
Hari berlalu dengan cepat.
Yosua menjalani terapinya dengan rutin bersama Faisal. Bahkan, keduanya sekarang terlihat akrab. Yosua tidak lagi canggung untuk menceritakan apa yang dirasakan.
Dan, selama itu juga, Aisha menemani Yosua terapi. Tidak dipungkiri bahwa perasaan lamanya masih sedikit tersisa untuk lelaki itu. Alhasil, Aisha pun memaafkan perbuatan Yosua terhadap Alka.
Bicara soal Alka, kondisi psikis lelaki itu sempat down ketika Yosua datang menemuinya. Yosua berniat untuk meminta maaf atas saran Faisal.
Faisal bilang, “Selesaikan semua masalahmu, Yosua. Insyaallah, nanti sudah tidak ada beban di hati. Jadi, kamu bisa lebih tenang menjalani terapi.”
Awalnya, Alka histeris ketika melihat Yosua. Namun, setelah Natashya, Laily, dan Aisha turun tangan untuk menjelaskan, Alka perlahan-lahan menerima kehadiran Yosua. Keduanya saling memperbaiki diri dan membantu satu sama lain.
Enam bulan berlalu...
Yosua sangat merasakan perubahan pada dirinya. Ia lebih bisa mengendalikan perasaannya terhadap Natashya. Ia sudah tidak lagi memikirkan Natashya dan memilih untuk meyakinkan hati kalau wanita pujaannya bukan jodoh yang dilahirkan untuknya. Malahan hubungan Yosua dan Aisha sekarang terbilang dekat.
Alka juga mulai bisa beradaptasi dengan dunia luar. Traumanya terhadap pisau dan darah mulai berkurang. Bahkan, lelaki itu terlihat biasa saja ketika bertemu dengan Yosua. Mereka berdua terlihat santai dan tidak canggung lagi.
Semua itu karena semangat untuk sembuh Alka dan Yosua sama besarnya. Mereka berusaha selalu menuruti saran dokter psikiater masing-masing untuk mempercepat kesembuhan. Dan, ya, semangat dan tekad keduanya menunjukkan hasil.
Beralih ke main character kita.
Natashya sedang berdiam di kamarnya, sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti sidang skripsi. Kandungannya yang menginjak angka delapan membuat perutnya terlihat buncit. Dan, Anton makin posesif padanya.
“Udah, Shya. Jangan belajar terus,” tegur Anton yang baru datang ke kamar. Dia cuma bisa geleng-geleng melihat istrinya begitu fokus di meja belajar.
Natashya hanya melirik sekilas, mulutnya bergumam tidak jelas.
Yakinlah, kawan-kawan. Anton tersiksa karena Natashya-nya kembali menjadi manusia es dengan kepribadian kejam.
Anton menaruh segelas susu strawberry di meja, dekat dengan Natashya. “Diminum dulu, Shya.”
Tidak ada bantahan sama sekali dari wanita yang berstatus sebagai istri Antonio itu. Natashya langsung meletakkan pulpennya dan meraih gelas susu yang suaminya bawa. Ia menegaknya perlahan, sesekali melirik ke arah jurnal dan catatan miliknya yang masih terbuka.
Anton, sih, cuma bisa geleng-geleng. Natashya memang gila belajar akhir-akhir ini.
Tahu tidak, skripsi Natashya langsung diterima tanpa perlu ada revisi sama sekali. Penjabaran yang wanita itu buat berhasil membuat para dosen terkagum-kagum. Seenggaknya, itu yang Anton tahu dari bisik-bisik tetangga, hehe.
__ADS_1
“Sudah, Yo.” Natashya menyerahkan balik gelas susu yang telah kosong. Anton menerima dan berniat membawanya ke dapur. “Nio!” panggil Natashya mencegah suaminya pergi.
Anton berbalik, menatap Natashya dengan alis terangkat sebelah. “Kenapa?”
“Lo sibuk?”
Jangan heran. Gaya bahasa Natashya memang berubah lagi, huh.
“Em.. nggak tuh. Kenapa?”
“Ayo keluar.”
“Keluar?” Anton agak sangsi untuk langsung mengiyakan. Pasalnya, ini sudah jam sembilan malam. “Mau ke mana emang?”
“Mau beli pizza.”
Lah? Ngidam Tashya masih nyisa?
“Tadi, kan, kita habis makan malam, Sayang. Masa mau makan lagi, sih?” heran Anton. Selera makan Natashya memang naik semenjak hamil. Hebatnya, sih, bentuk tubuh wanita itu tidak terlalu mengalami perubahan yang signifikan.
Hanya di beberapa area saja dan di mata Anton, Natashya jauh terlihat lebih seksi dari sebelumnya.
Anton dibuat gelagapan. Bukan itu maksud aku, Sayang...
“Delivery aja gimana?” Anton mencari opsi lain agar mereka tidak perlu keluar malam-malam.
“Ck, nggak jadi!” Natashya mendengkus. Ia kembali memfokuskan diri dengan beberapa buku dan catatannya.
Anton menghela napas berat. Menghadapi Natashya memang perlu tenaga dan stok kesabaran yang ekstra.
“Ya udah, ayo keluar,” putus Anton mengalah.
Natashya melirik sekilas. “Nggak usah kalo lo terpaksa ngelakuinnya.”
“Nggak, Sayang, aku nggak terpaksa.”
“Cih!”
__ADS_1
“Sayang.. ayo kita keluar.” Anton mendekat, melingkarkan lengan kokohnya ke tubuh Natashya, sebelah tangannya mengusap perut yang sudah membesar. “Baby K mau pizza? Ayo, Papa belikan.”
Setelah mendapat bujukan tanpa jeda dari Anton, akhirnya Natashya luluh. Dia menurut ketika lelaki itu memakaikan jaket untuk dirinya. Keduanya pun pergi keluar hanya demi menuruti keinginan Natashya yang sepatutnya... Anton syukuri saat itu.
...❄️❄️❄️...
Natashya tersenyum puas. Delapan potong pizza dengan topping daging, sosis, ayam, dan banyak lainnya ditambah mozzarella ekstra sudah tersimpan nyaman di lambung wanita hamil itu. Tangan Natashya nampak sibuk mengusap-usap perut buncitnya. Intinya, sih, dia kekenyangan.
“Nio, Nio, berhenti dulu!” seru Natashya sambil menepuk-nepuk bahu Anton.
Mau tak mau, Anton memberhentikan laju mobilnya. Dia menoleh setelah menghirup napas dalam-dalam, bersiap untuk menghadapi tingkah Natashya yang kadang tidak diduga. “Kenapa, Sayang?”
“Itu! Ada penjual martabak! Kita beli sebentar, ya.” Natashya seketika tergiur melihat gerobak martabak yang berhenti di pinggiran jalan. Mendadak ingin makan martabak juga.
Anton ingin mencegah. Namun, lagi-lagi dia kalah sebelum berjuang. Ekspresi memelas Natashya menang banyak pokoknya.
“Ya udah, ayo.”
Anton dan Natashya berakhir di sini, stan penjual martabak. Setelah memesan, keduanya menanti sambil duduk di kursi yang tersedia. Sesekali Anton mengajak Natashya berbicara untuk mengusir keheningan.
“Udah, Ma, jangan begini terus dong.”
Mendengar suara itu, Anton dan Natashya menoleh. Ada sosok pria lain yang ternyata ada di stan martabak ini pula. Pria itu menatap sendu seorang wanita dengan perut buncit di depannya.
“Ma, udah, ya? Kita pulang, yuk,” ajak pria itu.
“Ih, nggak mau! Aku masih mau peluk!” rajuk wanita hamil itu. Dia mengeratkan pelukannya pada seorang yang terduduk pasrah di sampingnya.
Berdasarkan analisis Anton, sih, pria yang sedari tadi membujuk adalah suami dari wanita hamil tersebut. Tapi, kok, ibu itu malah memeluk pria lain, ya? Di depan suaminya sendiri pula!
“Udah, Sayang. Aku cemburu, lho, ini.” Pria tadi masih berusaha membujuk istrinya.
Laki-laki yang berada dalam pelukan wanita hamil itu mengerang kencang. “UDAH, WOI! ISTRI LO YANG NGIDAM, KENAPA JADI GUE YANG KENA?!” pekiknya kesal.
Anton membulatkan matanya. Dia paham situasi mereka sekarang. Mengatasnamakan ngidam, wanita itu beralasan ingin memeluk pria lain selain suaminya. Em, kok, agak ngeri, ya?
Anton melirik Natashya yang tengah sibuk memainkan jemarinya. Entah kenapa, dia mendadak merasa lega dengan kondisi kehamilan Natashya.
__ADS_1
Syukurlah, ngidam Tashya nggak aneh-aneh kayak ibu-ibu itu. Semoga nggak, deh. Mana kuat aku liat Tashya dipeluk cowok lain?
^^^To be continue...^^^