KISAH KITA

KISAH KITA
Eoisode 128 Keputusan


__ADS_3

Napas yang masih memburu, Arya merebahkan tubuhnya di samping Asty. Gadis itu menutupi tubuh polosnya dengan selimut. Ia masih menangis sesenggukan.


Seluruh tubuhnya terasa remuk, apalagi bagian bawahnya yang terasa nyeri. Bercak merah mengotori seprei tidurnya.


Arya merasa sangat bersalah, namun ia tak punya pilihan lain. Ia tak mungkin menyalurkan hasratnya pada wanita di luaran sana.


Apalagi pada gadis licik seperti Vindi. Arya duduk dan menatap wajah Asty lamat-lamat. Gadis itu tak ingin bersitatap dengan Arya. Hatinya sangat kecewa.


"Pergilah, jangan temui aku lagi! Anggap saja semua ini tak pernah terjadi." Ucap Asty, seperti sambaran petir di telinga Arya.


"Sayang maafkan aku, aku bisa jelasin semuanya." Lirihnya, matanya sudah berkaca-kaca.


"Aku sangat mencintaimu-"


"Bohong! Kalau kau mencintaiku, kau akan menjaga kehormatanku!" Potongnya dengan teriak.


Arya menghembuskan nafas perlahan. Ia harus segera menceritakan pada Asty.


"Kau benar, aku memang berbohong. Tapi bukan soal perasaanku, tapi soal hari ini."


Asty masih diam, mendengarkan dengan seksama.


Arya menceritakan segalanya tanpa ada yang terlewat sedikitpun. Sampai akhirnya ia harusĀ  menjamah tubuh Asty sebelum waktunya.


Asty berhenti menangis, ditatapnya wajah Arya. Lelaki itu tampak sedih dan penyesalan yang luar biasa, bisa Asty lihat dari matanya.


"Kumohon, maafkan aku. Aku tahu aku salah, tapi aku tak ada pilihan lain." Lirihnya lagi sembari meraih jemari Asty.


"Aku ingin ke rumah Zayna," pintanya sembari menghapus air matanya.


Arya segera memakai pakaiannya.


Asty memejamkan matanya. Sebab, tak seharusnya ia melihat tubuh polos Arya bukan?


"Sekarang, kamu pakailah pakaianmu! Aku tunggu di luar." Ucapnya lembut, ia bergegas meninggalkan Asty sendiri.


********


Kini mereka tengah berada dalam mobil, mereka larut dalam perasaan masing-masing. Arya masih bingung dengan keputusan Asty yang ingin bertemu dengan Zayna.


Ia tak ingin bertanya, ia tahu betul bahwa kini kekasihnya itu sangat membutuhkan seorang teman wanita.


Tak berapa lama, mereka telah sampai di depan rumah Zayna. Arya membukakan pintu mobil untuk Asty.


Arya mengulurkan tangannya untuk membantu Asty turun dari mobil. Rasanya ngilu sekali, terlihat dari cara Asty meringis saat berjalan.


"Sakit banget ya?" tanya Arya polos.


Membuat semburat merah di pipi Asty. Malu bukan main!


"Kenapa bertanya begitu sih? Udah pasti sakit lah! Orang dipaksa, udah gitu lama lagi." Rutuknya dalam hati.

__ADS_1


"Kamu sudah tahu jawabannya 'kan?" ketus Asty, ia meninggalkan Arya di belakang.


Asty mengetuk pintu, meskipun merasa tidak enak hati karena bertamu malam-malam. Namun tak ada pilihan lain, ia sangat butuh Zayna.


Baginya, Zayna sosok sahabat yang bisa ia andalkan dalam sebuah pemikiran yang serius. Zayna lebih dewasa diantara semua temannya.


Lama Asty dan Arya mematung di depan pintu. Sampai akhirnya terdengar langkah kaki seseorang menuju pintu rumah.


"Assalamu'alaikum," ucap Asty dan Arya.


"Wa'alaikumsalam," jawab Zain, pria itu mengernyitkan dahinya.


Dilihatnya jam dinding rumah, waktu menunjukkan pukul sebelas malam.


"Silahkan masuk," katanya tersenyum kikuk.


Asty dan Arya dipersilahkan untuk duduk. Zain masih bingung, mengapa mereka datang selarut ini?


Ditatapnya wajah Asty, gadis itu terlihat berantakan. Matanya merah dan sembab, Zain yakin terjadi sesuatu diantara mereka.


"Mm ... Zain bisa panggilkan Zayna? Apa dia sudah tidur?" tanya Asty ragu.


"Sebentar, dia belum tidur kok." Jawabnya berlalu pergi. Tak sampai lima menit, Zayna telah menghampiri Asty dan Arya.


Zayna duduk di samping suaminya. Menatap suaminya seakan-akan bertanya, untuk apa Arya dan Asty mencarinya? Zain menggelengkan kepalanya seolah tahu arti tatapan dari Zayna.


"Ast, kenapa malam-malam begini mencariku?" tanya Zayna lembut.


Air matanya lolos begitu saja, tubuhnya bergetar hebat. Arya menundukkan kepalanya. Mengusap wajahnya kasar.


"Ada apa ini? Arya, apa yang terjadi dengan Asty?" tanya Zain penuh selidik.


Arya menyandarkan kepalanya ke sofa, menghembuskan napas perlahan. Wajah Asty saat meronta begitu jelas di ingatannya.


"Aku akan bawa Asty ke kamar, biarkan dia istirahat."


Zayna segera memapah Asty menuju kamar tamu. Dibaringkannya Asty di ranjang, Zayna menutupi tubuh Asty dengan selimut. Gadis itu masih saja sesenggukan.


"Istirahatlah Ast, jangan banyak pikiran. Aku keluar dulu." Ucap Zayna, Asty hanya mengangguk seraya memejamkan matanya.


Sementara itu di ruang tamu, suasana masih hening. Zayna duduk di samping suaminya.


"Arya, sekarang ceritakan pada kami apa yang terjadi?" tanya Zayna dengan ai muka serius.


Arya memandang pasangan suami istri itu, ia mulai bercerita. Dari Vindi berkunjung ke rumahnya dan mereka pergi menghadiri acara pertunangan teman Vindi.


Arya nampak menghela napas berat kala menceritakan, bagaimana ia harus menyalurkan hasratnya pada Asty secara paksa. Zain dan Zayna membulatkan matanya sempurna.


"Apa kau sudah gila! Bagaiamana bisa kau melakukan hal itu. Harusnya kau lebih hati-hati Arya, agar tak mudah di jebak seperti ini." Teriak Zain, lelaki itu tampak sangat marah. Baginya Asty sudah seperti saudaranya.


"Tenang Sayang, jangan teriak. Nanti ibu dan Greyna terbangun." Ucap Zayna menenangkan, mengusap lengan Zain lembut. Zain mengucap istighfar untuk mengusir emosinya.

__ADS_1


Arya nampak menitikkan air mata. Nasi sudah menjadi bubur, menyesal pun sudah tidak ada gunanya lagi.


"Aku sangat menyesal Zain. Apakah Asty akan memaafkanku?" lirihnya, ia menundukkan wajahnya.


"Kau harus menikah dengannya dalam waktu dekat."


Zain memberi saran, namun nadanya seperti sebuah perintah.


"Aku setuju Ar, kau harus segera menikahi Asty. Aku yakin, dia akan memaafkanmu. Dia sangat mencintaimu Ar," Zayna menimpali.


"Iya kalian benar, besok pagi aku akan ke rumah orangtuanya Asty. Aku akan mencoba menceritakan semuanya. Aku akan mengakui kesalahanku."


"Yasudah, sebaiknya kau pulang saja. Biarkan Asty istirahat di sini," kata Zayna.


"Iya, terimakasih telah mendengarkan masalahku dan Asty. Maaf harus merepotkan kalian." Ucapnya tulus, lalu ia berdiri dari duduknya.


"Tidak merepotkan sama sekali Ar, kalian adalah bagian dari keluarga kami. Yasudah, hati-hati di jalan." Ucap Zain sembari menepuk pelan pundak Arya.


Setelah kepergian Arya, pasangan itu kembali ke kamar.


Zayna merebahkan tubuhnya, Zain pun melakukan hal yang sama. Mereka saling berhadapan, tatapan mereka bertemu.


"Sayang, aku kasian banget lihat Asty. Dia begitu ketakutan."


Zayna memulai ceritanya, kini sebutan sayang untuk Zain, dengan mulusnya keluar dari mulut Zayna.


"Ya wajar lah Sayang, kan secara paksa. Siapa yang gak takut coba. Si Arya benar-benar ceroboh." Rupanya Zain masih geram.


"Iya, aku aja dulu cuma karena ..." ucapannya menggantung.


Seketika benaknya teringat kejadian waktu di taman kampus. Hal itu membuat hati Zayna gelisah, apalagi Asty yang mengalami hal separah ini.


"Karena apa Sayang? Kok gak diterusin bicaranya," tanya Zain penasaran.


"Karena ... kejadian waktu di taman kampus sama kamu. Gelisahnya minta ampun, apalagi Asty yang mengalami kejadian yang lebih parah," dengan malu-malu Zayna mengatakannya.


Zain tersenyum, gemas sekali rasanya melihat Zayna yang malu-malu seperti itu. Perlahan, Zain mendekat, memeluk istrinya erat. Mengecup keningnya begitu lama.


"Sekarang, ayo kita tidur. Ini sudah tengah malam Honey." Ajaknya seraya memejamkan matanya.


Zayna tersenyum kecil, ribuan bunga memenuhi hatinya. Dia sangat senang mendengar panggilan sayang dari suaminya.


Zayna mendongakkan kepalanya, mencium bibir Zain sekilas. Seketika, mata Zain terbuka, senyum menyeringai terlihat dari wajahnya.


"Aaa kenapa aku mesti iseng mengganggu dia. Lihatlah senyum menakutkannya." Rutuk hati Zayna.


"Kenapa kamu tersenyum menakutkan begitu?" tanyanya gugup.


"Kamu yang memulainya Honey, sebentar aja ya? Aku tidak menerima penolakan." Katanya ringan, tangannya mulai beraktivitas.


Bibirnya mulai jalan-jalan ke mana-mana. Zayna hanya bisa pasrah, ini salahnya karena telah membangunkan hasrat suaminya.

__ADS_1


__ADS_2