... ini Pak, saya--saya, mau minta jambunya. Istri saya sedang hamil, jadi--"
__ADS_1
"Apa urusannya istri kamu hamil sama jambu saya?" potongnya cepat.
Jojo tampak menghela napas perlahan. Ingin sekali dia memilin kumis Pak Ahmad yang tebal itu. Terbayang di benaknya, jika hal itu ia lakukan. Mungkin Pak Ahmad akan menjerit sembari memegang lengan Jojo. Ah ... betapa lucunya!
"Kalau tidak ada kepentingan, lebih baik kamu pergi!" usirnya membuyarkan lamunan Jojo.
"Eh, Pak, maaf. Istri saya sedang ngidam ingin jambu milik Bapak, bolehkah saya minta?" tanyanya ragu.
"Minta?" sentaknya.
"Eh maksud saya, beli Pak. Apa boleh?"
"Beli? Memangnya saya kekurangan uang sampai menjual jambu!" sentaknya lagi.
Jojo memejamkan matanya. Betapa butuh perjuangan untuk memenuhi keinginan istrinya.
"Beli salah, minta salah, ini si Bapak maunya apa sih?" gerutu Jojo dalam hati. Setelah mencoba meredam emosinya, Jojo kembali bersuara.
"Bukan begitu maksud saya, Pak. Maksudnya--"
"Eh, ada tamu toh. Kok gak dipersilakan masuk, Pak?" ucap Bu Ahmad ramah.
Jojo tersenyum kecil, akhirnya ada juga penolong untuknya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, dengan segera Jojo mengutarakan maksudnya.
"Oh, silakan ambil, Nak. Jangan sungkan! Ayo saya antar," katanya seraya meraih lengan Jojo untuk mengikutinya.
Pak Ahmad semakin geram, kumisnya sudah bergerak-gerak, matanya semakin melotot saja. Jojo menjadi tak enak hati. Kenapa pula istri Pak Ahmad ini sedikit genit?
"Silakan, Nak, ambil jambunya. Ini sudah hampir matang, sangat enak kalau dibuat rujak," ujarnya seraya menunjuk beberapa buah yang setengah matang.
Jojo pun mengambil dua buah jambu itu. Beruntung pojon jambu itu tidak terlalu tinggi. Masih bisa digapai oleh tangan tanpa harus memanjatnya.
Pak Ahmad menghampiri Jojo dan istrinya. Lelaki paruh baya itu mendekati istrinya, merangkul pinggangnya. Seakan-akan takut istrinya dicuri oleh Jojo.
"Terima kasih, Bu, jambunya. Jadi, ini berapa ya?"
"Tidak usah dibeli, Nak. Saya ikhlas, kok. Ini saya tambahin jambunya, masa hanya dua buah saja." Bu Ahmad memasukkan tiga buah lagi ke kantong kresek milik Jojo.
Betapa bahagianya lelaki itu dapat memenuhi keinginan istrinya. Namun, saat tatapannya beradu dengan tatapan Pak Ahmad, senyum yang merekah itu lenyap seketika. Jojo berdehem untuk menetralkan rasa gugupnya.
"Eh, Pak. Terima kasih jambunya, semoga Allah membalas segala kebaikan, Bapak." Ucap Jojo tulus.
Lelaki itu hanya menjawab, "Hmmm."
__ADS_1
Jojo dibuat kesal olehnya, lalu dia secepatnya berpamitan pada suami-istri itu. Setelah sampai rumah, Jojo dengan riangnya memangil sang istri yang entah ada di mana. Jojo mengeluarkan jambu-jambunya lalu mencucinya. Menyimpannya di keranjang buah yang berada di meja makan.
Tak berapa lama, Nadya pun menghampiri Jojo. Matanya berbinar melihat buah jambu yang sangat ia inginkan. Air liurnya hampir saja menetes membayangkan rujak bebek yang sedari tadi dia inginkan.
"Sayang, kamu dapat juga jambunya. Kamu gak nyolong kan?" tuduhnya begitu kejam.
"Enak saja! Aku minta secara baik-baik, Sayang. Mau dibayar, kata Bu Ahmad, jangan. Yasudah aku terima saja pemberiannya," jawabnya.
"Alhamdulillah kalau begitu. Sayang ... buatkan rujak untukku," rengeknya manja.
Jojo membulatkan matanya. Dia mengira, penderitaannya menahan lapar akan berakhir. Nyatanya, masih berlanjut.
"Aku lapar, Yang. Makan dulu ya, nanti aku buatkan. Lagi pula, kamu juga belum makan. Jangan makan rujak dulu!"
Nadya memanyunkan bibirnya. Terpaksa menuruti keingan suaminya. Lalu mereka duduk berdampingan.
Nadya mulai menuangkan nasi dan sayur ke piring Jojo. Mereka makan dengan suasana hening. Apalagi Jojo sudah sangat kelaparan. Dia makan dengan lahapnya. Setelah makan selesai, Nadya mencuci piringnya.
Membereskan makanan yang ada di meja makan. Lalu menagih janji pada suaminya untuk membuatkan rujak bebek. Mau tak mau Jojo harus menuruti keinginan istrinya. Demi calon buah hati mereka.
"Ini bumbunya apa aja, Yang?" tanya Jojo seraya melihat wadah tempat bumbu.
"Kencur sedikit, terasi di bakar dulu, cabe rawitnya sepuluh, Mas, biar pedas. Terus jangan lupa gula dan asam jawa," jelasnya ringan. Jojo menuruti instruksi dari istrinya.
Mulai mengulek bumbu hingga halus, lalu setelah itu menumbuk jambu yang sudah dipotong kecil-kecil. Peluh mengucur dari dahi calon Papa muda tersebut. Nadya beranjak dari duduknya. Mengelap keringat dengan tissu, Nadya mengecup pipi suaminya.
Jojo semakin bersemangat membuat rujak bebek untuk istrinya. Rujak bebek pun sudah tersaji di meja, Jojo mengambil dua sendok untuknya dan sang istri.
Nadya segera mendaratkan satu sendok rujak ke mulutnya. Matanya memejam sejenak, mencoba menikmati rasa rujak buat suami tercinta. Jojo sedang harap-harap cemas, menunggu komentar dari sang istri.
"Gimana, Yang, rujaknya? Enak?" tanyanya ragu.
"Enak banget, Mas. Coba deh kamu makan juga, bumbunya pas." Jojo mulai menyuapkan rujak ke mulutnya.
Benar saja, rasanya lumayan enak. Dia tak menyangka akan berhasil begini. Mereka berdua makan rujak dengan saling menyuapi. Betapa bahagia itu sederhana bukan?
"Sayang, kamu kerja sampingan aja. Pasti laku deh," ucap Nadya tiba-tiba. Jojo mengernyitkan dahinya. Tak mengerti arah pembicaraan sang istri.
"Maksud kamu apa?"
"Ya kamu kenapa gak jualan rujak aja? Enak lho ini, pasti laku." Ujarnya tanpa merasa berdosa.
Jojo mendesah frustasi, kenapa semenjak hamil pikiran istrinya selalu saja aneh. Terkadang Jojo ingin menghilang saja dari pandangan istrinya.
__ADS_1
Pernah waktu itu, Nadya menginginkan Jojo memakai bando pink miliknya lalu diabadikan di ponselnya. Tak lupa dengan lipstik berwarna peach menghiasi bibir Jojo. Parah bukan?