KISAH KITA

KISAH KITA
Episode 146 Menikmati Rasa


__ADS_3

Sore ini cuaca sedang tak bersahabat, mendung sedari pagi. Hujan turun dengan derasnya, meninggalkan kesyahduan tersendiri bagi setiap orang.


Bukankah saat rintikan hujan mulai membasahi bumi itu sesuatu hal yang sangat romantis? Risa masih terjebak macet, karena derasnya hujan membuat jalanan sedikit terendam air. Berkali Risa melihat jam yang melingkar di tangan kirinya, waktu semakin sore saja.


Hatinya begitu resah, mengingat ia harus segera sampai di Rumah sakit. Alinka-kakak sepupunya mengalami kecelakaan. Abi sedari tadi menelfon untuk segera datang. Saat jalanan sedikit lenggang, Risa melajukan mobilnya dengan cepat.


Bulir bening perlahan jatuh membasahi pipinya. Gadis itu benar-benar khawatir saat ini. Dia tak lagi peduli jika nanti di sana akan bertemu dengan Ryan.


Toh dia harus terbiasa mulai sekarang, bukankah Ryan akan menjadi kaka sepupunya juga? Risa sudah sampai di Rumah sakit. Secepat kilat dia berlari menuju ruang UGD. Di sana keluarganya dan juga keluarga Ryan sedang menunggu.


Risa menghentikan langkahnya seketika, ketika melihat tatapan Ryan. Tidak! Jangan menghindar, dia harus menguatkan hatinya berulang-ulang, bahwa hal ini akan sering terjadi.


Perlahan gadis itu mulai mendekati keluarganya. Risa langsung memeluk ibunya yang sedang tersedu. Ibuny merasa sangat bersalah tak bisa menjaga anak dari kakaknya dengan baik.


Ya, sudah seminggu Alinka menginap di rumah Risa. Sebab, orang tuanya yang sedang pergi ke luar negeri sehingga menitipkan Alinka ke rumah Risa.


Seorang dokter keluar dari ruang UGD, raut wajahnya menampakan gurat kesedihan. Mama Risa sudah tak sabar menunggu dokter menyampaikan keadaan keponakannya.


"Bagaimana keadaan keponakan saya, Dokter?" tanya Mama lirih.


"Kondisi pasien kritis ... pasien koma, kita hanya bisa berdoa untuk kesembuhan pasien," jawab dokter setenang mungkin. Semua orang terkejut mendengar penuturan dokter.


Terlebih Mama, beliau menangis histeris. Bagaimana ia akan menyampaikan berita buruk ini ke keluarga kakaknya. Sedangkan di sana, sang kakak juga sedang menjalani pengobatan. Apakah ia harus merahasiakan ini semua?


"Sebentar lagi pasien akan kami pindahkan ke ruangan ICU, saya permisi dulu." Ucapnya seraya pergi.


Risa memeluk Mamanya erat, tubuh wanita paruh baya itu bergetar hebat. Abi pun memeluk kedua wanitanya. Memberikan kekuatan pada Mama dan juga adiknya.


"Sabar, Ma. InsyaAllah Alin akan baik-baik saja," ucap Abi lirih.


"Yang tabah ya, Jeng. Kami sekeluarga turut prihatin. Mari kita doakan sama-sama untuk kesembuhan Alinka," ujar Mama Ryan seraya berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan Mama Risa.


"Iya, Jeng. Terimakasih atas segala dukungan dan doanya. Saya harap, Nak Ryan tak keberatan jika tanggal pernikahannya diundur, nanti saya akan mencoba bicarakan hal ini pelan-pelan pada kakak saya," jawab Mama terisak.


"Iya, Jeng. Jangan pikirkan hal itu dulu, kami tidak keberatan kok."


Ryan masih mematung di tempatnya, dia sangat ingin memeluk wanitanya. Memberikan kekuatan dan ketenangan.

__ADS_1


Bahkan, saat kedua wanita paruh baya itu berbicara tentang pernikahannya yang di undur, Ryan merasa sangat bersyukur. Bahkan Ryan berdoa semoga pernikahannya akan batal saja. Hanya Risa-wanita yang dia inginkan untuk mendampingi hidupnya, hanya Risa wanita yang dia cintai. Risa berdiri, begitupun dengan Mama dan juga Abi.


Pandangan Risa lurus ke arah Ryan. Betapa hatinya ingin sekali mendekati lelaki itu, menumpahkan segala kesedihannya di dada bidang milik Ryan. Papa Ryan menepuk bahu Ryan pelan. Papa merasa kalau Ryan sangat terpukul atas kejadian yang menimpa calon istrinya. Faktanya bukan seperti itu.


Mata Ryan berkaca-kaca karena wanita yang berada di hadapannya. Dia takkan sanggup harus melihat wanitanya menangis seperti itu. Alinka dipindahkan ke ruangan ICU sesuai intruksi dokter.


Semua orang berjalan mengikuti brangkar yang di bawa oleh suster. Para suster dan dokter memasang berbagai alat di tubuh Alinka. Wanita cantik dan periang itu kini terbaring lemah. Senyum cerianya tak terukir di wajah cantiknya.


******


Seminggu sudah Alinka tak sadarkan diri. Namun, semua keluarga merasa lebih tenang. Sebab, Alinka berangsur-angsur membaik. Hanya tinggal menunggu kesadarannya. Risa, Abi serta keluarga yang lain silih berganti menjaga Alinka, gadis itu sudah dipindahkan ke ruang perawatan.


Malam ini, Risa yang bertugas menjaga Alinka. Sejak sore tadi sepulang bekerja, Risa sudah berada di Rumah sakit. Gadis itu tengah duduk manis di sofa, membaca novel untuk mengusir rasa bosannya.


Sesekali menyalakan tv agar ruangan tak terasa sepi. Tak berapa lama terdengar suara pintu terbuka. Risa menoleh ke arah pintu, dilihatnya Diana dan Ryan tengah tersenyum seraya memasuki ruangan.


Mata Risa membulat sempurna, melihat senyuman Ryan yang baru dilihatnya. Semenjak kandasnya hubungan mereka, Risa tak pernah melihat lelaki itu tersenyum semanis itu.


"Kak Risa! Bengong aja, lihatin apa sih?"


Gadis itu terus menatap lelaki yang terlihat lebih segar dari keadaan yang sebelumnya. Diana tersenyum simpul, sepertinya rencananya membujuk sang kakak untuk menginap di Rumah sakit tak sia-sia.


"Kak Risa!" panggil Diana lagi.


Risa menjadi gelagapan, seperti maling tertangkap basah. Ah ... betapa malunya dia saat ini. Rasa rindu, sedih, dan senang bercampur menjadi satu.


"Eh iya, Di. Kok gak bilang-bilang kalau mau ke sini?" tanyanya basa-basi.


Padahal dia sedang sibuk mengatur detak jantungnya yang berdetak lebih kencang.


"Sengaja, biar surprise, Kak. Gimana keadaan kak Alin sekarang?"


"Alhamdulillah sudah lebih baik dari kemarin. Mudah-mudahan kak Alin cepat sadar."


Diana hanya menganggukkan kepalanya.


Dia harus membuat rencana lagi agar kakaknya dan Risa bisa mengobrol dari hati ke hati. Walau bagaimanapun urusan mereka belum selesai.

__ADS_1


Diana berpamitan untuk keluar mencari makanan ringan untuk mereka. Meskipun Risa melarang, gadis kecil itu kekeh keluar dan meninggalkan Risa dan Ryan berdua di ruangan itu.


Hening! Tak ada yang memulai obrolan, Ryan sibuk memperhatikan Risa, menyusun kalimat di benaknya, banyak sekali kata yang ingin dia ungkapkan kepada Risa.


Terlebih tentang pertunangannya dengan Alinka. Sesekali Risa menoleh ke arah Ryan, lelaki itu terlihat gugup sekali. Risa tersenyum tipis, nyaris tak terlihat.


"Apa kabarmu?" tanya Ryan memecah keheningan.


"Seperti yang kau lihat," jawabnya datar.


"Mm ... syukurlah. Risa, aku ingin bicara serius denganmu," ucapnya memberanikan diri.


"Tak ada yang perlu kita bicarakan lagi!" Jawabnya seraya beranjak dan ingin meninggalkan Ryan seorang diri. Namun, Ryan pun ikut berdiri dan meraih lengan Risa.


Mata mereka beradu tatap, tak dipungkiri rasa rindu itu begitu menggebu. Hangat napas Ryan menerpa wajah Risa. Semburat merah terlihat di pipi gadis itu. Untuk sejenak mereka menikmati rasa yang selama ini mereka pendam.


"Aku cinta kamu. Percayalah, selama ini aku begitu tersiksa harus berpisah denganmu. Semua ini keinginan Papa, aku tak pernah menginginkan pertunangan ini," ungkapnya parau.


"Perusahaan Papa berada di ujung tanduk, kebetulan keluarga Alin bersedia membantu, asalkan aku menikah dengan Alinka. Kau tahu? Betapa aku sulit untuk memilih antara kau atau menolong Papa, kumohon mengertilah. Jangan menjauhiku! Aku akan berusaha untuk mempertahankan  hubunga kita." Lanjutnya seraya memejamkan mata.


Wajahnya sudah memanas, mungkin sebentar lagi air matanya akan lolos begitu saja.


Ryan membuka kembali matanya, menatap Risa dengan nanar. Mata gadis itupun sudah berkaca-kaca. Risa memalingkan tatapannya ke sembarang arah. Kini, gadis itu tak kuasa menatap netra indah milik Ryan.


"Apa kau mencintaiku?" tanya Ryan tiba-tiba.


Risa masib bungkam, tak berani menatap Ryan. Lelaki itu sedikit mengguncang bahu gadis yang berada di hadapannya. Terdengar  isakan pilu dari bibir mungil itu.


Ryan memberanikan diri untuk memeluknya, gadis itu tak menolak. Ryan semakin mengeratkan pelukannya. Tubuh Risa bergetar hebat, gadis itu tersedu. Beberapa menit mereka menikmanti momen itu.


********


Assalamu'alaikum Readers. Aku cuman mau ngasih tahu, kalo part-part sekarang menuju ending ya. Tadinya aku gak mau nerusin nulis, karena kalian gak ada yang mendukung, sedih akutuh 😢


Tapi karena ini sudah tanggung, gak baikan kalo ceritanya di gantung gitu 😆 Makanya aku mau nulis sampai novel ini benar-benar tamat.


Terimakasih untuk kalian yang udah setia mantengin novel receh ini. Jangan lupa jempolnya disuruh pencet tanda like 😂

__ADS_1


__ADS_2