
Tiga hari berlalu dengan cepat. Selama tiga hari itu pula, Anton menjalani hidupnya tanpa kehadiran Natashya, istrinya.
Mendadak jadi jomblo lagi, nih, ya😆
Hari ini, jam sepuluh pagi, Anton sudah berada di kantor, berkutat dengan berkas-berkasnya. Ia dikejar waktu karena sebentar lagi ada meeting yang harus dihadiri. Sementara sekretarisnya itu sedang menyiapkan segala hal keperluan untuk meeting.
“Nton, lima belas menit lagi meeting-nya dimulai,” kata Rio yang baru masuk ke ruangan Anton.
Anton mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang sedang ditekuninya. “Oke.”
Rio menghela napas berat. Sahabatnya itu terlalu berlebihan dalam memforsir diri. Dia terlalu bekerja keras. “Nton, udahlah, istirahat dulu. Lo udah kerja dari pagi,” nasihat Rio.
Anton tidak menyahut. Ia tetap fokus meneliti berkasnya.
“Nton! Woi!”
Takk!
Anton membanting pulpennya ke meja. Ia mendongak, menatap Rio dengan tatapan datar. “Gue nggak kerja, lo ngeluh! Gue kerja, lo protes! Lo maunya gue gimana sekarang?”
“Bukan gitu, Nton.” Rio jadi bingung sendiri bagaimana cara menjelaskannya. “Gue cuma khawatir sama lo, Nton. Lo emang harus kerja, tapi jangan diforsir. Lo itu manusia, bukan robot!”
“Yang bilang gue robot siapa emang? Orang jelas gue ada otot sama sel syaraf. Punya otak lagi,” dumel Anton pelan. Rio di depannya malah cengo.
“Huh! Terserah,” dengus Anton malas. Ia menutup berkasnya dan menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya terpejam, menahan rasa lemas yang baru terasa sekarang. Lelah juga, sih...
Ting!
Anton meraih ponselnya di atas meja tanpa membuka mata sama sekali. Ternyata ada pesan dari Hafi.
...——————————...
...Akmal Hafi...
...online...
• Nton, lo ada waktu?
^^^Knp? ✓^^^
• Gw mau minta tlng
• 😢
^^^Apa? ✓^^^
__ADS_1
• Temenin gw buat ketemu camer dong
• 🙏
^^^Ogah ✓^^^
• Ko jhat? 😢
^^^BODO ✓^^^
...——————————...
Kenapa jadi gue harus ikut-ikutan? Yang mau nikah, kan, dia, bukan gue.
Anton menutup chatroom-nya dengan Hafi. Ia kembali menatap Rio yang masih berdiri di dekat pintu.
“Ayo ke ruang rapat.”
...❄️❄️❄️...
Dua jam berdiskusi, kesepakatan berhasil tercapai. Perusahaan klien dan perusahaan Anton akan bekerja sama dalam suatu proyek. Mereka sudah mencapai titik keuntungan maksimal.
“Nton, gue jadi ingat sesuatu, deh,” celetuk Rio kala keduanya tengah makan siang bersama di ruangan Anton.
Anton menatap Rio dengan pandangan bertanya-tanya. Ia menaruh styrofoam yang berisi nasi goreng dan meraih botol minuman. “Apa?”
Anton yang hendak menyuapkan nasi ke dalam mulut mendadak terhenti. Ia terdiam, otaknya dengan otomatis memutar kenangan hari itu. Sebelum kejadian tragis yang mengakibatkan kepergian sang anak, Anton menerima amplop berisi foto Natashya dan Azlan yang berpelukan.
Foto itu dikirim lewat kurir, entah dari siapa.
“Pertanyaan gue, foto itu dari mana? Siapa pengirimnya?” Rio berpikir keras.
Anton tertegun. Dia ikut berpikir keras.
“Intinya, sih, Nton..”
“Ada orang yang sengaja kirim foto itu ke elo dan orang itu mau ngebuat hubungan lo dan Natashya jadi renggang!”
...❄️❄️❄️...
Anton duduk termenung di tepi ranjang. Saat ini, ia berada di ruang pribadinya di perusahaan. Di tangannya ada foto yang menjadi awal masalahnya selama ini. Foto Natashya dan Azlan.
“Siapa pengirimnya?” gumam Anton bingung.
Anton berpikir keras. Selama ia bersama sang istri, Natashya tidak pernah memiliki masalah dengan orang lain di luar sana. Wanita itu tipe orang yang simple dan tidak suka sesuatu yang ribet.
__ADS_1
Kecuali kalau Natashya diganggu, wanita itu baru akan bertindak. Itupun hanya semacam lontaran kalimat kejam nan sadis. Natashya tidak pernah main tangan kalau lawannya tidak keterlaluan.
Dan, dirinya, Anton merasa tidak punya musuh juga. Dia selalu menjalin hubungan baik dengan kliennya dan tidak pernah mencari keributan di kampus—eh, tunggu sebentar!
“Lidia...”
Ya, hanya gadis itu yang bermasalah dengan Nayashya. Ia cemburu pada Natashya karena Anton lebih memilih Natashya.
Masa iya dia pelakunya? Kok, kek nggak mungkin gitu, ya?
Anton menggeleng pelan. Daripada dihantui rasa penasaran seperti ini, ia memilih untuk langsung bertanya saja.
Dengan segera, Anton mencari nomor Lidia di ponselnya. Selepas menemukan, ia segera menelepon dan menunggu nada sambung.
“Halo?”
“Lidia, gue mau ketemu sama lo.”
...❄️❄️❄️...
Siapa, sih, yang tidak senang jika ditelepon dengan sosok yang kita suka?
Pastinya bukan Lidia dong!
Gadis itu jingkrak-jingkrak senang karena Anton menghubunginya lebih dulu. Bahkan, lelaki itu ingin bertemu dengannya. Bertemu! Dan, itu cuma berdua!
Cih, liat aja, Shya, Anton pasti udah sadar kalo gue jauh lebih cantik dari lo!
Lidia bersiap dengan pakaian terbaiknya, berdandan dengan make up merek ternama sehingga membuatnya terlihat dewasa. Semua itu ia lakukan demi sang pujaan hati.
Lidia menunggu Anton dengan tidak sabaran di restoran tempat mereka janjian. Sepuluh menit berlalu, Anton datang dengan kemeja santai dan celana bahan. Jas lelaki itu disampirkan pada lengan. Lagi-lagi Lidia dibuat tergila-gila dengan sosok Antonio.
Walaupun sedikit acak-acakan, itu tidak mempengaruhi karisma seorang Antonio, CEO AG Group.
Melihat Anton mendekat, Lidia segera membenahi pakaiannya dan bersikap anggun.
“Assalamualaikum,” salam Anton.
“Wa‘alaikumsalam,” balas Lidia lembut.
Anton duduk di hadapan Lidia. Tatapannya begitu datar. “To the point, Lid.” Ia mengeluarkan foto dari sakunya dan disodorkan kepada Lidia. “Lo tau soal foto ini?”
Lidia mengerutkan dahi. Ia menatap saksama dua sosok yang berada di dalam foto. “Lho? Natashya sama siapa?” seru Lidia terkejut.
Dan, melihat ekspresi Lidia yang terkejut tanpa dibuat-buat seperti itu membuat Anton yakin...
__ADS_1
Bukan Lidia pengirim foto itu.
^^^To be continue...^^^