KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter Dua Puluh.


__ADS_3

Revan dan Renata masih berada di kebun teh. Di tempat kencan pertama mereka. Revan sengaja membawa Renata ke kebun teh.


Revan ingin membawa suasana yang romantis untuk kencan pertama mereka. Revan begitu lama mengagumi gadis ini. Renata yang dulu sempat jadi model ini.


Renata tak menyangka, Kalo idolanya kini jadi kekasih nya. Bagi Revan. Renata masih cantik seperti dulu. Saat ia masih jadi model majalah dulu. Revan masih menyimpan artikel tentang Renata di kamarnya. Tersimpan rapi di laci kamar tidurnya.


Semua terasa mimpi bagi Revan. Revan tak peduli dengan orang tuan Renata. Yang masih di tahan KPK. Revan begitu memcintai Renata saat ini.


Renata masih menyantap mie kuah plus telornya di udara yang cukup dingin di kawasan kebun teh. Sedari tadi, Revan masih melihat Renata dari dekat. Masih tak menyangka kalo kini. Mimpinya jadi nyata.


"Kamu, kok ngiliatin aku terus. Liat mie kamu tuch, udah mulai dingin" Ucap Renata berpaling. Renata begitu malu dengan Revan. Sedari tadi. Revan terus melihat Renata. Membuat Renata salah tingkah.


Renata belum, mencintai Revan sepenuhnya. Rasa sakitnya dulu masih membekas di dalam hatinya. Di hiyanati oleh Wily dan Friska. Rasanya itu begitu masih terasa sakit. Masih terasa menyakitkan di hati Renata.


Renata memang suka sama Revan. Tapi hanya sebatas suka. Lagipula Renata ingin membuka halaman baru. Siapa tau. Renata bisa memcintai Revan mungkin bila sering bersama. Itu yang Renata pikirkan.


Revan Tersenyum. "Aku kaya mimpi bisa jadian sama kamu" Guman Revan.


Renata Tersenyum.


"Aku begitu mengagumi kamu dari dulu. Aku pengemar rahasiamu yang kini. Kamu jadi milikku" Ucap Revan lagi sambil menyantap Mie yang sudah mau dingin.


"Benarkah, kok aku baru tau"


"Mana mungkin kamu tau, Re. Kamu begitu cantik. Banyak yang suka sama kamu. Termasuk aku. Tapi itu ga penting sekarang. Kamu udah jadi milikiku sekarang" Ucap Revan sambil menggenggam tangan Renata.


Renata Tersenyum. Tak tau harus berbicara apa?. Renata berpikir, mungkin Revan tak akan menyakitinya seperti Wily dulu. Hanya itu yang Renata pikirkan sekarang.


"Kita pulang sekarang yuu" Ajak Renata yang melihat jam tangannya sudah menunjukan jam 7 malam.

__ADS_1


"Kok pulang. Masih siang kali" Ucap Revan agak kecewa karna Revan masih ingin menghabiskan waktu yang lama bersama Renata.


"Kita bisa ke sini lain kali. Aku ga enak sama sahabatku yang lain. Aqila sakit lagi. Seharusnya aku bersama sahabatku yang lain. Menemani Aqila" Seru Renata.


"Sahabat, Aqila tak hanya kamu. Tapi kan masih ada yang lain" Seru Revan kecewa.


"Yah, udah kalo kamu ga mau antar aku pulang. Aku bisa pesan taksi online di sini." Seru Renata beranjak dari tempat duduk nya dan melangkah. Namun di tahan Revan.


"Baikah, kita pulang sekarang. Kamu jangan marah" Ucap Revan kecewa namun tak tega pula bila harus membiarkan Renata pulang sendiri.


Sebelum pulang, Revan membayar makanan yang ia pesan. Dan memberikan jaketnya pada Renata.


"Kok kasih ke aku, kamu lebih membutuhkan. Aku duduk di belakang" Ucap Renata ragu mengambil Jaket Revan.


"Kamu harus hangat Re, makanya aku memberikan jaketku padamu. Biar kamu bisa peluk aku di perjalanan pulang nanti" Seru Revan. mulai menggombal.


Perjalanan pulang tak begitu lama. Karna Revan mengendari motornya dengan sedikit mengebut. Revan dan Renata sudah sampai kampus hanya dengan kurang dari satu jam.


Renata langsung turun dari motor Revan dan mengambil motornya langsung menuju kediaman sampai tak sadar sudah meninggal Revan sendiri di kampus.


Renata mengebut mengendari motornya. begitu ngebut untuk segera sampai rumah. Renata begitu kuatir dengan keadaan Aqila yang sedari tadi Alea menghubungi Renata.


Sesampainya di rumah. Renata langsung masuk. Terlihat Sarah dan Alea masih membujuk Aqila untuk keluar kamarnya.


"Gimana, Qila sudah mau keluar?" Tanya Renata saat sampai rumah.


Sarah dan Alea menoleh pada Renata. Dan menggelengkan kepalanya.


Renata pun, menyuruh Sarah dan Alea minggir. Saat Renata akan mendopbrak pintu Aqila dengan Kakinya. Aqila membuka pintunya. Membuat Renata masih dalam posisi dengan kaki kanan di atas. Membuat Aqila menghindar dari tendangan Renata yang sudah siap siap dengan kuda kudanya. Layaknya akan bertarung.

__ADS_1


"Turunin kaki kamu" Gerutu Aqila.


Sarah dan Alea Tersenyum. Dan Renata menurunkan kaki kanannya.


Aqila pun, berjalan melewati Renata yang masih berdiri di depannya. Aqila masuk dapur. Renata, Sarah dan Alea mengikuti Aqila yang sedang mengambil air dingin di lemari es. Di dapur bersama mereka. Dan Aqila pun duduk di kursi meja makan di dapur mereka. di ikuti Sarah Renata dan Alea.


"Kalian ga usah kuatir, Aku ga apa apa. Aku hanya Shock ketemu laki laki yang mirip sama Dia. laki laki itu, tak sama seperti dia. Dan laki laki itu bukan Dia" Ucap Aqila serius. Sambil masih minum air dingin nya dari lemari es yang Aqila ambil tadi.


Sarah, Renata dan Alea tak menjawab apapun. Mereka bertiga hanya melihat Aqila saja. Mereka bertiga tak berani berkomentar takut salah ngomong.


"Gimana kencanya tadi?" Tanya Aqila tiba tiba membuyarkan lamunannya mereka bertiga . Sarah Alea dan Renata.


"Oh, biasa aja" Ucap Renata malas.


Aqila terdiam lagi. Sebenarnya Aqila sendiri Binngung harus bicara apa?.


"Qila kamu benaran ga apa apa?" Tanya Alea hati hati.


"Kalian tenang aja, aku baik baik aja" Ucap Aqila sambil tersenyum. Walau hatinya terasa sesak.


Terlihat mata Aqila sudah merah bengkak. Mungkin sedari tadi Aqila menangis. Baik Sarah Alea dan Renata tak bisa berbuat apapun pada Aqla. Hanya Aqila yang paham dengan hatinya kini. Yang sedang terbuka kembali karna kehadiran Galih.


Tak ada yang salah dengan kehadiran Galih. Hanya Aqila saja. Yang merasa sensitif. Karna teringat luka lama yang kini telah terbuka kembali. Sudah payah. Aqila menutupi luka hatinya. Tapi karna Galih. Yang begitu mirip dengan Gilang. Membuat Aqila seperti mengali kembali Luka lama yang sudah lama berada dalam hatinya.


Melihat wajah Galih. Membuat Aqila kembali menyesal karna. Aqila sempat bertengkar sebelum Gilang meninggal. Gilang tak sempat menjelaskan tentang situasi saat itu. Yang membuat Aqila terluka. Aqila menyesal karna tak percaya dengan Gilang saat itu. Mungkin bila Aqila percaya. Kejadian ga akan seperti ini. Penuh dengan penyesalan yang teramat sangat. Terlalu sakit Aqila mengingat semua itu. Yah benar Hanya Aqila yang merasa seperti itu. Padahal Aqila tak tau. Galih pun merasa sakit saat Aqila tak ingin melihatnya. Membuat Galih sakit hati. Dua insan ini. Sedang merasa sakit hati karna keadaan. Keadaan yang membuat mereka berdua seperti ini.


Bersambung.


Jangan lupa like. yah...

__ADS_1


__ADS_2