KISAH KITA

KISAH KITA
Episode 129 Papa murka


__ADS_3

Mentari menyambut dengan hangat pada semua penghuni bumi. Namun, wajah Asty terlihat mendung. Selepas shalat subuh tadi, ia hanya termenung. Memikirkan nasibnya, dilihatnya jam pada nakas.


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Suara ketukan pintu terdengar, dengan segera ia mengusap pipinya yang basah.


"Masuk saja, tidak dikunci kok," teriaknya.


Munculah sosok wanita cantik yang sudah rapi. Zayna mendekati Asty perlahan.


"Gimana keadaanmu? Apa sudah baikan?"


"Alhamdulillah aku sudah baikan Na, tapi ... itu ..." katanya menggantung. Terlihat raut wajahnya yang malu.


"Tapi apa Ast?"


"Sedikit perih dan ngilu Na kalau jalan," bisiknya.


Ia menutup wajahnya dengan telapak tangan. Seketika tawa Zayna pecah, ia benar-benar merasa lucu melihat tingkah polos Asty.


"Zayna ..." rengeknya sembari mengerucutkan bibirnya.


"Maaf Ast," ucap Zayna menghentikan tawanya.


"Nanti juga bakalan hilang Ast, lebih baik sekarang kau sarapan dulu. Di bawah juga sudah ada Arya yang menunggu. Hari ini kalian akan ke rumahmu. Membicarakan pernikahan pada orangtua mu Ast." Jelas Zayna lembut. Digenggamnya jemari Asty, ia tahu betul Asty masih takut untuk berkata jujur pada orangtuanya.


"Percayalah Ast, semuanya akan baik-baik saja. Sekarang, ayo kita sarapan." Ajaknya, Asty mengekor di belakang Zayna.


Arya nampak malu-malu memandang Asty. Pria itu masih saja dihantui rasa bersalah.


Arya menunggu di ruang keluarga, ia tak ikut sarapan. Tak ada selera makan sedikitpun untuknya.


******


Kini Arya dan Asty telah berada di mobil menuju kediaman Asty. Mereka larut dalam perasaan masing-masing.


Tak ingin yang ada bersuara, hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Mereka telah sampai di rumah Asty. Segera di parkirkannya mobil di garasi.


Asty membuka pintu mobil tanpa menunggu Arya yang membukanya. Arya menghela nafas berat melihat Asty yang menjadi acuh seperti itu.


"Assalamu'alaikum." Ucap Asty sembari mengetuk pintu.


"Wa'alaikumsalam," jawab yang di dalam. Asty sangat hafal dengan suaranya.


Dadanya semakin berdebar-debar, wajahnya pucat pasi. Arya menggenggam jemari Asty untuk memeberikan kekuatan.


"Eh Sayang, kamu pulang Nak? Papa pasti senang melihatmu datang," katanya senang. Asty hanya tersenyum samar.


"Apa kabar Tante?" sapa Arya sembari mencium punggung tangan Mama.


"Alhamdulillah Tante baik Nak, kamu sendiri apa kabar?"


"Alhamdulillah saya baik Tante."


"Ayo masuk, Papa ada di ruang keluarga sedang menonton tv," ajaknya seraya merangkul purti kesayangannya.

__ADS_1


Arya mengekor di belakang, ia sibuk mengatur nafas untuk menghadapi calon Papa mertuanya.


"Pah, apa kabar?" kata Asty seraya duduk dekat Papanya.


"Eh Sayang, kapan kamu kemari? Alhamdulillah Papa baik-baik saja. Gimana kabarmu?" tanyanya sembari memeluk putrinya.


"Alhamdulillah baik Pah," lirihnya.


"Om, apa kabar?" kini giliran Arya yang menyapa pria paruh baya itu.


"Alhamdulillah baik, gimana kabarmu?" nadanya masih datar seperti biasa.


"Alhamdulillah baik, Om."


Mereka mengobrol kesana kemari untuk mengusir kecanggungan. Arya masih belum berani mengutarakan maksudnya, begitupun dengan Asty.


Gadis itu masih saja sibuk bermanja pada Papanya. Sehingga ia lupa pada tujuan utamanya datang ke rumah untuk apa.


"Om, saya mau bicara hal penting." Ucapnya ragu, Papa menoleh dengan air muka yang tak terbaca.


"Tentang apa?" nada bicaranya sudah membuat Arya menciut seketika.


"Mm ... tentang saya dan Asty. Saya ingin ... menikahi Asty minggu depan." Ucapnya mantap, bola mata Papa membulat sempurna. Mama menutup mulutnya yang terbuka lebar.


"Kenapa tiba-tiba ingin menikah? Apa yang sudah kalian lakukan?" tanyanya tepat sasaran.


Asty dan Arya menelan seliva dengan susah payah. Tak kunjung mendapat jawaban, Papa semakin naik pitam.


"Jawab? Apa yang sudah kalian lakukan?" teriaknya mengulang pertanyaan yang sama. Asty sudah terisak, ia tak  sanggup menjawab.


"Tenang Pah, nangi darah tinggi Papa kumat lagi." Ucap Mama menenangkan.


Pasangan itu masih bungkam, tenggorakan mereka seolah tercekat sesuatu.


"Kalian tidak ingin bicara? Baiklah, sekarang kalian pergi dari sini! Jangan harap mendapat restu dariku!" masih dengan teriak Papa mengucapkannya.


"Ini salah Arya Om ... kami melakukannya ..."  ucapnya terisak, Arya sudah tak sanggup untuk terus diam.


Sebuah tamparan mendarat di pipi Arya. Papa benar-benar emosi! Putri satu-satunya, kesayangannya, telahdirusak seperti ini oleh pria yang belum menjadi suaminya.


"Dasar pria brengsek!" teriak Papa sembari memukul wajah Arya.


Arya jatuh tersungkur, ia tak berani menatap  kilatan marah dari mata calon Papa mertuanya itu.


Dibangunkannya Arya seraya dicengkram kerah bajunya. Tangan Papa telah mengepal, bersiap untuk memukul wajah Arya kembali.


"Papa jangan! Ini bukan salah Arya, ini salah kami berdua. Kami melakukannya dengan sadar, atas dasar suka sama suka." Bohong Asty untuk menyelamatkan kekasihnya.


Mama telah menangis histeris. Melihat darah segar mengalir dari sudut bibir Arya.


"Arya minta maaf Om. Berikanlah kami restu untuk menikah minggu depan." Mohonnya lirih, Arya memegang kaki Papa erat memohon ampun.


"Bangun Nak, jangan seperti ini." Di sela isaknya Mama membangunkan Arya.

__ADS_1


Sedangkan Asty masih memeluk pundak Arya, melindungi dari serangan Papanya. Papa masih mengatur nafasnya yang memburu. Memegang dadanya yang sudah terasa sesak.


"Tolong maafkan kami, Pah. Jadilah wali nikah Asty minggu depan. Asty mohon ..." pintanya lirih.


Sungguh, begitu menyakitkan perasaan Papa mendengar isakan putri kesayangannya. Namun kekecewaan begitu menyelimuti hatinya.


"Bangun Sayang, jangan seperti ini. Papa pasti akan menjadi wali di pernikahanmu." Bujuk Mama, dengan perlahan Arya dan Asty  berdiri.


Papa memalingkan wajahnya. Rasanya, melihat wajah Arya, Papa ingin sekali membunuh pria itu.


"Papa, tolong maafkan mereka. Mama mohon, bagaimana pun Asty putri kita, Pah. Mungkin mereka khilaf," bujuk Mama.


Papa masih tak bergeming. Asty menyandarkan tubuhnya di dada Arya. Mereka menangis pilu. Kemarahan Papa, membuat mereka semakin merasa bersalah.


"Coba Papa pikirkan, kalau mereka tak menikah secepatnya, bukan tidak mungkin mereka akan terus melakukannya. Itu semakin tidak baikkan Pah? Ayolah Pah, restui mereka." Bujukan kedua, Papa menolehkan wajanya ke Mama.


Wanita paruh baya itu menatap suaminya nanar. Lalu menganggukkan kepalanya. Mencoba memohon sekali lagi pada suaminya.


"Om, Arya benar- benar minta maaf udah bikin Om kecewa. Arya ..." belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, Papa telah memotong perkataannya.


"Kalian akan menikah besok sore. Di rumah ini!" ucapnya tiba-tiba.


Ia melangkah menuju kamarnya, dadanya semakin sesak melihat mata putrinya yang begitu sembab.


"Mah ..." panggil Asty lirih.


Mama menganggukkan kepalanya, mengerti maksud dari panggilan putrinya.


Mama dan Asty saling berpelukan. Arya mengucap syukur atas restu dari Papa Asty. Meskipun masih ada yang mengganjal dalam hatinya, yaitu restu dari Mamanya.


"Nak Arya ..." panggil Mama, membuyarkan lamunan Arya.


"Iya Tante," jawabnya gugup.


"Panggil Mama aja, kan besok kamu udah resmi menjadi menantu Mama." Ucapnya lembut.


"Eh iya, Mah."


"Jujur, Mama kecewa dengan pengakuan kalian. Tapi ya, Mama senang kalian mau berbicara yang sebenarnya. Semoga kalian bisa memperbaiki kesalahan kalian ini. Berpikir panjanglah sebelum kalian melakukan sesutau. Kalian sudah dewasa bukan? Kalian pasti sudah tahu, mana yang baik dan mana yang buruk." Pepatah Mama panjang lebar.


Asty dan Arya mengangguk, mereka tak bisa membayangkan seandainya tahu kejadian yang sebenarnya.


Bagaimana kemarahan Papa akan lebih dari ini. Mungkin, Mama juga akan sulit untuk memaafkan mereka. Biarlah itu menjadi rahasia antara Tuhan dan mereka saja.


"Yasudah, kalian makan dulu. Ini sudah siang, kalian pasti lapar kan?" ajak Mama seraya merangkul Asty menuju dapur.


"Iya Mah, tadi Asty sarapan hanya sedikit saja. Arya juga sepertinya belum makan dari pagi."


Mama mengajak Asty dan Arya untuk makan bersama.


********


Jangan lupa guys like, komen dan juga vote, eh ada dua lagi 😆 rate-nya kasih binta 5 ya (authornya ngarep banget) haha dan tekan favoritnya ya 😊 Meskipun karyanya gak seberapa, semoga dapat menghibur kalian semua. Terimakasih 🤗

__ADS_1


__ADS_2