KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 81 | Kedatangan Randy


__ADS_3

Update again!!!


...Happy reading:)...


.......


.......


.......


Hari berlalu.


Aktivitas yang Anton lakukan hari ini masih sama seperti tiga minggu sebelumnya. Merawat Natashya dan membantu pemulihannya.


Tidak ada kata lelah yang terucap sama sekali. Karena Anton tahu bahwa semua ini karena dirinya, makanya ia harus bertanggung jawab. Ia-lah penyebab Natashya menjadi seperti ini.


Untuk membantu dirinya sendiri, Anton selalu berhubungan dengan Laily dan Tian untuk berkonsultasi mengenai masalah Natashya. Lelaki itu ingin mendapat pengarahan yang baik dari ahlinya.


Laily dan Tian anak psikolog, kan? Mereka pasti paham.


Dari apa yang Anton terangkan, Tian mengetahui bahwa Natashya mengalami depresi berat atas kehilangan yang dia rasakan. Sebagai sepupu, tentu ia khawatir dengan kondisi adik kesayangannya tersebut.


Itulah mengapa, hari ini ia berniat mengunjungi Heru, Riana, dan Randy.


Untuk memulihkan keadaan Natashya, ketiga orang tersebut haruslah ikut andil.


Tian tidak bisa diam saja. Dia harus bertindak.


Ting tong!


Tian menanti dengan sabar di luar rumah. Sampai akhirnya, pintu terbuka dan Randy keluar rumah.


“Assalamualaikum,” salam Tian.


“Wa‘alaikumsalam. Tumben lo dateng. Ngapain di sini?” tanya Randy heran.


Tian menggeleng kecil, berusaha maklum. “Nggak disuruh masuk dulu, nih?” sindirnya.


Randy terkekeh. Ia pun mempersilakan Tian masuk dengan memperlebar bukaan pintu. Keduanya mengobrol ringan hingga tiba di ruang tamu. Heru dan Riana sudah menanti di sana.


“Oh? Tamunya Tian?” Heru berucap.


Tian mengangguk sopan. “Assalamualaikum, Ayah, Bunda.”


“Wa‘alaikumsalam,” jawab Heru dan Riana.


Randy dan Tian duduk di sofa bersebelahan. Sebelum memulai pembicaraan inti, Tian sedikit berbasa-basi menanyakan keadaan Heru dan Riana. Ia bahkan bertanya soal kehamilan Riana yang kini mencapai angka 6 bulan.


“Alhamdulillah, kabar kami baik, Yan,” jawab Riana lembut.

__ADS_1


Tian manggut-manggut mendengarnya. “Ehm, Yah, Bun, sebenarnya ada yang mau Tian bicarakan,” ucap Tian mulai serius.


Melihat perubahan mimik keponakannya ini, Heru pun turut memasang ekspresi serius. “Ada apa?”


Tian berdeham singkat. “Ini soal Natashya, Yah.”


Heru terkejut. “Natashya?”


Tian mengangguk. “Iya, ini soal Natashya yang butuh bantuan Ayah, Bunda, sama lo, Ran.”


...❄️❄️❄️...


Anton tersenyum riang melihat apa yang dipegang. Dua tiket film terbaru di bioskop dengan genre romance. Dan, Anton sangat tahu bahwa istrinya itu sangat suka film romantis seperti ini.


Butuh perjuangan besar, lho, untuk mendapat dua tiket ini.


Em.. sebenarnya, tidak sesusah itu, sih. Soalnya, Rio yang mencari tiket ini untuknya, hehe.


Biasa dong. Anton, kan, bos. Tinggal perintah, anak buahnya siap melayani. Begitulah nasib Rio.


Anton berniat mengajak Natashya keluar agar wanita itu mendapat suasana baru selain di rumah.


Tak ingin berlama-lama, Anton bergegas pergi ke kamar, ingin segera bertemu Natashya. Tiba di sana, ia langsung duduk di sebelah sang istri. “Shya, liat, deh, aku bawa apa.”


Anton mengeluarkan dua tiket dari sakunya. “Tada! Ini tiket film bioskop, Shya. Kamu suka film romantis, kan? Kita keluar, yuk,” ajaknya antusias.


Natashya tidak merespon.


Natashya hanya diam.


Semangat Anton luntur. Ia menatap sang istri lekat-lekat. Entah mengapa, Anton merasakan binar mata Natashya semakin kosong tiap harinya. Tidak ada pancaran apa pun di manik Natashya.


“Sayang...” panggil Anton lembut. “Kamu baik-baik aja, kan?” Ia mengusap kepala Natashya lembut.


Anton menghela napas. Ucapannya tidak direspon seperti biasa.


Anton bergerak maju. Ia memeluk Natashya erat. Matanya terpejam bersamaan dengan setetes air mata yang lolos dari matanya.


“Aku rindu kamu, Natashya-ku,” lirih Anton sendu.


...❄️❄️❄️...


Siang ini, lagi-lagi Anton masuk ke kamar dengan nampan berisi makanan untuk Natashya. Ia hendak menyuapi istrinya itu. Namun, Natashya hanya diam.


Anton menghela napas berat. Ia tidak sanggup melihat Natashya seperti ini terus.


Anton ingin semua kembali seperti semula. Tapi, seolah Tuhan masih terus mengujinya.


Tuhan tidak mengizinkan Anton untuk kembali bahagia dengan Natashya. Tuhan masih ingin memberinya hukuman atas perbuatannya.

__ADS_1


“Sayang, aku mohon, makan satu suap saja...” bujuk lelaki itu sembari menyodorkan sesendok makanan.


...❄️❄️❄️...


Ting tong!


Bel rumah berbunyi.


Bi Jati yang mendengar bergegas menghampiri pintu utama. Ia membuka pintu dan mendapati seorang lelaki yang ia kenal baik. “Den Randy?”


Randy mengangguk kecil tanpa senyuman, ekspresi wajahnya datar sekali.


“Di mana Natashya?”


...❄️❄️❄️...


Anton masih terus membujuk Natashya agar mau makan makanan yang dibawa. Namun, wanita itu tetap tidak mau membuka mulut sama sekali. Menoleh pun tidak.


Ceklekk..


Anton menoleh. Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Maniknya terbelalak melihat kakak iparnya ada di ambang pintu, tengah menatapnya tajam.


Glek!


“Bang Randy...” sebut Anton lirih. Ia menoleh ke arah Natashya. Mendadak dirinya takut. Takut bahwa kedatangan Randy ke rumahnya bukan hanya untuk berkunjung biasa.


Apalagi melihat tatapan tajam Randy membuat lidahnya kelu untuk mengeluarkan pembelaaan. Anton tidak tahu harus berbuat apa di hadapan Randy.


Randy menyorot lurus dengan tajam. Dadanya sesak bukan main melihat kondisi adiknya yang jauh dari kata baik. Benar kata Tian. Keadaan Natashya memburuk, tidak membaik sama sekali.


Randy berjalan mendekat, ingin melihat adiknya lebih jelas. Setiap langkah yang diambil kian memberat. Randy bisa melihat bagaimana Natashya hanya diam, tidak bergerak sama sekali, dan tatapannya begitu kosong.


“Tashya... ini Abang,” panggil Randy mencoba mengambil perhatian Natashya. Ia bahkan berdiri di sisi lain ranjang dan menggenggam tangan adiknya erat.


Anton ikut menatap Natashya penuh harap. Ia ingin tahu apakah istrinya merespon.


Tetapi, tidak ada reaksi apa pun dari Natashya.


Randy menghela napas kasar. “Gimana caranya lo jagain adek gue, sih, Nton?!” serunya emosi.


Anton menundukkan kepala. “Maaf, Bang. Aku udah ngelakuin banyak hal. Tapi—”


“Gue akan bawa Natashya pulang ke rumah Bunda!”


Duaaarrr!!!


A–apa? Membawa Natashya pergi?


Pergi dari sini?!

__ADS_1


^^^To be continue...^^^


__ADS_2