
Dua hari dibuat penasaran ternyata tidak baik untuk otak, ya.
Anton terus memikirkan soal foto itu. Ia tidak bisa membiarkan orang yang sengaja ingin merenggangkan hubungannya dengan Natashya tetap berkeliaran. Setidaknya, orang itu harus mendapat hukuman setimpal.
“Sebenarnya, siapa orang ini? Gue nggak ada petunjuk apa pun!” ucap Anton entah pada siapa.
Saat ini, jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Anton tengah berada di kantornya. Karena memikirkan foto itu, ia tidak bisa fokus dengan pekerjaannya.
Ceklek..
“Nton, gue—”
“Stop, Rio. Gue capek, lelah. Lo keluar dulu,” usir Anton seraya mengibaskan tangannya. Ia membalikkan kursinya membelakangi pintu.
Anton sedang tidak mood memikirkan pekerjaan apa pun. Ia lelah jiwa dan raga.
Rio mendengkus kasar. Padahal, niat kedatangannya untuk membantu Anton. Eh, malah diusir. Kok, kedengarannya kejam sekali, ya?
“Lo yakin nggak mau dengerin apa yang mau gue sampein?” tanya Rio sengaja ingin membuat Anton kesal.
“Hm.”
“Hah.. ya udah. Padahal, gue bawain petunjuk baru soal foto itu.” Rio mengedikkan bahu tak acuh, lantas berbalik ingin keluar ruangan.
Mendengar tujuan Rio, kedua mata Anton terbelalak. Ia segera berdiri dan menghampiri sahabatnya itu, menahan lengan Rio yang ingin keluar ruangan. “Bentar? Petunjuk soal foto itu? Mana?”
“Katanya, nggak mau denger,” sindir Rio.
Anton menghela napas sejenak. “Oke, sorry. Mana petunjuknya?”
Rio mengajak Anton untuk duduk di sofa terlebih dahulu. Kali ini, lelaki itu menurut saja. Ia memperhatikan Rio yang sibuk membuka laptop dan menge-klik file yang berisikan satu video.
“Liat, deh. Ini CCTV di cafe yang sama, tempat Natashya sama Azlan ketemuan. Gue sudah minta rekaman CCTV sama pihak cafe di hari kejadian.” Rio menggeser laptopnya ke arah Anton.
Anton langsung terfokuskan pada layar yang menayangkan setiap menitnya kejadian di cafe. Ia memajukan durasinya, mencari sosok Natashya dan Azlan.
“Ketemu!” seru Anton heboh.
__ADS_1
Rio yang mendengar ikut mendekat. Ia memperhatikan lamat-lamat layar laptopnya. Terlihat Natashya dan Azlan sedang berbincang. Lalu datang sosok wanita berhijab bersama anak kecil di gendongannya.
Mereka bertiga berbicara cukup lama. Sampai akhirnya, ketika jam memasuki angka sembilan, Natashya berdiri dari duduknya dan merapikan barang dengan tergesa-gesa. Sepertinya, istri Anton itu ingin pulang.
Namun, sebelum pulang, keempatnya sempat berfoto. Kemudian pergi dari cafe bersama.
“Nggak ada yang salah,” gumam Anton heran.
“Coba lo mundurin videonya,” pinta Rio.
Anton memundurkan durasi videonya. Dimulai dari Natashya masuk dan bertemu dengan Azlan. Keduanya berpelukan sejenak.
“Stop!” pekik Rio.
Sontak Anton menekan tombol pause. Ia beralih menatap Rio yang masih fokus pada layar.
“Dia pelakunya, Nton! Liat!” Rio menunjuk sosok lain yang berada dalam video.
Anton mengamati sosok tersebut. Ternyata, ada gadis lain yang duduk di sudut cafe. Gadis itu nampak tengah memegang kamera ke arah Natashya dan Azlan yang masih berpelukan. Gadis itu juga terus berada di sana hingga Natashya dan keluarga Azlan pulang.
“Lo kenal?” tanya Rio yang tidak mengenali sosok gadis itu.
“Nggak, gue nggak kenal,” jawab Anton pada akhirnya.
Rio menyandarkan punggungnya ke bahu sofa. Tatapannya menerawang ke langit-langit ruangan. “Kalo lo nggak kenal, kenapa dia cari masalah sama lo?” Rio berpikir.
Anton menghela napas lelah, lantas ikut menyandarkan punggung tegapnya. “Gue nggak ngerti, Yo. Di saat gue bahagia, kenapa ada aja orang yang ingin hancurin semua kebahagiaan gue.”
Rio menepuk bahu Anton, berusaha memberi kekuatan untuk lelaki itu. “Ini ujian, mohon bersabar..”
“Cih!” Anton mendengkus. Ia menaruh kepalanya yang terasa berat di bahu sofa. “Semoga semua baik-baik aja ke depannya.”
“Semua pasti kembali seperti semula, Nton.”
“Ini hanya masalah waktu.”
...❄️❄️❄️...
__ADS_1
Anton mengerahkan banyak anak buah untuk mencari tahu soal gadis di CCTV tersebut. Ia harus memecahkan teka-teki ini secepatnya. Anton tidak mau masalah ini akan membebani Natashya nantinya.
Pukul empat sore, selesai menunaikan ibadah salat Ashar, Anton keluar perusahaan. Ia berkendara menuju toko bunga.
“Halo, selamat datang. Ada yang bisa saya bantu, Pak?” sapa pegawai toko bunga ramah.
“Tolong satu buket bunga lili putih, Mbak.”
“Lili putih saja, Pak? Tidak ditambah bunga lain?”
“Tidak. Istri saya sangat suka lili putih.”
Pegawai tadi tersenyum. “Baik, Pak. Ditunggu, ya.”
Anton menanti seraya mengedarkan pandangannya. Ada banyak jenis bunga yang terpajang di toko ini dan semuanya sangat cantik. Sayangnya, sang istri hanya menyukai bunga lili putih.
Lima menit menunggu, buket pesanan Anton sudah siap. Lelaki itu pamit dan bergegas menuju kediaman Heru, ayah mertuanya.
Tiba di sana, Anton tidak masuk ke dalam. Ia hanya berdiri di depan gerbang, pandangannya terus mengarah ke jendela kamar Natashya yang terlihat gelap.
Sayang, bagaimana kabar kamu?
Yah.. sejak Natashya pergi dari rumah, kegiatan baru Anton adalah berkunjung ke rumah mertuanya. Ia pasti akan datang di sore hari untuk sekadar melihat dari gerbang dan memberikan buket bunga kepada Natashya melalui perantara.
Anton mana bisa jauh dari sang istri terlalu lama.
“Den Anton?”
Anton menoleh. Ia tersenyum kepada satpam yang berjaga di pos. “Sore, Pak.”
“Sore, Den. Mau nitip bunga lagi?”
Anton mengangguk. “Iya, Pak.” Ia menyerahkan buket yang dibawa kepada satpam tersebut. “Tolong kasihkan, ya, Pak.”
“Iya, Den.”
Anton tersenyum kecil, lalu pamit pulang.
__ADS_1
Semoga cepat sembuh, Istriku.
^^^To be continue...^^^