
Esoknya, Galih sudah menunggu Aqila. Hari ini, Galih benar benar semangat untuk bertemu dengan Aqila. Galih, tak peduli, kalo setelah ini, Aqila tak akan menemuinya lagi. Yang jelas, Galih ingin bertemu Aqila sekarang.
Dari semalam, Aqila benar benar penasaran dengan apa yang di katakan Galih. Aqila benar benar tak tau, Galih akan berbicara apa?. Aqila benar benar tak bisa memikirkan itu.
Aqila benar benar penasaran. Buru buru Aqila beranjak setelah kelas selesai. Aqila yakin, Galih sudah menunggu Aqila. Benar saja, Galih sedang menunggu Aqila dengan tidak sabar.
Aqila berjalan pelan. Memcoba bersikap natural. Aqila tak ingin, Galih tau. Kalo Aqila penasaran dengan apa yang akan di katanya pada Aqila.
Galih berdiri. Galih tak tau, Aqila akan datang dari arah mana. Aqila sudah melihat punggung Galih dari jauh. Punggung itu, yang begitu mirip dengan Gilang. Galih masih membelakangi Aqila. Aqila berjalan pelan. sampai tepat ada di belakang Galih.
Lama Aqila berdiri. Aqila masih ingin melihat punggung Galih. Punggung ini, mirip sekali dengan Gilang. Laki laki yang selalu Aqila cintai.
Galih menunggu Aqila dengan gelisah. Berkali kali Galih melihat jam tangannya. Galih tak menyadari kalo Aqila sudah berdiri sejak tadi di belakangnya.
Aqila masih berdiri tanpa suara. Aqila tak ingin Galih mengetahui keberadaan nya yang berdiri tepat di belakang nya.
Galih terus melihat lurus kedepan. Namun entah kenapa perasaan nya berkata, kalo Aqila ada di belakangnya. Galih pun menoleh. Benar saja, Aqila sudah berdiri di belakang Galih. Dan seperti nya melamun.
Galih, melihat Aqila dari dekat. Tak ingin merusak lamunan Aqila. Galih takut setelah hari ini. Galih tak akan bertemu dengan Aqila lagi. Galih hanya akan melihat Aqila seperti ini.
Galih melihat Aqila. Sedangkan Aqila masih melamun. Entah apa yang di lakukan Aqila. Hingga akhirnya Aqila sadar. Kalo Galih sudah ada di depannya sekarang.
Galih langsung tersenyum, begitu Aqila sadar dari lamunannya. Senyuman itu, yang membuat Aqila langsung berpaling. Aqila benar benar tak tahan dengan senyuman Galih. Yang membuat Aqila merasa jatuh cinta lagi.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Aqila tiba tiba.
"Kamu ingin bicara di sini apa di tempat lain?" tanya Galih kembali.
"Sepenting itukah!" seru Aqila lagi.
"Bagi aku penting. Tapi kan aku ga tau, bagimu ini penting atau tidak!" seru Galih lagi.
__ADS_1
"Yah, sudah kita cari tempat makan saja dulu, Aku lapar" ucap Aqila sambil menegang perutnya.
"Kita ke Kafe Alan, gimana?" tanya Galih pelan.
"Terserah".
Aqila berjalan terlebih dahulu, melewati Galih. Karna jarak kampus dan Kafe Alan tak begitu jauh. Tinggal berjalan sebentar saja, sudah langsung sampai.
Aqila jalan terlebih dahulu, sedangkan Galih masih berjalan di belakang Aqila. Galih terus berpikir tentang setelah hari ini. "Apakah, Aqila masih akan menemuinya lagi?" itu yang ada di pikiran Galih sekarang. Sedangkan Aqila entahlah apa yang di pikirkan ya saat ini. Yang jelas Aqila berjalan dengan rasa penasaran dan rasa bingung yang teramat sangat. tentang apa yang akan di katakan Galih ini. Yang jelas, Aqila begitu, berdebar dengan apa yang akan di katakan Galih hari ini.
Sampai di kafe Alan. Aqila langsung memesan makanan begitu juga Galih. Aqila ingin mengisi perut dulu, sebelum mengetahui apa yang akan Galih sampaikan nanti.
Galih dan Aqila, sedang melahap makanan yang ia pesan. Sebenarnya Aqila tak begitu lapar. Aqila sengaja memesan makan yang banyak untuk mengukur waktu, tentang apa yang akan Galih ucapkan. Yang entah apakah itu. Aqila masih ingin berlama lama dengan Galih.
Galih, hanya melihat Aqila makan. Sedang Galih, tak melahap sesuapun makanan yang Galih pesan. Galih masih ingin lama menatap wajah Aqila. Galih berharap, Bisa dekat dengan Aqila. Walau setelah ini, Galih tak yakin, Kalo Aqila bakal menerima Galih atau tidak.
"Kamu ga makan?" tanya Aqila masih melahap makanan yang Aqila pesan.
Aqila cuek saja, masih melahap makanannya. Sampai selesai. Galih masih menunggu, dan berpikir harus mulai dari mana.
"Aku dah selesai makan"
"Apa yang akan kamu katakan?" tanya Aqila memulai percakapan.
Galih, memberikan sebuah foto pada Aqila.
"Ini apa?" tanya Aqila masih belum melihat Foto itu.
Aqila pun melihat foto yang di berikan Galih. Ternyata itu, foto Gilang. Yang waktu itu hilang.
"Dari mana kamu dapat foto ini?" tanya Aqila matanya mulai berkaca kaca. Ternyata foto itu, masih ada. Dan Aqila masih bisa melihat foto Gilang yang paling bagus menurut Aqila.
__ADS_1
"Saat, pertama kita ketemu, di tempat Farel" jawab Galih. Masih terlihat tegang.
"Apakah, ini yang akan kamu katakan padaku?" tanya Aqila lagi.
"Tak hanya ini, ada hal lain yang harus aku katakan padamu. Sebelum kamu tau dari orang lain. Lebih baik aku yang katakan langsung padamu" ucap Galih.
"Apa itu?" tanya Aqila mengerutkan Keningnya. Penasaran dengan apa yang akan di katakan Galih.
"Tapi kamu janji dulu, sebelum aku selesai berbicara. Kamu ga boleh berkomentar dan ga boleh ninggalin aku. Kamu harus dengerin aku sampai beres berbicara. Setelah itu, terserah kamu mau caci maki aku, mau tampar aku, atau mau tinggalin aku pun aku terima" tutur Galih panjang lebar.
"Sebenarnya apa sih, yang ingin kamu katakan. Kenapa dari tadi, kamu muter muter tak jelas seperti ini. Katakanlah apa yang ingin kamu katakan. Jangan buat aku penasaran. Dan aku akan mengikuti apa yang kamu bilang tadi" tutur Aqila semakin penasaran dengan apa yang ingin Galih katakan padanya.
"Baikah, bisakah kamu berjanji, akan mendengarkan aku sampai beres"
Aqila menganguk.
"Aku kembaran Gilang"
DEG
Hati Aqila langsung menjerit, berdebar tanpa henti. Pantas saja, Galih begitu mirip dengan Gilang. Namun Aqila masih belum mempercayai itu. Setahu Aqila. Gilang tak punya sodara kembar. Tak bisa di percaya. Tapi jika Galih bohong. Mana mungkin, wajah Galih semirip itu dengan Gilang.
Sesuai janjinya dari awal. Aqila masih mendengarkan Galih yang bercerita tentang kenyataan itu. Galih menceritakan semuanya tentang keluarganya. Tentang Gilang dan Galih yang di pisahkan karna keegoisan sang nenek. Tentang penyakit Galih. Tentang Gilang tentang semuanya. Tentang Gilang yang mendonorkan jantungnya pada Galih. Setelah Gilang meninggal. Galih menceritakan semuanya pada Aqila tanpa terkecuali.
Aqila yang masih mendengarkan Galih. Tak bisa menahan air matanya. Yang sedari tadi sudah ingin menangis. Aqila terus menangis tanpa henti. Aqila tak tau. Harus bagaimana sekarang. Marah,sedih dan terluka. Dan semua perasaan kini campur aduk di hati Aqila saat ini.
Aqila ga tau harus bagaimana?. Harus sedihlah atau harus senangkah. Bagaimana ini??.
Bersambung..
Jangan lupa like yah, Mampir juga yah ke novel aku yang lain. "Ketika cinta menemukan jalanya" dan "Irani Gadis Indigo" terima kasih sudah mampir dan baca karya aku.
__ADS_1