KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 90 | Masa Lalu Natashya


__ADS_3

Update lagi!


Tahu nggak? Ay sedang bahagia tentang cerita ini, lho.



Aaaa... cerita ini masuk rekomendasi dong.


Ay tidak minta banyak, kok. Ay cuma minta agar kalian tetap setia tunggu cerita ini update, ya. Ay akan selalu usaha buat update selalu.


Sumber semangatnya penulis itu dari pembaca. Bagaimana kalian menunjukkan reaksi terhadap penulis kesukaan kalian itu terserah. Yang penting, kalian tunjukkan kalo kalian itu suka dan selalu dukung penulis favorit kalian.


Entah itu kasih like, komen, hadiah, vote, atau apa pun itu, penulis akan dengan senang hati menerima.


...Happy reading:)...


.......


.......


.......


“Kamu kenal?”


Lima menit terdiam, akhirnya Natashya mengangguk. Ia yakin sosok gadis itu adalah gadis yang sama seperti yang ia kenal dahulu.


“Aku kenal, Nio. Gadis itu adalah Aisha.”


“Aisha? Siapa Aisha?”


Natashya menyerahkan ponsel Anton ke pemiliknya. “Sahabat aku sewaktu SMA.”


...Flashback on....


7 tahun yang lalu...


Saat Natashya masih SMA kelas 2...


“Gila lo, Ai! Makan banyak bener!” ledek Laily.


Gadis yang diledek hanya menunjukkan cengirannya. Ia kembali melahap bakso ketiganya. Bukan apa-apa, ya, tapi porsi satu mangkuk bakso itu tidak ada efeknya untuk Aisha.


Heh! Si perut karet, ya, gini, nih!


“Laily.. Ily.. Lily.. Aisha nggak suka, ya, kalo lo manggil gue dengan sebutan ‘Ai’ gitu. Nggak like atuh, Neng. Sha aja, oke?” pinta Aisha mengingatkan.


Laily menjulurkan lidahnya. “Bodo amat, sih. Suka-suka gue dong!”


Aisha berdecak sebal. Untung teman, kalo bukan udah di-hih!


“Btw, kembaran lo mana?” tanya Laily setelah keduanya dilanda keheningan selama beberapa menit.


“Hah? Kembaran? Sejak kapan gue ada kembaran?” Aisha bingung.


Wajah Laily berubah datar. “Alka lo ke manain, Kambing?!”


“Badak, nggak boleh ngomong begitu, ya. Dosa.”


“Babiku sayang, barusan lo juga ngomongin yang jelek-jelek, lho.”


“Udah, Nyet. Gue meng-capek!”

__ADS_1


“Dih, si Kebo ngambek, euy..” Laily terkekeh pelan. “Alka ke mana, Sha?”


“Ada urusan pribadi katanya,” jawab Aisha tak acuh.


“Orang cem dia punya urusan juga?”


“Iyalah! Manusia dia.”


“Oh, gue pikir saudaranya iblis.”


Mata Aisha membulat. Ia baru saja ingin membalas perkataan Laily, namun sahabatnya itu sudah lari duluan. Aisha mendengkus sebal. Alka adalah saudara kembarnya. Jika Laily mengatai bahwa Alka adalah saudara iblis, berarti Aisha dong iblisnya?


“Seandainya ngebunuh orang itu nggak ada hukumnya, udah gue mutilasi tuh anak,” gumam Aisha kesal.


...❄️❄️❄️...


Di taman belakang sekolah...


Natashya berdiri sendirian di sana, celingukan ke sana kemari. Alka mengiriminya pesan untuk datang ke sana, tapi lelaki itu tidak ada di sini.


Katanya tadi disuruh ke sini. Kok, nggak ada?


Natashya berdecak. Jangan bilang gue cuma di-prank doang?


“Ehm, Shya?”


Natashya membalikkan badan. Ia bisa melihat sosok Alka berdiri di depannya dengan senyum merekah. Alka mendekat, sebelah tangannya bersembunyi di belakang, seolah menyembunyikan sesuatu.


“Hai, Shya.”


Natashya mengangguk. “To the point, Al. Ada apa?”


“Gue mau ngomong sesuatu sama lo,” kata Alka gugup.


Natashya menaikkan sebelah alisnya, penasaran dengan apa yang ingin Alka katakan. “Apa?”


Alka menghirup napas dalam-dalam. Ia mengulurkan tangannya yang berada di belakang ke arah Natashya. Sebuket bunga lili putih berada dalam genggaman Alka. “Gue suka sama lo, Shya.”


Natashya termangu, mulutnya terbuka dengan mata yang mengerjap-ngerjap.


“Gue suka sama lo, Shya, sejak kelas 1 SMA. Cuma.. gue nggak berani buat jujur sama lo. Sifat lo yang pendiam ngebuat gue susah buat nebak perasaan lo ke gue,” jelas Alka dengan perasaan berdebar-debar.


“Makanya, gue baru berani bilang sekarang. So, Natashya, lo mau jadi pacar gue?” Alka mendekatkan buket bunganya pada Natashya.


Gadis itu bergeming. Ia menatap wajah Alka dan bunga di hadapannya bergantian.


Natashya menghela napas gusar. “Lo tau gue nggak suka basa-basi, kan?”


Alka mengangguk.


“Oke, gue kasih jawabannya sekarang.” Natashya menatap wajah Alka lekat. “Sorry, Al. Gue nggak bisa.”


Alka tersenyum. Jawaban Natashya sudah sangat bisa ia tebak.


“Lo baik, lo ganteng, lo penyayang, lo konyol juga kadang-kadang. But, gue udah janji sama diri gue sendiri, gue nggak akan pacaran karna gue punya impian besar.” Natashya berusaha menjelaskan dengan kata-kata pilihan terbaiknya. Ia tidak mau terlalu melukai hati Alka, sahabat baiknya.


Memang benar. Tidak ada persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Pasti salah satu dari mereka ada yang memendam rasa.


“Gue mau fokus dengan pendidikan gue. Gue nggak mau mind map hidup gue berantakan karena cowok. So.. i’m sorry, Alka. Gue nggak bisa terima lo.”


Alka mengangguk mengerti. Ia juga tahu bagaimana ambisi Natashya untuk selalu mendapat nilai sempurna. Gadis itu merupakan siswi paling berprestasi di SMA mereka.

__ADS_1


“Iya, Shya. Gue paham,” balas Alka.


Natashya menerima buket bunga Alka. “Gue ambil, ya.”


“Iya.” Tatapan Alka berubah sendu. “Sorry kalo gue ngebuat lo nggak nyaman. Gue harap... persahabatan kita nggak hancur gara-gara ini.”


Natashya menepuk bahu Alka sekali. “Lo tenang aja. Gue masih waras buat nggak ngelakuin hal bodoh kayak gitu.”


“Lo tetep sahabat gue, Alka. Selalu.”


...❄️❄️❄️...


Tidak ada yang berubah antara hubungan Alka dan Natashya. Keduanya masih bersahabat baik seakan tidak pernah terjadi apa pun di taman belakang sekolah.


Sayangnya, itu hanya bertahan selama satu hari saja.


Hari esoknya, Natashya dan Laily dibuat bingung dengan ketidakhadiran Alka dan Aisha. Bahkan, beberapa hari ke depan, Alka tidak lagi datang ke sekolah dan Aisha menjauh dari mereka.


Natashya yang tak tahan dengan situasi ini, ia nekat menemui Aisha dan bertanya masalah yang terjadi. Bukannya menjawab, Aisha malah menatap Natashya marah. Ada kobaran kebencian di mata gadis itu.


“Gue benci sama lo, Shya! Gue benci!” teriak Aisha.


“Lo kenapa, Sha? Gue nggak paham!” balas Natashya yang tak tahu apa-apa.


Aisha tersenyum sinis. “Nggak tau apa-apa lo bilang? Cih, dasar muna lo! Semua ini gara-gara lo! Gue benci sama lo!”


“Mulai hari ini, lo bukan sahabat gue lagi! Selamanya!”


Setelah mengatakan itu, Aisha pergi meninggalkan Natashya. Aisha pindah sekolah dan tidak pernah mau menemui Natashya maupun Laily lagi.


Natashya berusaha menghubungi sahabatnya itu. Namun, nihil. Aisha selalu menolak panggilannya dan tidak pernah membalas chat-nya. Bahkan, nomor Natashya diblokir oleh gadis itu.


Sebenarnya apa yang terjadi? Gue nggak ngerti..


...Flashback off....


“Sejak hari itu, kamu nggak pernah ketemu Aisha lagi?” tanya Anton memastikan.


Natashya mengangguk. “Iya. Dia hilang, Alka juga hilang.”


Anton menghela napas. Ternyata titik permasalahan ada pada masa lalu Natashya.


Tapi, setidaknya semua ini mendapat sedikit titik terang.


Saat ini, mobil Anton sudah berhenti di depan kampus Natashya. Lelaki itu memilih untuk diam selama mendengar cerita Natashya.


“Aku akan minta orang buat cari Aisha,” kata Anton pada akhirnya. Ia ingin semua masalah ini segera berakhir, itu saja.


Natashya mengangguk setuju. “Hubungi aku kalau sudah ketemu, ya.”


Anton mengiyakan.


“Untuk Alka... kamu izinkan aku buat ketemu sama dia?”


Anton menaikkan sebelah alisnya. “Kamu tau dia di mana?”


Natashya beralih menatap ke depan. Kepalanya mengangguk samar. “Sepertinya iya. Aku tau dia ada di mana.”


Walaupun aku masih sedikit ragu, tapi apa salahnya mencoba dan mencari tau...


^^^To be continue...^^^

__ADS_1


__ADS_2